LOGINKoridor rumah itu terasa lebih sunyi dibandingkan biasanya.Langkah Arga terdengar jelas di lantai marmer. Setiap langkahnya terukur. Tidak terburu-buru. Namun juga tidak ragu.Beberapa pelayan yang berpapasan hanya menundukkan kepala sebentar sebelum menyingkir memberi jalan.Kabar tentang konferensi pers tadi pagi jelas sudah menyebar ke seluruh rumah. Dan sekarang—semua orang tahu satu hal.Arga bukan lagi sekadar pembantu yang selama ini terlihat. Ia adalah suami Nona Aluna.Namun gelar itu juga berarti sesuatu yang lain.Target.Arga berhenti di depan pintu ruang kerja Tn. Wiratama. Ia mengetuk sekali.“Masuk.”Suara di dalam tetap seperti biasanya. Tenang. Terkontrol.Arga membuka pintu dan masuk.Ruangan itu masih sama seperti yang ia kenal selama tinggal di rumah itu sejak beberapa bulan lalu. Rak buku besar. Meja kerja kayu gelap. Tirai tebal yang menahan cahaya siang agar tidak terlalu masuk.Namun suasana di dalam terasa berbeda. Tn. Wiratama duduk di kursinya. Di sisi lain
Arga tidak langsung menjawab. Ia berdiri di samping ranjang, masih memegang gelas jus yang tadi ia bawa. Cahaya siang yang masuk dari jendela membuat ruangan itu terasa terlalu terang untuk suasana seperti ini.“Aku lelah, Arga.”Suara Aluna pelan. Tidak bergetar, namun cukup untuk menunjukkan bahwa semua yang terjadi pagi tadi benar-benar mengurasnya.Perlahan, Arga meletakkan gelas itu di meja kecil di samping ranjang. Ia tidak duduk. Tidak juga menyentuhnya.Batas itu masih ada —dan Arga tidak pernah berniat melanggarnya.“Aku tahu.” Jawabannya sederhana.Aluna menurunkan tangannya dari wajah. Matanya memang sedikit merah. Namun ia tidak terlihat seperti orang yang baru saja menangis. Lebih seperti seseorang yang terlalu lama menahan sesuatu.“Dia sengaja datang,” gumamnya pelan.Arga tidak perlu bertanya siapa.“Ya.”Aluna memejamkan mata lagi sejenak.“Aku sudah menduganya sejak semalam.”Hening.“Rendra tidak pernah suka kalah.”Arga menyandarkan punggungnya sedikit pada lemari
Beberapa detik setelah nama itu disebutkan, suasana langsung berubah.Tangan-tangan wartawan terangkat bersamaan. Mikrofon diarahkan ke depan. Kamera semakin mendekat.“Pak Wiratama, kapan pernikahan itu terjadi?”“Apakah ini pernikahan mendadak?”“Apakah benar ada skandal yang memaksa pernikahan ini?”Pertanyaan-pertanyaan itu datang bertubi-tubi.Tn. Wiratama tetap berdiri tegak di depan mikrofon. Ekspresinya tidak berubah sedikit pun.“Pernikahan ini adalah keputusan keluarga,” katanya tenang.Namun wartawan tidak berhenti. Salah satu dari mereka berdiri.“Pak, masyarakat belum pernah mendengar nama Arga sebelumnya. Apakah beliau bagian dari keluarga bisnis Anda?”Tatapan beberapa kamera langsung beralih pada Arga. Arga tidak bergerak.Namun sebelum Tn. Wiratama menjawab — sebuah suara lain terdengar dari belakang.“Pertanyaan itu memang menarik.”Semua kepala menoleh. Rendra.Ia melangkah maju melewati barisan kursi wartawan. Tidak terburu-buru. Tidak juga ragu.Beberapa wartawan
Pagi konferensi pers datang lebih cepat dari biasanya. Langit masih pucat ketika rumah Wiratama sudah penuh pergerakan. Mobil media mulai berdatangan satu per satu. Kamera, tripod, dan mikrofon dibawa masuk dengan tergesa.Di halaman belakang, panggung kecil yang semalam masih setengah jadi kini sudah berdiri sempurna. Kursi-kursi tersusun rapi menghadap ke satu titik.Panggung itu. Tempat semuanya akan diumumkan.Di sisi lain rumah —Arga sudah berdiri sejak lama. Ia mengenakan setelan hitam sederhana. Tidak mencolok. Namun rapi. Sama seperti sikapnya selama ini.Bara berdiri di sampingnya.“Semua jalur masuk sudah dijaga,” lapornya.Arga mengangguk.“Media?”“Mulai berdatangan. Beberapa sudah menunggu di luar.”Arga melirik jam tangannya. Masih tiga puluh menit.“Pastikan mereka tidak melewati batas yang sudah kita tentukan.”“Baik.”Bara berhenti sebentar sebelum bertanya, “Kau yakin mereka akan mencoba sesuatu?”Arga tidak langsung menjawab. Tatapannya tertuju pada gerbang besar di
Pagi setelah keputusan itu … rumah Wiratama berubah ritmenya. Bukan lebih tenang. Justru lebih sibuk.Mobil keluar masuk halaman sejak matahari belum tinggi. Beberapa staf perusahaan datang membawa berkas. Panggilan telepon tidak berhenti. Semua orang bergerak dengan satu tujuan yang sama —menyiapkan konferensi pers.Namun di tengah semua kesibukan itu, ada satu orang yang justru bergerak paling tenang. Arga.Ia berdiri di ruang kerja kecil di lantai bawah. Beberapa dokumen terbuka di atas meja. Bukan dokumen perusahaan. Melainkan daftar media.Daftar tamu. Dan satu lagi —daftar keamanan. Seorang pria berdiri di hadapannya. Bara. “Jumlah media sudah dikonfirmasi tiga puluh dua,” lapornya.Arga mengangguk kecil.“Tambahkan lima orang pengamanan di luar gerbang.”Bara menatapnya sedikit heran. “Lima?”“Minimal.” Arga menutup map di depannya.“Kalau keluarga Kusuma benar-benar ingin membuat masalah … mereka tidak akan datang sendirian.”Sunyi sejenak.Bara mengangguk. “Baik.”Ia hampir
Pagi berikutnya datang tanpa suara. Namun rumah itu sudah lebih dulu terjaga.Di ruang makan, suasana kembali tertata rapi. Meja panjang, kursi tersusun simetris, aroma kopi memenuhi udara. Semuanya terlihat normal.Terlalu normal.Aluna turun lebih awal dari biasanya. Wajahnya tenang. Bekas di pipinya hampir hilang —salep yang dikirim Arga bekerja dengan baik. Namun yang berubah bukan hanya itu.Cara ia melangkah berbeda. Tidak terburu-buru. Tidak juga ragu.Arga sudah berdiri di tempatnya. Seperti biasa. Namun pagi itu, jarak di antara mereka terasa … lebih disadari.Tatapan mereka sempat bertemu. Singkat. Namun cukup.Langkah lain terdengar.Tn. Wiratama masuk ke ruang makan dengan ekspresi yang sudah kembali netral. Terlalu netral. Seolah ledakan kemarin tidak pernah terjadi.Ia duduk. Melipat serbetnya dengan rapi. Lalu—“Kita akan mengadakan konferensi pers.”Kalimat itu jatuh begitu saja.Sendok di tangan Ny. Wiratama berhenti sepersekian detik. Sedangkan Aluna tidak langsung b







