Share

BAB 04

Penulis: Yuliswar
last update Tanggal publikasi: 2023-01-10 06:01:44

Menantu Egois

BAB 04

Setelah melihat isi yang tertulis dikertas itu, aku langsung pulang dari rumah Ibu dengan hati yang sangat marah.

Setelah sampai rumah, aku langsung masuk kekamar dan menghubungi Mas Tejo.

"Hallo Mas!"sapaku ketika panggilan diangkat.

"Ya Dek ada apa?"tanyanya.

"Mas! kamu gila ya! Kenapa kamu tulis j kita punya hutang sama Ibumu sebesar seratus juta?"tanyaku kesal.

"Iya gak apa-apa biar aku ingat saja berapa uang yang sudah kita pinjam dari Ibu selama dua tahun ini."jawabnya enteng.

"Ibumu pasti yang nyuruh kamu untuk menotal semua uang yang kita pinjam!"bentakku.

"Gak! Ibu tidak ngomong apa-apa. Aku memang mencatat semua uang yang kita pinjam setelah kita menikah."jawabnya santai.

"Ibumu itu keterlaluan sekali! Masak ngasih anak dihitung hutang!"bentakku.

"Bukan, Ibu yang keterlaluan tapi kita. kita ini sudah tidak pernah ngasih Ibu. Tapi malah minta terus ke Ibu. Giliran sekarang aku mampu, kamu larang aku kasih uang ke Ibu. Ya jadi aku total semua uang yang Ibu kasih untuk kita selama lima tahun ini!"ujarnya dengan nada terdengar sedikit kesal.

"Pokoknya aku tidak mau tahu, uangmu adalah milikku jadi harus kamu kasih ke aku semua. Jika tidak, maka aku akan pergi dari rumah!"uajrku dengan nada tinggi sambil mengancam Mas Tejo.

Biasanya Mas Tejo akan luluh jika mendengar ancamanku dan pasti menuruti ucapanku. Aku yakin mas Tejo akan mengambil uang itu kembali dari tangan ibu.

Aku memang tidak pernah ikhlas jika ibu menikmati uang hasil keringat suamiku. Oleh karena itu, setiap Mas Tejo mau memberi uang Ibu, aku akan berusaha sebisa mungkin uang itu masuk kekantongku dengan berbabagai cara dan aku selalu berhasil melakukan hal itu.

"Kali ini aku tidak bisa mengikuti perintahmu terus. Aku bisa bekerja jadi seorang manager juga karena Ibu yang menyekolahkanku hingga perguruan tinggi. Jadi, sekarang saatnya aku berbakti kepada Ibuku. Jika kamu tidak mau peduli dengan Ibuku ya sudah sana pergi!"bentaknya.

Aku tercengang mendengar penuturan Mas Tejo. Karena tidak pernah mas Tejo seperti ini. Apakah mas Tejo benar marah kepadaku?

Apa Mas Tejo sudah tidak takut lagi dengan ancamanku?

Ini tidak bisa dibiarkan. Mas Tejo harus seperti dulu lagi. Aku tidak mau mas Tejo berubah.

Awas saja jika Ibu adalah orang dibalik perubahan sikap Mas Tejo.

Panggilan telepon dimatikan sepihak oleh Mas Tejo. Aku sebenarnya sangat marah. Tapi di sisi lain ada rasa takut dihatiku. Aku takut jika Mas Tejo benar-benar serius dengan omongannya tadi.

Aku tidak mau kembali hidup miskin.

Ibuku selalu mengatakan jika uang suami adalah hak istri. Jadi tidak salahkan jika aku mengikuti apa yang Ibuku selalu katakan kepadaku.

Perkataan Mas Tejo tadi membuatku teringat akan masa laluku yang susah dan menderita.

Aku terlahir dari keluarga yang cukup mampu ketika ayahku masih hidup.

Namun setelah Ayahku meninggal, kehidupan kami berubah dratis. Harta kami satu persatu kami jual untuk memenuhi kebutuhan hidup, karena Ibuku adalah orang yang tidak pernah bekerja sama sekali.

