Share

Bab 2

Author: Ummu Amay
last update publish date: 2025-11-19 22:07:26

Langit pagi tampak kelabu, seperti menyesuaikan dengan isi hati dua orang yang akan dipertemukan bukan karena cinta, tapi karena kebohongan.

Di ruang tamu rumah megah keluarga Wiratama, Aluna duduk diam di kursi rotan dekat jendela besar. Matanya menatap jauh ke luar, tapi pikirannya melayang entah ke mana.

Perutnya sudah mulai membesar, dan setiap kali ia menatapnya, dada terasa sesak — bukan karena malu, tapi karena takut.

“Aluna.”

Suara tegas ibunya memecah keheningan. Ny. Wiratama berdiri di belakangnya, bersedekap, wajahnya datar namun dingin seperti patung.

“Sudah kupikirkan semuanya. Upacara kecil. Tak ada media. Tak ada tamu penting. Cukup keluarga inti dan pihak dari catatan sipil.”

Aluna tak menjawab.

“Dan ingat, setelah semua ini, kau akan hidup seperti istri baik-baik. Jangan bikin skandal baru.”

Nada ibunya tajam, tapi Aluna hanya menunduk. Air mata menetes tanpa suara.

“Aku tidak mencintai dia, Bu…”

Ny. Wiratama mendengus pendek. “Kau pikir cinta bisa membayar rasa malu? Kalau rahasia ini bocor, habis nama keluarga kita!”

“Rendra berjanji akan datang kembali—”

“Rendra?” Nada suara sang ibu meninggi. “Anak pengecut itu sudah menghilang! Dan sekarang kau masih berharap padanya?”

Aluna menahan tangis. “Dia ayah dari anak ini.”

“Diam!” bentak ibunya. “Mulai hari ini, bayi itu adalah anak dari suamimu —Arga. Dan kalau kau berani membuka mulut, jangan harap bisa keluar dari rumah ini hidup-hidup!”

Ny. Wiratama berbalik meninggalkan ruangan. Pintu ditutup dengan keras, menyisakan Aluna yang kini menangis dalam diam.

Dalam hatinya, ia tahu tak ada lagi jalan kembali.

**

Di tempat lain, Arga masih duduk di samping tempat tidur ayahnya. Wajah Pak Darsa terlihat pucat, tapi senyum lembut masih tersisa di bibirnya.

“Jadi, mereka nyuruh kamu nikah dengan putri tunggal mereka?” suara Pak Darsa pelan, serak.

Arga mengangguk, pandangannya kosong.

“Dan kamu mau?”

“Aku gak tahu, Pak. Tapi kalau itu bisa menyelamatkan Bapak, Arga mau.”

Pak Darsa menatapnya dalam, penuh perasaan yang tak terucap.

“Anakku, hidup itu bukan cuma tentang berhutang dan membayar. Kadang ada harga yang terlalu mahal untuk dibayar dengan diri sendiri.”

Arga terdiam.

“Tapi, kalau kamu yakin bisa jalani, Bapak akan restui kamu. Hanya satu pesan Bapak — jangan pernah jadi budak, bahkan kalau kamu hidup di rumah raja sekalipun.”

Arga menatap ayahnya, dan untuk pertama kalinya sejak lama, air mata jatuh dari matanya.

“Iya, Pak. Arga janji.”

Tak lama setelah itu, Arga harus merasakan kesedihan yang amat mendalam. Ayahnya pergi untuk selamanya setelah semua hutang yang dimiliki selama ini, akhirnya lunas.

Kini Arga benar-benar sendiri. Menjadi yatim piatu di usianya yang sudah bukan anak-anak lagi, dan itu sangat menyesakkan.

Dan di usia yang seharusnya matang itu, ia justru harus menjadi menantu dari pria kaya raya yang bahkan tidak tulus ingin menjadikannya menantu.

**

Beberapa hari kemudian, di ruang tamu keluarga Wiratama, suasana tegang kembali terasa.

Arga datang mengenakan kemeja sederhana. Ia berdiri tegak di depan Tuan Wiratama, sementara Aluna duduk di kursi, memalingkan wajah ke arah lain.

Tuan Wiratama berbicara dengan nada resmi.

“Semua sudah diatur. Kau akan menikah minggu depan. Tapi setelah itu, kau akan tinggal di rumah ini. Anggap saja balasan untuk kebaikan kami.”

Arga hanya menunduk. “Saya mengerti, Pak.”

“Dan ingat, jangan pernah mencoba mendekati Aluna kecuali dia yang mengizinkan. Kalian akan terlihat seperti pasangan di depan umum, tapi di dalam rumah ini, kau tetap tahu posisimu.”

Kalimat itu menampar harga diri Arga, tapi ia menahan diri.

Ia menatap sekilas ke arah Aluna —gadis itu masih menunduk, matanya sembab, wajahnya dingin.

Bukan kebencian yang ia lihat, tapi semacam keputusasaan yang nyaris mematikan.

