Se connecterMARIA
- 5 Pukulan Telak "Akhirnya Nak Rangga memiliki keturunan," ujar Bu Arsi dengan bangganya. Maria tidak menjawab. Ia hanya duduk di kursi seberang, menyatukan kedua jemarinya di pangkuan. Ia memilih untuk menjadi pendengar yang pasif, dengan dada yang bergemuruh hebat. "Begini, Nak Maria," lanjut Bu Arsi dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, tapi setiap kata-katanya terasa seperti belati yang ditancapkan perlahan di dada Maria. "Tamara sekarang sedang hamil dua bulan. Sebagai ibunya, saya nggak bisa membiarkan putri saya terus-menerus berada dalam status pernikahan siri yang nggak menentu. Anaknya nanti butuh kepastian hukum, butuh akta kelahiran dengan nama ayahnya yang sah di mata negara." Maria masih membisu. Matanya menatap jauh ke tanaman bunga, tapi telinganya mendengarkan setiap kalimat yang merobek-robek harga dirinya sebagai istri pertama. "Saya tahu ini sulit bagimu, tapi kamu harus mengerti. Saya ke sini mewakili Tamara untuk meminta secara baik-baik, tolonglah berikan restu agar pernikahan mereka bisa diresmikan secara negara. Mereka pacarannya lama loh. Kehadiran anak ini bukti kebersamaan mereka. Nak Rangga sangat bahagia, karena sebentar lagi akan menjadi ayah." Mendengar hal itu dada Maria terasa panas. Namun tetap diam dan berusaha untuk tenang. Bu Arsi kaget dengan ketenangan Maria. Itu di luar dugaannya. Ternyata Maria tidak menangis, pun tidak memaki. Ia hanya duduk diam. "Saya harap kamu bisa mengerti, Nak Maria. Lagipula kamu juga belum hamil, kan? Tamara dibela-belain resign demi menjaga kandungannya. Padahal karirnya sangat bagus." Perkataan itu semakin mengguris hati Maria. Namun ia tetap tak terpancing meladeni ucapan itu. Lalu ia memandang Bu Arsi. "Sudah selesai bicaranya, Bu?" tanya Maria datar. Bu Arsi mengernyit, tampak bingung dengan reaksi Maria yang di luar dugaannya. Kenapa Maria begitu tenang. "Kalau sudah selesai, silakan Anda pulang. Saya masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan," ucap Maria sembari berdiri. Tidak ada kemarahan dalam suaranya, hanya sebuah ketegasan yang mutlak. Bahwa wanita pengganggu itu harus segera angkat kaki dari rumahnya. Wajah Bu Arsi memerah seketika. Ia terlihat geram karena merasa diusir. Harga dirinya diinjak-injak oleh ketenangan Maria. Ia bangkit dari kursi dengan gerakan kasar, menatap Maria sambil menahan amarah. "Kamu nggak mau menanggapi perkataan saya tadi." Maria tersenyum. "Silakan dibahas dengan Mas Rangga saja, Bu. Jangan dengan saya. Dia yang berhak menceraikan saya. Saya nggak akan mengemis untuk dipertahankan." Akhirnya Bu Arsi pergi tanpa pamit, sambil menahan kekesalan. Sedangkan Maria masuk ke rumah dan menutup pintu. Begitu suara mesin mobil itu menghilang, pertahanan Maria runtuh. Ia lunglai dan terduduk di atas sofa. Tangisnya pecah seketika. Isak yang sedari tadi ia tahan di depan Bu Arsi kini meledak. Maria menutup wajahnya dengan kedua tangan, merasakan air mata membasahi jemarinya. "Ya Allah, kuatkan aku. Aku nggak akan meminta penjelasan kenapa aku mendapatkan takdir seperti ini. Aku nggak akan menyesal diuji begini. Hanya satu yang kupinta, kuatkan iman dan islamku." Selesai bicara, Maria menghela napas panjang. Maria menyadari bahwa izin menikah yang ia berikan itu justru memberi celah bagi orang lain untuk menginjak-injak kehormatannya. Bayangan wajah Pak Ali yang sedang sakit kembali muncul, membuat Maria untuk bertahan di drama yang melelahkan ini. 