Setelah semua harta habis. Kami tinggal disebuah rumah kontrakan. Ibu selalu menyuruhku untuk bekerja. Sedangkan Dia hanya ongkang-ongkang kaki dikontrakkan.

Jika aku pulang tidak membawa uang Ibu akan marah dan memakiku.

Pekerjaan apapun selalu aku terima asalkan aku bisa mendapatkan uang.

Waktu itu, tanpa sengaja aku bertemu dengan Mas Tejo diwarung tempatku bekerja. Aku bekerja sebagai buruh cuci piring di sana.

Mas Tejo adalah seorang mahasiswa disebuah perguruan tinggi.

Mas Tejo orang yang sangat ramah. Mas Tejo sering membelikanku sebungkus nasi. Karena kebaikannya itulah yang membuat ku jatuh cinta kepadanya.

Awalnya aku takut jika Mas Tejo akan menolak cintaku. Tapi ternyata tidak. Mas Tejo menyambut perasaanku ternyata dia juga mencintai aku. Setelah cukup pendekatan

Akhirnya kami resmi berpacaran. Selama berpacaran, Mas Tejo tidak pernah malu jika mengajakku jalan bersama teman-temannya.

Setelah setahun berpacaran dan Mas Tejo sudah lulus kuliah. Akhirnya Mas Tejo mengajakku untuk menikah.

Awalnya Ibu Mas Tejo tidak merestui pernikahan kami karena aku adalah orang yang tidak memiliki harta. Tapi lambat laun Ibu Mas Tejo akhirnya merestui kami. Karena Mas Tejo mengancam akan pergi dari rumah jika tidak diijinkan menikahiku.

Setelah Mas Tejo mendapat restu dari Ibunya lalu Mas Tejo melamarku.

Namun masalah baru muncul. Kali ini masalah muncul dari Ibuku. Ibu memberikan sebuah syarat kepada Mas Tejo jika ingin menikahiku.

Ibu akan mengijinkan aku menikah asal Ibu dibelikan sebuah rumah dan setiap bulan Kami harus memberi jatah uang belanja kepada Ibu.

Kami yang saat itu dibutakan oleh cinta jadi mengiyakan semua permintaan Ibu ku tanpa berpikir terlebih dahulu.

Dan benar saja, setelah kami menikah Ibuku menuntut itu dari kami.

Kami awalnya sangat kebingungan mencari uang  untuk membelikan Ibu sebuah rumah, karena waktu itu Mas Tejo belum bekerja dan kami pun masih menumpang hidup sama Ibu mertuaku.

Karena terus didesak oleh Ibu ku akhirnya Mas Tejo meminta ijin kepada Ibunya untuk menjual tanah dibelakang rumahnya dengan alasan untuk modal usaha.

Awalnya ibu mertua menolaknya. Karena mas Tejo mengatakan untuk usaha akhirnya Ibu mertuaku mengijinkan tanah itu dijual.

Tanah itu laku terjual sebesar delapan puluh juta.

Mas Tejo memberikan uang kepada ibunya sebesar  sepuluh juta. Sedangkan yang lima puluh dikasih ke Ibuku untuk membeli sebuah rumah yang sederhana dan yang bisa dicicil.

Sedangkan sisa uang yang dua puluh juta, kami pake untuk mencoba membuka usaha toko kelontong kecil-kecilan agar Ibu mertua tidak curiga.

Setelah empat bulan membuka toko ternyata kami bangkrut. Karena modalnya tidak bisa diputar kembali. Karena kami harus membayar cicilan rumah Ibuku sebesar dua juta setiap bulan.

Ibu mertua mulai curiga dan akhirnya kami mengakui semuanya.

Ibu mertua sangat marah dan mengusir kami dari rumahnya. Setelah kami pergi dari rumah Ibu mertua, kami menyewa sebuah rumah kecil yang bulanannya murah.

Aku dan Mas Tejo mulai mencari kerja dibidang masing-masing.

