เข้าสู่ระบบSore hari sesuai kesepakatan dengan Delia, Willy meluncur dengan Mini Cooper biru menuju Universitas Arsaka. Ia mengemudi dengan hati-hati, merasa bangga sekaligus gugup menjalankan tugas ini. Mobil mungil itu melaju mulus di jalan raya, menarik perhatian beberapa orang yang meliriknya dengan kagum.
“Mobil ini benar-benar memikat,” gumam Willy sambil menyesuaikan posisi kaca spion. Universitas Arsaka mulai terlihat di kejauhan, dengan gerbang besar bergaya modern yang berdiri kokoh di depan. Mahasiswa-mahasiswa terlihat santai berlalu-lalang, beberapa duduk di bangku taman sambil mengobrol atau membaca. Willy memarkir mobil di tepi jalan dekat gerbang dan segera mencari sosok Delia. Namun, apa yang dilihatnya di sana membuatnya tertegun. Delia berdiri di bawah pohon rindang, dikelilingi oleh tiga orang pemuda. Dari kejauhan, Willy bisa melihat salah satu pemuda itu berbicara dengan nada keras, sementara Delia tampak berusaha mempertahankan sikap tenang meskipun jelas terlihat terganggu. Willy mematikan mesin mobil dan turun dengan cepat. Ia berjalan mendekat untuk memastikan situasi, dan percakapan itu pun terdengar lebih jelas. "Delia, aku sudah bilang, kamu hanya perlu bilang iya! Aku bisa kasih kamu semua yang kamu mau. Makan di restoran bintang lima, belanja, bahkan uang saku tambahan. Bukankah itu menggiurkan?" Pemuda itu berbicara dengan nada sok yakin, sementara senyum puas terlukis di wajahnya. Delia, dengan kedua tangannya yang terlipat di dada, menjawab dengan tegas, "Aku sudah bilang, Tomey. Aku tidak tertarik. Tolong berhenti memaksa." Pemuda itu, yang ternyata bernama Tomey, mendekat lebih dekat ke arah Delia, membuat gadis itu sedikit mundur. "Ayo, Delia. Jangan keras kepala. Kamu tahu, bukan? Aku bisa membuat hidupmu lebih mudah." Willy berhenti beberapa langkah dari mereka, memperhatikan situasi. Tomey tidak sendirian, ia ditemani oleh dua temannya yang berdiri sedikit di belakangnya, tertawa kecil seolah-olah mendukung setiap kata yang keluar dari mulutnya. --- Tomey dikenal sebagai anak seorang pengusaha kaya di kota itu. Gayanya selalu sok kaya, dengan pakaian bermerek yang mencolok dan sikap yang seolah-olah semua orang harus tunduk padanya. Sayangnya, Delia tidak terpengaruh sedikit pun oleh rayuannya. "Tomey," kata Delia lagi, kali ini dengan nada lebih tajam. "Aku tidak membutuhkan apapun darimu. Sekali lagi, tolong berhenti menggangguku." Namun, bukannya mundur, Tomey malah semakin mendekat. "Apa kamu lupa, Delia? Keluargamu bahkan tidak setara dengan keluargaku. Kamu seharusnya merasa beruntung aku tertarik padamu." Ucapan itu membuat darah Willy mendidih. Ia tahu Delia bukan tipe orang yang suka bergantung pada kekayaan, dan mendengar seseorang merendahkannya seperti itu membuat Willy ingin segera bertindak. Tapi ia menahan diri, menunggu momen yang tepat. "Kalau kamu masih memaksa," kata Delia, memotong ucapan Tomey, "aku akan melapor ke pihak kampus." Tomey tertawa kecil, mengejek. "Silakan saja. Kamu pikir itu akan mengubah apapun? Aku bisa membeli siapa saja di kampus ini." Pada saat itulah, Willy melangkah maju, berdiri di antara Delia dan Tomey. "Permisi," katanya dengan suara tenang tapi tegas. Tomey menoleh, alisnya terangkat saat melihat Willy. "Kamu siapa?" tanyanya