Share

BAB 02

Author: Yuliswar
last update publish date: 2023-01-10 05:59:38

Menantu Egois

Aku pulang dengan perasaan sangat marah dan kesal.

Awas kamu Mas! Sudah mulai berani kamu memberi uang Ibu tanpa sepengetahuan Ku! gumamku dalam perjalanan pulang.

Setelah sampai rumah, aku segera menyuruh Mbok Nah untuk membuatkan minum untuk ku karena sangat haus.

"Ini Bu minumnya."ujarnya sambil menyodorkan gelas berisi air yang sudah dicampur sirup dan ditambah es batu.

Aku langsung meraih gelas itu dan langsung menenggak isinya.

"Pelan-pelan Bu nanti kesedak."ujar Mbok Nah.

"Mbok! Aku mau tanya tapi mbok harus jawab dengan jujur. Apa aku salah jika marah kepada Bapak, karena ngasih uang ke Ibunya untuk renovasi rumah?"tanyaku padanya.

"Gak salah dong Bu."jawabnya.

"Nah kan benar. Aku berhak atas uang suamiku lalu kenapa Ibu mertuaku marah ya Mbok?"tanyaku.

"Mungkin ada penyampaian Ibu yang menyinggung Beliau."jawabnya.

Aku diam sejenak untuk mengingat kejadian tadi. Seingatku tak ada ucapanku yang bisa membuat ibu mertauku tersinggung dech.

"Gak ada dech Mbok. Aku cuma bilang kalau Ibu mertuaku tidak berhak meminta uang kepada Bapak, karena Ibu kan masih sehat dan masih bisa kerja."jawabku santai tanpa rasa bersalah.

Wajah si Mbok terlihat sedikit terkejut mendengar ucapanku. Memang ada yang salah dengan apa yang aku lakukan kok si Mbok ini wajahnya sedikit berubah.

"Ya kalau Ibu mengatakan seperti itu jelas Ibu salah."jawabnya tegas.

Aku terbelalak mendengar penuturan Mbok Nah.

"Tadi kata Mbok. Aku bener jika marah karena Bapak ngasih uang Ibunya? Mbok ini gimana sich! Mbok kok plin-plan!"ucapku dengan nada sedikit tinggi

"Maksud Mbok itu adalah, Bapak salah, karena memberi uang kepada Ibunya secara diam-diam, jadi wajar dan bisa di maklumi jika Ibu marah kepada Bapak. Tapi, Ibu juga salah jika berpikir uang Bapak hanya untuk Ibu. Karena, tanggung jawab anak laki-laki adalah menafkahi dan berbakti kepada orang tuanya, apalagi sang ibu sudah bersetatus Janda, jadi walaupun sianak sudah berkeluarga dia tetap berkewajiban mencukupi ibunya."jawabnya tegas.

Aku sangat marah dan tak terima mendengar penuturan Mbok Nah.

"Ah! Mbok dan Ibu itu sama saja dasar orang tua kolot!"bentakku. Mbok Nah wajahnya sedikit memerah sepertinya dia sedang menahan marah. Bodo amat dengannya.

Lalu aku kekamar untuk meredakan amarahku. Aku tidak terima jika disalahkan karena posisi aku benar.

Emang ada anak yang harus biayai orang tuanya? padahal orang tuanya masih sehat bugar dan masih bisa kerja. Ibu juga punya warung. Jadi ibu pasti bisalah memenuhi kebutuhannya sendiri, ibu kan hidupnya sederhana, pasti uang hasil warungnya cukuplah. Jadi benar dong jika ibu itu sebenarnya amat serakah.

Aku tahu itu sebenarnya alasan mereka saja, biar bisa menikmati uang anaknya. Sedangkan mereka para orang tua hanya duduk santai dirumah ongkang kaki sambil menunggu transferan dari anaknya setiap bulan.

Aku bukan menantu bodoh yang bisa digitukan. Aku tidak mau seperti di sinetron TV itu yang selalu mengalah demi mertua. Aku yang menemani mas Tejo berjuang jadi sudah seharusnya aku yang menikmati hasilnya. Bukan Ibu mertuaku.

Aku akan berusaha agar uang Mas Tejo hanya untukku.

Aku yang mengurus dan melayaninya setiap hari. Kok enak banget Ibu mertuaku seenaknya saja main minta uang.