Aku kembali bekerja serabutan. Sedangkan Mas Tejo mencoba mengirimkan lamaran kesemua perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan.

Namun nihil tidak ada satupun panggilan dari perusahaan itu. Waktu berjalan begitu cepat, sudah dua tahun kami menikah. Tapi Mas Tejo belum juga mendapatkan pekerjaan.

Untuk mengisi kekosongannya. Mas Tejo bekerja sebagi ojek dipasar. Sedangkan aku tetap menjadi buruh cuci piring.

Ibu mertuaku sering memberi uang kepada Mas Tejo, karena kasihan terhadap kesulitan kami.

Aku sebenarnya heran dengannya. Ibu kasihan melihat penderitaan kami. Tapi, Ibu tidak mau menerima kami tinggal dirumahnya lagi. Dia ingin kami hidup mandiri dan tidak bergantung dengannya lagi.

Setelah hubungan Mas Tejo mulai membaik dengan Ibu mertua. Mas Tejo mendapat panggilan kerja dengan jabatan yang sekarang ini.

Setelah Mas Tejo bekerja, kehidupan kami berubah dratis.

Kami bisa membeli rumah ini. Ya walaupun nyicil tapi setidaknya kami tidak lagi ngontrak rumah kecil dan kumuh.

Aku mulai berubah. Aku sangat takut jika nanti jatuh miskin lagi. Jadi aku akan menyimpan uang hasil kerja Mas Tejo sebaik mungkin.

Aku hanya mengeluarkan uang untuk kebutuhan Ibuku setiap bulan sebesar dua juta, sedangkan untuk Ibu mertua, aku tidak memberikan uang bulanan sepeserpun.

Aku berpikir, jika Ibu mertuaku masih sanggup bekerja dan Ibu mertuaku sudah biasa bekerja keras dan hidup mandiri.

Sangat berbeda dengan Ibuku yang tidak pernah bekerja, jadi kalau bukan aku yang mencukupi kebutuhan Ibuku lalu siapa lagi?

Aku jadi takut mendengar ucapan Mas Tejo tadi. Aku akan berusaha merayu Mas Tejo lagi.

Aku akan berpura-pura berubah dan membiarkan uang dua puluh juta itu diambil Ibu.

Agar Mas Tejo luluh lagi denganku dan setelah aku mendapat hatinya kembali, aku akan buat perhitungan kepada Ibu mertua.

Tunggu saja Bu pembalasan dariku"sungutku"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menantu Egois    BAB 30

    Kejutan di Pagi Hari---Minggu berlalu sejak telepon dari Ibu mertua. Setiap hari aku menghitung mundur waktu kedatangan mereka. Aku menyiapkan kamar tamu dengan rapi, membeli makanan kesukaan mereka, dan memastikan rumah dalam keadaan bersih."Mas, apakah aku terlalu berlebihan?" tanyaku pada Tejo saat kami sedang merapikan kamar tamu.Tejo tersenyum sambil melipat selimut. "Tidak, Dek. Ini wajar. Kamu merindukan mereka."Aku mengangguk. "Iya, Mas. Aku sangat merindukan mereka."Tejo mendekat dan memelukku dari belakang. "Mas juga merindukan mereka. Apalagi Ibu. Mas sudah lama tidak bertemu Ibu."Aku menepuk tangannya. "Minggu depan kita akan bertemu mereka.""Iya," jawab Tejo. "Mas tidak sabar."---Pagi itu, aku terbangun dengan perasaan yang aneh. Perutku terasa kencang dan nyeri. Aku mencoba mengabaikannya dan bangkit dari tempat tidur."Dek, kamu kenapa?" tanya Tejo yang baru bangun."Tidak apa-apa, Mas," jawabku. "Mungkin hanya salah posisi tidur."Tejo menatapku dengan cemas