dengan nada meremehkan. "Saya hanya karyawan keluarga Haldi," jawab Willy, tetap menjaga nada sopan. "Tapi saya diminta menjemput Nona Delia. Jadi, mohon maaf, kami akan pergi sekarang." Delia terlihat lega melihat Willy, tetapi ia tetap berdiri tegak di tempatnya. Tomey, di sisi lain, tampak tidak senang dengan kehadiran Willy. Ia melangkah mendekat, menatap Willy dari atas ke bawah. "Karyawan? Oh, jadi kamu sopirnya?" ejek Tomey. "Kalau begitu, sopir, jangan ikut campur urusan ini." Willy tetap tenang. "Tugas saya memastikan Nona Delia sampai di rumah dengan selamat. Jika Anda punya urusan lain, silakan selesaikan di waktu yang lain." Tomey tersenyum sinis, tapi ada nada kesal di balik senyumnya. "Beraninya kamu bicara seperti itu padaku. Kamu tahu siapa aku?" Willy tidak menjawab, hanya menatapnya dengan tenang. Tomey, merasa tersudut, menoleh ke teman-temannya. "Lihat ini. Seorang sopir mencoba mengaturku." Salah satu temannya tertawa kecil. "Mungkin dia pikir dia pahlawan, Tom." Namun, sebelum situasi semakin memanas, Delia melangkah ke depan. "Cukup, Tomey. Aku tidak ingin mendengar apapun lagi darimu. Ayo pergi, Willy." Delia menarik lengan Willy, membawanya ke arah mobil. Tomey tampak terkejut dan berteriak, "Tunggu sebentar!" Teriakan nyaring Tomey menghentikan langkah Willy dan Delia yang sudah hampir mencapai mobil. Suara itu penuh kemarahan dan ego terluka, memaksa keduanya untuk menoleh ke belakang. Tomey berdiri dengan wajah memerah, matanya menyala penuh emosi. “Berhenti kalian berdua!” teriaknya, suaranya menggema di area gerbang kampus yang mulai sepi. Delia menggenggam lengan Willy dengan erat, berbisik pelan, “Kita abaikan saja dia, Willy. Jangan buat masalah.” Namun, sebelum Willy sempat melangkah lebih jauh, Tomey sudah melangkah maju dengan cepat. Ia tidak bisa menerima perlakuan seperti itu, diabaikan dan ditolak di depan umum. Sebagai anak seorang pengusaha kaya, Tomey terbiasa mendapatkan apa yang ia inginkan. Di kampus, ia adalah sosok yang ditakuti, dihormati bukan karena kepribadiannya, tetapi karena pengaruh keluarganya. “Apa kau pikir aku akan membiarkanmu pergi begitu saja setelah mempermalukan aku di depan semua orang?” kata Tomey dengan suara bergetar. Ia melangkah lebih dekat dan, tanpa peringatan, mendorong tubuh Willy dari belakang dengan kasar. Namun, yang ia rasakan bukanlah reaksi yang ia harapkan. Tangannya seperti menabrak tembok yang kokoh, tubuh Willy tidak bergeming sedikit pun. Tomey terhuyung ke belakang, memegangi tangannya yang sedikit kesakitan. “Apa-apaan ini?” gumamnya, bingung dan marah. Willy berbalik dengan tenang, menatap Tomey tanpa emosi. Matanya yang dingin membuat Tomey semakin kesal. Delia, di sisi lain, berdiri cemas, khawatir situasi akan semakin memburuk. Tomey, yang tidak bisa menerima kekalahannya, melirik dua teman yang selalu mengikutinya ke mana pun ia pergi. “Hajar dia!” perintahnya dengan suara lantang. Kedua pemuda itu tampak ragu sejenak, tetapi akhirnya bergerak maju dengan enggan. Mereka tahu Willy adalah sopir keluarga Haldi, tetapi mereka tidak bisa menolak perintah Tomey yang merupakan sumber pengaruh dan uang bagi mereka. Delia terkejut, wajahnya memucat. “Tomey, hentikan ini! Kau tidak bisa seenaknya!” Namun, Tomey tidak