MasukLangit pagi tampak kelabu, seperti menyesuaikan dengan isi hati dua orang yang akan dipertemukan bukan karena cinta, tapi karena kebohongan.
Di ruang tamu rumah megah keluarga Wiratama, Aluna duduk diam di kursi rotan dekat jendela besar. Matanya menatap jauh ke luar, tapi pikirannya melayang entah ke mana. Perutnya sudah mulai membesar, dan setiap kali ia menatapnya, dada terasa sesak — bukan karena malu, tapi karena takut. “Aluna.” Suara tegas ibunya memecah keheningan. Ny. Wiratama berdiri di belakangnya, bersedekap, wajahnya datar namun dingin seperti patung. “Sudah kupikirkan semuanya. Upacara kecil. Tak ada media. Tak ada tamu penting. Cukup keluarga inti dan pihak dari catatan sipil.” Aluna tak menjawab. “Dan ingat, setelah semua ini, kau akan hidup seperti istri baik-baik. Jangan bikin skandal baru.” Nada ibunya tajam, tapi Aluna hanya menunduk. Air mata menetes tanpa suara. “Aku tidak mencintai dia, Bu…” Ny. Wiratama mendengus pendek. “Kau pikir cinta bisa membayar rasa malu? Kalau rahasia ini bocor, habis nama keluarga kita!” “Rendra berjanji akan datang kembali—” “Rendra?” Nada suara sang ibu meninggi. “Anak pengecut itu sudah menghilang! Dan sekarang kau masih berharap padanya?” Aluna menahan tangis. “Dia ayah dari anak ini.” “Diam!” bentak ibunya. “Mulai hari ini, bayi itu adalah anak dari suamimu —Arga. Dan kalau kau berani membuka mulut, jangan harap bisa keluar dari rumah ini hidup-hidup!” Ny. Wiratama berbalik meninggalkan ruangan. Pintu ditutup dengan keras, menyisakan Aluna yang kini menangis dalam diam. Dalam hatinya, ia tahu tak ada lagi jalan kembali. ** Di tempat lain, Arga masih duduk di samping tempat tidur ayahnya. Wajah Pak Darsa terlihat pucat, tapi senyum lembut masih tersisa di bibirnya. “Jadi, mereka nyuruh kamu nikah dengan putri tunggal mereka?” suara Pak Darsa pelan, serak. Arga mengangguk, pandangannya kosong. “Dan kamu mau?” “Aku gak tahu, Pak. Tapi kalau itu bisa menyelamatkan Bapak, Arga mau.” Pak Darsa menatapnya dalam, penuh perasaan yang tak terucap. “Anakku, hidup itu bukan cuma tentang berhutang dan membayar. Kadang ada harga yang terlalu mahal untuk dibayar dengan diri sendiri.” Arga terdiam. “Tapi, kalau kamu yakin bisa jalani, Bapak akan restui kamu. Hanya satu pesan Bapak — jangan pernah jadi budak, bahkan kalau kamu hidup di rumah raja sekalipun.” Arga menatap ayahnya, dan untuk pertama kalinya sejak lama, air mata jatuh dari matanya. “Iya, Pak. Arga janji.” Tak lama setelah itu, Arga harus merasakan kesedihan yang amat mendalam. Ayahnya pergi untuk selamanya setelah semua hutang yang dimiliki selama ini, akhirnya lunas. Kini Arga benar-benar sendiri. Menjadi yatim piatu di usianya yang sudah bukan anak-anak lagi, dan itu sangat menyesakkan. Dan di usia yang seharusnya matang itu, ia justru harus menjadi menantu dari pria kaya raya yang bahkan tidak tulus ingin menjadikannya menantu. ** Beberapa hari kemudian, di ruang tamu keluarga Wiratama, suasana tegang kembali terasa. Arga datang mengenakan kemeja sederhana. Ia berdiri tegak di depan Tuan Wiratama, sementara Aluna duduk di kursi, memalingkan wajah ke arah lain. Tuan Wiratama berbicara dengan nada resmi. “Semua sudah diatur. Kau akan menikah minggu depan. Tapi setelah itu, kau akan tinggal di rumah ini. Anggap saja balasan untuk kebaikan kami.” Arga hanya menunduk. “Saya mengerti, Pak.” “Dan ingat, jangan pernah mencoba mendekati Aluna kecuali dia yang