  • Menantu Egois    BAB 29

    Rumah yang Baru---Pesawat mendarat dengan lembut di bandara kota baru. Aku membuka mata dan menatap ke luar jendela. Langit biru cerah menyambut kami, seperti memberi isyarat bahwa ini adalah awal yang baik."Kita sudah sampai, Dek," kata Tejo sambil menggenggam tanganku.Aku mengangguk dan tersenyum. "Akhirnya, Mas."Kami turun dari pesawat dan berjalan menuju area pengambilan bagasi. Udara di kota ini terasa lebih sejuk dari kota sebelumnya. Aku menarik napas dalam-dalam, merasakan udara segar memenuhi paru-paruku."Mas, udaranya segar sekali," kataku sambil tersenyum.Tejo tertawa. "Iya, Dek. Mas memang sengaja memilih kota ini karena udaranya bagus untuk ibu hamil."Aku menatapnya dengan haru. "Mas selalu memikirkan yang terbaik untukku.""Tentu saja," jawabnya sambil merangkul pundakku. "Kamu dan bayi kita adalah prioritas utama Mas."Kami mengambil bagasi dan berjalan keluar dari bandara. Sebuah mobil sudah menunggu untuk mengantar kami ke rumah baru."Mas, siapa yang menjemp

  • Menantu Egois    BAB 28

    Jarak yang Menguatkan---Dua minggu setelah kepergian Tejo, rumah terasa lebih sepi dari yang aku bayangkan. Meskipun Ibu mertua dan ibuku sering datang, tetap ada ruang kosong yang hanya bisa diisi oleh suamiku. Setiap malam, aku menunggu telepon darinya dengan perasaan campur aduk antara rindu dan cemas.Malam itu, aku duduk di teras kamar dengan selimut tebal menyelimuti tubuhku yang semakin membesar. Ponselku bergetar di atas meja kecil. Nama Tejo terpampang di layar."Hallo, Mas," sapaku dengan suara ceria meskipun hatiku sebenarnya ingin menangis."Hallo, Dek," suara Tejo terdengar hangat di ujung telepon. "Bagaimana keadaanmu hari ini?""Aku baik, Mas. Bayinya juga aktif sekali hari ini," jawabku sambil mengusap perutku."Mas senang mendengarnya," kata Tejo. "Dek, Mas punya kabar baik.""Kabar baik apa, Mas?" tanyaku penasaran."Proyek di sini sudah selesai lebih cepat dari perkiraan," jelas Tejo. "Mas bisa pulang minggu depan."Aku terbelalak. "Serius, Mas?""Serius, Dek," j

  • Menantu Egois    BAB 27

    Tangan-Tangan yang Menopang---Kehamilanku memasuki usia lima bulan. Perutku sudah terlihat jelas membuncit, dan gerakan bayi di dalamnya semakin sering terasa. Setiap tendangan kecil yang kurasakan selalu membuat hatiku meleleh."Bu, coba rasakan," kataku sambil meraih tangan ibuku dan meletakkannya di perutku. "Dia sedang aktif sekali hari ini."Ibuku menempelkan tangannya dengan hati-hati. Matanya berbinar saat merasakan gerakan di dalam perutku."Ya Allah, dia menendang," katanya dengan suara bergetar. "Ini cucu Ibu."Aku tersenyum melihat kebahagiaan di wajah ibuku. Wanita yang dulu begitu keras dan egois, kini melembut karena calon cucunya."Bu, nanti kalau bayinya lahir, Ibu mau bantu Rina merawatnya?" tanyaku.Ibuku menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Kamu masih mau Ibu bantu, Rin? Padahal Ibu dulu...""Sudah, Bu," potongku pelan. "Yang lalu biarlah berlalu. Sekarang kita fokus untuk menyambut bayi ini."Ibuku mengangguk dan mengusap air matanya. "Ibu janji akan menjadi nene

