Home / Urban / Menantu sang Dewa Perang / Pembalasan Kecil!

Share

Pembalasan Kecil!

last update Last Updated: 2024-02-29 14:50:49

Di saat Baron sedang melihat Aghnia yang terbaring, ia dikejutkan dengan hadirnya sosok yang ia benci selama ini.

“Siapa kau?” tanya seorang pria yang datang dengan membawa istrinya, serta ada dua orang pasangan tua di belakangnya.

“Suara itu?!”

Baron menggetarkan giginya dan melihat ke arah suara tersebut berasal.

“Mereka!” batin Baron.

“Baron?!” ucap pria tersebut yang tidak lain adalah Ivan Hasya serta istrinya.

Keterkejutan mereka melihat Baron yang datang dengan sosok yang berbeda, membuat mereka syok. Dan, pandangan Baron yang dulunya seperti pria polos kini berubah menjadi tegas dan berwibawa.

“Kau! Kenapa kau ada di sini, Baron?!” tanya Ivan.

“Kenapa? Apa aku harus memilih alasan yang jelas untuk itu?” jawab Baron sambil menunjukkan ke arah Aghnia.

“Istriku! Aghnia Hasya! Dia terbaring di sana dan kamu masih bertanya untuk apa aku disini, Ivan?!”

Tiba-tiba sebuah tamparan melayang keras di wajah Baron, akan tetapi wajah Baron cukup keras alhasil tangan dari Jessica lah yang memar akan itu.

Tangan yang digunakan untuk menampar Baron ialah tangan yang sama saat ia dibuang dan ditampar pada 7 tahun lalu.

"Berani-beraninya, kau si sampah datang lagi ke keluarga Hasya yang terpandang ini! Kau masih belum jera, ya?"

Wanita yang menamparnya ialah Jessica kakak iparnya dan istri dari Ivan Hasya. Salah satu orang yang juga membenci Baron, tapi berbeda dengan Ivan yang takut akan posisinya direbut oleh Baron, sampai saat ini Baron sendiri masih belum tahu apa yang menyebabkan Jessica membencinya.

"Kau br*ngs*k! Bagaimana kau masih hidup?! Ku kira kau sudah mati dimakan oleh kawanan anjing liar!" ujar Ivan.

Baron menatap dengan heran karena ia sudah lama tidak merasakan direndahkan selama bertahun-tahun ia dihormati sebagai Jendral yang tak tersentuh.

Dan secara mengejutkan Ivan sudah ada di depannya dan ia menarik jas Baron.

"B*JING*N!! HARUSNYA KAU MATI SAJA DULU KAU KEP*RAT! KAU TIDAK LAYAK UNTUK BERSANDING DENGAN KELUARGA HASYA YANG TERAMAT SANGAT TERPANDANG! KAU HARUS INGAT BAHWA KAU HANYA KODOK YANG MENDEKATI SEORANG PUTRI DARI KELUARGA HASYA!"

Baron benar-benar dihina habis-habisan oleh Ivan, ingin sekali meremukkan tulangnya saat ini juga namun ia harus menjaga rahasianya.

"B*jingan! Akan ku remukkan dia kalau tidak ada orang!"

Baron menepis tangan Ivan dengan mudahnya.

"Keluarga terpandang? Apa yang kalian maksud keluarga terpandang itu adalah orang yang langsung menarik jas seseorang? Maaf saja tujuanku adalah bertemu dengan istriku! Tapi apa yang kudapat? Aghnia mencoba untuk mengakhiri hidupnya karena paksaan kalian!”

“Baron! Kau masih berani datang ke keluarga Hasya ya? Apa kau lupa? Siapa dirimu sebenarnya? Hanya seorang penjilat yang datang ke keluarga kami dan menguasai kekayaannya!” ujar seseorang dengan perawakan cukup tinggi dan memegang tongkat sembari gemetar.

Dia adalah Joshua Hasya, ayah mertua dari Baron. Joshua merupakan orang yang cukup disegani dan ditakuti oleh beberapa orang karena faktor gurita bisnis mereka yang luas. Joshua menatap Baron dengan tajam dan penuh dendam serta dengki yang tergambarkan dengan jelas dari gelagat Joshua.

