Share

Bab 3

Penulis: Ummu Amay
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-19 22:07:53

Matahari belum tinggi ketika suara bising sendok dari dapur keluarga Wiratama memecah kesunyian.

Di ruang makan yang luas, Aluna duduk sendirian di ujung meja panjang, menatap secangkir teh yang sudah dingin. Sejak pagi, rumah itu sibuk. Pelayan mondar-mandir menyiapkan pesta kecil yang katanya hanya untuk keluarga dekat.

Namun bagi Aluna, setiap langkah kaki yang terdengar di rumah itu adalah penanda waktu menuju kehancuran.

Gaun pengantinnya tergantung di kamar atas —putih, sederhana, tapi mewah. Semua tampak sempurna di luar, tapi di baliknya tersembunyi luka yang belum kering.

Tak lama pintu ruang makan terbuka, lalu Ny. Wiratama masuk dengan langkah cepat, ditemani seorang desainer.

“Aluna, fitting terakhir jam sepuluh. Pastikan tidak ada drama hari ini,” katanya tanpa menatap putrinya.

“Bu, aku belum siap,” ucap Aluna pelan, hampir seperti bisikan.

Ny. Wiratama berhenti sejenak, lalu menatap tajam. “Kau pikir siap atau tidak siap itu penting sekarang? Semuanya sudah berjalan terlalu jauh, Aluna.”

“Tapi aku—”

“Cukup!” bentak ibunya. “Satu kata lagi dan aku pastikan besok kau menikah bahkan tanpa gaun!”

Desainer di sebelahnya menunduk, pura-pura sibuk mencatat ukuran kain. Ia tak mau terlibat dalam pertengkaran ibu dan anak.

Aluna tampak menggigit bibir, menahan tangis.

Saat ibunya pergi, gadis itu menatap jendela. Dari lantai dua, ia bisa melihat taman depan rumah.

Dan di sana, seseorang sedang bekerja — menata kursi, mengangkat dekorasi, bahkan memanggul tenda putih besar sendirian.

Arga.

Dengan kemeja abu-abu kusam, wajahnya basah oleh keringat, tapi matanya tetap fokus.

Ia bukan tamu kehormatan di pesta ini. Ia hanyalah pekerja yang menyiapkan pernikahannya sendiri.

Siang menjelang. Arga berhenti sejenak di bawah pohon kamboja, mengelap peluh.

Ia menatap ke arah rumah besar itu.

Besok ia akan jadi “suami” perempuan yang bahkan tak pernah memandangnya dengan hormat.

Namun di dalam dirinya, ada suara kecil yang berkata, jalani saja. Setidaknya, kau bisa menepati janji pada Ayah.

Dari balkon atas, Aluna diam-diam menatapnya.

Ia melihat Arga tersenyum kecil kepada salah satu pelayan tua yang membawakan air minum. Senyum itu terlihat tulus. Senyum yang tak pernah ia miliki lagi sejak berbulan-bulan terakhir.

Entah kenapa, dada Aluna terasa sesak.

Mungkin karena rasa bersalah. Mungkin karena sadar —lelaki itu akan menanggung beban dosa yang bukan miliknya.

Sore harinya Aluna duduk di depan cermin sudah mengenakan gaun putih. Desainer dan dua asisten sibuk membenarkan kerudung tipis yang menjuntai di punggungnya.

Bayangan dirinya di cermin tampak sempurna —wajah lembut, senyum samar, rambut tersisir rapi.

Namun hatinya berteriak, ini bukan aku. Ini boneka yang akan dikorbankan.

Pintu terbuka pelan.

Tuan Wiratama masuk, menatap putrinya melalui pantulan cermin.

“Cantik,” katanya datar.

“Terima kasih, Ayah.”

“Besok, setelah semua ini selesai, nama keluarga kita aman. Dan aku harap kau bisa belajar mencintai pria itu, meski hanya di depan publik.”

Aluna menunduk. “Bagaimana kalau aku tidak bisa?”

Tuan Wiratama menatapnya lama, lalu berkata pelan tapi dingin,

“Maka kau akan menghancurkan keluarga ini. Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi, bahkan jika kau anakku sendiri.”

Air mata Aluna jatuh. Tapi sang ayah sudah lebih dulu keluar, meninggalkan aroma parfum mahal yang menyengat di ruangan kamarnya.

Malam turun perlahan.

Arga kembali ke rumahnya yang sempit di ujung kampung. Di dalam kamar, ia menatap jas hitam yang baru saja dikirim dari keluarga Wiratama —pakaian pernikahannya.

