Share

BAB 03

Penulis: Yuliswar
last update Tanggal publikasi: 2023-01-10 06:00:41

Menantu Egois

BAB 03

Setelah menunggu cukup lama akhirnya Mas Tejo selesai mandi. Sepertinya mas Tejo sengaja berlama-lama di kamar mandi untuk meredakan amarahnya.

"Mas! Pokoknya aku tidak mau tahu! Kamu harus minta uang itu kembali dari Ibu!"ujarku kesal.

"Kamu itu Dek suami pulang kerja capek. Coba disuruh makan dulu atau apa kek. Ini malah diajak berantem."jawabnya kesal.

Mas Tejo lalu keluar kamar sepertinya Dia menuju ke meja makan.

Aku lalu mengekor dibelakangnya.

"Mas!"ujarku kesal.

"Hmmm..."jawabnya sambil menarik kursi dan menghempaskan tubuhnya dikursi meja makan.

"Aku belum selesai ngomong."ujarku ketus.

"Sudah! Mas mau makan lapar."jawabnya dengan sedikit marah.

 Aku diam sejenak mendengar penuturan Mas Tejo.

Mas Tejo langsung menyendok nasi beserta lauk pauknya dan langsung melahapnya sepertinya memang benar, Dia sangat lapar terlihat dari caranya menikmati makanan di piringnya.

Setelah selesai makan Mas Tejo duduk diruang keluarga untuk minum kopi.

Aku kembali mendekat kearahnya.

"Mas! Kapan kamu mau ambil uang itu!"ucapku dengan nada yang masih kesal

"Sudah Mas bilang tidak ya tidak!"jawabnya sambil menyeruput kopi.

"Kalau Mas tidak mau maka besok aku sendiri yang akan meminta uang itu dari Ibu!"ujarku lantang dan berlalu pergi kembali kekamar.

Awas saja kalau sampai besok Ibu tidak mau mengembalikan uang itu. Aku akan buat perhitungan dengannya gumamku dalam hati.

Karena jengkel dengan sikap Mas Tejo akhirnya aku tinggal tidur duluan.

***

Keesokan paginya, Mas Tejo sudah bersiap akan berangkat kekantor.

"Lho Mas tidak sarapan dulu?"tanyaku.

"Gak Dek. Mas sudah telat, kamu saja yang sarapan."jawabnya sambil berlalu pergi menuju mobilnya dan pergi meninggalkanku.

Aku langsung segera sarapan karena mau kerumah Ibu.

Setelah selesai sarapan aku pamit sama Mbok Nah..

Aku menaiki motor kerumah Ibu karena jaraknya dekat dan gang di rumah ibu tidak bisa di lalui kendaraan roda empat.

Ketika aku sampai dirumah Ibu. Aku lihat Ibu sedang membuat kopi untuk para tukang bangunan itu.

Aku lalu mendekat kearahnya.

"Bu! Aku kesini disuruh Mas Tejo untuk meminta uang itu kembali."ujarku ketus.

Ibu hanya tersenyum kearah ku tanpa menjawab.

"Ibu ini tuli kah?"ujarku kesal karena dicuekin.

"Bu!!!"bentakku.

Mendengar suaraku yang sedikit meninggi, membuat beberapa tukang menoleh kearah ku. Mereka melihatku dengan tatapan yang aneh.

"Jangan begitu sama orang tua!"ujar seorang Tukang kepadaku.

"Sudah kalian diam saja ini urusan ku sama Ibu mertuaku."jawabku ketus.

Lalu Ibu menyuruh para tukang untuk bekerja kembali.

Ibu mendekat kearah ku.

"Aduh mantu Ibu yang paling baik disini to rupanya."ujarnya sambil tersenyum kearah ku.

"Ibu ini jangan pura-pura dech!"jawabku ketus.

"Pura-pura apa to Nak cah ayu?"ujarnya lagi.

Aku semakin kesal diperlakukan seperti itu oleh Ibu mertuaku.

