Share

MJM 6

last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-29 14:13:33

MARIA

- 6 Ingin Berpisah

"Kenapa kau tutupi kelakuan gila suamimu, Maria?" tanya Radit dengan suara penuh getar emosi pada Maria yang membantu Rangga bangkit dan duduk di kursi.

"Jangan pernah diam kalau itu menyakitimu. Diammu itu bukan kesabaran. Itu adalah cara kau membiarkan dirimu hancur sendirian, sedangkan yang lain bahagia," lanjut Radit.

Maria membeku mendengarkan ucapan kakak iparnya yang terasa begitu dalam. Memang benar, ia yang hancur sendirian.

Di seberang meja, Bu Hasna terduduk lemas. Wajahnya pucat dan air matanya mengalir deras membasahi kerudung abu-abunya. Di sampingnya ada Rita yang merangkul pundak sang mertua.

Dengan tubuh gemetar, Rangga mencoba meraih tangan ibunya. "Bu, maafkan aku," bisiknya parau. Ia menciumi punggung tangan Bu Hasna. Namun wanita itu justru menarik tangannya perlahan. Sebuah penolakan halus yang terasa lebih menyakitkan daripada pukulan Radit tadi.

"Ibu dan Bapak nggak pernah mengajarimu menjadi pecundang, Rangga," suara Bu Hasna pecah. Isaknya terdengar menyesakkan. "Kami merawat Maria bukan untuk kau sakiti. Di mana nuranimu?"

Ketegangan di ruang makan benar-benar begitu terasa. Rangga dan Maria tidak mengira kalau keluarga mereka sudah mengetahui rahasia besar itu. Rangga sudah bisa menduga siapa yang membongkarnya. Padahal dirinya belum siap memberitahu bapak dan ibunya.

Radit masih mondar-mandir dengan wajah memerah penuh amarah. "Kau pikir kamu hebat karena bisa beristri dua? Kamu nggak bersyukur memiliki istri seperti Maria. Malah diam-diam mencari yang lainnya. Ternyata seleramu serendah itu, Rangga. Perempuan itu dan ibunya sama-sama nggak tahu malunya."

Suara Radit meninggi saat menceritakan bagaimana tadi siang Bu Arsi mendatangi rumah orang tua mereka. Ternyata setelah diusir oleh Maria, wanita itu langsung menemui Bu Hasna. Dengan nada menuntut, Bu Arsi meminta agar Tamara yang sedang mengandung dua bulan segera dinikahi secara sah dalam hukum negara oleh Rangga. Mereka sudah nikah siri selama dua tahun.

"Beruntung Bapak sedang tidur di kamar belakang saat wanita itu datang mengoceh," sambung Radit dengan kilat amarah. Rumah Radit dan rumah orang tuanya yang berdampingan membuatnya tahu segalanya. Kebetulan dia juga belum keluar. "Kalau sampai Bapak dengar dan drop lagi, awas kamu, Rangga," ancamnya.

"Apa yang membuatmu bertahan sejauh ini, Maria? Apa kamu merasa berhutang budi pada keluarga kami karena telah merawatmu sejak kecil?" Radit ganti memandang Maria.

Wanita itu terdiam. Pertanyaannya tepat mengenai sasaran. Alasan ia tetap diam memang karena rasa terima kasihnya pada Pak Ali dan Bu Hasna. Walaupun sebenarnya dia juga sangat mencintai Rangga.

"Jangan pernah punya pemikiran seperti itu!" tegas Radit. "Bapak dan Ibu ikhlas merawatmu. Kami menganggapmu adik, bukan investasi yang harus dibayar dengan kebahagiaanmu. Pergi saja kalau pernikahan ini menyakitimu. Jangan merasa terikat hutang budi. Apapun yang terjadi, bagiku kau tetaplah adikku. Dengan atau tanpa status istri Rangga."

Mendengar kata-kata itu, Maria merasa lega. Ia tidak takut lagi mengambil keputusan. Tapi bagi Rangga, ucapan kakaknya menggores di dada.

"Apa keputusanmu sekarang? Ada kami. Kamu nggak usah takut."

"Saya ingin berpisah, Mas," jawab Maria dengan penuh keberanian.

Rangga tersentak sambil menatap istrinya. Bu Hasna kembali terisak. Maria memandang ibu mertuanya. "Maafkan saya, Bu. Mbak Tamara sudah hamil anak Mas Rangga. Dia lebih butuh status itu daripada saya. Saya sudah rela," lanjut Maria. Suaranya tidak bergetar sama sekali.

