Share

Bab 4

Author: Ummu Amay
last update Petsa ng paglalathala: 2025-11-19 22:08:20

Hujan turun sejak pagi, seperti tahu bahwa hari itu bukan hari bahagia.

Pernikahan sederhana keluarga Wiratama digelar di taman belakang rumah besar mereka —tenda putih berdiri megah, tapi udara terasa dingin dan berat.

Arga berdiri di depan altar kecil, mengenakan jas hitam yang tak sepenuhnya pas di tubuhnya. Tangannya dingin, bukan karena cuaca, tapi karena perasaan yang tak bisa dijelaskan, antara campuran gugup, takut, dan getir.

Ia menatap kursi para tamu —hanya beberapa wajah keluarga dekat dan rekan bisnis Tuan Wiratama. Semuanya menatapnya seperti ia bukan pengantin, melainkan pelayan yang tersesat di pelaminan.

Musik lembut mengalun. Aluna muncul dari pintu kaca, mengenakan gaun putih panjang dengan kain veil tipis menutupi wajahnya.

Wajahnya cantik, tapi sorot matanya dingin seperti es. Langkahnya anggun, tapi setiap langkah seolah menegaskan satu hal, aku tidak menginginkan ini.

Ketika Aluna berhenti di depan Arga, penghulu memulai pernikahan.

Arga menatap Aluna sejenak. Ia tahu, di balik wajah tenang itu, ada kebencian yang mungkin takkan pernah padam.

Setelahnya ia mengedarkan pandangan ke semua orang. Tak ada saudara, atau siapa pun yang ia kenal. Teman atau sahabat yang dimiliki, tak ada satu pun yang ia beri tahu —sebab perintah sang pemilik hajat.

Hanya seorang pria yang duduk di sebelah Arga, yang menjadi saksi pernikahan dari pihaknya, yang entah dari mana asalnya.

'Semua sudah diatur oleh Tuan Wiratama,' batinnya pilu.

Sunyi suasana di tempat akad. Tak ada suara, hanya embusan napas dari masing-masing orang, yang jumlahnya bisa Arga hitung dengan jari.

Beberapa tamu mulai berbisik. Ny. Wiratama menggenggam tangan suaminya dengan cemas ketika melihat Aluna gelisah saat ijab hendak Arga lakukan.

Namun, tatapannya kemudian melunak seiring janji yang Arga ucapkan, terlontar lancar tanpa hambatan.

Hanya Aluna, yang justru terlihat menahan emosi dengan air mata yang tak lagi bisa ia bendung.

'Rendra ....' batinnya sedih.

**

Setelah upacara selesai dan tamu-tamu mulai beranjak, Arga berdiri sendirian di sudut taman.

Ia menatap cincin di jarinya, lalu menghela napas panjang.

Semua ini nyata. Ia kini suami dari perempuan yang bahkan tak ingin melihat wajahnya.

Suara langkah sepatu terdengar dari belakang.

“Kau jangan salah paham,” suara Aluna tajam.

“Aku menikah denganmu bukan karena mau. Aku hanya menuruti orang tuaku.”

Arga menatapnya. “Aku tahu.”

“Dan jangan pernah menyentuhku tanpa izin.”

“Aku tidak akan.”

“Dan jangan pernah berpikir kau bisa memperlakukan aku seperti istrimu. Kau cuma—” Aluna menahan kata-katanya, tapi tatapannya cukup untuk menuntaskan kalimat itu, 'orang rendahan yang dipaksa masuk ke hidupku'.

Arga menunduk, lalu mengangguk pelan. “Kalau itu membuatmu tenang, aku akan jaga jarak.”

“Bagus.”

Ia berbalik hendak pergi, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti oleh ucapan Arga yang lembut namun menohok,

“Satu hal, Nona. Aku memang bukan siapa-siapa. Tapi, aku tidak akan mempermalukan diriku dengan membalas kebencianmu. Kau boleh membenciku, tapi aku tetap akan menghormatimu.”

Aluna terdiam.

Ada sesuatu di nada suaranya yang membuat dadanya bergetar sesaat —tapi ia buru-buru menepisnya.

“Lakukan apa pun yang kau mau. Asal jangan campuri urusanku. Terlebih berharap aku peduli.”

Ia berjalan pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Arga sendirian di bawah langit kelabu.

Hujan kembali turun perlahan, membasahi rambutnya, seolah langit pun ikut berduka atas pernikahan yang lahir dari kepalsuan dan keputusasaan.

'Yang penting di saat terakhir hidupmu, aku telah membuatmu tersenyum lega.'

Tiba-tiba saja Arga teringat sang ayah yang telah pergi mendahuluinya.

**

Di malam hari, di kamar pengantin yang luas, keheningan terasa mencekam. Aluna duduk di tepi ranjang, masih mengenakan gaunnya, sementara Arga berdiri di dekat jendela, menatap hujan di luar.