  • Menantu Egois    BAB 26

    Kabar yang Dinanti---Pagi itu, matahari bersinar lebih cerah dari biasanya. Aku terbangun dengan perasaan aneh di perutku. Mual dan pusing yang sudah kurasakan sejak beberapa hari terakhir kembali muncul.Aku bergegas ke kamar mandi dan muntah. Tejo yang masih setengah tidur langsung terbangun dan menyusulku."Dek, kamu kenapa?" tanyanya panik sambil memegangi rambutku yang jatuh menutupi wajah.Aku menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, Mas. Mungkin cuma masuk angin."Tejo mengerutkan dahi. "Ini sudah ketiga kalinya dalam seminggu, Dek. Kamu harus periksa ke dokter."Aku bangkit dan membasuh wajahku. "Nanti saja, Mas. Aku masih harus ke rumah singgah."Tejo meraih tanganku. "Dek, Mas serius. Kita ke dokter hari ini. Rumah singgah bisa menunggu."Aku menatap suamiku. Ada kekhawatiran yang tulus di matanya. Akhirnya aku mengangguk."Baiklah, Mas. Tapi setelah sarapan."---Di rumah sakit, dokter memeriksa kondisiku dengan teliti. Tejo duduk di sampingku, menggenggam tanganku erat."Bu Ri

  • Menantu Egois    BAB 25

    Dua Ibu, Satu Hati---Minggu-minggu pertama setelah ibuku tinggal di rumah singgah terasa canggung. Aku sering mendapati diriku berdiri di depan pintu kamarnya, ragu-ragu untuk masuk. Ada jarak yang tercipta selama bertahun-tahun, dan jarak itu tidak bisa hilang dalam semalam."Bu, aku a bawakan sarapan," kataku suatu pagi sambil mengetuk pintu."Masuklah, Rin," jawab ibuku dengan suara lemah.Aku membuka pintu dan melihat ibuku sudah duduk di tepi tempat tidur. Dia tersenyum tipis saat melihatku."Kamu repot-repot memasak untuk Ibu," katanya.Aku meletakkan nampan di meja samping tempat tidur. "Aku tidak memasak, Bu. Ini masakan Mbok Nah. Aku hanya mengantarkannya."Ibuku mengangguk dan mulai menyantap sarapannya. Aku duduk di kursi di sampingnya, memperhatikannya dengan perasaan yang campur aduk."Rin, kamu tidak perlu menunggui Ibu makan," kata ibuku. "Kamu pasti punya banyak pekerjaan.""Aku ingin di sini, Bu," jawabku pelan. "Aku ingin memastikan Ibu makan dengan baik."Ibuku be

  • Menantu Egois    BAB 03

    Menantu EgoisBAB 03Setelah menunggu cukup lama akhirnya Mas Tejo selesai mandi. Sepertinya mas Tejo sengaja berlama-lama di kamar mandi untuk meredakan amarahnya. "Mas! Pokoknya aku tidak mau tahu! Kamu harus minta uang itu kembali dari Ibu!"ujarku kesal."Kamu itu Dek suami pulang kerja capek.

  • Menantu Egois    BAB 02

    Menantu EgoisAku pulang dengan perasaan sangat marah dan kesal.Awas kamu Mas! Sudah mulai berani kamu memberi uang Ibu tanpa sepengetahuan Ku! gumamku dalam perjalanan pulang.Setelah sampai rumah, aku segera menyuruh Mbok Nah untuk membuatkan minum untuk ku karena sangat haus."Ini Bu minumnya."

  • Menantu Egois    BAB 01

    Menantu EgoisNamaku Rina. Aku memiliki suami bernama Tejo.Suamiku adalah anak satu-satunya Ibu mertuaku bernama Darsih.Ibu mertuaku seorang janda, walaupun janda, Dia adalah orang yang sangat mandiri, Ibu mertuaku tidak pernah meminta uang kepada Suamiku.Aku menikah dengan Mas Tejo sudah hampir

  • Menantu Egois    BAB 06

    Menantu Super Duper Antik.BAB 06Keesokan paginya aku mendatangi rumah Ibu mertuaku.Aku langsung berlari kearahnya dan menangis sesenggukan dipelukakannnya."Ada apa to Rin?"tanyanya bingung."Apa kamu bertengkar sama Tejo?"imbuhnya lagi karena melihat ku masih menangis sesenggukan."Ibu. Maafin Rina se

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status