Mag-log inPagi di Surabaya seharusnya menjadi awal dari sebuah ketenangan setelah badai mengerikan yang menghantam malam sebelumnya. Namun, bagi Reno Dirgantara, udara di dalam mansion megah itu tidak terasa segar sama sekali. Sebaliknya, oksigen di sekitarnya terasa semakin berat, seolah dinding-dinding kaca yang menghadap ke laut itu perlahan mulai menghimpitnya. Meskipun Sheila Wijaya kini sudah mendekam di ruang bawah tanah menanti penyerahan resmi ke otoritas hukum dengan tumpukan bukti kejahatan
Rintik hujan yang semula hanya berupa gerimis tipis kini berubah menjadi hujan deras yang mengguyur aspal mulus Orchard Road. Cahaya lampu neon berwarna-warni dari papan iklan butik-butik mewah seperti Louis Vuitton dan Chanel terpantul di genangan air, menciptakan pemandangan yang sangat kontras dengan suasana tegang di dalam mobil Mercedes-Benz G-Class lapis baja yang ditumpangi Reno dan Karin. Di balik kaca film yang sangat gelap, Reno menatap deretan pejalan kaki yang berlindung di bawah payung-payung lebar, tampak begitu tenang dan tidak tahu bahwa beberapa kilometer di belakang mereka, sebuah jet pribadi baru saja menjadi rongsokan dalam pertempuran berdarah."Kita hampir sampai di 'The Glass Nest'," bisik Bayu yang duduk di kursi penumpang depan, matanya tidak pernah lepas dari monitor kecil yang menampilkan sapuan radar keamanan di sekitar kendaraan. "Pintu masuk rahasia sudah terbuka. Kita akan masuk melalui basement gedung pusat perbelanjaan di blok berikutnya unt
Suara dentuman peluru kaliber tinggi yang menghantam badan pesawat Gulfstream G650ER menciptakan suara memekakkan telinga, seperti ribuan palu raksasa yang menghantam kaleng baja secara bertubi-tubi tanpa ampun. Reno Dirgantara merasakan getaran itu merambat dari lantai pesawat hingga ke tulang punggungnya. Asap hitam pekat mulai mengepul hebat dari salah satu mesin jet sebelah kanan yang terkena serpihan peluru tajam, menciptakan kepulan tebal yang mengaburkan pandangan ke arah landasan. Bau menyengat dari bahan bakar avtur yang bocor bercampur dengan aroma mesiu yang panas dan sangit segera memenuhi udara di sekitar landasan pacu Bandara Changi yang biasanya steril dan tenang.Reno berdiri tegak di ambang pintu pesawat yang baru saja terbuka otomatis. Matanya yang tajam menyapu tajam area hanggar kargo nomor empat yang kini dipenuhi oleh moncong senjata otomatis dari tiga unit SUV hitam yang mengepung mereka dalam formasi bulan sabit yang mematikan. Reno tahu, ini bukan s
Langit di atas langit Singapura siang itu tampak sangat mendung dan berat, seolah-olah gumpalan awan kelabu yang menggantung rendah ikut merasakan beban ketegangan luar biasa yang dibawa oleh jet pribadi Gulfstream G650ER milik keluarga Dirgantara. Di dalam kabin yang mewah namun kini pengap oleh adrenalin, suasana masih dipenuhi oleh sisa-sisa kengerian dari serangan siber yang hampir saja menjatuhkan mereka ke tengah Laut Natuna. Reno berdiri dengan kaki kokoh di samping kursi pilot, matanya yang tajam menatap lurus ke depan melalui kaca kokpit yang kini hanya menampilkan hamparan kabut tebal tanpa sedikit pun bantuan dari sensor radar yang telah hangus terbakar."Kapten, berapa lama lagi mesin ini bisa bertahan dengan navigasi manual yang terbatas ini?" tanya Reno, suaranya terdengar sangat rendah dan tenang, namun di dalamnya terkandung otoritas yang sanggup menggetarkan siapa pun yang mendengarnya."Tanpa bantuan radar cuaca dan instrumen pendaratan otomatis (
