Saat ini, Jerfis tiba-tiba teringat akan satu hal. "Paman, bukankah penyakit Bibi belum pulih sepenuhnya? Apa perlu tetap lanjut menyerang Ardika? Bagaimana kalau aku minta mereka untuk menangkapnya hidup-hidup saja?""Nggak perlu!"Wilgo melambaikan tangannya tanpa ragu dan berkata, "Kesempatan seperti ini jarang ada. Kalau kali ini Ardika bisa dibunuh, bunuh saja, nggak perlu berpikir terlalu banyak.""Adapun mengenai Betty ...."Kilatan canggung melintasi wajah Wilgo, lalu ekspresinya normal kembali. Dia berkata dengan acuh tak acuh, "Kemungkinan besar penyakitnya sudah disembuhkan oleh Ardika. Paling nggak sejak kemarin hingga sekarang ini, penyakitnya nggak kumat lagi.""Alasan Ardika si bajingan itu bilang masih perlu dia turun tangan untuk menyembuhkan Betty, menurutku dia hanya sedang mengulur-ulur waktu, mencari alasan untuk mengancamku.""Huh! Aku nggak akan tertipu olehnya!"Wilgo mendengus, menggunakan cara seperti ini untuk menenangkan dirinya sendiri.Sebenarnya penyakit
Jerfis berkata dengan ritme tidak cepat, juga tidak lambat, "Aku sudah menelepon Akria, juga sudah mengirim Lisea dan Nenek Ular ke sana.""Kalau nggak ada kejadian nggak terduga, setelah malam ini, nggak akan ada lagi Ardika di dunia ini.""Sedangkan Paman juga sudah bisa bergerak dengan tenang untuk mengambil kembali semua hal yang sempat luput dari tanganmu, termasuk posisi sebagai ketua cabang Provinsi Denpapan yang belum kamu peroleh."Wilgo mengangkat alisnya, menyembunyikan gejolak emosinya dengan baik, lalu berkata dengan terkejut, "Bagaimana si Ardika itu bisa menyinggung Akria? Apa kerjaannya hanya mencari masalah sepanjang hari?"Dia juga mengenal Akria.Bahkan dia yang merupakan wakil ketua Organisasi Snakei cabang Provinsi Denpapan pun takut pada salah satu dari Delapan Harimau Organisasi Fierchi Tigor itu.Dia tidak menyangka Ardika bahkan belum menyelesaikan konfliknya dengan Jerfis, tetapi bocah itu malah sudah menyinggung Akria lagi.Bocah itu benar-benar pembuat onar.
"Baik ... nggak, ini ...."Secara naluriah Jefandro ingin menyetujui permintaan Ardika. Namun, dia tiba-tiba bereaksi kembali. Ekspresinya berubah menjadi pucat pasi, dia menatap Ardika dengan tatapan memohon dan berkata, "Kak Ardika, nggak bisa begini. Saham-saham ini adalah milik kakak sepupuku, kalau aku mengalihkannya pada orang lain, dia pasti akan membunuhku!"Orang-orang lainnya juga menatap Ardika dengan tatapan terkejut.Kalau sampai Jerfis tahu saham-saham yang dipegang oleh Jefandro itu telah dialihkan pada orang lain, tidak tahu apa yang akan dilakukannya.Jefandro masih ingin memohon, tetapi Ardika langsung menyelanya, "Walau aku bilang aku nggak akan menghabisi kalian dengan mempertimbangkan Keluarga Liwanto, juga ada syaratnya.""Sekarang kubunuh, atau dibunuh oleh Jerfis nanti?""Kamu pilih sendiri saja."Ardika menepuk-nepuk bahu Jefandro. Selesai berbicara, dia melirik Akria sekilas, lalu berkata dengan acuh tak acuh, "Beri dia waktu dua jam. Kalau setelah dua jam ber
"Kamu nggak salah."Ardika menggelengkan kepalanya dan berkata, "Sejak pertama kali bertemu denganku di Kediaman Keluarga Liwanto, kamu sudah memandang rendah aku. Di bawah hasutan Irvy, kamu memprovokasiku berulang kali.""Biarpun setiap kali aku sudah memberimu pelajaran, kamu tetap saja menganggap remeh aku, memikirkan berbagai macam cara untuk mempermalukanku, menjatuhkanku.""Yah, intinya kamu menganggap remeh orang kampungan sepertiku, memandang rendah aku yang adalah seorang menantu benalu ini.""Hari ini di Owdier, kamu bahkan menunjukkan niatmu untuk membunuhku dengan sangat jelas.""Ya, kamu adalah adik sepupu Jerfis, anggota Keluarga Hinata, bukankah wajar saja kalau kamu memandang rendah aku? Aku telah mempermalukanmu, mengabaikan wibawa seorang Tuan Muda Jefandro, bukankah sangat wajar kalau kamu ingin menghabisiku?""Bagaimana mungkin kamu salah?"Mendengar ucapan tenang Ardika ini, ekspresi Jefandro langsung berubah menjadi pucat pasi."Kak ... Kak Ardika, aku salah, Irv
Sikap Akria berubah seratus delapan puluh derajat, dari yang ingin menghabisi Ardika menjadi melindungi Ardika.Bukan hanya sikapnya saja yang berubah, dia bahkan menampar wajah Lisea hingga rusak dan mengancam akan menghabisi Jerfis.Perubahan seratus delapan puluh derajat ini benar-benar di luar nalar, sama sekali tidak masuk akal.Sebenarnya sihir apa yang telah digunakan oleh Ardika pada Akria, hingga membuatnya berubah drastis seperti ini?Pantas saja semua orang merasa diliputi perasaan aneh dan bertanya-tanya mengapa Ardika bisa dalam kondisi baik-baik saja saat dia menuruni tangga.Sekarang tampaknya kebenarannya sama sekali tidak seperti yang Jefandro ucapkan. Sebelumnya dia mengatakan bahwa Jerfis telah berhasil membujuk Akria untuk melepaskan semua orang. Itulah sebabnya, Ardika juga ikut dilepaskan.Sebaliknya, kemungkinannya malah mereka dilepaskan berkat Ardika!Setelah berpikir demikian, sorot mata semua orang terhadap Ardika langsung berubah. Di mata mereka, Ardika seak
Sebelum Lisea menyelesaikan kalimatnya, Akria sudah menyelanya dengan tidak sabar. Dia berkata dengan acuh tak acuh, "Karena dia hanya seekor anjing, seharusnya dia menyadari posisi sebagai seekor anjing.""Siapa yang mengizinkannya melawanku? Dia bahkan bilang mau menghabisiku?""Siapa yang memberinya keberanian itu?""Apakah Jerfis?"Akria melontarkan pertanyaan beruntun. Kata-katanya yang tenang bagaikan petir yang menyambar Lisea, membuatnya agak kesulitan untuk bernapas.Karena di mata Akria, dia juga tidak lebih dari seekor anjing.Kata-kata ini memang ditujukan oleh Nenek Ular yang sudah mati, tetapi juga seperti tertuju pada dirinya.Secara naluriah, Lisea membungkukkan badannya, seperti saat berhadapan dengan Jerfis, majikannya, dia berkata dengan merendah, "Tuan Muda Akria salah paham. Nenek Ular bukan bermaksud nggak hormat pada Tuan Muda. Dia hanya nggak tahu identitas Tuan Muda Akria.""Kalau dia tahu, dia pasti nggak berani nggak hormat pada Tuan Muda Akria.""Oh ...."Ak