"Kamu nggak usah minta maaf. Itu bukan salahmu, Maria," jawab Bu Hasna dengan suara parau.

Rangga ingin menyanggah dan bicara, tapi rasa sakit di rahangnya dan rasa malu di hadapan keluarganya membuat suaranya tercekat di tenggorokan. Ia hanya bisa menatap Maria, menyadari bahwa wanita lembut yang selalu melayaninya dengan sabar itu kini telah mencapai batasnya.

Pukul delapan malam, suasana rumah itu kembali sunyi. Radit mengajak ibu dan istrinya pulang. Sebelum pergi, Bu Hasna sempat memeluk Maria cukup lama. Tetesan air matanya membasahi pundak Maria.

Kini tinggal mereka berdua. Rangga duduk di sofa ruang tengah, menunduk dalam-dalam. Maria pergi ke dapur untuk menyiapkan baskom berisi air hangat dan handuk kecil. Dengan gerakan yang tetap lembut tapi tanpa ekspresi, ia mendekati Rangga lalu mulai menyeka lebam di rahang suaminya.

"Maafkan aku, Maria. Kita masih bisa membicarakan ini baik-baik," bisik Rangga saat kain hangat itu menyentuh kulitnya.

Maria tidak menjawab. Ia tetap fokus pada tugasnya. Menyeka dengan telaten. Tidak ada lagi binar di matanya dan senyum malu-malu yang dulu selalu ditunjukkan saat berhadapan dengan suaminya.

Malam semakin larut dan kamar mereka sunyi. Keduanya berbaring di atas ranjang yang sama, tapi dengan pikiran masing-masing.

Rangga tidak bisa tidur. Ia merasakan kehilangan yang sangat besar justru saat ia masih memiliki Maria di sampingnya. Hatinya merasakan pedih semenjak Maria menceritakan kedatangan Bu Arsi. Sungguh Rangga tidak menduga sama sekali kalau mertuanya senekat itu.

Di tengah keheningan malam yang pekat, suara Maria kembali terdengar pelan. "Aku akan menunggu sampai Mas Rangga mengajukan perceraian ke pengadilan. Jangan tunda lagi. Berikan hak Tamara dan berikan kemerdekaan padaku. Dia yang kamu cintai selama ini, bukan aku. Lagipula kasihan anak kalian. Aku sudah rela melepas sebagaimana dulu aku pun rela kalian menikah."

Rangga memejamkan mata erat-erat. Baru kali ini ia merasakan ulu hatinya sangat perih. Kenapa? Harusnya dia bahagia, bukan. Bisa bersama Tamara tanpa perlu sembunyi-sembunyi lagi. Bukankah wanita itu yang didambakan menjadi istrinya sejak dulu. "Nanti kalau emosi kita mereda, kita bisa membahasnya lagi, Maria."

"Nggak, Mas. Aku sudah mantap untuk berpisah. Mas sudah mendapatkan kebahagiaanmu, biar aku juga mencari bahagiaku. Mari kita berpisah secara baik-baik. Agar kita masih bisa menjalin hubungan baik sebagai saudara. Aku nggak akan pernah melupakan Mas yang banyak membimbingku selama ini. Hanya saja jodoh kita mungkin selesai sampai di sini." Maria tidak memberikan ruang untuk diskusi. Keputusannya sudah final dari hati yang telah terlalu lama dipaksa untuk mengalah.

Next ....

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (32)
goodnovel comment avatar
putri amelia
bagusss mariaaaa jangan mau lagi pisah titik
goodnovel comment avatar
Wagia Ningsih
dari bab satu sampai lima aku masih tahan emosi tapi saat bab 6 pertahanan juventus runtuh air mataku tak dapat ku bendung
goodnovel comment avatar
Haki Surya
duh nangis aku tuh mbak lis,,, selalu totalitas, sukses terus mbak lis,,,
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Mencari Jejak Maria   Season2 - 280