"Sudah Bu! Aku tidak mau basa basi lagi! Mana uang yang dikasih sama Mas Tejo!"ujarku sambil mengenadahkan tanganku.

"Sebentar ya mantuku cah ayu. Ibu ingat-ingat dulu berapa uang yang dikasih sama Tejo kemarin."jawab Ibu sambil tersenyum.

Lalu, Ibu masuk kekamarnya dan tidak begitu lama keluar lagi dengan membawa sebuah amplop tebal berwarna coklat.

"Sini duduk dulu mantuku cah ayu."ujarnya kepada ku sambil menepuk kursi.

Aku lalu duduk di kursi seberang Ibu.

"Ini uang yang dikasih Tejo kemarin."ujarnya sambil menyerahkan amplop itu.

Mataku berbinar dan langsung meraihnya.

Aku langsung membuka amplop itu dan menghitung isinya.

Setelah ku hitung uang didalam amplop itu berjumlah dua puluh juta.

Aku terbelalak ketika tahu jumlah uang itu. Nominal yang tidak sedikit. Pantas saja ibu bisa renovasi rumah.

Aku lalu memasukkan kembali uang itu kedalam amplop dan setelah itu aku lalu beranjak dari kursiku dan akan langsung pulang.

Ketika aku beranjak dari kursiku. Ibu berkata kepada ku.

"Bagaimana cah ayu? Sudah dihitung jumlah uang itu?"tanya Ibu kepada ku.

"Sudah Bu! Semua pas dua puluh juta."jawabku sumringah.

"Memang Tejo ngomong berapa jumlah yang diberikan kepada Ibu?"tanyanya kepada ku.

Aku sontak kaget dengan pertanyaan Ibu. Karena semalam Mas Tejo tidak ngomong jumlahnya, hanya ngomong jika Dia membayar hutang kepada Ibu.

"Su-sudah jumlahnya dua puluh juta."jawabku tergagap.

"O...o...o...jadi Tejo sudah ngomong jumlahnya. lalu Tejo ngomong apa lagi?"tanyanya santai sambil menatap ku.

"Ya-ya Mas Tejo nyuruh aku kesini meminta uang itu kembali."jawabku sedikit ragu.

"Ya sudah kalau begitu silahkan bawa uang itu dan coba kamu bacakan sebuah kertas yang ada didalam amplop itu."ujarnya sambil tersenyum kearah ku.

Aku lalu membuka amplop itu kembali dan benar saja ada sebuah kertas putih, lalu aku segera mengeluarkan kertas itu dan membukanya.

Mataku terbelalak melihat tulisan yang ada dikertas itu.

"Ayo nak cah ayu. Bacakan untuk Ibu agar Ibu bisa tahu apa tulisan dikertas itu."ujarnya kepada ku dengan senyum semakin lebar.

"Ayo baca dong mantuku cah ayu."ujarnya lagi.

"I-ini apa maksudnya Bu?"tanyaku bingung.

"Lho disitukan tertulis dengan jelas to cah ayu."jawabnya dengan nada yang sedikit aneh

"Ta-tapi kok..."aku menggantung kata-kata ku.

"Lho... Tadi katamu. Kamu di suruh Tejo untuk mengambil uang itu kembali. Jadi silahkan kamu bawa saja, tapi, sebelum pergi tolong bacakan dengan keras tulisan didalam kertas itu."ujar Ibu mulai sedikit ketus nada bicaranya.

"I-ibu kok mulai perhitungan sama anak sendiri."ujarku ketus.

"Coba dipikir dulu siapa yang perhitungan?"ujarnya dengan senyum meledek.

"Lha! Ini buktinya!"jawabku ketus sambil menunjukkan kertas itu kearah Ibu.

"Kamu bisa tanyakan sama Tejo, jadi salah jika kamu tanya sama Ibu. Apa kamu tidak bisa baca  tulisan itu dan apa kamu juga tidak bisa mengenali tulisan suamimu sendiri!"hardiknya kepadaku.