🖤LS🖤 "Maria, aku belikan ketoprak." Rangga yang baru pulang kerja meletakkan bungkusan makanan khas Betawi itu di atas meja. "Makasih, Mas," jawabnya Maria tanpa memandang suaminya. Dia sibuk menyiapkan makan malam. Rangga tertegun. Di bawah cahaya lampu ruang makan, ia bisa melihat mata Maria yang sembab dan hidungnya yang memerah. Wajah yang biasanya ceria dan penuh cerita setiap kali ia pulang kerja, kini tampak sayu. "Mandilah dulu, Mas. Aku sudah siapkan baju ganti," kata Maria masih tanpa menatap suaminya. "Ya," jawab Rangga singkat sebelum melangkah masuk ke kamar dengan perasaan yang mulai tidak karuan. Sepuluh menit kemudian, Rangga keluar dengan pakaian santai. Ia duduk berhadapan dengan Maria di meja makan. Ketoprak sudah dipindahkan ke piring, tapi Maria menikmati masakannya sendiri. Keheningan itu terasa berbeda. Biasanya Maria akan bercerita tentang apa saja. Tapi malam ini Maria hanya menunduk sambil makan. "Maria, ada apa?" Rangga tak bisa menahan rasa gelisahnya. Sebab selama ini Maria selalu baik-baik saja. Maria meletakkan sendoknya di piring. Ia menarik napas panjang, lalu perlahan mengangkat wajahnya. "Tadi pagi mamanya Mbak Tamara datang ke sini, Mas." Rangga terkejut. "Dia memberitahuku kalau Mbak Tamara hamil dua bulan. Kenapa Mas nggak ngasih tahu aku?" Meski pedih, tapi suara Maria tetap stabil. Namun justru itu yang membuat Rangga khawatir. Dia belum bisa memberitahu Maria sekarang karena menjaga perasaan istrinya. Rangga tidak tahu harus bagaimana mengatakannya. Namun mama mertuanya telah bertindak nekat. Maria mengusap sisa air mata dengan ujung jari. Ia menatap Rangga dengan tatapan yang sangat dalam, tatapan yang menyiratkan sebuah luka yang sudah tak bisa ia tahan. "Aku yang akan mundur, Mas. Kamu bisa bersamanya sekarang. Terima kasih untuk tiga tahun yang begitu indah ini. Aku tidak menyesal menikah denganmu, meski harus berakhir begini," ucap Maria dengan suara bergetar Dada Rangga terpukul hebat dan rasa sesal menggumpal di sana. "Mas dan Mbak Tamara saling mencintai, sudah selayaknya aku yang pergi. Sudah cukup dua tahun saja aku jalani ini, Mas. Aku tahu, selama ini Mas bersamaku hanya sekadar memenuhi tanggung jawab. Dan tanggung jawab itu nanti akan hilang setelah kata talak terucap dan kita bercerai. Mas, akan bebas." "Maria, kita bisa bicarakan ini baik-baik. Kita bisa ...." BRAKK!! Mereka terkejut bukan main saat pintu utama tiba-tiba dibuka paksa dan menghantam keras ke dinding, memutus kalimat Rangga. Radit dengan langkah lebar, napas memburu, mata berkilat murka, menghampiri adik lelakinya dan langsung menghantam rahangnya. "BAJINGAN KAMU." Satu pukulan keras mendarat telak di rahang Rangga, membuatnya tersungkur dari kursi hingga terjerembap di lantai ruang makan. Maria menjerit karena kaget. Dari pintu muncul Bu Hasna yang berwajah sembab sedang dibimbing oleh istrinya Radit. Wanita itu mematung di tengah ruangan. Menatap putra bungsunya yang tersungkur di lantai dengan tatapan yang sarat akan kekecewaan mendalam. Next ....MARIA- 5 Pukulan Telak"Akhirnya Nak Rangga memiliki keturunan," ujar Bu Arsi dengan bangganya.Maria tidak menjawab. Ia hanya duduk di kursi seberang, menyatukan kedua jemarinya di pangkuan. Ia memilih untuk menjadi pendengar yang pasif, dengan dada yang bergemuruh hebat. "Begini, Nak Maria," lanjut Bu Arsi dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, tapi setiap kata-katanya terasa seperti belati yang ditancapkan perlahan di dada Maria. "Tamara sekarang sedang hamil dua bulan. Sebagai ibunya, saya nggak bisa membiarkan putri saya terus-menerus berada dalam status pernikahan siri yang nggak menentu. Anaknya nanti butuh kepastian hukum, butuh akta kelahiran dengan nama ayahnya yang sah di mata negara."Maria masih membisu. Matanya menatap jauh ke tanaman bunga, tapi telinganya mendengarkan setiap kalimat yang merobek-robek harga dirinya sebagai istri pertama."Saya tahu ini sulit bagimu, tapi kamu harus mengerti. Saya ke sini mewakili Tamara untuk meminta secara baik-baik, tolonglah