Setelah emosi ku sedikit reda. Aku membaringkan tubuhku diatas kasur untuk istirahat, karena ini sudah waktunya tidur siang.

***

Sore hari Mas Tejo pulang, aku menyambutnya dengan bibir manyun.

"Ada apa sich istri Mas yang paling cantik ini? Kok suami pulang disambut dengan bibir manyun begini."godanya sambil memelukku.

"Alah sudahlah Mas! Gak usah sok perhatian gitu sama aku!"jawabku ketus.

"Lho. Ada apa to Dek?"tanyanya sambil menggaruk kepalanya.

"Mas kasih uang sama Ibu ya?"ujarku kesal.

"Iya Dek."jawabnya santai.

"Mas! Kok bisa kamu kasih uang Ibu tidak ijin aku dulu!"bentakku.

"Lho! Mas kasih Ibu. Karena kita dulu sering pinjam uang sama Ibu, jadi apa salahnya jika Mas membayarnya sekarang to itu tidak menganggu jatah bulananmu."jawabnya santai sambil berjalan kearah kamar.

"Ya gak bisa gitu dong Mas! Uang kamu ya uang aku! Seharusnya kamu ngomong dulu sama aku."ujarku ketus.

"Kalau Mas ngomong dulu memang Adek ijinin Mas?"tanyanya sambil melepas kancing bajunya.

"Ya pasti aku laranglah Mas! Ibu itu masih sehat masih bisa kerja dan ibu juga punya warung, jadi kita tidak usah mikirin Ibu lagi."jawabku ketus.

"Mas itu tidak ngasih Ibu. Tapi, Mas bayar hutang sama Ibu."jawabnya mulai sedikit kesal denganku.

"Bayar hutang kan bisa kapan-kapan Mas! Perhitungan banget sich Ibumu itu! Masak minjami uang anak sendiri saja sampai ditagih gitu."sungutku

"Dek! kenapa kamu itu sebegitu serakahnya jadi manusia. kita ini punya hutang sama Ibu jadi wajar dong kita bayar, to keuangan kita juga bisa dikatakan lebih dari cukup sekarang."jawabnya kesal.

"Mas! Ingat gak dulu, sebelum kamu diterima kerja, siapa yang biayai kebutuhan kita?"ujarku ketus.

"Iya Dek! Mas ingat ketika kita baru menikah dan Mas belum diterima kerja, kamu yang bekerja sebagai buruh cuci piring untuk kita bertahan hidup."jawabnya.

"Nah Mas ingat Itu kan! Jadi apa aku salah kalau aku marah sama Mas, karena ngasih uang ke Ibu?"tanyaku dengan lantang dan percaya diri.

"Sangat salah Dek. Dulu Ibu juga sering bantu kita ketika kita susah. Apa adek lupa hal itu?"ujarnya menatap tajam kearah ku.

Aku menelan saliva...

"Salahnya aku dimana Mas? Ibu bantu kita itu karena Dia adalah orang tua mu jadi ya wajar dong!"jawabku ketus.

"Ya berarti Mas juga wajar dong bayar hutang ke Ibu karena kondisi kita sudah sangat lebih dari cukup dan ibu juga adalah tanggung jawabku"ujarnya enteng sambil masuk kekamar mandi.

"Ya gak bisa dong! Mas...Mas... aku belum selesai ngomong."ujarku kesal karena diacuhkan.

Aku menunggu Mas Tejo sampai selesai mandi, pokoknya semuanya harus jelas dan aku harus bisa mendapatkan uang itu kembali. Aku benar-benar tidak ikhlas jika uang itu ibu nikmati.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menantu Egois    BAB 30

    Kejutan di Pagi Hari---Minggu berlalu sejak telepon dari Ibu mertua. Setiap hari aku menghitung mundur waktu kedatangan mereka. Aku menyiapkan kamar tamu dengan rapi, membeli makanan kesukaan mereka, dan memastikan rumah dalam keadaan bersih."Mas, apakah aku terlalu berlebihan?" tanyaku pada Tejo saat kami sedang merapikan kamar tamu.Tejo tersenyum sambil melipat selimut. "Tidak, Dek. Ini wajar. Kamu merindukan mereka."Aku mengangguk. "Iya, Mas. Aku sangat merindukan mereka."Tejo mendekat dan memelukku dari belakang. "Mas juga merindukan mereka. Apalagi Ibu. Mas sudah lama tidak bertemu Ibu."Aku menepuk tangannya. "Minggu depan kita akan bertemu mereka.""Iya," jawab Tejo. "Mas tidak sabar."---Pagi itu, aku terbangun dengan perasaan yang aneh. Perutku terasa kencang dan nyeri. Aku mencoba mengabaikannya dan bangkit dari tempat tidur."Dek, kamu kenapa?" tanya Tejo yang baru bangun."Tidak apa-apa, Mas," jawabku. "Mungkin hanya salah posisi tidur."Tejo menatapku dengan cemas