Ia menyentuh kainnya perlahan, seperti memastikan itu nyata.

Ia menatap foto ayahnya yang tergantung di dinding, lalu tersenyum getir.

“Pak … kalau bapak masih ada, mungkin bapak bakal bilang Arga gila. Tapi, Arga cuma pengen bapak tenang. Biar gak ada lagi yang nagih hutang.”

Ia duduk di ranjang kayu, menatap langit-langit.

“Cuma satu yang Arga harap, semoga perempuan itu bahagia. Meski tanpa cinta, Arga bakal jagain dia.”

Di luar hujan kembali turun rintik-rintik, seolah mengingatkan Arga pada malam ketika perjanjian itu dibuat.

Di sisi lain, di kamar luas bercermin besar, Aluna berbaring memeluk perutnya yang membulat. Ia berbisik pelan,

“Maafin Ibu, Nak. Kau akan lahir dengan nama yang bukan seharusnya. Tapi, Ibu janji suatu hari, Ibu akan menebus semua ini.”

Angin malam berhembus dari jendela yang terbuka sedikit. Tirai putih berayun pelan. Dan di baliknya, bulan separuh bersinar redup, seperti menyaksikan dua orang asing yang besok akan diikat dalam janji yang bukan pilihan mereka.

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 71

    Pagi setelah keputusan itu … rumah Wiratama berubah ritmenya. Bukan lebih tenang. Justru lebih sibuk.Mobil keluar masuk halaman sejak matahari belum tinggi. Beberapa staf perusahaan datang membawa berkas. Panggilan telepon tidak berhenti. Semua orang bergerak dengan satu tujuan yang sama —menyiapkan konferensi pers.Namun di tengah semua kesibukan itu, ada satu orang yang justru bergerak paling tenang. Arga.Ia berdiri di ruang kerja kecil di lantai bawah. Beberapa dokumen terbuka di atas meja. Bukan dokumen perusahaan. Melainkan daftar media.Daftar tamu. Dan satu lagi —daftar keamanan. Seorang pria berdiri di hadapannya. Bara. “Jumlah media sudah dikonfirmasi tiga puluh dua,” lapornya.Arga mengangguk kecil.“Tambahkan lima orang pengamanan di luar gerbang.”Bara menatapnya sedikit heran. “Lima?”“Minimal.” Arga menutup map di depannya.“Kalau keluarga Kusuma benar-benar ingin membuat masalah … mereka tidak akan datang sendirian.”Sunyi sejenak.Bara mengangguk. “Baik.”Ia hampir

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 70

    Pagi berikutnya datang tanpa suara. Namun rumah itu sudah lebih dulu terjaga.Di ruang makan, suasana kembali tertata rapi. Meja panjang, kursi tersusun simetris, aroma kopi memenuhi udara. Semuanya terlihat normal.Terlalu normal.Aluna turun lebih awal dari biasanya. Wajahnya tenang. Bekas di pipinya hampir hilang —salep yang dikirim Arga bekerja dengan baik. Namun yang berubah bukan hanya itu.Cara ia melangkah berbeda. Tidak terburu-buru. Tidak juga ragu.Arga sudah berdiri di tempatnya. Seperti biasa. Namun pagi itu, jarak di antara mereka terasa … lebih disadari.Tatapan mereka sempat bertemu. Singkat. Namun cukup.Langkah lain terdengar.Tn. Wiratama masuk ke ruang makan dengan ekspresi yang sudah kembali netral. Terlalu netral. Seolah ledakan kemarin tidak pernah terjadi.Ia duduk. Melipat serbetnya dengan rapi. Lalu—“Kita akan mengadakan konferensi pers.”Kalimat itu jatuh begitu saja.Sendok di tangan Ny. Wiratama berhenti sepersekian detik. Sedangkan Aluna tidak langsung b