Dengan tangan dan kaki yang bergetar menahan amarah yang sulit ia bendung jika itu berhubungan dengan Baron, Joshua murka terhadap Baron sejak dahulu ia meminang Aghnia dari keluarga Hasya, yang seharusnya Aghnia menikah dengan pria dari keluarga terpandang juga.

“Ayah mertua? Ayah masih sehat saja ya, selama 7 tahun ini benar-benar tidak ada perubahan,” ujar Baron dengan senyum ketus kepada Joshua.

“Kau..kau br*ngs*k!” gumam Joshua yang terdengar oleh ibu mertua Baron.

“Cukup! Hentikan! Kita di rumah sakit, jaga kehormatan kalian!”

Seorang wanita yang melihat Baron dengan sinis menghampiri Baron dengan wajah yang masam seperti dengki terhadap Baron. Tapi, aura yang dirasakan oleh Baron masih sama, congkak dan angkuh akan sifat dari ibu mertuanya terekam jelas di ingatannya. Tapi, Baron berusaha menjaga sikapnya agar ia tidak terlampau emosi.

Ibu mertua Baron mengambil sebotol air dan dan berjalan ke arah Baron dengan perlahan.

Baron menyapa ibu mertuanya dengan sangat ramah.

"Ibu mertua, bagaimana—"

Belum sempat Baron menyelesaikan pembicaraannya tiba-tiba ibu mertuanya menumpahkan air itu ke sepatu Baron sembari melihat Baron dengan tatapan yang merendahkan dirinya.

"Berani sekali dirimu menampakkan batang hidungmu di depan keluarga Hasya!"

Baron merubah sorot matanya ke arah ibu mertuanya yang dikenal sebagai kepala keluarga bayangan di keluarga Hasya.

“Apa alasanmu kemari hanya karena Aghnia? Ironis sekali!”

Baron mengepal tangannya kuat-kuat agar tidak menghajar keluarga Hasya sekarang, karena ia sangat ingin keluarga Hasya mendapatkan rasa sakit yang ia derita.

“Jawab Baron si pecundang!”

Pecundang, sebuah kata yang bertolak belakang dengan Baron yang sekarang. Disegani, dihormati dan ditakuti oleh militer.

Tiba-tiba datang dokter yang menangani Aghnia.

“Nyonya Sophie?”

Mereka semua langsung berbalik dan melihat ke arah dokter tersebut.

“Dokter? Jangan hiraukan kami, kami hanya ingin mengusir dia!” ujar Sophie.

“Maaf, tapi dia siapa?”

“Bukan sosok penting! Hanya lalat yang hinggap di tumpukan bunga!”

“Saya Baron Vasilias, suami dari Aghnia dan yang di sana adalah istri saya!”

“Kau Kep*rat!” Ivan langsung ingin membekap Baron, tapi reflek Baron lebih cepat hingga ia menjatuhkan Ivan ke tanah, dan kini Baron melihat Ivan dengan pandangan yang hina.

“IVAN!” teriak Jessica yang syok melihat Ivan.

Tak berhenti di sana, Baron meletakkan kakinya di dada Ivan dan melihat ke arah dokter. Itu semua barulah pembalasan kecil dari Baron untuk Ivan.

“Jangan hiraukan saya, saya datang hanya untuk melihat Aghnia!”

“Ughh! Si*lan! Lepaskan!”

Dokter melihat ke arah Sophie dan Sophie yang terkenal tidak memiliki rasa kasih sayang pun hanya melihat Ivan yang meronta untuk dilepaskan.

“Maaf, tapi tanpa seizin Nyonya Sophie, itu tidak bisa.”

“Oh? Begitu?”

Baron makin menekan kakinya dan Ivan semakin meronta karena ia tidak hisa bernafas dengan baik.

“Baron Vasilias! Hentikan! Baiklah, aku izinkan untuk bertemu Aghnia! Lepaskan Ivan!”

Baron mengangkat kakinya dan berjalan masuk sembari tersenyum kepada Sophie.

“Terima kasih, ibu mertua anda memang sangat baik!”

Ucapan itu hanyalah sebuah sarkas kecil dari Baron Vasilias, sejatinya Sophie sangatlah kejam kepada siapapun.

Baron memasuki kamar Aghnia di rawat dan ia sempat berbicara dengan dokter yang ikut masuk.

“Jadi, Anda adalah suaminya pasien?” tanya Dokter.