MARIA- 4 Maria"Assalamu'alaikum," ucap Maria pada bapak dan ibu mertuanya yang duduk di kursi teras. Juga pada bapak sopir yang duduk agak menjauh."Wa'alaikumsalam. Kamu dari Masjid, Nduk?" Bu Hasna bertanya sambil menerima uluran tangan menantunya."Iya, Bu. Maaf, membuat Bapak sama Ibu menunggu.""Nggak apa-apa. Kami juga barusan nyampe. Rangga belum pulang kerja?"Dada Maria berdegup kencang. Dia takut untuk berbohong, tapi juga takut untuk bicara jujur. Baru kali ini mertuanya datang, pas kebetulan Rangga tidak di rumah. "Mas Rangga ke luar kota, Bu," jawab Maria sambil membuka pintu rumah dan mempersilakan mereka masuk."Ke mana?" tanya Bu Hasna.Duh, ke mana, ya? Maria benar-benar gugup. "Ke Blitar, Bu." Akhirnya Maria menyebut nama kota itu. Kota di mana sekarang Rangga berada untuk mengunjungi Tamara. Ingin rasa hati bicara yang sebenarnya, tapi melihat kondisi mertuanya, Maria tidak tega."O, ya sudah. Tapi kamu berani sendirian di rumah?""Berani." Maria tersenyum. "Bapak
MARIA- 3 Apa itu poligami?"Bu, apa itu sebenarnya poligami?" Maria bertanya dengan suara lirih, karena di serambi depan ada beberapa orang bapak-bapak yang duduk ngobrol. Suami Bu Nafisah pun ada di sana.Bu Nafisah, sosok yang disegani di komplek perumahan itu tersentak kecil. Ia menatap Maria dalam-dalam."Kenapa tiba-tiba bertanya hal itu, Nak Maria?" Bu Nafisah bertanya dengan suara tenang.Maria tersenyum tipis. "Hanya ingin tahu, Bu. Saya belum memahaminya."Bu Nafisah mengangguk pelan. Masuk akal, pikirnya. Sebagai mualaf, rasa ingin tahu Maria memang selalu tinggi. Namun ada mendung di wajah Maria yang tidak bisa disembunyikan. Bu Nafisah sudah banyak pengalaman, membuatnya bisa membaca raut wajah itu."Poligami dalam Islam memang diperbolehkan, Nak Maria. Tapi itu bukan sekadar pintu untuk menambah istri." Bu Nafisah mulai menjelaskan dengan nada yang lembut. "Dasarnya ada dalam Surah An-Nisa, di mana seorang lelaki dibatasi maksimal memiliki empat istri. Namun ayat itu dit
MARIA- 2 Hanya Tanggung Jawab "Maria," panggil Rangga kian merunduk begitu dekat dengan wajahnya."Iya," jawab Maria yang tidak mungkin pura-pura tak mendengar. Selama ini Maria sangat peka dengan suaminya. Tidak ada panggilan yang lambat dijawabnya.Ia membalikkan tubuh setelah menarik napas panjang supaya air matanya tidak jatuh. Kemudian duduk. Apa sang suami akan memberitahu tentang kabar bahagianya yang sebentar lagi akan menjadi ayah? "Ada apa, Mas? Mau kubuatin kopi? Tadi sore aku belum sempat bikinin.""Tidak usah. Sudah jam delapan malam. Ada yang ingin aku omongin."Dada Maria berdebar kencang. Rasa perih juga mengguncang di dalam sana. Ah, sampai kapan ia bisa bertahan dalam posisi seperti ini. "Ngomong apa?" suara Maria bergetar."Ada kabar bahagia?""Oh, iya. Apa itu?" Jantung Maria kian berpacu. Ia harus siap mendengarkan kabar bahagia bagi Rangga, tapi pasti perih untuk dirinya."Mulai Senin depan, aku sudah resmi menjabat sebagai Manajer Operasional," ucap Rangga. Ma
MARIA- 1 Delapan Minggu "8 Minggu." Tangan Maria gemetar memegang hasil pemeriksaan atas nama Ny. Tamara yang ditemukan di dashboard mobil.Dada wanita yang mengenakan pasmina biru itu berdegup kencang. Matanya juga memanas. "Oh, jadi dia hamil," ujarnya lirih lantas melipat kembali kertas itu dan mengembalikan di tempat semula. Kemudian keluar dari mobil sang suami dan tidak jadi membersihkannya. Maria menarik napas panjang, baru kemudian masuk rumah sambil melepaskan pasminanya. Dia tadi baru saja pulang pengajian rutinan di komplek perumahan mereka. Saat itu Rangga sibuk di depan layar laptop di ruang kerjanya.Tanpa bertanya pada sang suami tentang apa yang ditemukannya tadi, Maria segera bergegas ke belakang untuk menyiapkan makan malam. "Hati, tenanglah. Kamu sudah terbiasa dengan rasa sakit. Jangan cengeng, ya," ujarnya dalam hati untuk menenangkan dirinya sendiri. "Ini takdir kita, Maria." Ia ingat ucapan Tamara ketika mereka bertemu suatu hari. Wanita itu sangat ramah pa