Deru mesin ganda jet pribadi Gulfstream G650ER milik keluarga Dirgantara terdengar halus namun sangat bertenaga saat pesawat super mewah itu membelah gumpalan awan kumulonimbus di atas perairan Laut Natuna menuju Singapura. Di dalam kabin yang sangat eksklusif dengan lapisan kulit premium berwarna krem dan panel kayu eboni yang mengkilap, suasana seharusnya terasa sangat tenang dan menenangkan. Namun, bagi Reno dan Karin, perjalanan udara kali ini terasa seperti mereka sedang memasuki wilayah perang yang baru dan jauh lebih berbahaya. Reno duduk tegak di kursi utama, matanya yang tajam terus menatap layar tablet taktis yang menampilkan fluktuasi angka-angka merah pada indeks saham anak perusahaannya yang mulai digoyang secara agresif oleh entitas misterius bernama 'The Architect'."Reno, kau harus makan sedikit. Sejak kita meninggalkan Jakarta pagi tadi, kau hanya terus memikirkan barisan angka-angka itu," ujar Karin dengan nada suara yang lembut namun penuh kekhawatiran. I
BAB 101: Fajar Baru di Menara DirgantaraSinar matahari pagi yang cerah dan hangat menembus kaca-kaca kristal raksasa yang mengelilingi lantai teratas Gedung Graha Dirgantara, membiaskan cahaya keemasan yang berkilau di atas permukaan meja kerja Reno yang terbuat dari kayu jati pilihan. Ruangan itu kini tampak jauh lebih luas, lebih terang, dan seolah-olah telah bernapas kembali setelah sekian lama tercekik oleh bayang-bayang gelap dan konspirasi busuk Paman Surya. Suasana di koridor kantor pusat pagi ini pun terasa sangat berbeda secara drastis; tidak ada lagi bisik-bisik penuh kecurigaan di sudut ruangan atau tatapan mata yang saling menghindar. Para staf dan karyawan berjalan dengan langkah yang lebih tegak dan mantap, seolah-olah mereka baru saja menghirup udara segar setelah badai besar berlalu, merasakan aura kepemimpinan baru yang jauh lebih bersih namun tetap memiliki ketegasan yang tak tertandingi.Reno Dirgantara berdiri mematung di depan jendela besar ya
Gedung Graha Dirgantara berdiri angkuh, mencakar langit Jakarta yang masih berselimut kabut tipis sisa fajar yang dingin. Di lantai paling atas, di dalam Ruang Rapat Komisaris yang berdinding kaca antipeluru setebal lima sentimeter dan dilapisi kayu mahoni langka dari pedalaman Afrika, suasana terasa jauh lebih membeku daripada suhu pendingin ruangan yang disetel pada tingkat maksimal. Aroma kopi luwak yang mahal dan parfum maskulin dari para petinggi perusahaan bercampur aduk dengan ketegangan yang begitu padat, seolah-olah nyaris bisa disentuh dengan ujung jari. Di ujung meja oval raksasa yang terbuat dari marmer hitam itu, duduk seorang pria paruh baya dengan rambut yang disisir rapi tanpa satu helai pun yang keluar dari tempatnya. Surya Dirgantara menyesap kopinya dengan ketenangan yang dibuat-buat, seolah-olah ia tidak menyadari bahwa sebuah badai kehancuran yang sangat besar sedang melaju kencang menuju ke arahnya."Di mana Reno? Sidang Tahunan Direksi ini seharusnya
Minggu-minggu pertama di Surabaya terasa seperti sebuah oase di tengah padang pasir yang luas bagi Karin. Jika dulu hidupnya dipenuhi dengan langkah kaki yang terburu-buru karena ketakutan, kini ia bangun setiap pagi dengan suara kicauan burung dan deru ombak yang menenangkan dari balik jendela b
Suasana di rumah Surabaya yang tadinya penuh dengan romansa kini berubah menjadi markas komando yang dingin. Reno Dirgantara tidak lagi memegang gelas champagne atau katalog undangan pernikahan di tangannya; ia kini duduk di depan deretan monitor di ruang bawah tanah, menatap peta digital kota Su
Ruangan itu mendadak terasa sesak oleh aroma kematian dan bahan kimia yang menyengat. Cahaya bulan yang masuk melalui celah jendela besar menyinari wajah Sheila yang kini tak lagi menyerupai manusia yang pernah dikenal Karin. Di balik perban yang melilit separuh wajahnya, mata Sheila berkilat den
Udara di dalam gudang dermaga tua itu bukan lagi sekadar lembap oleh aroma garam laut, melainkan sudah terasa panas dan menyesakkan seolah oksigen di sana telah habis terbakar oleh dendam Sheila. Di sudut ruangan, menempel pada tiang penyangga besi yang sudah berkarat, sebuah perangkat digital ke







