Share

MJM 5

last update publish date: 2026-05-28 09:07:34

MARIA

- 5 Pukulan Telak

"Akhirnya Nak Rangga memiliki keturunan," ujar Bu Arsi dengan bangganya.

Maria tidak menjawab. Ia hanya duduk di kursi seberang, menyatukan kedua jemarinya di pangkuan. Ia memilih untuk menjadi pendengar yang pasif, dengan dada yang bergemuruh hebat.

"Begini, Nak Maria," lanjut Bu Arsi dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, tapi setiap kata-katanya terasa seperti belati yang ditancapkan perlahan di dada Maria. "Tamara sekarang sedang hamil dua bulan. Sebagai ibunya, saya nggak bisa membiarkan putri saya terus-menerus berada dalam status pernikahan siri yang nggak menentu. Anaknya nanti butuh kepastian hukum, butuh akta kelahiran dengan nama ayahnya yang sah di mata negara."

Maria masih membisu. Matanya menatap jauh ke tanaman bunga, tapi telinganya mendengarkan setiap kalimat yang merobek-robek harga dirinya sebagai istri pertama.

"Saya tahu ini sulit bagimu, tapi kamu harus mengerti. Saya ke sini mewakili Tamara untuk meminta secara baik-baik, tolonglah berikan restu agar pernikahan mereka bisa diresmikan secara negara. Mereka pacarannya lama loh. Kehadiran anak ini bukti kebersamaan mereka. Nak Rangga sangat bahagia, karena sebentar lagi akan menjadi ayah."

Mendengar hal itu dada Maria terasa panas. Namun tetap diam dan berusaha untuk tenang.

Bu Arsi kaget dengan ketenangan Maria. Itu di luar dugaannya. Ternyata Maria tidak menangis, pun tidak memaki. Ia hanya duduk diam.

"Saya harap kamu bisa mengerti, Nak Maria. Lagipula kamu juga belum hamil, kan? Tamara dibela-belain resign demi menjaga kandungannya. Padahal karirnya sangat bagus."

Perkataan itu semakin mengguris hati Maria. Namun ia tetap tak terpancing meladeni ucapan itu. Lalu ia memandang Bu Arsi. "Sudah selesai bicaranya, Bu?" tanya Maria datar.

Bu Arsi mengernyit, tampak bingung dengan reaksi Maria yang di luar dugaannya. Kenapa Maria begitu tenang.

"Kalau sudah selesai, silakan Anda pulang. Saya masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan," ucap Maria sembari berdiri. Tidak ada kemarahan dalam suaranya, hanya sebuah ketegasan yang mutlak. Bahwa wanita pengganggu itu harus segera angkat kaki dari rumahnya.

Wajah Bu Arsi memerah seketika. Ia terlihat geram karena merasa diusir. Harga dirinya diinjak-injak oleh ketenangan Maria. Ia bangkit dari kursi dengan gerakan kasar, menatap Maria sambil menahan amarah. "Kamu nggak mau menanggapi perkataan saya tadi."

Maria tersenyum. "Silakan dibahas dengan Mas Rangga saja, Bu. Jangan dengan saya. Dia yang berhak menceraikan saya. Saya nggak akan mengemis untuk dipertahankan."

Akhirnya Bu Arsi pergi tanpa pamit, sambil menahan kekesalan. Sedangkan Maria masuk ke rumah dan menutup pintu.

Begitu suara mesin mobil itu menghilang, pertahanan Maria runtuh. Ia lunglai dan terduduk di atas sofa.

Tangisnya pecah seketika. Isak yang sedari tadi ia tahan di depan Bu Arsi kini meledak. Maria menutup wajahnya dengan kedua tangan, merasakan air mata membasahi jemarinya.

"Ya Allah, kuatkan aku. Aku nggak akan meminta penjelasan kenapa aku mendapatkan takdir seperti ini. Aku nggak akan menyesal diuji begini. Hanya satu yang kupinta, kuatkan iman dan islamku." Selesai bicara, Maria menghela napas panjang.

Maria menyadari bahwa izin menikah yang ia berikan itu justru memberi celah bagi orang lain untuk menginjak-injak kehormatannya. Bayangan wajah Pak Ali yang sedang sakit kembali muncul, membuat Maria untuk bertahan di drama yang melelahkan ini.

🖤LS🖤

"Maria, aku belikan ketoprak." Rangga yang baru pulang kerja meletakkan bungkusan makanan khas Betawi itu di atas meja.

