Se connecterMARIA
- 6 Ingin Berpisah "Kenapa kau tutupi kelakuan gila suamimu, Maria?" tanya Radit dengan suara penuh getar emosi pada Maria yang membantu Rangga bangkit dan duduk di kursi. "Jangan pernah diam kalau itu menyakitimu. Diammu itu bukan kesabaran. Itu adalah cara kau membiarkan dirimu hancur sendirian, sedangkan yang lain bahagia," lanjut Radit. Maria membeku mendengarkan ucapan kakak iparnya yang terasa begitu dalam. Memang benar, ia yang hancur sendirian. Di seberang meja, Bu Hasna terduduk lemas. Wajahnya pucat dan air matanya mengalir deras membasahi kerudung abu-abunya. Di sampingnya ada Rita yang merangkul pundak sang mertua. Dengan tubuh gemetar, Rangga mencoba meraih tangan ibunya. "Bu, maafkan aku," bisiknya parau. Ia menciumi punggung tangan Bu Hasna. Namun wanita itu justru menarik tangannya perlahan. Sebuah penolakan halus yang terasa lebih menyakitkan daripada pukulan Radit tadi. "Ibu dan Bapak nggak pernah mengajarimu menjadi pecundang, Rangga," suara Bu Hasna pecah. Isaknya terdengar menyesakkan. "Kami merawat Maria bukan untuk kau sakiti. Di mana nuranimu?" Ketegangan di ruang makan benar-benar begitu terasa. Rangga dan Maria tidak mengira kalau keluarga mereka sudah mengetahui rahasia besar itu. Rangga sudah bisa menduga siapa yang membongkarnya. Padahal dirinya belum siap memberitahu bapak dan ibunya. Radit masih mondar-mandir dengan wajah memerah penuh amarah. "Kau pikir kamu hebat karena bisa beristri dua? Kamu nggak bersyukur memiliki istri seperti Maria. Malah diam-diam mencari yang lainnya. Ternyata seleramu serendah itu, Rangga. Perempuan itu dan ibunya sama-sama nggak tahu malunya." Suara Radit meninggi saat menceritakan bagaimana tadi siang Bu Arsi mendatangi rumah orang tua mereka. Ternyata setelah diusir oleh Maria, wanita itu langsung menemui Bu Hasna. Dengan nada menuntut, Bu Arsi meminta agar Tamara yang sedang mengandung dua bulan segera dinikahi secara sah dalam hukum negara oleh Rangga. Mereka sudah nikah siri selama dua tahun. "Beruntung Bapak sedang tidur di kamar belakang saat wanita itu datang mengoceh," sambung Radit dengan kilat amarah. Rumah Radit dan rumah orang tuanya yang berdampingan membuatnya tahu segalanya. Kebetulan dia juga belum keluar. "Kalau sampai Bapak dengar dan drop lagi, awas kamu, Rangga," ancamnya. "Apa yang membuatmu bertahan sejauh ini, Maria? Apa kamu merasa berhutang budi pada keluarga kami karena telah merawatmu sejak kecil?" Radit ganti memandang Maria. Wanita itu terdiam. Pertanyaannya tepat mengenai sasaran. Alasan ia tetap diam memang karena rasa terima kasihnya pada Pak Ali dan Bu Hasna. Walaupun sebenarnya dia juga sangat mencintai Rangga. "Jangan pernah punya pemikiran seperti itu!" tegas Radit. "Bapak dan Ibu ikhlas merawatmu. Kami menganggapmu adik, bukan investasi yang harus dibayar dengan kebahagiaanmu. Pergi saja kalau pernikahan ini menyakitimu. Jangan merasa terikat hutang budi. Apapun yang terjadi, bagiku kau tetaplah adikku. Dengan atau tanpa status istri Rangga." Mendengar kata-kata itu, Maria merasa lega. Ia tidak takut lagi mengambil keputusan. Tapi bagi Rangga, ucapan kakaknya menggores di dada. "Apa keputusanmu sekarang? Ada kami. Kamu nggak usah takut." "Saya ingin berpisah, Mas," jawab Maria dengan penuh keberanian. Rangga tersentak sambil menatap istrinya. Bu Hasna kembali terisak. Maria memandang ibu mertuanya. "Maafkan saya, Bu. Mbak Tamara sudah hamil anak Mas Rangga. Dia lebih butuh status itu daripada saya. Saya sudah rela," lanjut Maria. Suaranya tidak bergetar sama sekali. "Kamu nggak usah minta maaf. Itu bukan salahmu, Maria," jawab Bu Hasna dengan suara parau. Rangga ingin menyanggah dan bicara, tapi rasa sakit di rahangnya dan rasa malu di hadapan keluarganya membuat suaranya tercekat di tenggorokan. Ia hanya bisa menatap Maria, menyadari bahwa wanita lembut yang selalu melayaninya dengan sabar itu kini telah mencapai batasnya. Pukul delapan malam, suasana rumah itu kembali sunyi. Radit mengajak ibu dan istrinya pulang. Sebelum pergi, Bu Hasna sempat memeluk Maria cukup lama. Tetesan