Setelah pertemuan itu, Arga keluar dari rumah besar itu dengan langkah berat. Hujan kembali turun, membasahi tubuhnya.

Di bawah langit kelabu, ia bergumam, “Pernikahan tanpa cinta, tapi semoga bisa menyelamatkan sesuatu.”

Sementara di balik jendela, Aluna menatap sosok lelaki sederhana itu yang berjalan menjauh.

Dalam hati kecilnya, ia bertanya, apa yang telah kulakukan pada hidup orang itu?

Namun, jawabannya masih jauh.

Karena di sinilah, dua hati yang sama-sama terluka baru saja diikat oleh janji suci yang tak pernah mereka minta.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 79

    Ruangan itu langsung terasa lebih sempit. Tn. Wiratama berdiri di ambang pintu dengan ponsel di tangannya. Wajahnya dingin —namun jelas menahan emosi. Tatapannya langsung tertuju pada Aluna.“Apa yang sudah kau lakukan, Aluna?”Suara itu rendah. Namun tekanannya terasa jelas.“Apa yang kau katakan kepada wartawan sehingga berita ini muncul?”Sunyi.Bara langsung mundur setengah langkah. Memberi ruang pada majikannya. Sedangkan Arga berdiri tanpa bergerak sedikit pun.Aluna menatap ayahnya lurus.“Aku tidak mengatakan apa pun selain yang memang perlu dikatakan.”“Perlu?” ulang Tn. Wiratama tajam.Ia mengangkat layar ponselnya.“Sekarang seluruh media mulai menghubungkan kehamilanmu dengan Rendra!” Nada suaranya meninggi untuk pertama kalinya hari itu. “Dan kau bilang itu perlu?”Aluna tidak mundur.“Mereka akan menulis itu. Cepat atau lambat semua orang akan tahu.”Jawaban itu membuat Tn. Wiratama menatapnya semakin tajam.“Jadi kau mempermudah mereka?”“Aku tidak...” Nada suara Aluna

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 78

    Aluna tidak langsung menjawab.Ponselnya masih berada di tangannya. Layar itu belum mati. Nama itu masih terpampang jelas di sana.Rendra.Beberapa detik berlalu. Lalu ia menekan tombol layar hingga gelap. Menaruhnya pelan di sampingnya.“Bukan sesuatu yang baru,” katanya akhirnya.Nada suaranya tenang. Terlalu tenang.Arga tidak langsung percaya. Ia tetap berdiri di tempatnya. Nampan di tangannya ia letakkan di meja kecil dekat sofa.“Apa dia menghubungimu?” tanyanya.Aluna tidak menghindar kali ini. “Iya.”Hening di antara mereka. “Dia bilang akan melihat sampai kapan aku bertahan.” Aluna menjawab kemudian. Arga mengangguk kecil. Tidak terlihat terkejut.“Seperti yang kuduga.”Aluna menoleh, lalu menatapnya.“Kau sudah tahu dia akan melakukan ini?”“Ya.” Jawaban itu sederhana.“Orang seperti dia tidak akan berhenti hanya karena satu penolakan.”Sunyi.Aluna bersandar sedikit ke belakang. Tangannya terlipat di pangkuan. Matanya tidak lagi lelah seperti siang tadi. Tapi ada sesuatu

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 77

    Sore datang tanpa banyak suara. Langit di luar jendela mulai berubah warna, dari terang yang tegas menjadi jingga yang perlahan meredup. Di dalam kamar, Aluna masih berada di posisi yang sama. Tidak banyak bergerak. Namun pikirannya … tidak berhenti.Konferensi pers itu belum lama selesai. Tapi dampaknya terasa seperti sudah berlangsung berhari-hari.Ketukan pelan terdengar di pintu. Aluna tidak langsung menjawab.Ketukan itu terdengar lagi. Lebih pelan. Seolah memberi pilihan —dibuka, atau dibiarkan.“…Masuk.”Pintu terbuka perlahan.Arga.Ia tidak langsung masuk sepenuhnya. Hanya berdiri di ambang pintu. Seperti biasa. Menjaga jarak yang tidak pernah benar-benar ia lewati.“Ada yang ingin bicara denganmu,” katanya pelan.Aluna mengangkat wajahnya sedikit. “Siapa?”“Bukan dari dalam rumah.”Jawaban itu membuat Aluna mengerutkan kening.Arga melanjutkan, “Salah satu wartawan.”Sunyi.Aluna menegakkan tubuhnya perlahan. “Sudah mulai, ya.”Bukan pertanyaan.Arga mengangguk kecil.“Dia t