  • Menantu Egois    BAB 29

    Rumah yang Baru---Pesawat mendarat dengan lembut di bandara kota baru. Aku membuka mata dan menatap ke luar jendela. Langit biru cerah menyambut kami, seperti memberi isyarat bahwa ini adalah awal yang baik."Kita sudah sampai, Dek," kata Tejo sambil menggenggam tanganku.Aku mengangguk dan tersenyum. "Akhirnya, Mas."Kami turun dari pesawat dan berjalan menuju area pengambilan bagasi. Udara di kota ini terasa lebih sejuk dari kota sebelumnya. Aku menarik napas dalam-dalam, merasakan udara segar memenuhi paru-paruku."Mas, udaranya segar sekali," kataku sambil tersenyum.Tejo tertawa. "Iya, Dek. Mas memang sengaja memilih kota ini karena udaranya bagus untuk ibu hamil."Aku menatapnya dengan haru. "Mas selalu memikirkan yang terbaik untukku.""Tentu saja," jawabnya sambil merangkul pundakku. "Kamu dan bayi kita adalah prioritas utama Mas."Kami mengambil bagasi dan berjalan keluar dari bandara. Sebuah mobil sudah menunggu untuk mengantar kami ke rumah baru."Mas, siapa yang menjemp

  • Menantu Egois    BAB 28

    Jarak yang Menguatkan---Dua minggu setelah kepergian Tejo, rumah terasa lebih sepi dari yang aku bayangkan. Meskipun Ibu mertua dan ibuku sering datang, tetap ada ruang kosong yang hanya bisa diisi oleh suamiku. Setiap malam, aku menunggu telepon darinya dengan perasaan campur aduk antara rindu dan cemas.Malam itu, aku duduk di teras kamar dengan selimut tebal menyelimuti tubuhku yang semakin membesar. Ponselku bergetar di atas meja kecil. Nama Tejo terpampang di layar."Hallo, Mas," sapaku dengan suara ceria meskipun hatiku sebenarnya ingin menangis."Hallo, Dek," suara Tejo terdengar hangat di ujung telepon. "Bagaimana keadaanmu hari ini?""Aku baik, Mas. Bayinya juga aktif sekali hari ini," jawabku sambil mengusap perutku."Mas senang mendengarnya," kata Tejo. "Dek, Mas punya kabar baik.""Kabar baik apa, Mas?" tanyaku penasaran."Proyek di sini sudah selesai lebih cepat dari perkiraan," jelas Tejo. "Mas bisa pulang minggu depan."Aku terbelalak. "Serius, Mas?""Serius, Dek," j

  • Menantu Egois    BAB 27

    Tangan-Tangan yang Menopang---Kehamilanku memasuki usia lima bulan. Perutku sudah terlihat jelas membuncit, dan gerakan bayi di dalamnya semakin sering terasa. Setiap tendangan kecil yang kurasakan selalu membuat hatiku meleleh."Bu, coba rasakan," kataku sambil meraih tangan ibuku dan meletakkannya di perutku. "Dia sedang aktif sekali hari ini."Ibuku menempelkan tangannya dengan hati-hati. Matanya berbinar saat merasakan gerakan di dalam perutku."Ya Allah, dia menendang," katanya dengan suara bergetar. "Ini cucu Ibu."Aku tersenyum melihat kebahagiaan di wajah ibuku. Wanita yang dulu begitu keras dan egois, kini melembut karena calon cucunya."Bu, nanti kalau bayinya lahir, Ibu mau bantu Rina merawatnya?" tanyaku.Ibuku menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Kamu masih mau Ibu bantu, Rin? Padahal Ibu dulu...""Sudah, Bu," potongku pelan. "Yang lalu biarlah berlalu. Sekarang kita fokus untuk menyambut bayi ini."Ibuku mengangguk dan mengusap air matanya. "Ibu janji akan menjadi nene