peduli. Amarahnya sudah menguasai akal sehatnya. Ia hanya ingin memberikan pelajaran kepada Willy, yang ia anggap telah merendahkannya. Kedua pemuda itu mendekati Willy dengan langkah berat, tangan mereka sudah siap mengepalkan tinju. Willy tetap berdiri tenang, matanya mengamati gerakan mereka dengan penuh perhatian. Saat keduanya sudah semakin mendekat, terdengar suara tegas Willy, "Kalian ingin mencoba kemampuan bertarung sopir dari keluarga Haldi? Kalian yakin? Mari silahkan, saya akan melayani dengan senang hati," ###Gedung pencakar langit Rumah Sakit Golden Healthy berdiri dengan megahnya di pusat Kota Arsaka, memantulkan cahaya matahari pagi pada dinding kacanya yang berkilauan. Pagi ini, suasana di lobi utama tampak jauh lebih sibuk dan tegang dibandingkan hari-hari biasanya. Barisan dokter spesialis, perawat dengan seragam putih bersih, hingga jajaran direksi berpakaian formal telah berdiri rapi membentuk pagar ayu yang panjang. Mereka semua sedang menunggu kedatangan sosok misterius yang menurut kabar hukum terbaru telah menjadi pemilik tunggal sekaligus Direktur Utama mereka yang baru. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyangka bahwa sosok yang akan muncul adalah pemuda yang selama ini dianggap tidak memiliki pengaruh apa pun di kota tersebut.Iring-iringan mobil mewah berwarna hitam mengkilap perlahan memasuki pelataran gedung. Mobil paling depan berhenti tepat di depan pintu lobi, dan seorang pengawal dengan sigap membukakan pintu belakang. Willy melangkah keluar dengan setelan jas c
Pandangan Ben Dino seketika beralih sepenuhnya ke arah Willy, meninggalkan koran yang tadi ia baca di samping meja. "Katakanlah, Nak. Kami semua mendengarkan. Apakah ini mengenai masalah rumah tangga kalian, atau ada hal lain yang mendesak?" tanya Ben Dino dengan sorot mata yang penuh perhatian."Ini bukan soal masalah rumah tangga, Ayah. Ini adalah sesuatu yang berkaitan dengan masa depanku dan juga kejutan yang baru saja aku terima kemarin," jawab Willy sambil menatap mata ayah angkatnya dengan penuh ketegasan."Kelihatannya sangat serius. Apakah kau sedang butuh modal bisnis atau semacamnya?" tanya Sano sambil menyandarkan punggungnya ke kursi, tampak tertarik dengan pembukaan Willy yang tidak biasa."Bukan modal, Kak. Ini jauh lebih besar dari itu. Aku sendiri pun masih merasa seperti di dalam mimpi saat pertama kali mengetahuinya," sahut Willy sambil melirik Delia sejenak untuk mencari kekuatan tambahan."Kalau begitu, ceritakanlah sekarang agar kami tidak mati penasaran. Apa yan
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah-celah tirai besar di kamar utama, memantulkan binar keemasan pada lantai marmer yang bersih. Willy terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan dibandingkan malam sebelumnya, seolah beban berat yang sempat menghimpit dadanya telah luruh bersama keringat dan pergumulan hangat bersama Delia. Ia menoleh ke samping, mendapati istrinya sedang merapikan rambut di depan cermin besar setelah mereka berdua selesai mandi bersama untuk membersihkan sisa-sisa kelelahan tadi malam. Ritual mandi pagi itu tidak hanya menyegarkan fisik mereka, tetapi juga semakin mempererat ikatan batin yang sempat tegang karena tekanan rahasia dari sistem cahaya."Apakah kau sudah merasa lebih siap untuk menghadapi Ayah pagi ini?" tanya Delia sambil memulas sedikit lipstik di bibirnya yang ranum.Willy mengangguk mantap sambil mengenakan kemeja santai namun tetap terlihat rapi dan berwibawa. "Berkat ide cemerlangmu semalam, aku merasa jauh lebih percaya diri