"Makasih, Mas," jawabnya Maria tanpa memandang suaminya. Dia sibuk menyiapkan makan malam.

Rangga tertegun. Di bawah cahaya lampu ruang makan, ia bisa melihat mata Maria yang sembab dan hidungnya yang memerah. Wajah yang biasanya ceria dan penuh cerita setiap kali ia pulang kerja, kini tampak sayu.

"Mandilah dulu, Mas. Aku sudah siapkan baju ganti," kata Maria masih tanpa menatap suaminya.

"Ya," jawab Rangga singkat sebelum melangkah masuk ke kamar dengan perasaan yang mulai tidak karuan.

Sepuluh menit kemudian, Rangga keluar dengan pakaian santai. Ia duduk berhadapan dengan Maria di meja makan. Ketoprak sudah dipindahkan ke piring, tapi Maria menikmati masakannya sendiri. Keheningan itu terasa berbeda. Biasanya Maria akan bercerita tentang apa saja. Tapi malam ini Maria hanya menunduk sambil makan.

"Maria, ada apa?" Rangga tak bisa menahan rasa gelisahnya. Sebab selama ini Maria selalu baik-baik saja.

Maria meletakkan sendoknya di piring. Ia menarik napas panjang, lalu perlahan mengangkat wajahnya. "Tadi pagi mamanya Mbak Tamara datang ke sini, Mas."

Rangga terkejut.

"Dia memberitahuku kalau Mbak Tamara hamil dua bulan. Kenapa Mas nggak ngasih tahu aku?" Meski pedih, tapi suara Maria tetap stabil. Namun justru itu yang membuat Rangga khawatir. Dia belum bisa memberitahu Maria sekarang karena menjaga perasaan istrinya. Rangga tidak tahu harus bagaimana mengatakannya. Namun mama mertuanya telah bertindak nekat.

Maria mengusap sisa air mata dengan ujung jari. Ia menatap Rangga dengan tatapan yang sangat dalam, tatapan yang menyiratkan sebuah luka yang sudah tak bisa ia tahan.

"Aku yang akan mundur, Mas. Kamu bisa bersamanya sekarang. Terima kasih untuk tiga tahun yang begitu indah ini. Aku tidak menyesal menikah denganmu, meski harus berakhir begini," ucap Maria dengan suara bergetar

Dada Rangga terpukul hebat dan rasa sesal menggumpal di sana.

"Mas dan Mbak Tamara saling mencintai, sudah selayaknya aku yang pergi. Sudah cukup dua tahun saja aku jalani ini, Mas. Aku tahu, selama ini Mas bersamaku hanya sekadar memenuhi tanggung jawab. Dan tanggung jawab itu nanti akan hilang setelah kata talak terucap dan kita bercerai. Mas, akan bebas."

"Maria, kita bisa bicarakan ini baik-baik. Kita bisa ...."

BRAKK!!

Mereka terkejut bukan main saat pintu utama tiba-tiba dibuka paksa dan menghantam keras ke dinding, memutus kalimat Rangga.

Radit dengan langkah lebar, napas memburu, mata berkilat murka, menghampiri adik lelakinya dan langsung menghantam rahangnya. "BAJINGAN KAMU."

Satu pukulan keras mendarat telak di rahang Rangga, membuatnya tersungkur dari kursi hingga terjerembap di lantai ruang makan.

Maria menjerit karena kaget.

Dari pintu muncul Bu Hasna yang berwajah sembab sedang dibimbing oleh istrinya Radit. Wanita itu mematung di tengah ruangan. Menatap putra bungsunya yang tersungkur di lantai dengan tatapan yang sarat akan kekecewaan mendalam.

Next ....

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (28)
goodnovel comment avatar
putri amelia
sakitnya kaya apa ini mariaa
goodnovel comment avatar
Yanyan
aslii .sakitt banget ..ikut mewek
goodnovel comment avatar
Camrus Camelia
makasih banyak mb' is semoga tambah sukses kedepannya bil barokah ...🫶...️
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Mencari Jejak Maria   Season2 - 274

