LOGINMatahari belum tinggi ketika suara bising sendok dari dapur keluarga Wiratama memecah kesunyian.
Di ruang makan yang luas, Aluna duduk sendirian di ujung meja panjang, menatap secangkir teh yang sudah dingin. Sejak pagi, rumah itu sibuk. Pelayan mondar-mandir menyiapkan pesta kecil yang katanya hanya untuk keluarga dekat. Namun bagi Aluna, setiap langkah kaki yang terdengar di rumah itu adalah penanda waktu menuju kehancuran. Gaun pengantinnya tergantung di kamar atas —putih, sederhana, tapi mewah. Semua tampak sempurna di luar, tapi di baliknya tersembunyi luka yang belum kering. Tak lama pintu ruang makan terbuka, lalu Ny. Wiratama masuk dengan langkah cepat, ditemani seorang desainer. “Aluna, fitting terakhir jam sepuluh. Pastikan tidak ada drama hari ini,” katanya tanpa menatap putrinya. “Bu, aku belum siap,” ucap Aluna pelan, hampir seperti bisikan. Ny. Wiratama berhenti sejenak, lalu menatap tajam. “Kau pikir siap atau tidak siap itu penting sekarang? Semuanya sudah berjalan terlalu jauh, Aluna.” “Tapi aku—” “Cukup!” bentak ibunya. “Satu kata lagi dan aku pastikan besok kau menikah bahkan tanpa gaun!” Desainer di sebelahnya menunduk, pura-pura sibuk mencatat ukuran kain. Ia tak mau terlibat dalam pertengkaran ibu dan anak. Aluna tampak menggigit bibir, menahan tangis. Saat ibunya pergi, gadis itu menatap jendela. Dari lantai dua, ia bisa melihat taman depan rumah. Dan di sana, seseorang sedang bekerja — menata kursi, mengangkat dekorasi, bahkan memanggul tenda putih besar sendirian. Arga. Dengan kemeja abu-abu kusam, wajahnya basah oleh keringat, tapi matanya tetap fokus. Ia bukan tamu kehormatan di pesta ini. Ia hanyalah pekerja yang menyiapkan pernikahannya sendiri. Siang menjelang. Arga berhenti sejenak di bawah pohon kamboja, mengelap peluh. Ia menatap ke arah rumah besar itu. Besok ia akan jadi “suami” perempuan yang bahkan tak pernah memandangnya dengan hormat. Namun di dalam dirinya, ada suara kecil yang berkata, jalani saja. Setidaknya, kau bisa menepati janji pada Ayah. Dari balkon atas, Aluna diam-diam menatapnya. Ia melihat Arga tersenyum kecil kepada salah satu pelayan tua yang membawakan air minum. Senyum itu terlihat tulus. Senyum yang tak pernah ia miliki lagi sejak berbulan-bulan terakhir. Entah kenapa, dada Aluna terasa sesak. Mungkin karena rasa bersalah. Mungkin karena sadar —lelaki itu akan menanggung beban dosa yang bukan miliknya. Sore harinya Aluna duduk di depan cermin sudah mengenakan gaun putih. Desainer dan dua asisten sibuk membenarkan kerudung tipis yang menjuntai di punggungnya. Bayangan dirinya di cermin tampak sempurna —wajah lembut, senyum samar, rambut tersisir rapi. Namun hatinya berteriak, ini bukan aku. Ini boneka yang akan dikorbankan. Pintu terbuka pelan. Tuan Wiratama masuk, menatap putrinya melalui pantulan cermin. “Cantik,” katanya datar. “Terima kasih, Ayah.” “Besok, setelah semua ini selesai, nama keluarga kita aman. Dan aku harap kau bisa belajar mencintai pria itu, meski hanya di depan publik.” Aluna menunduk. “Bagaimana kalau aku tidak bisa?” Tuan Wiratama menatapnya lama, lalu berkata pelan tapi dingin, “Maka kau akan menghancurkan keluarga ini. Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi, bahkan jika kau anakku sendiri.” Air mata Aluna jatuh. Tapi sang ayah sudah lebih dulu keluar, meninggalkan aroma parfum mahal yang menyengat di ruangan kamarnya. Malam turun perlahan. Arga kembali ke rumahnya yang sempit di ujung kampung. Di dalam kamar, ia menatap jas hitam yang baru saja dikirim dari keluarga Wiratama —pakaian pernikahannya. Ia menyentuh kainnya perlahan, seperti memastikan itu nyata. Ia menatap foto ayahnya yang tergantung di dinding, lalu tersenyum getir. “Pak … kalau bapak masih ada, mungkin bapak bakal bilang Arga gila. Tapi, Arga cuma pengen bapak tenang. Biar gak ada lagi yang nagih hutang.” Ia duduk di ranjang kayu, menatap langit-langit. “Cuma satu yang Arga harap, semoga perempuan itu bahagia. Meski tanpa cinta, Arga bakal jagain dia.” Di luar hujan kembali turun rintik-rintik, seolah mengingatkan Arga pada malam ketika perjanjian itu dibuat. Di sisi lain, di kamar luas bercermin besar, Aluna berbaring memeluk perutnya yang membulat. Ia berbisik pelan, “Maafin Ibu, Nak. Kau akan lahir dengan nama yang bukan seharusnya. Tapi, Ibu janji suatu hari, Ibu akan menebus semua ini.” Angin malam berhembus dari jendela yang terbuka sedikit. Tirai putih berayun pelan. Dan di baliknya, bulan separuh bersinar redup, seperti menyaksikan dua orang asing yang besok akan diikat dalam janji yang bukan pilihan mereka. ***Musim berganti, ketika musim panas datang, menurunkan terik yang membakar halaman besar yang banyak ditumbuhi pohon dan aneka tanaman. Saat ini tengah berlangsung sebuah pesta. Pesta pertunangan adik sepupu Aluna yang diadakan di kediaman keluarga Wiratama. Dari luar, pesta pertunangan itu masih terdengar ramai, penuh tawa dan tepuk tangan. Tapi, di sisi belakang rumah —di dekat tempat parkir mobil —suasananya berbanding terbalik.Arga berdiri diam di samping ember air yang tadi ia gunakan untuk mencuci ban mobil mewah milik tamu keluarga. Bajunya basah sebagian, tangan kasarnya masih menggenggam lap kain. Suara musik dari pesta di dalam rumah terdengar samar, bercampur dengan gema hinaan yang baru saja ia terima.“Suamimu?”“Astaga, Aluna, kau serius menikah dengan dia? Aku kira dia sopir barumu!”“Hahaha … tampaknya keluarga Wiratama benar-benar dermawan. Menikahkan putrinya dengan orang seperti itu.”“Mungkin mereka butuh seseorang yang bisa mencuci mobil tiap hari.”Dan semua or
Pagi itu udara di rumah Wiratama terasa berbeda —seperti ada dinding tak kasat mata yang memisahkan para penghuni, antara yang “terlahir kaya” dan mereka yang “diizinkan bernapas di bawah kaki mereka.”Arga sudah bangun sejak pukul lima. Ia menyapu halaman, mencuci mobil, lalu membantu pelayan dapur menyiapkan sarapan.Tangannya mulai kasar karena air sabun dan pekerjaan berat —setiap harinya, tapi ia tetap melakukannya tanpa suara.Ketika jam menunjukkan pukul tujuh, Aluna turun dari tangga dengan rambut digerai rapi, mengenakan dress mahal warna biru muda.Di meja makan, Tuan dan Ny. Wiratama sudah duduk, menatap layar ponsel masing-masing.“Arga, tuangkan jus untuk tuan!” perintah Ny. Wiratama datar.“Baik, Bu.”Arga mengambil botol kristal dan mengisinya perlahan.Tuan Wiratama mendengus pelan. “Kau ini lamban sekali. Kalau pelayan biasa, sudah kukeluarkan sejak kemarin.”Arga menunduk. “Maaf, Pak.”Aluna menatap adegan itu sambil mengaduk sarapannya. Ia tidak berkata apa pun, tap