Willy menatap istrinya dengan pandangan yang berusaha terlihat setegar mungkin, meskipun di dalam hatinya ia merasa sangat berdebar karena harus mempertahankan kebohongan besar ini. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya kembali membuka suara dengan nada yang sangat serius."Entah itu terdengar sangat aneh di telingamu atau sama sekali tidak masuk akal bagi logika siapa pun, kenyataannya memang sudah seperti itu adanya, Delia," ujar Willy sambil menatap lekat kedua mata istrinya.Ia menjelaskan bahwa segala bentuk administrasi dan pembuktian hukum sudah berada di tangannya tanpa ada satu pun celah yang bisa diperdebatkan lagi oleh pihak mana pun."Aku tidak sedang mengigau atau mencoba menciptakan lelucon yang tidak masuk akal di malam hari ini. Aku benar-benar pemilik sah Golden Healthy sekarang," tambah Willy dengan nada suara yang sedikit lebih rendah namun sangat menekan.Delia terdiam selama beberapa saat, mencoba mencerna intensitas yang terpancar dari raut wajah suaminya ya
MOHON MAAF KEPADA SEMUA PEMBACA KARENA SELAMA INI PENULIS VAKUM. TAPI, MULAI HARI INI CERITA AKAN KEMBALI DILANJUTKAN. Langkah kaki Willy terasa berat saat ia menyusuri jalan setapak di taman belakang kediaman mewah milik Ben Dino. Udara malam yang dingin menyapu permukaan kulitnya, namun tidak mampu mendinginkan gejolak pikiran yang sedang melanda. Di dalam kepalanya, sistem cahaya yang bersemayam dalam tubuhnya seolah terus berdenyut, mengingatkan Willy bahwa ia kini bukan lagi sekadar pemuda biasa yang menumpang di rumah orang kaya. Secara hukum dan administratif, ia telah menjadi pemilik tunggal dari Rumah Sakit Golden Healthy, sebuah institusi medis papan atas yang namanya sangat disegani di Kota Arsaka. Namun, kekayaan dan kekuasaan yang datang secara instan itu justru membawa beban moral yang besar. 'Bagaimana mungkin aku menjelaskan hal ini kepada ayah yang telah memberikan segalanya, tanpa membocorkan rahasia tentang sistem yang menjadi sumber kekuatanku?' gumam
Bab XLV: Harta KarunWilly menaiki ojek motor dengan cepat, menuju rumah warga tempat mobilnya dititipkan. Sambil menikmati hembusan angin sore yang menyapu wajahnya, ia merasa puas dengan kejadian sore tadi. Willy tak sabar ingin segera menceritakan perkelahiannya dengan anak buah Tomey kepada Delia. Ia ingin istrinya tahu bahwa pria yang selama ini mendekatinya, ternyata tak lebih dari sekedar pengecut yang hanya berani bertindak ketika memiliki banyak anak buah di sisinya.Setelah mengambil mobilnya, Willy meluncur di tengah kemacetan kota Arsaka. Langit sudah mulai gelap dan jalanan padat dengan kendaraan yang berdesakan. Ia menyalakan lampu hazard saat laju kendaraan benar-benar melambat. Tak seberapa lama waktu berjalan, ponselnya bergetar di dashboard, itu adalah panggilan masuk dari Ben Dino."Halo, Ayah?" Willy menjawab panggilan sambil tetap fokus pada lalu lintas."Nak, kamu ada di mana? Malam ini Ayah ingin mengajakmu menjenguk seorang teman lama yang sedang sakit. Ayah s







