LOGINHujan turun sejak pagi, seperti tahu bahwa hari itu bukan hari bahagia.
Pernikahan sederhana keluarga Wiratama digelar di taman belakang rumah besar mereka —tenda putih berdiri megah, tapi udara terasa dingin dan berat. Arga berdiri di depan altar kecil, mengenakan jas hitam yang tak sepenuhnya pas di tubuhnya. Tangannya dingin, bukan karena cuaca, tapi karena perasaan yang tak bisa dijelaskan, antara campuran gugup, takut, dan getir. Ia menatap kursi para tamu —hanya beberapa wajah keluarga dekat dan rekan bisnis Tuan Wiratama. Semuanya menatapnya seperti ia bukan pengantin, melainkan pelayan yang tersesat di pelaminan. Musik lembut mengalun. Aluna muncul dari pintu kaca, mengenakan gaun putih panjang dengan kain veil tipis menutupi wajahnya. Wajahnya cantik, tapi sorot matanya dingin seperti es. Langkahnya anggun, tapi setiap langkah seolah menegaskan satu hal, aku tidak menginginkan ini. Ketika Aluna berhenti di depan Arga, penghulu memulai pernikahan. Arga menatap Aluna sejenak. Ia tahu, di balik wajah tenang itu, ada kebencian yang mungkin takkan pernah padam. Setelahnya ia mengedarkan pandangan ke semua orang. Tak ada saudara, atau siapa pun yang ia kenal. Teman atau sahabat yang dimiliki, tak ada satu pun yang ia beri tahu —sebab perintah sang pemilik hajat. Hanya seorang pria yang duduk di sebelah Arga, yang menjadi saksi pernikahan dari pihaknya, yang entah dari mana asalnya. 'Semua sudah diatur oleh Tuan Wiratama,' batinnya pilu. Sunyi suasana di tempat akad. Tak ada suara, hanya embusan napas dari masing-masing orang, yang jumlahnya bisa Arga hitung dengan jari. Beberapa tamu mulai berbisik. Ny. Wiratama menggenggam tangan suaminya dengan cemas ketika melihat Aluna gelisah saat ijab hendak Arga lakukan. Namun, tatapannya kemudian melunak seiring janji yang Arga ucapkan, terlontar lancar tanpa hambatan. Hanya Aluna, yang justru terlihat menahan emosi dengan air mata yang tak lagi bisa ia bendung. 'Rendra ....' batinnya sedih. ** Setelah upacara selesai dan tamu-tamu mulai beranjak, Arga berdiri sendirian di sudut taman. Ia menatap cincin di jarinya, lalu menghela napas panjang. Semua ini nyata. Ia kini suami dari perempuan yang bahkan tak ingin melihat wajahnya. Suara langkah sepatu terdengar dari belakang. “Kau jangan salah paham,” suara Aluna tajam. “Aku menikah denganmu bukan karena mau. Aku hanya menuruti orang tuaku.” Arga menatapnya. “Aku tahu.” “Dan jangan pernah menyentuhku tanpa izin.” “Aku tidak akan.” “Dan jangan pernah berpikir kau bisa memperlakukan aku seperti istrimu. Kau cuma—” Aluna menahan kata-katanya, tapi tatapannya cukup untuk menuntaskan kalimat itu, 'orang rendahan yang dipaksa masuk ke hidupku'. Arga menunduk, lalu mengangguk pelan. “Kalau itu membuatmu tenang, aku akan jaga jarak.” “Bagus.” Ia berbalik hendak pergi, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti oleh ucapan Arga yang lembut namun menohok, “Satu hal, Nona. Aku memang bukan siapa-siapa. Tapi, aku tidak akan mempermalukan diriku dengan membalas kebencianmu. Kau boleh membenciku, tapi aku tetap akan menghormatimu.” Aluna terdiam. Ada sesuatu di nada suaranya yang membuat dadanya bergetar sesaat —tapi ia buru-buru menepisnya. “Lakukan apa pun yang kau mau. Asal jangan campuri urusanku. Terlebih berharap aku peduli.” Ia berjalan pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Arga sendirian di bawah langit kelabu. Hujan kembali turun perlahan, membasahi rambutnya, seolah langit pun ikut berduka atas pernikahan yang lahir dari kepalsuan dan keputusasaan. 