“Benar, kami terpisah 7 tahun lalu karena fitnah seseorang. Hiraukan saja yang tadi, dan jangan banyak bicara soal keluarga Hasya maupun diriku!”

“Suasananya, berbeda sekali seakan-akan ruangan ini sangat sempit! Sesak sekali!” batin Dokter.

“K-kalau begitu, ini!”

Baron melihat secarik kertas yang hampir robek karena rusak.

“Apa ini?”

“Surat yang kami temukan pada pasien, ini dibawa terjun bersama!”

Baron mengambil surat itu dan membacanya, di sana tertulis seberapa tertekannya Aghnia yang bertahun-tahun harus dihantui oleh keluarganya yang memaksa dia untuk menikah, serta rasa rindu dan cintanya kepada Baron yang sudah merusak kepercayaannya tidak bisa hilang dari ingatannya meskipun sudah bertahun-tahun.

Baron yang membaca itu pun marah sekaligus terharu, bahwa Aghnia masih sangat mencintainya.

“B*jing*n kalian keluarga Hasya!” gumam Baron.

Tapi, secara tiba-tiba.

“Ugh? Baron? Baron?”

Bersambung….

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menantu sang Dewa Perang   Eksekutor!

    Suara tembakan yang menggelegar di seluruh Tarot Palace Auction menghentikan ucapan sang Juru Lelang. Teriakan histeris para miliarder yang kehilangan martabatnya memenuhi ruangan Tarot Palace Auction. Mereka yang tadinya merasa di atas angin, kini merangkak di lantai seperti tikus yang terjebak di lubang gelap, semuanya berhamburan karena takut akan menjadi sasaran. Semua menuju pintu keluar, namun pintu tersebut tertutup dan terkunci seperti sudah disabotase oleh pihak luar.“Pintunya! Buka pintunya!” Semua mencoba menggedor-gedor pintu dan berteriak berharap ada yang membuka pintu dari luar."Baron! Ayo cepat kita keluar!" teriak Praja sembari menarik bahu Baron. Namun, Baron tetap berdiri tegak. Pupil matanya melebar, mencoba menangkap sisa cahaya atau gerakan di tengah kegelapan total ini."Praja, diam. Jangan nyalakan lampu ponselmu kalau kau tidak ingin kepalamu menjadi sasaran empuk," desis Baron dengan nada dingin yang belum pernah didengar Praja sebelumnya.“Tempat in

  • Menantu sang Dewa Perang   Hawa Kematian

    Banyak orang yang berbondong-bondong untuk menawar perahiasan tersebut dengan harga yang tinggi. Namun, disisi lain Baron Vasilias memperhatikan dengan seksama Surya Vigo yang terlihat dengan sangat jelas begitu menginginkan berlian tersebut. Dari harga pembukaan yang lelang dengan nilai yang fantastis tentunya hanya orang-orang yang memiliki kekayaan tak berseri yang berani menawar perhiasan tersebut, di sisi lain Baron tampak bimbang karena berlian tersebut sangat ingin ia miliki untuk hadiah bagi Aghnia. Praja melihat Baron yang begitu terfokus pada berlian tersebut meskipun seluruh ruangan gelap gulita tapi Praja bisa merasakan aura yang dipancarkan oleh Baron."Baron ini, dia terlihat sekali menginginkan berlian itu, tapi dibuka dari 50 miliar? ditambah dengan orang-orang itu yang sedang menghubungi pihak bank," batin Praja sembari melihat para peserta lelang."Berlian Cullinan itu, kalau aku dapat memilikinya lalu apa yang harus aku katakan pada Aghnia, ya? terlebih lagi berl

  • Menantu sang Dewa Perang   Termakan Oleh Ego!

    Dandy sudah termakan oleh egonya, ia benar-benar tidak peduli dengan uang yang ia keluarkan hanya gengsi yang ia miliki.“12 miliar! Aku tawar itu, anak-anak seperti kalian tidak cocok dengan giok!” Surya yang kini menunjukkan aura yang ia miliki adalah keangkuhan yang absolut.Baron tersenyum sinis. Dia tahu persis apa yang akan terjadi selanjutnya. Dandy, dengan egonya yang tinggi, pasti akan terus menaikkan harga sampai titik di mana dia tidak mampu lagi, “Surya, dia benar-benar ingin menunjukkan semuanya, ya?” gumam Baron. Baron sebenarnya sudah tidak begitu tertarik kepada giok itu dan dia memilih untuk mundur terlebih dahulu, “Praja, aku rasa aku akan mundur kali ini. Aku ingin melihat sejauh mana ego Dandy akan mengelabuinya,” bisik Baron yang disetujui oleh Praja.“Bagus Baron, tidak ada gunanya jika kamu hanya terus memberi makan ego Dandy!” balas Praja. Dandy semakin frustasi karena ia harus kembali merogoh kocek dengan harga yang fantastis. Tapi, ketika ia melirik ke Baro

  • Menantu sang Dewa Perang   Permainan Anak-anak?