    Namun di tengah-tengah menikmati makanan di atas meja, wajah Zahra mendadak pucat. Lalu spontan bangkit dan berlari menuju kamar mandi. Dan ia muntah di sana.Zein kaget dan panik. Lalu menyusul memegangi tengkuk dan memijat lembut leher belakang istrinya yang sedang membungkuk di depan wastafel. Zahra memuntahkan makanannya."Sayang, kamu kenapa? Kamu sakit?" tanya Zein dengan raut wajah dipenuhi kecemasan. Zahra mengelap bibirnya dengan tisu, bersandar lemas pada dada Zein. "Sebenarnya sudah beberapa hari ini badanku rasanya nggak enak, Mas. Meriang dan sering pusing.""Kenapa kamu tidak cerita sama Mas di telepon kemarin?""Aku kira cuma meriang biasa.""Kita pergi ke klinik untuk periksa. Ayo, ganti baju." Tanpa berpikir panjang Zein memaksa Zahra untuk segera memeriksakan diri ke klinik. Karena tak tega membonceng istrinya yang lemas menggunakan sepeda motor, Zein memesan taksi online. Dan tak lama mereka sampai di klinik terdekat dari perumahan.Di ruang tunggu klinik yang cuk

  • Mencari Jejak Maria   Season2 - 279

    "Arkan, saya tidak pernah pilih-pilih calon menantu dari seberapa kaya atau seberapa tinggi jabatannya. Bagi saya syaratnya hanya tiga, pria itu harus bertanggung jawab penuh, menyayangi putri saya dengan tulus, dan yang paling utama tidak pernah meninggalkan salat lima waktu."Pria muda itu menganggukkan kepala dengan mantap. "Insya Allah, Om. Saya bisa memenuhi itu."Melihat ketulusan dan ketegasan sikap Arkan, Emir tersenyum lega. Kemudian mengajak Naima bangkit dari sana untuk membiarkan mereka ngobrol berdua.Zahra yang sejak tadi di dalam, lalu melangkah ke ruang tamu membawa nampan berisi cangkir teh hangat dan brownies."Silakan diminum, Mas," ucap Zahra ramah sambil menyuguhkan minum.Arkan tersenyum sopan. "Terima kasih, Zahra. Oh ya, sekalian aku mau mengucapkan selamat atas pernikahanmu. Maaf sekali kalau aku tidak bisa hadir saat acara. Bukan tak bisa, tapi karena tidak di undang," ujar pria itu yang menimbulkan tawa.Kemudian mereka ngobrol seru. Arkan tahu kalau Zahra m

  • Mencari Jejak Maria   Season2 - 278

    Zein- 20 PeriksaZahra muntah di wastafel. Sampai ia terengah-engah. Apa ia masuk angin? Wanita itu memandang wajahnya yang pucat di pantulan cermin.Setelah beberapa saat mualnya mereda, ia kembali duduk di tepi pembaringan. Menunduk di sana sambil merasakan tubuhnya yang berkeringat dingin. Mungkin ia memang masuk angin. Kemarin kehujanan setelah pulang dari toko roti. Sebab Zahra naik motor.Ketika hendak bangkit untuk mengambil obat di ruang keluarga, ia terdiam. Ingat semenjak menikah belum datang bulan. Zahra tak pernah mengingat tanggal berapa siklus bulanannya datang. Namun ia ingat, seminggu sebelum akad nikah baru suci dari haid. Apa dia hamil? Dada Zahra tiba-tiba berdebar kencang. Apa kebersamaannya dengan sang suami selama tiga hari waktu itu berhasil membuatnya mengandung?Disaat Zahra termangu, ponselnya kembali berdering. Zein menelepon lagi."Halo, Mas.""Sayang, kamu nggak apa-apa, kan?""Ah, nggak Mas. Maaf lama, aku sekalian gosok gigi tadi."Kemudian mereka melan

  • Mencari Jejak Maria   Season2 - 277

    "Makasih banyak, Mbak. Udah mborong di toko kami," ucap Zahra dengan begitu ramahnya.Maria tersenyum sambil meraih goodie bag. "Sama-sama, Mbak. Maaf, anak-anak saya bikin heboh toko.""Tidak apa-apa." Zahra menangkupkan tangannya sambil memperhatikan mereka meninggalkan toko. Kemudian mobil hitam itu melaju pergi.Zahra tidak tahu kalau wanita itu pernah membuat suaminya jatuh cinta. Sosok yang pernah istimewa di hati Zein. Maria dan Rangga baru pulang dari mengunjungi saudara Maria di Tulungagung. Hubungan mereka dan keluarga dari pihak ibunya mulai membaik sekarang ini. Kemudian Zahra kembali sibuk dengan pembeli yang mulai berdatangan. Lima karyawan toko sibuk mengemas pesanan di belakang. Jadi Naima yang muncul dari dalam membantu putrinya meladeni pembeli.🖤LS🖤Untuk mengobati rindu sekaligus menepati janjinya, Zahra memutuskan berkunjung ke Malang. Berangkat diantar oleh sopir pribadi papanya. Zein melarang Zahra mengendarai mobil sendiri karena ia belum pernah melihat lan