'Yang penting di saat terakhir hidupmu, aku telah membuatmu tersenyum lega.' Tiba-tiba saja Arga teringat sang ayah yang telah pergi mendahuluinya. ** Di malam hari, di kamar pengantin yang luas, keheningan terasa mencekam. Aluna duduk di tepi ranjang, masih mengenakan gaunnya, sementara Arga berdiri di dekat jendela, menatap hujan di luar. “Tempat tidur itu untukku,” kata Aluna datar. “Kau tidur di sofa. Atau di lantai, kalau mau.” Arga menatap sebentar, lalu tersenyum kecil. “Baik.” Ia mengambil bantal dan selimut, lalu menuju sofa kecil di sudut kamar. Tak ada ucapan selamat malam. Tak ada sapaan hangat. Hanya dua manusia asing yang terikat oleh cincin emas yang terasa lebih berat daripada rantai besi. Dan di tengah keheningan malam itu, masing-masing dari mereka menyadari hal yang sama, pernikahan ini bukan permulaan cinta, tapi awal dari perang dingin yang panjang. ***Pagi setelah keputusan itu … rumah Wiratama berubah ritmenya. Bukan lebih tenang. Justru lebih sibuk.Mobil keluar masuk halaman sejak matahari belum tinggi. Beberapa staf perusahaan datang membawa berkas. Panggilan telepon tidak berhenti. Semua orang bergerak dengan satu tujuan yang sama —menyiapkan konferensi pers.Namun di tengah semua kesibukan itu, ada satu orang yang justru bergerak paling tenang. Arga.Ia berdiri di ruang kerja kecil di lantai bawah. Beberapa dokumen terbuka di atas meja. Bukan dokumen perusahaan. Melainkan daftar media.Daftar tamu. Dan satu lagi —daftar keamanan. Seorang pria berdiri di hadapannya. Bara. “Jumlah media sudah dikonfirmasi tiga puluh dua,” lapornya.Arga mengangguk kecil.“Tambahkan lima orang pengamanan di luar gerbang.”Bara menatapnya sedikit heran. “Lima?”“Minimal.” Arga menutup map di depannya.“Kalau keluarga Kusuma benar-benar ingin membuat masalah … mereka tidak akan datang sendirian.”Sunyi sejenak.Bara mengangguk. “Baik.”Ia hampir
Pagi berikutnya datang tanpa suara. Namun rumah itu sudah lebih dulu terjaga.Di ruang makan, suasana kembali tertata rapi. Meja panjang, kursi tersusun simetris, aroma kopi memenuhi udara. Semuanya terlihat normal.Terlalu normal.Aluna turun lebih awal dari biasanya. Wajahnya tenang. Bekas di pipinya hampir hilang —salep yang dikirim Arga bekerja dengan baik. Namun yang berubah bukan hanya itu.Cara ia melangkah berbeda. Tidak terburu-buru. Tidak juga ragu.Arga sudah berdiri di tempatnya. Seperti biasa. Namun pagi itu, jarak di antara mereka terasa … lebih disadari.Tatapan mereka sempat bertemu. Singkat. Namun cukup.Langkah lain terdengar.Tn. Wiratama masuk ke ruang makan dengan ekspresi yang sudah kembali netral. Terlalu netral. Seolah ledakan kemarin tidak pernah terjadi.Ia duduk. Melipat serbetnya dengan rapi. Lalu—“Kita akan mengadakan konferensi pers.”Kalimat itu jatuh begitu saja.Sendok di tangan Ny. Wiratama berhenti sepersekian detik. Sedangkan Aluna tidak langsung b
Pintu ruang tamu tertutup rapat. Namun ketenangan yang tersisa di dalamnya … bukan ketenangan yang sebenarnya. Itu hanya diam sebelum sesuatu meledak.Langkah kaki terdengar berat di koridor. Tn. Wiratama berjalan cepat menuju ruang kerjanya. Pintu dibuka tanpa banyak suara—namun saat ditutup, bunyinya cukup keras untuk terdengar sampai luar.Di dalam—Sunyi. Beberapa detik. Lalu—Brak!Sebuah map tebal dilempar ke meja. Kertas-kertas di dalamnya berserakan. Angka. Dokumen. Perjanjian. Semua yang sejak awal ia siapkan … kini tidak berarti apa-apa.Napasnya berat. Untuk pertama kalinya, raut wajahnya tidak lagi sepenuhnya terkendali.Gagal. Satu kata yang jarang sekali ia rasakan. Dan hari ini —itu terjadi.Di luar pintu, Ny. Wiratama berdiri. Ia tidak langsung masuk. Ia tahu —suaminya tidak ingin diganggu saat seperti ini. Namun tetap saja —ia membuka pintu.Pelan.Di dalam, Tn. Wiratama berdiri membelakangi. Tangannya bertumpu pada meja. Bahunya tegang.“Kau membiarkan itu terjadi.”