Hari Minggu sore, rumah besar keluarga Wiratama dipenuhi tamu.Ada pesta kecil untuk merayakan “pernikahan bahagia” Aluna dan Arga —setidaknya begitu yang tertulis di undangan.Tapi, di balik senyum palsu dan tawa yang terdengar di aula utama, semua orang tahu satu hal, ini bukan pesta cinta, tapi pesta penutup aib.Aluna turun dari tangga besar dengan gaun pastel dan perhiasan berlian di lehernya. Semua mata menatapnya —anggun, sempurna, dan berwibawa.Sementara Arga berdiri di pojok ruangan, memakai kemeja putih sederhana yang bahkan bukan dari butik langganan keluarga Wiratama.Wajahnya tenang, tapi sorot matanya menunjukkan ia tahu tempatnya, bukan sebagai suami, tapi sebagai hiasan tak diinginkan dalam kisah keluarga kaya.“Arga, bantu pelayan angkat makanan ke meja tamu,” suara dingin Ny. Wiratama memotong kesunyian.Beberapa tamu —yang merupakan para sahabat Aluna, menoleh heran, tapi sang nyonya pura-pura tidak peduli.Tanpa membantah, Arga menunduk sopan.“Baik, Bu.”Ia menga
Hari pertama setelah pernikahan itu seperti pagi tanpa matahari.Rumah besar keluarga Wiratama tampak indah di luar, tapi di dalamnya, hawa dingin terasa menusuk —bukan karena pendingin udara, tapi karena tatapan dingin sang nyonya muda rumah itu kepada suaminya sendiri.Aluna berdiri di depan cermin, masih dengan wajah tanpa ekspresi.Gaun tidur putihnya jatuh lembut di bahu, tapi tak ada kelembutan di dalam dirinya. Ia melihat bayangan Arga di kaca —lelaki itu baru saja keluar dari kamar mandi, mengenakan kaus polos dan celana panjang hitam.“Kau bahkan tidak tahu cara berpakaian yang pantas,” ucap Aluna tanpa menoleh.Arga berhenti sejenak, lalu hanya menjawab pelan, “Maaf.”“Dan jangan panggil aku dengan nada seolah kita ini pasangan sungguhan. Kau tahu aturan yang Ibu buat, kan?”“Aku tahu.”Aluna berbalik, menatapnya tajam. “Bagus. Jadi kau tahu tempatmu.”Tatapannya menelusuri Arga dari kepala sampai kaki, seolah menilai barang murah yang tak layak berada di ruangan seindah itu
Hujan turun sejak pagi, seperti tahu bahwa hari itu bukan hari bahagia.Pernikahan sederhana keluarga Wiratama digelar di taman belakang rumah besar mereka —tenda putih berdiri megah, tapi udara terasa dingin dan berat.Arga berdiri di depan altar kecil, mengenakan jas hitam yang tak sepenuhnya pas di tubuhnya. Tangannya dingin, bukan karena cuaca, tapi karena perasaan yang tak bisa dijelaskan, antara campuran gugup, takut, dan getir.Ia menatap kursi para tamu —hanya beberapa wajah keluarga dekat dan rekan bisnis Tuan Wiratama. Semuanya menatapnya seperti ia bukan pengantin, melainkan pelayan yang tersesat di pelaminan.Musik lembut mengalun. Aluna muncul dari pintu kaca, mengenakan gaun putih panjang dengan kain veil tipis menutupi wajahnya.Wajahnya cantik, tapi sorot matanya dingin seperti es. Langkahnya anggun, tapi setiap langkah seolah menegaskan satu hal, aku tidak menginginkan ini.Ketika Aluna berhenti di depan Arga, penghulu memulai pernikahan.Arga menatap Aluna sejenak. I
Matahari belum tinggi ketika suara bising sendok dari dapur keluarga Wiratama memecah kesunyian.Di ruang makan yang luas, Aluna duduk sendirian di ujung meja panjang, menatap secangkir teh yang sudah dingin. Sejak pagi, rumah itu sibuk. Pelayan mondar-mandir menyiapkan pesta kecil yang katanya hanya untuk keluarga dekat.Namun bagi Aluna, setiap langkah kaki yang terdengar di rumah itu adalah penanda waktu menuju kehancuran.Gaun pengantinnya tergantung di kamar atas —putih, sederhana, tapi mewah. Semua tampak sempurna di luar, tapi di baliknya tersembunyi luka yang belum kering.Tak lama pintu ruang makan terbuka, lalu Ny. Wiratama masuk dengan langkah cepat, ditemani seorang desainer.“Aluna, fitting terakhir jam sepuluh. Pastikan tidak ada drama hari ini,” katanya tanpa menatap putrinya.“Bu, aku belum siap,” ucap Aluna pelan, hampir seperti bisikan.Ny. Wiratama berhenti sejenak, lalu menatap tajam. “Kau pikir siap atau tidak siap itu penting sekarang? Semuanya sudah berjalan ter