air matanya membasahi pundak Maria. Kini tinggal mereka berdua. Rangga duduk di sofa ruang tengah, menunduk dalam-dalam. Maria pergi ke dapur untuk menyiapkan baskom berisi air hangat dan handuk kecil. Dengan gerakan yang tetap lembut tapi tanpa ekspresi, ia mendekati Rangga lalu mulai menyeka lebam di rahang suaminya. "Maafkan aku, Maria. Kita masih bisa membicarakan ini baik-baik," bisik Rangga saat kain hangat itu menyentuh kulitnya. Maria tidak menjawab. Ia tetap fokus pada tugasnya. Menyeka dengan telaten. Tidak ada lagi binar di matanya dan senyum malu-malu yang dulu selalu ditunjukkan saat berhadapan dengan suaminya. Malam semakin larut dan kamar mereka sunyi. Keduanya berbaring di atas ranjang yang sama, tapi dengan pikiran masing-masing. Rangga tidak bisa tidur. Ia merasakan kehilangan yang sangat besar justru saat ia masih memiliki Maria di sampingnya. Hatinya merasakan pedih semenjak Maria menceritakan kedatangan Bu Arsi. Sungguh Rangga tidak menduga sama sekali kalau mertuanya senekat itu. Di tengah keheningan malam yang pekat, suara Maria kembali terdengar pelan. "Aku akan menunggu sampai Mas Rangga mengajukan perceraian ke pengadilan. Jangan tunda lagi. Berikan hak Tamara dan berikan kemerdekaan padaku. Dia yang kamu cintai selama ini, bukan aku. Lagipula kasihan anak kalian. Aku sudah rela melepas sebagaimana dulu aku pun rela kalian menikah." Rangga memejamkan mata erat-erat. Baru kali ini ia merasakan ulu hatinya sangat perih. Kenapa? Harusnya dia bahagia, bukan. Bisa bersama Tamara tanpa perlu sembunyi-sembunyi lagi. Bukankah wanita itu yang didambakan menjadi istrinya sejak dulu. "Nanti kalau emosi kita mereda, kita bisa membahasnya lagi, Maria." "Nggak, Mas. Aku sudah mantap untuk berpisah. Mas sudah mendapatkan kebahagiaanmu, biar aku juga mencari bahagiaku. Mari kita berpisah secara baik-baik. Agar kita masih bisa menjalin hubungan baik sebagai saudara. Aku nggak akan pernah melupakan Mas yang banyak membimbingku selama ini. Hanya saja jodoh kita mungkin selesai sampai di sini." Maria tidak memberikan ruang untuk diskusi. Keputusannya sudah final dari hati yang telah terlalu lama dipaksa untuk mengalah. Next ....MARIA- 6 Ingin Berpisah "Kenapa kau tutupi kelakuan gila suamimu, Maria?" tanya Radit dengan suara penuh getar emosi pada Maria yang membantu Rangga bangkit dan duduk di kursi."Jangan pernah diam kalau itu menyakitimu. Diammu itu bukan kesabaran. Itu adalah cara kau membiarkan dirimu hancur sendirian, sedangkan yang lain bahagia," lanjut Radit.Maria membeku mendengarkan ucapan kakak iparnya yang terasa begitu dalam. Memang benar, ia yang hancur sendirian.Di seberang meja, Bu Hasna terduduk lemas. Wajahnya pucat dan air matanya mengalir deras membasahi kerudung abu-abunya. Di sampingnya ada Rita yang merangkul pundak sang mertua.Dengan tubuh gemetar, Rangga mencoba meraih tangan ibunya. "Bu, maafkan aku," bisiknya parau. Ia menciumi punggung tangan Bu Hasna. Namun wanita itu justru menarik tangannya perlahan. Sebuah penolakan halus yang terasa lebih menyakitkan daripada pukulan Radit tadi."Ibu dan Bapak nggak pernah mengajarimu menjadi pecundang, Rangga," suara Bu Hasna pecah. I
MARIA- 5 Pukulan Telak"Akhirnya Nak Rangga memiliki keturunan," ujar Bu Arsi dengan bangganya.Maria tidak menjawab. Ia hanya duduk di kursi seberang, menyatukan kedua jemarinya di pangkuan. Ia memilih untuk menjadi pendengar yang pasif, dengan dada yang bergemuruh hebat. "Begini, Nak Maria," lanjut Bu Arsi dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, tapi setiap kata-katanya terasa seperti belati yang ditancapkan perlahan di dada Maria. "Tamara sekarang sedang hamil dua bulan. Sebagai ibunya, saya nggak bisa membiarkan putri saya terus-menerus berada dalam status pernikahan siri yang nggak menentu. Anaknya nanti butuh kepastian hukum, butuh akta kelahiran dengan nama ayahnya yang sah di mata negara."Maria masih membisu. Matanya menatap jauh ke tanaman bunga, tapi telinganya mendengarkan setiap kalimat yang merobek-robek harga dirinya sebagai istri pertama."Saya tahu ini sulit bagimu, tapi kamu harus mengerti. Saya ke sini mewakili Tamara untuk meminta secara baik-baik, tolonglah
