MasukDipimpin oleh Jesika, Ardika berjalan memasuki sebuah ruang rapat yang besar dan luas.Sebuah meja panjang yang terbuat dari kayu asli tertata dengan rapi di dalam ruangan rapat ini, membuat keseluruhan ruangan ini terkesan sangat megah.Ada banyak lukisan ternama yang tergantung di dalam ruangan, kelihatannya juga sangat mahal.Ruangan ini tidak terkesan gelap, karena ruangan tersebut dilengkapi dengan jendela besar.Cahaya matahari dari luar bisa terpancar masuk ke dalam ruangan melalui jendela, pemandangan indah di luar juga bisa terlihat dengan sangat jelas."Akhirnya kalian datang juga."Alendo sudah menunggu lama di sini. Melihat dua orang itu berjalan memasuki ruangan perlahan-lahan, api amarah membara terlihat jelas di matanya."Kak Alendo, lama nggak bertemu."Jesika berinisiatif untuk menyapa. Kemudian, dia menarik kursi, lalu mempersilakan Ardika untuk duduk dulu."Pak Ardika, harap tunggu dulu, ya. Para tetua keluarga kami akan segera datang."Saat dalam perjalanan kemari,
Jesika sudah merencanakan banyak hal dalam hati, tetapi ada satu hal yang paling dinantikannya.Yaitu bertemu dengan Ardika yang sudah sangat lama tidak ditemuinya.Dengan beralaskan sepatu hak tinggi, Jesika berjalan keluar dengan membawa sebuah koper.Dari kejauhan, dia bisa melihat ada seseorang sedang menunggu di sana dengan membawa sebuah buket bunga.Jesika berjalan ke sana dengan langkah kaki cepat. Dia melihat sosok bayangan yang familier itu tetap saja tampan seperti biasanya. Ya, sepertinya Ardika sama sekali tidak berubah."Pak Ardika, kamu datang secara pribadi untuk menjemputku," kata Jesika dengan senang, dan menerima buket bunga yang diberikan oleh pria itu."Itu sudah seharusnya kulakukan. Bagaimanapun juga, nantinya kamu akan sangat sibuk."Melihat Jesika sepertinya sama saja seperti sebelumnya, Ardika juga menghela napas lega. Kelihatannya wanita itu benar-benar menjalani hidup dengan baik.Namun, bagi Jesika, liburannya telah berakhir."Aku benar-benar sangat berteri
Kesya meringkuk di sofa. Saat dia mendongak, bulir-bulir air mata memenuhi pelupuk matanya, kelihatan sangat menyedihkan.Melihat Kesya seperti itu, sebagian amarah Linko langsung mereda."Seumur hidup ini, tanpa izin dariku, kamu nggak boleh keluar dari kamar ini."Linko membuang cambuk itu, melontarkan ancaman dengan tajam, lalu membanting pintu dan keluar.Sementara itu, Kesya terkurung di dalam kamar ini.Sambil menahan rasa sakit yang menjalar di punggungnya, dia mencoba mencari cara untuk meninggalkan tempat ini. Namun, seluruh tempat ini sudah terkunci.Dia sama sekali tidak bisa keluar.Akhirnya dia sudah mengerti masalah seperti apa yang dihadapinya.Setelahnya, Linko terus mengurung Kesya di dalam kamar, selalu memukulinya atau memakinya.Setelah dihajar beberapa kali, perlahan-lahan Kesya juga sudah mulai belajar untuk menurut. Asalkan tidak melakukan hal-hal yang keterlaluan, dia akan menurut.Linko tidak mengizinkannya meninggalkan kamar ini, maka Kesya hanya bisa berdiri
Linko memang pernah menyukai Kesya, juga pernah menghabiskan banyak waktu demi mengejar wanita itu.Namun, pada dasarnya sifat pria memang buruk.Setelah didapatkan, tidak akan dihargai lagi selamanya.Kala itu, demi mengejar Kesya, dia telah mencurahkan banyak pikiran dan tenaganya, juga berusaha sebaik mungkin untuk menyesuaikan diri dengan preferensi wanita itu.Namun, saat mereka berdua sudah bersama, dia seakan-akan sudah melupakan jerih payahnya saat mengejar pujaan hatinya itu, merasakan seolah-olah semuanya memang sudah seharusnya begitu.Atau, boleh dibilang Kesya adalah sosok primadona di sekolah, dia adalah sosok yang selalu menjadi pusat perhatian.Kalau dirinya bisa mendapatkan wanita itu, maka Linko akan menjadi pria yang paling bermartabat di antara semua pria.Mungkin karena keinginannya untuk menanglah yang memicunya untuk mengejar Kesya sedemikian rupanya.Namun kemudian, setelah berinteraksi, lama-kelamaan juga membuatnya benar-benar menyukai Kesya.Namun, godaan dun