mengizinkan. Kalian akan terlihat seperti pasangan di depan umum, tapi di dalam rumah ini, kau tetap tahu posisimu.” Kalimat itu menampar harga diri Arga, tapi ia menahan diri. Ia menatap sekilas ke arah Aluna —gadis itu masih menunduk, matanya sembab, wajahnya dingin. Bukan kebencian yang ia lihat, tapi semacam keputusasaan yang nyaris mematikan. Setelah pertemuan itu, Arga keluar dari rumah besar itu dengan langkah berat. Hujan kembali turun, membasahi tubuhnya. Di bawah langit kelabu, ia bergumam, “Pernikahan tanpa cinta, tapi semoga bisa menyelamatkan sesuatu.” Sementara di balik jendela, Aluna menatap sosok lelaki sederhana itu yang berjalan menjauh. Dalam hati kecilnya, ia bertanya, apa yang telah kulakukan pada hidup orang itu? Namun, jawabannya masih jauh. Karena di sinilah, dua hati yang sama-sama terluka baru saja diikat oleh janji suci yang tak pernah mereka minta. ***Musim berganti, ketika musim panas datang, menurunkan terik yang membakar halaman besar yang banyak ditumbuhi pohon dan aneka tanaman. Saat ini tengah berlangsung sebuah pesta. Pesta pertunangan adik sepupu Aluna yang diadakan di kediaman keluarga Wiratama. Dari luar, pesta pertunangan itu masih terdengar ramai, penuh tawa dan tepuk tangan. Tapi, di sisi belakang rumah —di dekat tempat parkir mobil —suasananya berbanding terbalik.Arga berdiri diam di samping ember air yang tadi ia gunakan untuk mencuci ban mobil mewah milik tamu keluarga. Bajunya basah sebagian, tangan kasarnya masih menggenggam lap kain. Suara musik dari pesta di dalam rumah terdengar samar, bercampur dengan gema hinaan yang baru saja ia terima.“Suamimu?”“Astaga, Aluna, kau serius menikah dengan dia? Aku kira dia sopir barumu!”“Hahaha … tampaknya keluarga Wiratama benar-benar dermawan. Menikahkan putrinya dengan orang seperti itu.”“Mungkin mereka butuh seseorang yang bisa mencuci mobil tiap hari.”Dan semua or
Pagi itu udara di rumah Wiratama terasa berbeda —seperti ada dinding tak kasat mata yang memisahkan para penghuni, antara yang “terlahir kaya” dan mereka yang “diizinkan bernapas di bawah kaki mereka.”Arga sudah bangun sejak pukul lima. Ia menyapu halaman, mencuci mobil, lalu membantu pelayan dapur menyiapkan sarapan.Tangannya mulai kasar karena air sabun dan pekerjaan berat —setiap harinya, tapi ia tetap melakukannya tanpa suara.Ketika jam menunjukkan pukul tujuh, Aluna turun dari tangga dengan rambut digerai rapi, mengenakan dress mahal warna biru muda.Di meja makan, Tuan dan Ny. Wiratama sudah duduk, menatap layar ponsel masing-masing.“Arga, tuangkan jus untuk tuan!” perintah Ny. Wiratama datar.“Baik, Bu.”Arga mengambil botol kristal dan mengisinya perlahan.Tuan Wiratama mendengus pelan. “Kau ini lamban sekali. Kalau pelayan biasa, sudah kukeluarkan sejak kemarin.”Arga menunduk. “Maaf, Pak.”Aluna menatap adegan itu sambil mengaduk sarapannya. Ia tidak berkata apa pun, tap
Hari Minggu sore, rumah besar keluarga Wiratama dipenuhi tamu.Ada pesta kecil untuk merayakan “pernikahan bahagia” Aluna dan Arga —setidaknya begitu yang tertulis di undangan.Tapi, di balik senyum palsu dan tawa yang terdengar di aula utama, semua orang tahu satu hal, ini bukan pesta cinta, tapi pesta penutup aib.Aluna turun dari tangga besar dengan gaun pastel dan perhiasan berlian di lehernya. Semua mata menatapnya —anggun, sempurna, dan berwibawa.Sementara Arga berdiri di pojok ruangan, memakai kemeja putih sederhana yang bahkan bukan dari butik langganan keluarga Wiratama.Wajahnya tenang, tapi sorot matanya menunjukkan ia tahu tempatnya, bukan sebagai suami, tapi sebagai hiasan tak diinginkan dalam kisah keluarga kaya.“Arga, bantu pelayan angkat makanan ke meja tamu,” suara dingin Ny. Wiratama memotong kesunyian.Beberapa tamu —yang merupakan para sahabat Aluna, menoleh heran, tapi sang nyonya pura-pura tidak peduli.Tanpa membantah, Arga menunduk sopan.“Baik, Bu.”Ia menga