"Tapi ini tidak masuk akal! Ibu macam apa yang minta uang kepada anaknya. Padahal masih sehat bugar begini dan ibu juga punya warung yang lumayan rame."ucapku lantang.

"Ya itulah cah ayu. Ibu juga bingung. Menantu macam apa yang ada didepan Ibu ini? Sampai seorang anak dilarang berbakti kepada Ibunya!"bentaknya kepada ku.

Aku terdiam ketika mendengar penuturan Ibu.

Tapi didalam hati aku mengumpat Ibu mertuaku.

"Ya wajar dong Bu jika aku melarang Mas Tejo memberi uang Ibu. Aku yang mengurus Mas Tejo selama lima tahun ini. Jadi semua uang Mas Tejo adalah hakku."jawabku lantang.

"Oalah mantuku yang paying ayu nan cuantik. Ternyata lama juga ya kamu ngurus Tejo. Sangat benar jika uang Tejo adalah uangmu. Apalah Ibu ini yang hanya sebentar mengurus Tejo cuma dua puluh delapan tahun. Apalah ibu ini di banding kamu yang menemani Tejo dari nol. Ibu ini hanya seorang perempuan yang mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkannya dan seorang perempuan yang membesarkannya sampai dia bisa menikah denganmu."ujarnya lembut tapi tegas.

Aku terdiam dan menelan saliva mendengar ucapan ibu.

"Wajar dong seorang ibu melahirkan dan mengurus anaknya. Jadi ibu minta mas Tejo mengganti rugi hal itu?" ucapku ketus

"OH... Tidak mantuku cah ayu... Ibu sangat sadar diri jika sekarang Tejo bukanlah milik ibu lagi. Tapi milikmu." jawabnya dengan nada mulai lembut.

"Na. Ibu sadarkan sekarang! Jadi ibu harus tahu diri dong mulai sekarang." ucapku lagi dengan senyum kemenangan.

"Ya sudah sana bawa uang itu kembali jika memang benar Tejo yang menyuruh mu!"ujarnya lembut.

Aku letakkan kembali uang itu dimeja dan aku langsung pulang tanpa pamit kepada Ibu mertuaku.

Hanya selembar kertas itu yang aku bawa, karena aku ingin tanya apa maksud Mas Tejo menulis itu.

Ibu mertuaku tersenyum ketika melihat kepergianku tanpa membawa uang itu. Pasti dia sangat senang karena aku meninggalkan uang itu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menantu Egois    BAB 30

    Kejutan di Pagi Hari---Minggu berlalu sejak telepon dari Ibu mertua. Setiap hari aku menghitung mundur waktu kedatangan mereka. Aku menyiapkan kamar tamu dengan rapi, membeli makanan kesukaan mereka, dan memastikan rumah dalam keadaan bersih."Mas, apakah aku terlalu berlebihan?" tanyaku pada Tejo saat kami sedang merapikan kamar tamu.Tejo tersenyum sambil melipat selimut. "Tidak, Dek. Ini wajar. Kamu merindukan mereka."Aku mengangguk. "Iya, Mas. Aku sangat merindukan mereka."Tejo mendekat dan memelukku dari belakang. "Mas juga merindukan mereka. Apalagi Ibu. Mas sudah lama tidak bertemu Ibu."Aku menepuk tangannya. "Minggu depan kita akan bertemu mereka.""Iya," jawab Tejo. "Mas tidak sabar."---Pagi itu, aku terbangun dengan perasaan yang aneh. Perutku terasa kencang dan nyeri. Aku mencoba mengabaikannya dan bangkit dari tempat tidur."Dek, kamu kenapa?" tanya Tejo yang baru bangun."Tidak apa-apa, Mas," jawabku. "Mungkin hanya salah posisi tidur."Tejo menatapku dengan cemas