    Saat mobil memasuki pekarangan rumah Emir, suasana tampak lengang. Hanya Mak Tam yang di rumah."Bapak sedang di kantor sama Mbak Aurel, Mbak. Kalau Ibu ke toko roti karena lagi banjir pesanan katering, terus Mas El paling sebentar lagi pulang sekolah." Mak Tam memberitahu Zahra."Iya, Mak." Kemudian Zahra menoleh pada Zein. "Mas ke kamar saja dulu, istirahat. Aku mau ke belakang sebentar mengurus baju kotor.""Oke," jawab Zein singkat lantas menaiki tangga untuk ke lantai dua."Mbak Zahra, biar Mak saja yang ngurusin nanti. Tinggal saja disitu," seloroh Mak Tam saat melihat Zahra mengeluarkan baju-baju kotor dari koper."Nggak, Mak. Ini tanggung jawab Zahra. Biar Zahra kerjain sendiri," tolak Zahra sopan. Satu jam berlalu, langkah kaki tergesa terdengar dari arah pintu depan. Aurel pulang lebih dulu dan langsung menuju area cucian di dapur belakang. Melihat saudaranya sedang sibuk menjemur pakaian, raut jahil seketika terbit di wajah Aurel."Aduuhh, yang habis honeymoon mukanya cer

  • Mencari Jejak Maria   Season2 - 273

    Saat malam merayap, suhu dingin pegunungan Batu kian menggigit. Zein dan Zahra duduk berdua di balkon vila, berselimut kain tebal sambil menyesap teh hangat di bawah pendar remang lampu gantung. Zein mendekap istrinya. "Ada yang ingin Mas tanyakan dan ini perlu kita bicarakan.""Tentang apa, Mas?" sahut Zahra lembut."Apa kamu sudah siap kalau kita dikaruniai anak dalam waktu dekat?" tanya Zein penuh kehati-hatian, menyadarkan bahwa topik ini belum pernah mereka bahas sebelumnya.Zahra mengangguk tanpa keraguan, menyunggingkan senyum tulus. "Nggak apa-apa, Mas. Bunda juga sudah bilang, kalau bisa langsung dapat momongan saja.""Oh, ya?""Iya. Bunda menyarankan begitu."Naima memang berkata demikian pada putrinya. Mengingat usia Zein yang sudah berada di pertengahan tiga puluhan.Zein mengukir senyum lega. Alhamdulillah kalau Zahra berpikiran sama. Ia memang berharap segera punya anak. "Semoga tak lama lagi juga ada kebijakan baru dari kesatuan, supaya Mas bisa pindah ke staf kantor sa

  • Mencari Jejak Maria   Season2 - 272

    Zein- 18 Perpisahan Aroma nasi goreng dan seduhan kopi hitam menguar di dapur rumah Bu Hindun pagi itu. Zahra melangkah canggung dan diliputi rasa malu yang membuat pipinya terus merona. Sebagai pengantin baru di hari pertama berada di rumah mertua, rasa serba salah menyergapnya. Terlebih habis subuh tadi ibu mertua memergokinya sedang menjemur handuk dengan rambut yang masih basah.Namun saat Zahra berniat mengiris bawang membantu ART di sudut meja, Bu Hindun justru mengambil alih pisau dari tangannya sambil tersenyum lembut. "Sudah, Nduk, nggak usah repot-repot," ujar Bu Hindun hangat. "Kamu bersiap-siap saja. Tadi Zein sudah bilang sama Ibu kalau mau mengajakmu stay cation semalam.""Nggak apa-apa, Bu. Saya juga biasa membantu Bunda di rumah," jawab Zahra pelan."Nanti-nanti saja kalau mau bantuin di dapur. Sekarang mumpung suamimu belum kembali ke Jakarta, nikmati waktu kalian."Zahra jadi tersipu. Dalam hati sangat bersyukur memiliki mertua yang baik. Ia ingat bagaimana dulu Ne

  • Mencari Jejak Maria   Season2 - 271

    Seiring berjalannya waktu, rasa perih yang sempat menyengat itu perlahan terkikis, berganti dengan gelombang kehangatan yang menjalar nyaman ke seluruh rongga dadanya. Zahra membuka matanya, menatap sepasang mata Zein yang dipenuhi kasih sayang tanpa batas. Ternyata, ketakutan hebat yang selama ini membayangi pikirannya tak semenyakitkan yang dibayangkan ketika berada di dalam dekapan pria yang tepat.Dalam temaram lampu kamar yang menjadi saksi bisu, Zahra menyerahkan mahkota paling berharga dalam hidupnya dengan sukarela. Kamar yang menemaninya tumbuh sejak remaja itu kini mengabadikan kepasrahan utuh seorang istri kepada pria yang telah mengikat janji sucinya di hadapan Tuhan.🖤LS🖤"Ra, cara jalanmu dah nggak kayak kemarin. Hmm, sepertinya dah kena kamu semalam," bisik Aurel lirih saat pagi-pagi sekali mereka bertemu di dapur. Ucapan yang membuat Zahra merinding sekaligus malu. Dia tidak bereaksi atas godaan itu."Aurel, apaan sih kamu," tegur Aprilia. Sosok yang dipanggil tante