Suasana di ruang tamu itu belum benar-benar pulih. Kalimat Aluna masih menggantung di udara. Tidak hilang. Tidak juga mereda. Justru semakin terasa jelas —seolah setiap orang di ruangan itu baru menyadari sesuatu yang selama ini mereka abaikan.Bahwa Aluna … tidak lagi sama.Rendra menatapnya lama. Lebih lama dari sebelumnya. Seolah mencoba mencari celah —satu saja— yang bisa ia gunakan untuk mengembalikan keadaan seperti dulu.Namun tidak ada. Perempuan di hadapannya bukan lagi Aluna yang mudah didorong, dibujuk, atau ditinggalkan.Ia berdiri. Penuh percaya diri. Dan itu … mengganggu.“Jadi ini keputusan finalmu?” Nada suara Rendra lebih rendah. Lebih dingin.Aluna tidak menjawab dengan kata. Ia hanya menatapnya. Tegas. Dan itu sudah cukup.Rendra tersenyum tipis. Namun senyum itu tidak sampai ke matanya.“Baik.”Ia berdiri perlahan. Merapikan jasnya.“Kalau begitu, kita lihat saja sampai kapan kamu bisa mempertahankan keputusan itu.”Kalimat itu terdengar ringan. Tapi ancamannya jel
Gerbang besi itu terbuka perlahan. Suara mesin mobil yang masuk ke halaman terasa seperti sesuatu yang merayap masuk ke dalam dada —pelan, tapi pasti. Tidak bisa dihindari.Aluna berdiri tegak. Tangannya di samping tubuh, tidak lagi gemetar seperti kemarin. Namun ada ketegangan yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.Arga berdiri beberapa langkah di belakangnya. Seperti biasa. Namun hari ini —posisinya bukan lagi sekadar bayangan.Mobil itu berhenti. Pintu terbuka. Dan seseorang turun. Rendra.Langkahnya santai. Terlalu santai untuk seseorang yang pernah menghilang tanpa jejak. Jasnya rapi. Penampilannya terawat. Seolah hidupnya baik-baik saja. Seolah tidak pernah ada yang ia tinggalkan.Tatapannya langsung mencari satu orang. Aluna.Dan ketika mata mereka bertemu —senyum tipis itu muncul.“Akhirnya kita kembali bertemu.”Sunyi. Tidak ada jawaban.Aluna menatapnya datar. Tidak ada lagi getaran yang dulu pernah ada. Tidak juga kemarahan yang meledak. Hanya … kosong. Dan itu jauh leb
Malam turun perlahan di kediaman Wiratama. Lampu-lampu menyala satu per satu, menyingkirkan gelap yang merambat di setiap sudut rumah. Namun hangatnya cahaya itu tidak mampu mengusir dingin yang tersisa dari kejadia di ruang makan.Semua kembali berjalan seperti biasa. Terlalu biasa. Seolah tidak ada yang terjadi.Di kamar, Aluna duduk di tepi ranjang. Tangannya masih berada di pipinya. Sentuhan itu sudah hilang, namun rasanya belum.Bukan lagi panas karena tamparan. Tapi hangat yang tertinggal. Ia menutup mata perlahan.“Kenapa…” gumamnya lirih. Bukan tentang kejadian tadi. Bukan juga tentang ayahnya. Tapi tentang sesuatu yang jauh lebih mengganggu. Perasaan yang muncul di saat yang tidak seharusnya.Ia mengembuskan napas pelan, lalu merebahkan tubuhnya. Tatapannya kosong ke langit-langit. Untuk ke sekian kalinya, ia tidak memikirkan Rendra. Tidak juga masa lalunya.Yang ia pikirkan … hanya satu orang. Dan itu membuatnya gelisah. Ketukan pelan terdengar di pintu. Aluna membuka mata