  • Mencari Jejak Maria   Season2 - 276

    Komunikasi dengan Zein tetap terjalin, walau sangat dibatasi oleh kerahasiaan tugas. Ada hari-hari di mana ia selalu menerima pesan, tapi tak jarang pula dalam dua puluh empat jam penuh tak ada satu pun pesan dari suaminya. Zahra belajar menundukkan egonya. Meski gelisah menggerogoti ulu hati, ia tahu suaminya sedang bertarung dengan resiko tugas di luar sana.Terkadang saat malam, bayangan sidang BP4R di Jakarta kembali berputar di benaknya. Kalimat tegas pewawancara saat itu seperti terngiang ulang. Harus siap ditinggal kapan saja, siap menjaga rahasia, dan siap menerima kabar buruk apa pun.Zahra menggelengkan kepala pelan, menepis bisikan membahayakan itu. "Nggak deh. Mas Zein pasti baik-baik saja.""Nanti kalau sudah ikut Mas Zein ke Jakarta, Zahra berpikir mau coba jadi akuntan freelance saja, Bun," ujar Zahra sore itu seraya merapikan nota penjualan di meja kasir toko roti. "Aku bisa bekerja dari rumah.""Itu ide yang sangat bagus, Sayang. Gelar sarjana akuntansi milikmu tetap

  • Mencari Jejak Maria   Season2 - 275

    Zein - 19 Pertemuan Tak SengajaMalam ini terasa berbeda bagi Zahra setelah tiga malam ditemani. Kamarnya sunyi. Tiga hari kemarin yang mendadak jadi candu baginya.Zahra menghela napas panjang sambil memeluk guling. Disaat kebanyakan pengantin baru sibuk berbulan madu, ia harus terpisah jarak dari suaminya. Sampai kapan? Zahra pun tidak tahu. Zein bilang tidak lama, tapi yang sebenarnya, entahlah ....Sabar. Menerima Zein sudah menjadi keputusannya sendiri. Mentalnya harus siap dengan segala kondisi dan konsekuensi menjadi istri seorang intelejen.Ponsel Zahra berpendar. Nama My Hubby tertera di layar. Senyum seketika merekah di bibirnya."Assalamu'alaikum.""Wa'alaikumsalam. Sudah sampai rumah?""Sudah, Mas. Setengah jam yang lalu. Ini habis salat langsung rebahan. Mas, sudah sampai.""Baru masuk kamar. Tadi macet perjalanan dari Soeta. Mas, mau beres-beres dulu, ya. Besok pagi Mas mulai dinas. Selamat tidur. I love you, Honey. Assalamu'alaikum.""Wa'alaikumsalam."Panggilan langsu

  • Mencari Jejak Maria   MJM 7

    MARIA- 7 Di Persimpangan "Di mana Mama, aku ingin bicara?" suara Rangga datar tapi menyimpan amarah. Dia baru saja masuk rumah mertuanya, di mana istrinya tinggal. Tamara yang menyambut suaminya dengan daster sutra tipis, tersenyum manja. Ia melingkarkan lengan di leher Rangga, lalu mendaratkan

  • Mencari Jejak Maria   MJM 5

    MARIA- 5 Pukulan Telak"Akhirnya Nak Rangga memiliki keturunan," ujar Bu Arsi dengan bangganya.Maria tidak menjawab. Ia hanya duduk di kursi seberang, menyatukan kedua jemarinya di pangkuan. Ia memilih untuk menjadi pendengar yang pasif, dengan dada yang bergemuruh hebat. "Begini, Nak Maria," la

  • Mencari Jejak Maria   MJM 4

    MARIA- 4 Maria"Assalamu'alaikum," ucap Maria pada bapak dan ibu mertuanya yang duduk di kursi teras. Juga pada bapak sopir yang duduk agak menjauh."Wa'alaikumsalam. Kamu dari Masjid, Nduk?" Bu Hasna bertanya sambil menerima uluran tangan menantunya."Iya, Bu. Maaf, membuat Bapak sama Ibu menungg

  • Mencari Jejak Maria   MJM 3

    MARIA- 3 Apa itu poligami?"Bu, apa itu sebenarnya poligami?" Maria bertanya dengan suara lirih, karena di serambi depan ada beberapa orang bapak-bapak yang duduk ngobrol. Suami Bu Nafisah pun ada di sana.Bu Nafisah, sosok yang disegani di komplek perumahan itu tersentak kecil. Ia menatap Maria d

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status