  • Menantu Egois    BAB 29

    Rumah yang Baru---Pesawat mendarat dengan lembut di bandara kota baru. Aku membuka mata dan menatap ke luar jendela. Langit biru cerah menyambut kami, seperti memberi isyarat bahwa ini adalah awal yang baik."Kita sudah sampai, Dek," kata Tejo sambil menggenggam tanganku.Aku mengangguk dan tersenyum. "Akhirnya, Mas."Kami turun dari pesawat dan berjalan menuju area pengambilan bagasi. Udara di kota ini terasa lebih sejuk dari kota sebelumnya. Aku menarik napas dalam-dalam, merasakan udara segar memenuhi paru-paruku."Mas, udaranya segar sekali," kataku sambil tersenyum.Tejo tertawa. "Iya, Dek. Mas memang sengaja memilih kota ini karena udaranya bagus untuk ibu hamil."Aku menatapnya dengan haru. "Mas selalu memikirkan yang terbaik untukku.""Tentu saja," jawabnya sambil merangkul pundakku. "Kamu dan bayi kita adalah prioritas utama Mas."Kami mengambil bagasi dan berjalan keluar dari bandara. Sebuah mobil sudah menunggu untuk mengantar kami ke rumah baru."Mas, siapa yang menjemp

  • Menantu Egois    BAB 28

    Jarak yang Menguatkan---Dua minggu setelah kepergian Tejo, rumah terasa lebih sepi dari yang aku bayangkan. Meskipun Ibu mertua dan ibuku sering datang, tetap ada ruang kosong yang hanya bisa diisi oleh suamiku. Setiap malam, aku menunggu telepon darinya dengan perasaan campur aduk antara rindu dan cemas.Malam itu, aku duduk di teras kamar dengan selimut tebal menyelimuti tubuhku yang semakin membesar. Ponselku bergetar di atas meja kecil. Nama Tejo terpampang di layar."Hallo, Mas," sapaku dengan suara ceria meskipun hatiku sebenarnya ingin menangis."Hallo, Dek," suara Tejo terdengar hangat di ujung telepon. "Bagaimana keadaanmu hari ini?""Aku baik, Mas. Bayinya juga aktif sekali hari ini," jawabku sambil mengusap perutku."Mas senang mendengarnya," kata Tejo. "Dek, Mas punya kabar baik.""Kabar baik apa, Mas?" tanyaku penasaran."Proyek di sini sudah selesai lebih cepat dari perkiraan," jelas Tejo. "Mas bisa pulang minggu depan."Aku terbelalak. "Serius, Mas?""Serius, Dek," j

  • Menantu Egois    BAB 27

    Tangan-Tangan yang Menopang---Kehamilanku memasuki usia lima bulan. Perutku sudah terlihat jelas membuncit, dan gerakan bayi di dalamnya semakin sering terasa. Setiap tendangan kecil yang kurasakan selalu membuat hatiku meleleh."Bu, coba rasakan," kataku sambil meraih tangan ibuku dan meletakkannya di perutku. "Dia sedang aktif sekali hari ini."Ibuku menempelkan tangannya dengan hati-hati. Matanya berbinar saat merasakan gerakan di dalam perutku."Ya Allah, dia menendang," katanya dengan suara bergetar. "Ini cucu Ibu."Aku tersenyum melihat kebahagiaan di wajah ibuku. Wanita yang dulu begitu keras dan egois, kini melembut karena calon cucunya."Bu, nanti kalau bayinya lahir, Ibu mau bantu Rina merawatnya?" tanyaku.Ibuku menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Kamu masih mau Ibu bantu, Rin? Padahal Ibu dulu...""Sudah, Bu," potongku pelan. "Yang lalu biarlah berlalu. Sekarang kita fokus untuk menyambut bayi ini."Ibuku mengangguk dan mengusap air matanya. "Ibu janji akan menjadi nene