Hari pertama setelah pernikahan itu seperti pagi tanpa matahari.Rumah besar keluarga Wiratama tampak indah di luar, tapi di dalamnya, hawa dingin terasa menusuk —bukan karena pendingin udara, tapi karena tatapan dingin sang nyonya muda rumah itu kepada suaminya sendiri.Aluna berdiri di depan cermin, masih dengan wajah tanpa ekspresi.Gaun tidur putihnya jatuh lembut di bahu, tapi tak ada kelembutan di dalam dirinya. Ia melihat bayangan Arga di kaca —lelaki itu baru saja keluar dari kamar mandi, mengenakan kaus polos dan celana panjang hitam.“Kau bahkan tidak tahu cara berpakaian yang pantas,” ucap Aluna tanpa menoleh.Arga berhenti sejenak, lalu hanya menjawab pelan, “Maaf.”“Dan jangan panggil aku dengan nada seolah kita ini pasangan sungguhan. Kau tahu aturan yang Ibu buat, kan?”“Aku tahu.”Aluna berbalik, menatapnya tajam. “Bagus. Jadi kau tahu tempatmu.”Tatapannya menelusuri Arga dari kepala sampai kaki, seolah menilai barang murah yang tak layak berada di ruangan seindah itu
Hujan turun sejak pagi, seperti tahu bahwa hari itu bukan hari bahagia.Pernikahan sederhana keluarga Wiratama digelar di taman belakang rumah besar mereka —tenda putih berdiri megah, tapi udara terasa dingin dan berat.Arga berdiri di depan altar kecil, mengenakan jas hitam yang tak sepenuhnya pas di tubuhnya. Tangannya dingin, bukan karena cuaca, tapi karena perasaan yang tak bisa dijelaskan, antara campuran gugup, takut, dan getir.Ia menatap kursi para tamu —hanya beberapa wajah keluarga dekat dan rekan bisnis Tuan Wiratama. Semuanya menatapnya seperti ia bukan pengantin, melainkan pelayan yang tersesat di pelaminan.Musik lembut mengalun. Aluna muncul dari pintu kaca, mengenakan gaun putih panjang dengan kain veil tipis menutupi wajahnya.Wajahnya cantik, tapi sorot matanya dingin seperti es. Langkahnya anggun, tapi setiap langkah seolah menegaskan satu hal, aku tidak menginginkan ini.Ketika Aluna berhenti di depan Arga, penghulu memulai pernikahan.Arga menatap Aluna sejenak. I
Matahari belum tinggi ketika suara bising sendok dari dapur keluarga Wiratama memecah kesunyian.Di ruang makan yang luas, Aluna duduk sendirian di ujung meja panjang, menatap secangkir teh yang sudah dingin. Sejak pagi, rumah itu sibuk. Pelayan mondar-mandir menyiapkan pesta kecil yang katanya hanya untuk keluarga dekat.Namun bagi Aluna, setiap langkah kaki yang terdengar di rumah itu adalah penanda waktu menuju kehancuran.Gaun pengantinnya tergantung di kamar atas —putih, sederhana, tapi mewah. Semua tampak sempurna di luar, tapi di baliknya tersembunyi luka yang belum kering.Tak lama pintu ruang makan terbuka, lalu Ny. Wiratama masuk dengan langkah cepat, ditemani seorang desainer.“Aluna, fitting terakhir jam sepuluh. Pastikan tidak ada drama hari ini,” katanya tanpa menatap putrinya.“Bu, aku belum siap,” ucap Aluna pelan, hampir seperti bisikan.Ny. Wiratama berhenti sejenak, lalu menatap tajam. “Kau pikir siap atau tidak siap itu penting sekarang? Semuanya sudah berjalan ter