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 76

    Sunyi.Kalimat itu jatuh pelan, namun dampaknya terasa jelas di seluruh ruangan.Ny. Wiratama langsung menatap Arga lebih tajam. “Apa maksudmu?”Arga tidak mengalihkan pandangan.“Jika mereka ingin menghancurkan posisi kita…” suaranya tetap tenang, “cara tercepat adalah melalui Nona Aluna.”Tn. Wiratama tidak bergerak. Namun sorot matanya berubah sedikit lebih dalam.“Lanjutkan.”Arga mengangguk kecil.“Konferensi pers tadi memperjelas status. Itu memperkuat posisi kita secara publik.” Ia berhenti sejenak. “Tapi juga membuka perhatian.”Hening.“Dan perhatian itu… bisa diarahkan.”Ny. Wiratama mengerutkan kening. “Diarahkan ke mana?”Arga menjawab tanpa ragu.“Ke masa lalu beliau.”Sunyi kembali turun.Bara bersandar sedikit lebih tegak dari posisinya tadi. Kini ia benar-benar memperhatikan.“Apa yang mereka tahu?” tanya Tn. Wiratama.Pertanyaan itu langsung. Tanpa basa-basi.Arga terdiam beberapa detik.“Belum tentu banyak...”“Tapi?”“Tapi, cukup untuk memancing.”Ny. Wiratama menge

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 75

    Koridor rumah itu terasa lebih sunyi dibandingkan biasanya.Langkah Arga terdengar jelas di lantai marmer. Setiap langkahnya terukur. Tidak terburu-buru. Namun juga tidak ragu.Beberapa pelayan yang berpapasan hanya menundukkan kepala sebentar sebelum menyingkir memberi jalan.Kabar tentang konferensi pers tadi pagi jelas sudah menyebar ke seluruh rumah. Dan sekarang—semua orang tahu satu hal.Arga bukan lagi sekadar pembantu yang selama ini terlihat. Ia adalah suami Nona Aluna.Namun gelar itu juga berarti sesuatu yang lain.Target.Arga berhenti di depan pintu ruang kerja Tn. Wiratama. Ia mengetuk sekali.“Masuk.”Suara di dalam tetap seperti biasanya. Tenang. Terkontrol.Arga membuka pintu dan masuk.Ruangan itu masih sama seperti yang ia kenal selama tinggal di rumah itu sejak beberapa bulan lalu. Rak buku besar. Meja kerja kayu gelap. Tirai tebal yang menahan cahaya siang agar tidak terlalu masuk.Namun suasana di dalam terasa berbeda. Tn. Wiratama duduk di kursinya. Di sisi lain

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 74

    Arga tidak langsung menjawab. Ia berdiri di samping ranjang, masih memegang gelas jus yang tadi ia bawa. Cahaya siang yang masuk dari jendela membuat ruangan itu terasa terlalu terang untuk suasana seperti ini.“Aku lelah, Arga.”Suara Aluna pelan. Tidak bergetar, namun cukup untuk menunjukkan bahwa semua yang terjadi pagi tadi benar-benar mengurasnya.Perlahan, Arga meletakkan gelas itu di meja kecil di samping ranjang. Ia tidak duduk. Tidak juga menyentuhnya.Batas itu masih ada —dan Arga tidak pernah berniat melanggarnya.“Aku tahu.” Jawabannya sederhana.Aluna menurunkan tangannya dari wajah. Matanya memang sedikit merah. Namun ia tidak terlihat seperti orang yang baru saja menangis. Lebih seperti seseorang yang terlalu lama menahan sesuatu.“Dia sengaja datang,” gumamnya pelan.Arga tidak perlu bertanya siapa.“Ya.”Aluna memejamkan mata lagi sejenak.“Aku sudah menduganya sejak semalam.”Hening.“Rendra tidak pernah suka kalah.”Arga menyandarkan punggungnya sedikit pada lemari

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 6

    Hari Minggu sore, rumah besar keluarga Wiratama dipenuhi tamu.Ada pesta kecil untuk merayakan “pernikahan bahagia” Aluna dan Arga —setidaknya begitu yang tertulis di undangan.Tapi, di balik senyum palsu dan tawa yang terdengar di aula utama, semua orang tahu satu hal, ini bukan pesta cinta, tapi

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 5

    Hari pertama setelah pernikahan itu seperti pagi tanpa matahari.Rumah besar keluarga Wiratama tampak indah di luar, tapi di dalamnya, hawa dingin terasa menusuk —bukan karena pendingin udara, tapi karena tatapan dingin sang nyonya muda rumah itu kepada suaminya sendiri.Aluna berdiri di depan cerm

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 4

    Hujan turun sejak pagi, seperti tahu bahwa hari itu bukan hari bahagia.Pernikahan sederhana keluarga Wiratama digelar di taman belakang rumah besar mereka —tenda putih berdiri megah, tapi udara terasa dingin dan berat.Arga berdiri di depan altar kecil, mengenakan jas hitam yang tak sepenuhnya pas

  • Menantu yang Tak Diharapkan   Bab 3

    Matahari belum tinggi ketika suara bising sendok dari dapur keluarga Wiratama memecah kesunyian.Di ruang makan yang luas, Aluna duduk sendirian di ujung meja panjang, menatap secangkir teh yang sudah dingin. Sejak pagi, rumah itu sibuk. Pelayan mondar-mandir menyiapkan pesta kecil yang katanya han

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status