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 69

    Pintu ruang tamu tertutup rapat. Namun ketenangan yang tersisa di dalamnya … bukan ketenangan yang sebenarnya. Itu hanya diam sebelum sesuatu meledak.Langkah kaki terdengar berat di koridor. Tn. Wiratama berjalan cepat menuju ruang kerjanya. Pintu dibuka tanpa banyak suara—namun saat ditutup, bunyinya cukup keras untuk terdengar sampai luar.Di dalam—Sunyi. Beberapa detik. Lalu—Brak!Sebuah map tebal dilempar ke meja. Kertas-kertas di dalamnya berserakan. Angka. Dokumen. Perjanjian. Semua yang sejak awal ia siapkan … kini tidak berarti apa-apa.Napasnya berat. Untuk pertama kalinya, raut wajahnya tidak lagi sepenuhnya terkendali.Gagal. Satu kata yang jarang sekali ia rasakan. Dan hari ini —itu terjadi.Di luar pintu, Ny. Wiratama berdiri. Ia tidak langsung masuk. Ia tahu —suaminya tidak ingin diganggu saat seperti ini. Namun tetap saja —ia membuka pintu.Pelan.Di dalam, Tn. Wiratama berdiri membelakangi. Tangannya bertumpu pada meja. Bahunya tegang.“Kau membiarkan itu terjadi.”

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 68

    Suasana di ruang tamu itu belum benar-benar pulih. Kalimat Aluna masih menggantung di udara. Tidak hilang. Tidak juga mereda. Justru semakin terasa jelas —seolah setiap orang di ruangan itu baru menyadari sesuatu yang selama ini mereka abaikan.Bahwa Aluna … tidak lagi sama.Rendra menatapnya lama. Lebih lama dari sebelumnya. Seolah mencoba mencari celah —satu saja— yang bisa ia gunakan untuk mengembalikan keadaan seperti dulu.Namun tidak ada. Perempuan di hadapannya bukan lagi Aluna yang mudah didorong, dibujuk, atau ditinggalkan.Ia berdiri. Penuh percaya diri. Dan itu … mengganggu.“Jadi ini keputusan finalmu?” Nada suara Rendra lebih rendah. Lebih dingin.Aluna tidak menjawab dengan kata. Ia hanya menatapnya. Tegas. Dan itu sudah cukup.Rendra tersenyum tipis. Namun senyum itu tidak sampai ke matanya.“Baik.”Ia berdiri perlahan. Merapikan jasnya.“Kalau begitu, kita lihat saja sampai kapan kamu bisa mempertahankan keputusan itu.”Kalimat itu terdengar ringan. Tapi ancamannya jel

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 67

    Gerbang besi itu terbuka perlahan. Suara mesin mobil yang masuk ke halaman terasa seperti sesuatu yang merayap masuk ke dalam dada —pelan, tapi pasti. Tidak bisa dihindari.Aluna berdiri tegak. Tangannya di samping tubuh, tidak lagi gemetar seperti kemarin. Namun ada ketegangan yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.Arga berdiri beberapa langkah di belakangnya. Seperti biasa. Namun hari ini —posisinya bukan lagi sekadar bayangan.Mobil itu berhenti. Pintu terbuka. Dan seseorang turun. Rendra.Langkahnya santai. Terlalu santai untuk seseorang yang pernah menghilang tanpa jejak. Jasnya rapi. Penampilannya terawat. Seolah hidupnya baik-baik saja. Seolah tidak pernah ada yang ia tinggalkan.Tatapannya langsung mencari satu orang. Aluna.Dan ketika mata mereka bertemu —senyum tipis itu muncul.“Akhirnya kita kembali bertemu.”Sunyi. Tidak ada jawaban.Aluna menatapnya datar. Tidak ada lagi getaran yang dulu pernah ada. Tidak juga kemarahan yang meledak. Hanya … kosong. Dan itu jauh leb

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 66

    Malam turun perlahan di kediaman Wiratama. Lampu-lampu menyala satu per satu, menyingkirkan gelap yang merambat di setiap sudut rumah. Namun hangatnya cahaya itu tidak mampu mengusir dingin yang tersisa dari kejadia di ruang makan.Semua kembali berjalan seperti biasa. Terlalu biasa. Seolah tidak ada yang terjadi.Di kamar, Aluna duduk di tepi ranjang. Tangannya masih berada di pipinya. Sentuhan itu sudah hilang, namun rasanya belum.Bukan lagi panas karena tamparan. Tapi hangat yang tertinggal. Ia menutup mata perlahan.“Kenapa…” gumamnya lirih. Bukan tentang kejadian tadi. Bukan juga tentang ayahnya. Tapi tentang sesuatu yang jauh lebih mengganggu. Perasaan yang muncul di saat yang tidak seharusnya.Ia mengembuskan napas pelan, lalu merebahkan tubuhnya. Tatapannya kosong ke langit-langit. Untuk ke sekian kalinya, ia tidak memikirkan Rendra. Tidak juga masa lalunya.Yang ia pikirkan … hanya satu orang. Dan itu membuatnya gelisah. Ketukan pelan terdengar di pintu. Aluna membuka mata

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status