“Tempat tidur itu untukku,” kata Aluna datar. “Kau tidur di sofa. Atau di lantai, kalau mau.”

Arga menatap sebentar, lalu tersenyum kecil. “Baik.”

Ia mengambil bantal dan selimut, lalu menuju sofa kecil di sudut kamar.

Tak ada ucapan selamat malam.

Tak ada sapaan hangat.

Hanya dua manusia asing yang terikat oleh cincin emas yang terasa lebih berat daripada rantai besi.

Dan di tengah keheningan malam itu, masing-masing dari mereka menyadari hal yang sama, pernikahan ini bukan permulaan cinta, tapi awal dari perang dingin yang panjang.

***

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 77

    Sore datang tanpa banyak suara. Langit di luar jendela mulai berubah warna, dari terang yang tegas menjadi jingga yang perlahan meredup. Di dalam kamar, Aluna masih berada di posisi yang sama. Tidak banyak bergerak. Namun pikirannya … tidak berhenti.Konferensi pers itu belum lama selesai. Tapi dampaknya terasa seperti sudah berlangsung berhari-hari.Ketukan pelan terdengar di pintu. Aluna tidak langsung menjawab.Ketukan itu terdengar lagi. Lebih pelan. Seolah memberi pilihan —dibuka, atau dibiarkan.“…Masuk.”Pintu terbuka perlahan.Arga.Ia tidak langsung masuk sepenuhnya. Hanya berdiri di ambang pintu. Seperti biasa. Menjaga jarak yang tidak pernah benar-benar ia lewati.“Ada yang ingin bicara denganmu,” katanya pelan.Aluna mengangkat wajahnya sedikit. “Siapa?”“Bukan dari dalam rumah.”Jawaban itu membuat Aluna mengerutkan kening.Arga melanjutkan, “Salah satu wartawan.”Sunyi.Aluna menegakkan tubuhnya perlahan. “Sudah mulai, ya.”Bukan pertanyaan.Arga mengangguk kecil.“Dia t

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 76

    Sunyi.Kalimat itu jatuh pelan, namun dampaknya terasa jelas di seluruh ruangan.Ny. Wiratama langsung menatap Arga lebih tajam. “Apa maksudmu?”Arga tidak mengalihkan pandangan.“Jika mereka ingin menghancurkan posisi kita…” suaranya tetap tenang, “cara tercepat adalah melalui Nona Aluna.”Tn. Wiratama tidak bergerak. Namun sorot matanya berubah sedikit lebih dalam.“Lanjutkan.”Arga mengangguk kecil.“Konferensi pers tadi memperjelas status. Itu memperkuat posisi kita secara publik.” Ia berhenti sejenak. “Tapi juga membuka perhatian.”Hening.“Dan perhatian itu… bisa diarahkan.”Ny. Wiratama mengerutkan kening. “Diarahkan ke mana?”Arga menjawab tanpa ragu.“Ke masa lalu beliau.”Sunyi kembali turun.Bara bersandar sedikit lebih tegak dari posisinya tadi. Kini ia benar-benar memperhatikan.“Apa yang mereka tahu?” tanya Tn. Wiratama.Pertanyaan itu langsung. Tanpa basa-basi.Arga terdiam beberapa detik.“Belum tentu banyak...”“Tapi?”“Tapi, cukup untuk memancing.”Ny. Wiratama menge

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 75

    Koridor rumah itu terasa lebih sunyi dibandingkan biasanya.Langkah Arga terdengar jelas di lantai marmer. Setiap langkahnya terukur. Tidak terburu-buru. Namun juga tidak ragu.Beberapa pelayan yang berpapasan hanya menundukkan kepala sebentar sebelum menyingkir memberi jalan.Kabar tentang konferensi pers tadi pagi jelas sudah menyebar ke seluruh rumah. Dan sekarang—semua orang tahu satu hal.Arga bukan lagi sekadar pembantu yang selama ini terlihat. Ia adalah suami Nona Aluna.Namun gelar itu juga berarti sesuatu yang lain.Target.Arga berhenti di depan pintu ruang kerja Tn. Wiratama. Ia mengetuk sekali.“Masuk.”Suara di dalam tetap seperti biasanya. Tenang. Terkontrol.Arga membuka pintu dan masuk.Ruangan itu masih sama seperti yang ia kenal selama tinggal di rumah itu sejak beberapa bulan lalu. Rak buku besar. Meja kerja kayu gelap. Tirai tebal yang menahan cahaya siang agar tidak terlalu masuk.Namun suasana di dalam terasa berbeda. Tn. Wiratama duduk di kursinya. Di sisi lain