  • Menantu Egois    BAB 26

    Kabar yang Dinanti---Pagi itu, matahari bersinar lebih cerah dari biasanya. Aku terbangun dengan perasaan aneh di perutku. Mual dan pusing yang sudah kurasakan sejak beberapa hari terakhir kembali muncul.Aku bergegas ke kamar mandi dan muntah. Tejo yang masih setengah tidur langsung terbangun dan menyusulku."Dek, kamu kenapa?" tanyanya panik sambil memegangi rambutku yang jatuh menutupi wajah.Aku menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, Mas. Mungkin cuma masuk angin."Tejo mengerutkan dahi. "Ini sudah ketiga kalinya dalam seminggu, Dek. Kamu harus periksa ke dokter."Aku bangkit dan membasuh wajahku. "Nanti saja, Mas. Aku masih harus ke rumah singgah."Tejo meraih tanganku. "Dek, Mas serius. Kita ke dokter hari ini. Rumah singgah bisa menunggu."Aku menatap suamiku. Ada kekhawatiran yang tulus di matanya. Akhirnya aku mengangguk."Baiklah, Mas. Tapi setelah sarapan."---Di rumah sakit, dokter memeriksa kondisiku dengan teliti. Tejo duduk di sampingku, menggenggam tanganku erat."Bu Ri

  • Menantu Egois    BAB 25

    Dua Ibu, Satu Hati---Minggu-minggu pertama setelah ibuku tinggal di rumah singgah terasa canggung. Aku sering mendapati diriku berdiri di depan pintu kamarnya, ragu-ragu untuk masuk. Ada jarak yang tercipta selama bertahun-tahun, dan jarak itu tidak bisa hilang dalam semalam."Bu, aku a bawakan sarapan," kataku suatu pagi sambil mengetuk pintu."Masuklah, Rin," jawab ibuku dengan suara lemah.Aku membuka pintu dan melihat ibuku sudah duduk di tepi tempat tidur. Dia tersenyum tipis saat melihatku."Kamu repot-repot memasak untuk Ibu," katanya.Aku meletakkan nampan di meja samping tempat tidur. "Aku tidak memasak, Bu. Ini masakan Mbok Nah. Aku hanya mengantarkannya."Ibuku mengangguk dan mulai menyantap sarapannya. Aku duduk di kursi di sampingnya, memperhatikannya dengan perasaan yang campur aduk."Rin, kamu tidak perlu menunggui Ibu makan," kata ibuku. "Kamu pasti punya banyak pekerjaan.""Aku ingin di sini, Bu," jawabku pelan. "Aku ingin memastikan Ibu makan dengan baik."Ibuku be

  • Menantu Egois    BAB 03

    Menantu EgoisBAB 03Setelah menunggu cukup lama akhirnya Mas Tejo selesai mandi. Sepertinya mas Tejo sengaja berlama-lama di kamar mandi untuk meredakan amarahnya. "Mas! Pokoknya aku tidak mau tahu! Kamu harus minta uang itu kembali dari Ibu!"ujarku kesal."Kamu itu Dek suami pulang kerja capek.

  • Menantu Egois    BAB 01

    Menantu EgoisNamaku Rina. Aku memiliki suami bernama Tejo.Suamiku adalah anak satu-satunya Ibu mertuaku bernama Darsih.Ibu mertuaku seorang janda, walaupun janda, Dia adalah orang yang sangat mandiri, Ibu mertuaku tidak pernah meminta uang kepada Suamiku.Aku menikah dengan Mas Tejo sudah hampir

  • Menantu Egois    BAB 04

    Menantu EgoisBAB 04Setelah melihat isi yang tertulis dikertas itu, aku langsung pulang dari rumah Ibu dengan hati yang sangat marah.Setelah sampai rumah, aku langsung masuk kekamar dan menghubungi Mas Tejo."Hallo Mas!"sapaku ketika panggilan diangkat."Ya Dek ada apa?"tanyanya."Mas! kamu gila

  • Menantu Egois    BAB 06

    Menantu Super Duper Antik.BAB 06Keesokan paginya aku mendatangi rumah Ibu mertuaku.Aku langsung berlari kearahnya dan menangis sesenggukan dipelukakannnya."Ada apa to Rin?"tanyanya bingung."Apa kamu bertengkar sama Tejo?"imbuhnya lagi karena melihat ku masih menangis sesenggukan."Ibu. Maafin Rina se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status