LOGINWalaupun Lucas sudah menebak hal ini, tetapi saat mendengar informasi ini, dia tetap agak terkejut."Tentu saja situasinya bukan seperti itu. Kami hanya ingin tahu apakah ada yang berulah di belakang hingga membuat proyek-proyek itu bermasalah, juga demi membeli sebuah informasi."Lucas berusaha sebaik mungkin untuk memberikan penjelasan."Memangnya kenapa kalau begitu? Aku bebas menginvestasikan uangku pada siapa saja, tapi Keluarga Siantar benar-benar sudah menganggap remeh kami, tentu saja aku nggak setuju untuk melanjutkan kerja sama lagi."Kali ini Muklis sudah bertekad untuk tidak bekerja sama lagi. Apa pun yang mereka katakan, juga tidak ada gunanya.Hal yang lebih mengesalkan adalah, uang sebesar 180 miliar itu diambil dari dana proyek mereka. Orang yang satu itu benar-benar menganggap mereka sebagai orang bodoh."Sebenarnya hal ini bisa dijelaskan lagi. Pak Muklis nggak perlu marah karena hal ini. Itu hanya penggunaan dana untuk sementara waktu saja, kekurangan itu akan segera
"Memang ada sedikit masalah, tapi juga bukannya sangat merepotkan. Asalkan diubah sedikit, nggak lama lagi akan ada penghasilan. Sebenarnya hal seperti ini juga sulit dikatakan. Nggak ada yang tahu apa yang akan terjadi besok. Terlebih lagi, bisnis Keluarga Siantar selalu untung nggak pernah rugi."Lucas masih berusaha untuk membujuk lawan bicaranya. Dia juga sangat penasaran mengapa tekad Muklis dalam hal ini sangat kuat.Terlebih lagi, bagaimana Muklis bisa tahu soal proyek bermasalah? Mereka sudah memblokade informasi soal proyek bermasalah sejak awal, tidak akan ada orang luar yang tahu."Yah, seperti yang kamu katakan sendiri, nggak ada yang tahu apa yang akan terjadi besok. Jadi, kalian harus segera mentransfer uang itu padaku. Aku takut kalau ditunda-tunda akan terjadi sesuatu nggak terduga."Keputusan Muklis sudah bulat, tidak akan bisa dibujuk lagi.Lucas merasa sangat menyayangkan. Kali ini boleh dibilang dia juga sudah melihat ketetapan hati Muklis."Omong-omong, aku hanya b
"Sekarang Bos marah juga nggak ada gunanya. Bagaimana kalau kita pikirkan dulu cara lain?"Lucas yang berdiri di samping mengingatkan bosnya. Melihat bosnya yang sedang terluka masih harus memikirkan hal-hal itu, dia tahu memang tidak mudah bagi bosnya.Namun, pada dasarnya nyali mereka sendiri juga terlalu besar. Beberapa proyek dimulai pada saat bersamaan. Dulu ada Keluarga Siantar dan beberapa mitra bisnis yang menjadi penopang, tentu saja mereka bisa aman-aman saja.Akan tetapi, ibarat atap sudah bocor, hujan malah turun berhari-hari. Proyek mereka bermasalah, masih bisa mereka atasi. Namun, bermasalah pada saat bersamaan, membuat mereka tidak sanggup menanggung beban itu."Apa kamu pikir aku nggak ingin memikirkan cara? Tapi sekarang masalahnya adalah kita nggak berdaya."Sekarang Alendo sudah terluka, dia bahkan tidak bisa fokus pada pemulihannya dengan tenang. Di saat seperti ini, ada masalah baru lagi di perusahaan. Hal ini membuatnya makin marah dan kesal."Bagaimana kalau kit
"Dasar pecundang! Di mana para petarung itu? Hanya terima gaji buta saja?"Alendo merasa dirinya sudah melakukan persiapan matang, hanya saja dia tidak menyangka pergerakan Ardika begitu cepat, sama sekali tidak sempat memerintahkan para petarung itu untuk menyerang, bocah itu sudah menyerangnya."Saat aku membawamu ke rumah sakit, para petarung itu masih terletak di lantai yang dingin. Mereka semua sudah tumbang."Mengingat situasi seperti itu, ekspresi Lucas berubah menjadi makin muram.Untuk sesaat, dia juga tidak tahu apa yang harus dikatakannya!Kejadian seperti itu hanya dialami sekali saja sudah membekas dalam benak, mungkin seumur hidup ini dia tidak akan bisa melupakan lokasi yang mengerikan itu.Awalnya Alendo masih ingin menyalahkan para petarung tersebut, tetapi mendengar informasi ini juga membuatnya agak terkejut."Ardika hanya datang seorang diri, bagaimana dia bisa punya kemampuan seperti itu?"Alendo tetap sedikit tidak percaya, dia tidak percaya seseorang bisa sehebat