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 74

    Arga tidak langsung menjawab. Ia berdiri di samping ranjang, masih memegang gelas jus yang tadi ia bawa. Cahaya siang yang masuk dari jendela membuat ruangan itu terasa terlalu terang untuk suasana seperti ini.“Aku lelah, Arga.”Suara Aluna pelan. Tidak bergetar, namun cukup untuk menunjukkan bahwa semua yang terjadi pagi tadi benar-benar mengurasnya.Perlahan, Arga meletakkan gelas itu di meja kecil di samping ranjang. Ia tidak duduk. Tidak juga menyentuhnya.Batas itu masih ada —dan Arga tidak pernah berniat melanggarnya.“Aku tahu.” Jawabannya sederhana.Aluna menurunkan tangannya dari wajah. Matanya memang sedikit merah. Namun ia tidak terlihat seperti orang yang baru saja menangis. Lebih seperti seseorang yang terlalu lama menahan sesuatu.“Dia sengaja datang,” gumamnya pelan.Arga tidak perlu bertanya siapa.“Ya.”Aluna memejamkan mata lagi sejenak.“Aku sudah menduganya sejak semalam.”Hening.“Rendra tidak pernah suka kalah.”Arga menyandarkan punggungnya sedikit pada lemari

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 73

    Beberapa detik setelah nama itu disebutkan, suasana langsung berubah.Tangan-tangan wartawan terangkat bersamaan. Mikrofon diarahkan ke depan. Kamera semakin mendekat.“Pak Wiratama, kapan pernikahan itu terjadi?”“Apakah ini pernikahan mendadak?”“Apakah benar ada skandal yang memaksa pernikahan ini?”Pertanyaan-pertanyaan itu datang bertubi-tubi.Tn. Wiratama tetap berdiri tegak di depan mikrofon. Ekspresinya tidak berubah sedikit pun.“Pernikahan ini adalah keputusan keluarga,” katanya tenang.Namun wartawan tidak berhenti. Salah satu dari mereka berdiri.“Pak, masyarakat belum pernah mendengar nama Arga sebelumnya. Apakah beliau bagian dari keluarga bisnis Anda?”Tatapan beberapa kamera langsung beralih pada Arga. Arga tidak bergerak.Namun sebelum Tn. Wiratama menjawab — sebuah suara lain terdengar dari belakang.“Pertanyaan itu memang menarik.”Semua kepala menoleh. Rendra.Ia melangkah maju melewati barisan kursi wartawan. Tidak terburu-buru. Tidak juga ragu.Beberapa wartawan

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 72

    Pagi konferensi pers datang lebih cepat dari biasanya. Langit masih pucat ketika rumah Wiratama sudah penuh pergerakan. Mobil media mulai berdatangan satu per satu. Kamera, tripod, dan mikrofon dibawa masuk dengan tergesa.Di halaman belakang, panggung kecil yang semalam masih setengah jadi kini sudah berdiri sempurna. Kursi-kursi tersusun rapi menghadap ke satu titik.Panggung itu. Tempat semuanya akan diumumkan.Di sisi lain rumah —Arga sudah berdiri sejak lama. Ia mengenakan setelan hitam sederhana. Tidak mencolok. Namun rapi. Sama seperti sikapnya selama ini.Bara berdiri di sampingnya.“Semua jalur masuk sudah dijaga,” lapornya.Arga mengangguk.“Media?”“Mulai berdatangan. Beberapa sudah menunggu di luar.”Arga melirik jam tangannya. Masih tiga puluh menit.“Pastikan mereka tidak melewati batas yang sudah kita tentukan.”“Baik.”Bara berhenti sebentar sebelum bertanya, “Kau yakin mereka akan mencoba sesuatu?”Arga tidak langsung menjawab. Tatapannya tertuju pada gerbang besar di

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 60

    Sambungan itu terputus.Sunyi.Aluna masih berdiri di tempat yang sama. Ponsel di tangannya terasa lebih berat dari biasanya. Jari-jarinya sedikit gemetar, napasnya belum sepenuhnya stabil.Ia menatap layar yang sudah kembali gelap. Seolah berharap … semuanya ikut berakhir di sana.Namun tidak. Jus

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 59

    "Saya ingin bertemu Aluna."Langsung. Tanpa berputar.Ucapan itu datang tanpa ragu.“Tidak,” jawab Ny. Wiratama.“Tante—”“Tidak,” ulangnya. Kali ini lebih tegas.Hening menggelayut.Rendra mengatupkan rahangnya. “Dia berhak tahu saya datang.”“Dia tidak butuh itu.”“Saya yang butuh.”Ny. Wiratama

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 58

    Hening yang tercipta setelah kalimat itu terasa menekan.“Darah tetap darah, Tante.”Suara Rendra tidak lagi setenang sebelumnya. Ada sesuatu di dalamnya —keras kepala yang selama ini tersembunyi di balik sikap santainya.Ny. Wiratama tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap lelaki di hadapannya i

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 53

    Malam turun perlahan, menenggelamkan sisa cahaya yang masih bertahan di halaman belakang. Arga berdiri cukup lama di sana, selang di tangannya masih mengalirkan air yang kini mulai membentuk genangan kecil di lantai.Ia tidak bergerak.Pikirannya berjalan terlalu jauh.“Dua hari,” gumamnya pelan.W

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status