Ekspresi Kesya berubah menjadi agak muram. Permintaan ibunya hari ini membuatnya agak terkejut, tetapi dalam lubuk hatinya, dia tetap merasa senang.Bagaimanapun juga, selama ini Kesya diam-diam menaruh perasaan pada Ardika.Namun, saat benar-benar mendengar ibunya mengucapkan kata-kata seperti itu, dia hanya merasa malu."Benar saja, di matamu aku ini adalah benda, sebuah benda yang bisa dicampakkan begitu saja."Kesya menatap ibunya dengan tatapan sangat marah.Dia tidak bersedia terus menjalani hidup di bawah kendali orang lain, tetapi tanpa dia sadari dirinya kembali jatuh dalam kendali ibunya. Hal ini membuatnya merasa sangat sedih."Omong kosong apa yang kamu bicarakan? Bukankah kamu sendiri yang bersedia untuk berhubungan dengan Ardika? Bukankah aku sudah setuju?"Andelin merasa malu. Ada kata-kata yang cukup disimpan dalam hati saja, tidak perlu diutarakan.Namun, Kesya tetap begitu polos, juga begitu naif.Dia mengira hal terindah di dunia ini adalah cinta, tetapi dia tidak ta
Kesya terus menyembunyikan pemikirannya ini dalam hati. Namun, terlepas dari seberapa keras upanya untuk menyembunyikan pemikirannya itu, sepertinya dia tidak bisa melupakan getaran dalam hatinya di pertemuan pertama mereka."Sudah lebih dari satu jam, sebaiknya kamu nggak perlu menunggu lagi. Aku sudah menyuruh orang untuk mengawasi di sini. Kalau dia muncul, kami akan memintanya untuk meneleponmu."Mira benar-benar sudah tidak sabar menunggu lagi. Dia masih ada pekerjaan lain, tidak bisa terus membuang-buang waktu di sini."Kalau kamu ada urusan, kamu pergi saja dulu. Saat waktunya tiba, aku akan pergi menemui Ibu."Kesya mengucapkan satu kalimat itu dengan santai. Dia tidak berencana untuk pergi di saat seperti ini.Melihat sikap keras kepala Kesya, Mira merasa sedikit simpati, tetapi dia juga tidak bisa menghentikan gadis muda itu."Kita nggak tahu kapan Ardika akan datang kemari, jadi juga nggak ada gunanya kamu terus menunggu di sini. Bagaimana kalau kamu naik ke atas dan beristi
'Tuan Kodam sudah datang ke Kota Banyuli?'Dedi dan Derril sedikit tercengang.Mereka tidak menyangka kasus Ardika bisa menjadi sebesar ini, sampai-sampai Kodam datang ke Kota Banyuli secara pribadi untuk menemui Ardika."Ardika, sudah tamat riwayatmu! Tuan Kodam sudah datang secara pribadi! Kali ini k
"Sebarkan kata-kataku ini ke seluruh pelosok Kota Banyuli. Luna adalah sahabatku. Kalau Bank Sentral ingin bertindak semena-mena di Kota Banyuli, seharusnya mereka tanyakan padaku terlebih dahulu apakah aku setuju atau nggak!" seru Tina.Di hadapan semua orang, Tina langsung menghubungi anak buahnya
Siapa sangka Lea begitu arogan dan bertindak semena-mena.Di hadapan begitu banyak orang, dia langsung melayangkan tamparan ke wajah karyawan wanita itu."Kamu! Kenapa kamu memukulku?!"Sambil menutupi wajahnya, karyawan wanita itu memelototi Lea dengan marah."Plak!"Lea melayangkan satu tamparan lagi."
"Bajingan yang telah memukulku sebelumnya, aku juga akan menampar wajahnya hingga membengkak!""Aku adalah putra Kodam Provinsi Denpapan, bukan seseorang yang bisa kalian pukul! Aku ingin tim tempur Kota Banyuli bertanggung jawab atas hal ini!"Sekelompok pemuda itu berteriak dengan arogan.Bahkan Walu