  • Mencari Jejak Maria   Season2 - 270

    Namun dari sekian banyak pertanyaan, Zein berpegang teguh pada sumpah jabatannya. Tidak ada cerita tentang misi demi misi yang sukses dijalaninya. Dia bercerita secara umum. Dan bagi Aurel itu terdengar sebagai tugas yang biasa. Namun Emir jauh lebih memahaminya. Dia tahu sebahaya apa misi yang diemban oleh menantunya. Bahkan mungkin, dirinya lebih tahu ketimbang Zahra."Hati-hati. Apapun tetap pentingkan keselamatanmu," ujar Emir."Iya, Pa."Ketika mertua dan menantu itu duduk ngobrol berdua di teras rumah. Emir mulai membahas hal yang bisa dibilang serius. "Apa kamu nggak bisa pindah tugas ke kantor?""Bisa, Pa. Malah itu siklus normal karier perwira AKP di Polri. Untuk intel seperti saya, lapangan dan kantor itu muter terus. Namanya Mutasi Jabatan Fungsional & Struktural. Biar kami paham dua sisi. Memahami operasi di lapangan juga paham birokrasi di kantor.""Syukurlah. Ada kesempatan kamu bakalan di kantor, kan?""Insya Allah, Pa."Seorang AKP harus punya pengalaman Staf/Kabag bia

  • Mencari Jejak Maria   Season2 - 269

    Zein- 17 Malam Pertama "Rel, tunggu dulu." Zahra menahan Aurel yang hendak meraih gagang pintu. "Bantuin aku ngelepas kancing di punggungku, dong. Susah banget dijangkau."Aurel berbalik menatap saudaranya dengan lirikan jenaka yang jahil. Ah, ternyata Aurel tak bisa menahan diri untuk tidak jahil. Padahal ia bilang seharian ini akan serius. "Ra, minta tolong sama suamimu saja. Aku mau langsung rebahan di kamar sebelah. Capek banget tubuhku seharian berdiri menyapa tamu." Tanpa menunggu jawaban, Aurel menjeling sejenak, lalu melangkah keluar dan menutup pintu.Zahra menghela napas pelan. Ia kembali duduk di depan meja rias, lalu menyisir rambut hitamnya yang terurai panjang melewati bahu.Namun dadanya kembali berdebar saat daun pintu kembali terkuak. Dari pantulan cermin, muncul sosok Zein dengan senyum hangat yang terukir di bibirnya. Padahal kemarin sore mereka sempat bertemu sejenak sewaktu latihan untuk acara pedang pora.Pria itu termangu di tempatnya berdiri, menatap wanita y

  • Mencari Jejak Maria   MJM 7

    MARIA- 7 Di Persimpangan "Di mana Mama, aku ingin bicara?" suara Rangga datar tapi menyimpan amarah. Dia baru saja masuk rumah mertuanya, di mana istrinya tinggal. Tamara yang menyambut suaminya dengan daster sutra tipis, tersenyum manja. Ia melingkarkan lengan di leher Rangga, lalu mendaratkan

  • Mencari Jejak Maria   MJM 3

    MARIA- 3 Apa itu poligami?"Bu, apa itu sebenarnya poligami?" Maria bertanya dengan suara lirih, karena di serambi depan ada beberapa orang bapak-bapak yang duduk ngobrol. Suami Bu Nafisah pun ada di sana.Bu Nafisah, sosok yang disegani di komplek perumahan itu tersentak kecil. Ia menatap Maria d

  • Mencari Jejak Maria   MJM 2

    MARIA- 2 Hanya Tanggung Jawab "Maria," panggil Rangga kian merunduk begitu dekat dengan wajahnya."Iya," jawab Maria yang tidak mungkin pura-pura tak mendengar. Selama ini Maria sangat peka dengan suaminya. Tidak ada panggilan yang lambat dijawabnya.Ia membalikkan tubuh setelah menarik napas pan

  • Mencari Jejak Maria   MJM 1

    MARIA- 1 Delapan Minggu "8 Minggu." Tangan Maria gemetar memegang hasil pemeriksaan atas nama Ny. Tamara yang ditemukan di dashboard mobil.Dada wanita yang mengenakan pasmina biru itu berdegup kencang. Matanya juga memanas. "Oh, jadi dia hamil," ujarnya lirih lantas melipat kembali kertas itu da

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status