MARIA- 4 Maria"Assalamu'alaikum," ucap Maria pada bapak dan ibu mertuanya yang duduk di kursi teras. Juga pada bapak sopir yang duduk agak menjauh."Wa'alaikumsalam. Kamu dari Masjid, Nduk?" Bu Hasna bertanya sambil menerima uluran tangan menantunya."Iya, Bu. Maaf, membuat Bapak sama Ibu menunggu.""Nggak apa-apa. Kami juga barusan nyampe. Rangga belum pulang kerja?"Dada Maria berdegup kencang. Dia takut untuk berbohong, tapi juga takut untuk bicara jujur. Baru kali ini mertuanya datang, pas kebetulan Rangga tidak di rumah. "Mas Rangga ke luar kota, Bu," jawab Maria sambil membuka pintu rumah dan mempersilakan mereka masuk."Ke mana?" tanya Bu Hasna.Duh, ke mana, ya? Maria benar-benar gugup. "Ke Blitar, Bu." Akhirnya Maria menyebut nama kota itu. Kota di mana sekarang Rangga berada untuk mengunjungi Tamara. Ingin rasa hati bicara yang sebenarnya, tapi melihat kondisi mertuanya, Maria tidak tega."O, ya sudah. Tapi kamu berani sendirian di rumah?""Berani." Maria tersenyum. "Bapak
MARIA- 3 Apa itu poligami?"Bu, apa itu sebenarnya poligami?" Maria bertanya dengan suara lirih, karena di serambi depan ada beberapa orang bapak-bapak yang duduk ngobrol. Suami Bu Nafisah pun ada di sana.Bu Nafisah, sosok yang disegani di komplek perumahan itu tersentak kecil. Ia menatap Maria dalam-dalam."Kenapa tiba-tiba bertanya hal itu, Nak Maria?" Bu Nafisah bertanya dengan suara tenang.Maria tersenyum tipis. "Hanya ingin tahu, Bu. Saya belum memahaminya."Bu Nafisah mengangguk pelan. Masuk akal, pikirnya. Sebagai mualaf, rasa ingin tahu Maria memang selalu tinggi. Namun ada mendung di wajah Maria yang tidak bisa disembunyikan. Bu Nafisah sudah banyak pengalaman, membuatnya bisa membaca raut wajah itu."Poligami dalam Islam memang diperbolehkan, Nak Maria. Tapi itu bukan sekadar pintu untuk menambah istri." Bu Nafisah mulai menjelaskan dengan nada yang lembut. "Dasarnya ada dalam Surah An-Nisa, di mana seorang lelaki dibatasi maksimal memiliki empat istri. Namun ayat itu dit
MARIA- 2 Hanya Tanggung Jawab "Maria," panggil Rangga kian merunduk begitu dekat dengan wajahnya."Iya," jawab Maria yang tidak mungkin pura-pura tak mendengar. Selama ini Maria sangat peka dengan suaminya. Tidak ada panggilan yang lambat dijawabnya.Ia membalikkan tubuh setelah menarik napas panjang supaya air matanya tidak jatuh. Kemudian duduk. Apa sang suami akan memberitahu tentang kabar bahagianya yang sebentar lagi akan menjadi ayah? "Ada apa, Mas? Mau kubuatin kopi? Tadi sore aku belum sempat bikinin.""Tidak usah. Sudah jam delapan malam. Ada yang ingin aku omongin."Dada Maria berdebar kencang. Rasa perih juga mengguncang di dalam sana. Ah, sampai kapan ia bisa bertahan dalam posisi seperti ini. "Ngomong apa?" suara Maria bergetar."Ada kabar bahagia?""Oh, iya. Apa itu?" Jantung Maria kian berpacu. Ia harus siap mendengarkan kabar bahagia bagi Rangga, tapi pasti perih untuk dirinya."Mulai Senin depan, aku sudah resmi menjabat sebagai Manajer Operasional," ucap Rangga. Ma
MARIA- 1 Delapan Minggu "8 Minggu." Tangan Maria gemetar memegang hasil pemeriksaan atas nama Ny. Tamara yang ditemukan di dashboard mobil.Dada wanita yang mengenakan pasmina biru itu berdegup kencang. Matanya juga memanas. "Oh, jadi dia hamil," ujarnya lirih lantas melipat kembali kertas itu dan mengembalikan di tempat semula. Kemudian keluar dari mobil sang suami dan tidak jadi membersihkannya. Maria menarik napas panjang, baru kemudian masuk rumah sambil melepaskan pasminanya. Dia tadi baru saja pulang pengajian rutinan di komplek perumahan mereka. Saat itu Rangga sibuk di depan layar laptop di ruang kerjanya.Tanpa bertanya pada sang suami tentang apa yang ditemukannya tadi, Maria segera bergegas ke belakang untuk menyiapkan makan malam. "Hati, tenanglah. Kamu sudah terbiasa dengan rasa sakit. Jangan cengeng, ya," ujarnya dalam hati untuk menenangkan dirinya sendiri. "Ini takdir kita, Maria." Ia ingat ucapan Tamara ketika mereka bertemu suatu hari. Wanita itu sangat ramah pa