Satu per satu dari beberapa orang itu menggeleng. Mereka tidak ada pemikiran yang luar biasa soal ini, mereka hanya merasa akan berubah drastis.Beberapa buah mobil itu melaju dengan cepat, tetapi juga tidak menarik perhatian.Orang-orang di jalanan berjalan dengan tergesa-gesa, memiliki tujuan sendiri.Seolah-olah hidup selalu sesederhana ini, tidak ada perubahan apa pun.Namun, diam-diam Provinsi Aste sudah mulai berubah.Alendo sudah sangat berpengalaman dalam berbisnis, terlibat dalam banyak industri.Awalnya dia memiliki identitas dan status yang terhormat, tentu saja ada banyak orang yang memanjakannya dan menyanjungnya.Namun, beberapa waktu ini kinerja Keluarga Siantar membuat banyak pebisnis ketakutan, ada beberapa mitra juga masih sedang mengamati situasi.Beberapa orang pebisnis yang belum sempat bertindak, untuk sesaat juga tidak panik lagi. Saat ini, orang-orang yang sebelumnya terus mengejar ingin meminta proyek, juga mulai beralasan, tidak bersedia untuk bekerja sama lag
Namun, setelah tadi dia memeriksa kondisi bosnya sejenak, sepertinya selain luka di kepala, tidak ada bagian lain dari tubuh bosnya yang terluka lagi.Sekarang bosnya itu dalam kondisi tidak sadarkan diri, mungkin sedikit lebih baik, karena dengan begini bosnya tidak akan merasa kesakitan lagi.Namun, mendengar suara obrolan di luar membuatnya kesal.Lucas berspekulasi bahwa identitas Ardika sangat terhormat, dan kali ini bosnya benar-benar sudah menyulut amarah Ardika.Juga tidak tahu pembalasan seperti apa yang akan dilancarkan oleh Ardika nantinya.Saat ini, Lucas mulai mengkhawatirkan urusan bisnis. Namun, melirik bosnya yang dalam kondisi tidak sadarkan diri itu, dia merasa seharusnya dia tidak perlu mengkhawatirkan hal itu.Lucas menghubungi rumah sakit swasta. Tak lama kemudian, pihak rumah sakit sudah mengirim ambulans kemari.Dengan bantuan orang lain, Lucas mengangkat bosnya ke atas tandu. Kemudian, dia melirik petarung yang tidak sadarkan diri itu sejenak, menunjukkan ekspre
Ekspresi Luna juga berubah menjadi muram. "Ibu, sudah kubilang dari awal aku nggak tertarik pada Xavier. Ibu jangan bicara sembarangan dan memberinya harapan lagi, oke?""Aku mana ada bicara sembarangan."Desi memutar matanya dan berkata, "Aku juga nggak bilang ingin kalian menjalin hubungan atau se
Thea berkata dengan suara dalam, "Tuan Muda, Ardika itu bilang kalau Tuan Muda nggak ingin mati, jangan coba-coba untuk mengintervensi Organisasi Snakei.""Kalau aku nggak ingin mati, jangan coba-coba untuk mengintervensi Organisasi Snakei ...."Jerfis bertanya balik dengan acuh tak acuh, "Apa ini a
"Minta maaf?"Seolah-olah mendengar sesuatu hal di luar nalarnya, Winona yang emosi itu pun berteriak dengan marah, "Apa hak wanita jalang ini ....""Plak ...."Tanpa beromong kosong lagi, Ardika langsung melayangkan satu tamparan ke wajah Winona dengan punggung tangannya, hingga membuat wajah wanit
Detik berikutnya, ekspresi Desi langsung berubah menjadi ganas saking emosinya!Melihat situasi sudah mulai memanas, Luna buru-buru berdiri di antara Desi dan Ardika. Dia berkata, "Ibu, Bibi Asnah sudah bekerja sangat keras. Gajinya memang nggak tinggi, dia bahkan mengeluarkan uang sendiri untuk mem







