Share

MJM 103

Penulis: Lis Susanawati
last update Tanggal publikasi: 2026-07-02 10:10:39

MARIA

- 42 Berangkat ke Jepang

"Jadi kamu setuju untuk rujuk dengan Mas Rangga?" tanya Bu Syarifah pada Maria saat duduk di kantor panti sore itu.

"Saya belum terang-terangan bilang iya, Bu. Tapi saya bilang akan menunggu sampai masa iddah mantan istrinya habis. Kurang tiga minggu lagi."

Bu Syarifah tersenyum lembut. "Alhamdulillah. A'im pasti sangat bahagia, Aisyah. Orang tuanya bisa kembali bersama lagi." Wanita sepuh itu menjeda kalimatnya, menatap lekat sepasang mata Maria yang jernih di
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (13)
goodnovel comment avatar
Helmy Rafisqy Pambudi
masih gamang ya Maria...
goodnovel comment avatar
Lis Susanawati
iya ............
goodnovel comment avatar
Lis Susanawati
mari kita tunggu keputusan Maria
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Mencari Jejak Maria   MJM 111

    "Dia orang pertama yang menolong dan menguatkan saya saat berada di titik paling terpuruk dan hancur saat saya baru tiba di Malang. Saya merasa sedih, Bu. Karena di antara orang-orang baik yang selama ini ada di sekitar saya, hanya Mas Zein yang sampai hari ini belum tahu kalau saya sudah memutuskan untuk rujuk dan kembali bersama Mas Rangga.""Kamu bisa mengirim pesan, Aisyah."Maria menggeleng. Mereka hampir tidak pernah berkomunikasi lewat telepon. Hanya waktu itu saja Zein mengirimkan pesan. Setelah itu tidak ada lagi. Maria tidak benar-benar tahu siapa Zein ini, jadi khawatir nanti kalau mengganggunya. 🖤LS🖤"Bunda, cepat mandikan A'im. A'im mau tunggu Papa di depan!" seru anak berumur tiga tahun itu dengan ketidaksabaran yang menggemaskan. Dia baru selesai disuapi sarapan oleh Maria. Kemarin malam mereka sudah sampai di Kediri. Dijemput oleh orang kepercayaannya Pak Ali. Maria pun kenal dengan lelaki yang sering mengantar bepergian orang tua angkatnya itu.Setelah didandani de

  • Mencari Jejak Maria   MJM 110

    Apalagi sekarang karier Rangga melesat bagai meteor. Bisa jadi sepulang dari Jepang nanti, posisi Rangga dipastikan akan naik kelas menjadi General Manager.Dalam kondisi kalut dan tidak tahu harus berbuat apa lagi, Tamara akhirnya meraih ponselnya lalu menghubungi sang mama."Aku nggak bisa menghubungi Rangga, Ma. Sekretarisnya tadi sore begitu judes saat kutanya. Dia malah memperingatkanku supaya jangan mengganggu Rangga," keluh Tamara dengan kesal.Di seberang telepon Bu Arsi terdengar menghela napas panjang, sebelum akhirnya berbicara dengan nada mendesak. "Tam, dengarkan Mama. Makanya sejak kemarin Mama bilang apa? Ikuti saja saran Mama. Kamu datangi rumah orang tuanya Rangga, lalu pura-pura hamil anak Rangga. Cuma itu satu-satunya cara instan buat mengikat dia lagi sebelum masa iddahmu habis.""Nggak mungkin, Ma," bantah Tamara."Kenapa nggak mungkin? Tinggal pakai hasil tes palsu, beres," seru Bu Arsi gemas."Mama nggak tahu bagaimana Rangga," teriak Tamara frustrasi. "Dia itu

  • Mencari Jejak Maria   MJM 109

    MARIA- 44 Sah"Mas, kalau memang nggak memungkinkan dan terlalu ribet, sebaiknya aku dan A'im nggak usah ikut ke Jepang saja. Toh, dua bulan lagi Mas juga sudah selesai training-nya," kata Maria dengan nada tenang saat menerima telepon dari Rangga malam itu. Setelah Rangga menceritakan beberapa kendala ketika hendak membawanya dan Ibrahim ke Jepang.Rangga sengaja menghubungi Maria kembali setelah putra kecil mereka sudah tidur. Supaya bisa ngobrol dengan lebih leluasa."Kamu jangan khawatir soal itu, Maria. Kebetulan aku punya kenalan orang Indonesia yang sudah lama tinggal di sini. Dia akan membantu mencarikan sewa apartemen harian yang nyaman untuk kamu dan A'im selama di Jepang nanti. Yang dekat dengan apartemen tempatku tinggal sekarang ini."Maria menghela napas. "Tapi sayang sekali dengan uangnya. Sudah berapa banyak biaya yang harus Mas keluarkan hanya untuk membawa kami ke Jepang selama beberapa hari. Mulai dari tiket pesawat, sewa tempat tinggal, biaya hidup di sana hingga