  • Menantu Egois    BAB 26

    Kabar yang Dinanti---Pagi itu, matahari bersinar lebih cerah dari biasanya. Aku terbangun dengan perasaan aneh di perutku. Mual dan pusing yang sudah kurasakan sejak beberapa hari terakhir kembali muncul.Aku bergegas ke kamar mandi dan muntah. Tejo yang masih setengah tidur langsung terbangun dan menyusulku."Dek, kamu kenapa?" tanyanya panik sambil memegangi rambutku yang jatuh menutupi wajah.Aku menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, Mas. Mungkin cuma masuk angin."Tejo mengerutkan dahi. "Ini sudah ketiga kalinya dalam seminggu, Dek. Kamu harus periksa ke dokter."Aku bangkit dan membasuh wajahku. "Nanti saja, Mas. Aku masih harus ke rumah singgah."Tejo meraih tanganku. "Dek, Mas serius. Kita ke dokter hari ini. Rumah singgah bisa menunggu."Aku menatap suamiku. Ada kekhawatiran yang tulus di matanya. Akhirnya aku mengangguk."Baiklah, Mas. Tapi setelah sarapan."---Di rumah sakit, dokter memeriksa kondisiku dengan teliti. Tejo duduk di sampingku, menggenggam tanganku erat."Bu Ri

  • Menantu Egois    BAB 25

    Dua Ibu, Satu Hati---Minggu-minggu pertama setelah ibuku tinggal di rumah singgah terasa canggung. Aku sering mendapati diriku berdiri di depan pintu kamarnya, ragu-ragu untuk masuk. Ada jarak yang tercipta selama bertahun-tahun, dan jarak itu tidak bisa hilang dalam semalam."Bu, aku a bawakan sarapan," kataku suatu pagi sambil mengetuk pintu."Masuklah, Rin," jawab ibuku dengan suara lemah.Aku membuka pintu dan melihat ibuku sudah duduk di tepi tempat tidur. Dia tersenyum tipis saat melihatku."Kamu repot-repot memasak untuk Ibu," katanya.Aku meletakkan nampan di meja samping tempat tidur. "Aku tidak memasak, Bu. Ini masakan Mbok Nah. Aku hanya mengantarkannya."Ibuku mengangguk dan mulai menyantap sarapannya. Aku duduk di kursi di sampingnya, memperhatikannya dengan perasaan yang campur aduk."Rin, kamu tidak perlu menunggui Ibu makan," kata ibuku. "Kamu pasti punya banyak pekerjaan.""Aku ingin di sini, Bu," jawabku pelan. "Aku ingin memastikan Ibu makan dengan baik."Ibuku be

  • Menantu Egois    BAB 02

    Menantu EgoisAku pulang dengan perasaan sangat marah dan kesal.Awas kamu Mas! Sudah mulai berani kamu memberi uang Ibu tanpa sepengetahuan Ku! gumamku dalam perjalanan pulang.Setelah sampai rumah, aku segera menyuruh Mbok Nah untuk membuatkan minum untuk ku karena sangat haus."Ini Bu minumnya."

  • Menantu Egois    BAB 01

    Menantu EgoisNamaku Rina. Aku memiliki suami bernama Tejo.Suamiku adalah anak satu-satunya Ibu mertuaku bernama Darsih.Ibu mertuaku seorang janda, walaupun janda, Dia adalah orang yang sangat mandiri, Ibu mertuaku tidak pernah meminta uang kepada Suamiku.Aku menikah dengan Mas Tejo sudah hampir

  • Menantu Egois    BAB 04

    Menantu EgoisBAB 04Setelah melihat isi yang tertulis dikertas itu, aku langsung pulang dari rumah Ibu dengan hati yang sangat marah.Setelah sampai rumah, aku langsung masuk kekamar dan menghubungi Mas Tejo."Hallo Mas!"sapaku ketika panggilan diangkat."Ya Dek ada apa?"tanyanya."Mas! kamu gila

  • Menantu Egois    BAB 06

    Menantu Super Duper Antik.BAB 06Keesokan paginya aku mendatangi rumah Ibu mertuaku.Aku langsung berlari kearahnya dan menangis sesenggukan dipelukakannnya."Ada apa to Rin?"tanyanya bingung."Apa kamu bertengkar sama Tejo?"imbuhnya lagi karena melihat ku masih menangis sesenggukan."Ibu. Maafin Rina se

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status