    Seorang pria tua usianya namun tidak dengan fisiknya yang seperti pria berusia 30 tahun, pria itu menawar dengan jumlah yang lebih tinggi dari yang ditawar oleh Dandy. 3 miliar adalah jumlah yang cukup banyak untuk sebuah kalung giok, terutama itu merupakan giok yang memiliki kualitas tinggi. Namun, dibalik itu Baron seperti cukup familiar dengan pria tua tersebut terutama orang-orang dibelakangnya.“Pria itu, apa mungkin dia—”“Baron, dia Surya Vigo pemimpin keluarga Vigo. Dia, adalah harimau yang sudah tua namun harimau tetaplah harimau,” bisik Praja. Baron pun tertawa kecil, “Baru saja aku atasi anaknya, apa kini aku harus bersinggungan dengannya?” kata Baron. Praja menasehati Baron dengan kata-kata yang sedikit menyindir Baron, “Baron, aku tidak tahu kamu tinggal di negara mana yang bisa bebas memukul orang. Tapi, jangan gegabah melawan Surya Vigo, dia salah satu orang yang berpengaruh di negeri ini. Dan, dia juga pernah masuk jajaran orang terkaya di dunia, kamu pasti tahu F

  • Menantu sang Dewa Perang   Pelelangan!

    “Selamat malam, para kolektor sejati! Malam ini, kita menghadirkan banyak sekali barang-barang yang berkualitas tinggi serta langka! Dan, hasil dari lelang ini semuanya akan diserahkan ke panti asuhan!”Ruang lelang yang mewah itu dipenuhi oleh para kolektor kaya raya dan pengusaha sukses. Mata mereka berbinar-binar penuh ambisi, siap untuk saling sikut demi mendapatkan harta yang mereka inginkan Biasanya, orang-orang yang menghadiri lelang hanyalah perwakilan saja. Dan, orang kaya yang sesungguhnya tidak perlu repot-repot pergi ke tempat lelang. Namun, beda halnya dengan Tarot Palace Auction, tidak boleh ada perwakilan sama sekali, hanya orang-orang yang memiliki kekayaan yang cukup untuk ikut salan lelang tersebut . Praja berbisik pada Baron, “Baron lihat semua orang-orang ini. Mereka, bukan hanya dari negara Asia saja. Bahkan, orang Eropa pun ada!” Baron melihat semua orang dan memang benar, mereka semua adalah orang yang cukup berpengaruh. Terutama, ada seseorang yang menjadi

  • Menantu sang Dewa Perang   Dipeluk Kematian?

    Di tengah ketegangan antara Baron, Dandy, dan Elina, Louis muncul dengan ide baru untuk meredakan situasi dan sekaligus membuat Baron semakin dihormati.Louis mengumumkan diadakannya lelang amal di Tarot Palace Auction, sebuah tempat lelang ternama yang hanya dihadiri oleh para elit dan orang-orang kaya. Lelang ini akan menjadi kesempatan bagi para tamu untuk menunjukkan kekayaan mereka dan saling memperkuat posisi dan juga kehormatan mereka. Dandy dan Elina, yang terobsesi dengan kekayaan dan status, langsung tertarik dengan ide lelang ini. Mereka berdua bertekad untuk menjadi pemenang lelang dan menunjukkan kepada Baron siapa yang lebih kaya dan berkuasa.“Bagaimana? Tarot Palace Auction sangat terkenal melelang banyak sekali barang-barang berharga. Bahkan, tidak jarang para Raja-raja di Timur Tengah datang untuk mendapatkan permata,” jelas Louis. Dandy tersenyum sinis, “Untuk apa melakukan lelang? Bukannya sudah jelas, bahwa aku adalah yang paling kaya?” Elina melirik Baron ya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status