  • Mencari Jejak Maria   MJM 108

    Tiga belas tahun menikah, Pak Pradipta belum dikaruniai momongan. Makanya dia juga sayang pada Ibrahim. Kalau anak itu sakit, ia memberi kebebasan pada Maria untuk tidak masuk kerja atau bekerja dari panti. Istrinya ada sedikit masalah dengan indung telurnya. Untuk itu susah untuk mengandung. Pernah mencoba bayi tabung, tapi justru hampir merenggut nyawa istrinya. Itu bukan alasan bagi Pak Pradipta untuk meninggalkannya. Meski ingin sekali punya anak kandung. Sebab sekarang ia merawat anak dari adik iparnya yang sudah berusia enam tahun. "Baiklah, Aisyah," ucap Pak Pradipta akhirnya sambil mengangguk-angguk pasrah. "Saya akan selalu mendukung apa pun keputusan terbaikmu. Tapi saya harap kamu benar-benar mempertimbangkan matang-matang sebelum resmi rujuk nanti. Jangan sampai kamu sakit hati lagi."Andai saja saya punya saudara laki-laki yang masih single, saya ingin menjodohkanmu dengannya."Maria tersenyum dibalik cadarnya. Pak Pradipta juga memandangnya sambil tersenyum. Lelaki itu

  • Mencari Jejak Maria   MJM 107

    "Duh, A'im Papa kangen sekali," gumamnya.Bayangan Ibrahim seketika menjelma di pelupuk mata. Rangga tersenyum mengingat momen manis saat anak itu memeluk lehernya erat-erat di bandara, juga kenangan lucu saat pertama kali Ibrahim mendekatinya di panti dengan memakai sandal yang terbalik. Kerinduan itu begitu menyiksa menjadi satu dengan rasa cemas yang tak berkesudahan tentang Maria. Ia teramat takut jika benteng pertahanan Maria goyah dan wanita itu akhirnya memilih menerima lelaki lain selama dirinya berada di seberang lautan.Rangga mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat tinggal sementara yang disediakan oleh perusahaan. Kamar bertipe 1K dengan luas 25m² itu terasa sangat sunyi. Karena ia seorang manajer, perusahaan Jepang tempatnya bernaung memang sangat memuliakan fasilitas dan privasinya. Apartemen ini sudah dilengkapi dapur mini, kamar mandi prefab, kulkas, kasur, mesin cuci, microwave, hingga rice cooker. Semua biaya sewa ditanggung penuh oleh kantor.Bahkan Rangga memil

  • Mencari Jejak Maria   MJM 106

    MARIA- 43 Indonesia-Jepang Ibrahim duduk bersila di atas kasur, menatap lekat layar ponsel yang terpasang di tripod depannya. Wajah Rangga terpampang jelas di sana melalui panggilan video. Ibrahim terlihat bahagia sekali, senyumnya melebar hingga matanya menyipit."Papa, kapan pulang?" tanya Ibrahim dengan nada yang menggemaskan.Rangga yang berada di seberang sana terkekeh pelan, meski gurat rindu di matanya tidak bisa disembunyikan. Baru seminggu pergi, tiap hari kalau di telepon, Ibrahim bertanya kapan ia pulang. "Masih agak lama, A'im. Tapi dengar Papa, ya. Nanti begitu Papa pulang ke Indonesia, Papa akan langsung mengajak A'im dan Bunda pergi ke Jepang. Naik pesawat. Kita liburan ke sini. A'im, mau kan?""Mau mau," jawab Ibrahim antusias sambil menggut-manggut. Bocah itu langsung menoleh ke arah Maria yang duduk di sampingnya sambil merapihkan cadar. Kemudian baru menampakkan diri di layar ponsel. "Bunda, nanti kita ikut Papa, ya?"Melihat sang bunda hanya diam dan menatapnya l

  • Mencari Jejak Maria   MJM 33

    Aisyah melangkah pelan, berdiri di samping Bu Halimah dengan sikap yang sangat tenang dan profesional. Meski di dalam dada bergemuruh hebat."Mbak Aisyah, kenalan sebentar. Beliau ini Pak Rangga, salah satu donatur dari grupnya Pak Ahmad. Bulan kemarin beliau sudah ke mari, tapi Mbak Aisyah lagi di

  • Mencari Jejak Maria   MJM 25

    "Setahuku di sana nggak ada nama Maria, adanya Aisyah. Dia salah satu staf di Pradipta. Aisyah itu seorang aktivis perempuan juga. Pernah mendampingi seorang remaja korban pelecehan seksual setahun yang lalu. Dia juga pernah mendampingi seorang wanita yang ingin bercerai karena kasus KDRT." Halim m

  • Mencari Jejak Maria   MJM 40

    Hening. Rangga mendengar isakan lirih di seberang. Walaupun tak pernah mengabari, ibu dan bapaknya tak pernah sakit hati atau membenci Maria. Mereka selalu bilang kalau terus mendoakan Maria."Dia nggak akan pulang karena menganggap Tamara pasti akan tetap menjadi menantu di rumah ini. Sekuat-kuat

  • Mencari Jejak Maria   MJM 37

    "Mbak Aisyah, Pak Rudi mungkin bisa meyakinkan keluarganya," hibur Bu Halimah.Aisyah yang saat itu tak bercadar, tersenyum samar. Sejenak ruangan itu mendadak hening. Bu Halimah memang mengenal Rudi sudah lama. Sebagai donatur yang dermawan dan pria yang baik, tapi ia memang tidak tahu bagaimana d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status