Beranda / Romansa / Mencintai Seorang Climber / bab 149. Merasa Diintai

Share

bab 149. Merasa Diintai

Penulis: Yanti Soeparmo
last update Tanggal publikasi: 2025-03-23 22:18:12

Fatimah masuk lagi ke ruangan P3K.

“Saya sudah menawarkan diri untuk menemani Maryam di tempat kosnya. Tapi Maryam tidak mau.” lapor Ningrum pada Fatimah.

“Kenapa?” Fatimah menatap Maryam.

Maryam menjawab, “Saya tidak sakit parah, hanya sakit maag. Sebentar lagi juga sembuh. Biasanya begitu.”

Fatimah menyentuh kening Maryam, lantas bicara, “Kamu itu bukan hanya sakit maag, tapi juga demam. Sebaiknya kamu tidak sendirian. Mending sekarang kamu telepon saja saudara yang bisa diminta bantuan untuk
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Mencintai Seorang Climber   bab 396. Bukti Kebohongan

    Zakki merasa tidak senang karena istrinya tiba-tiba muncul di ruang makan, dan langsung nimbrung dalam percakapan, itu pun dengan cara membantah ucapan Pak Ardi,“Anita, sebaiknya kamu bersikap sopan pada orang tua!” tegur Zakki.“Maafkan saya Pa, Ma.” Anita menghampiri kedua mertuanya, mencium tangan mereka.Pak Ardi menatap Anita yang tampak pucat dan lelah. Anita baru saja cuci muka, tidak sempat memoles wajah dengan bedak, karena dia khawatir suaminya salah omong soal bayi itu. Anita tidak mau Pak Ardi terus saja mempertanyakan asal-usul Calvin.Namun yang tidak diduga oleh Anita, alasan dari pertanyaan Pak Ardi soal asal-usul Calvin, soal siapa ibu kandung Calvin, ternyata berkaitan dengan pewarisan perusahaan. Pak Ardi kembali bicara, bahwa dia membangun seluruh bisnisnya dari nol, dengan susah payah. Maka dia tidak mau ada seseorang yang “bawa sial” ikut masuk dalam manajemen perusahaan. Menurut Pak Ardi, anak hasil “khilaf sesaat” adalah seseorang yang bakal bawa sial jika kel

  • Mencintai Seorang Climber   bab 395. Khilaf Sesaat

    Keesokan hari, usai salat subuh, Marco bersiap pergi.“Bang, di luar masih gelap. Mau ke mana?” tanya Maryam.Marco menatap istrinya yang masih pakai mukena, duduk di sajadah, menekuni Alquran. Itulah aktivitas Maryam usai salat subuh. Sering kali Marco melihat mata Maryam yang basah setelah zikir panjang dan membaca Alquran. Mata seorang istri yang merasa dirinya tidak berguna, karena tidak bisa melahirkan bayi yang hidup. Seperti itulah runtuhnya mental Maryam, terpuruk, dan sedang berusaha dibangkitkan lagi semangatnya.Sementara di sana, ada seorang bayi, yang berusaha disembunyikan oleh kakaknya, oleh mamanya. Bayi yang masih dipertanyakan siapa ibu kandungnya. “Aku mau ke vila, kamu mau ikut? Kamu belum pernah diajak ke vila milik keluargaku.” Ingin rasanya Marco mengatakan hal itu, tapi dia berpikir ulang.“Ada keluargaku di vila, mungkin mereka akan membahas tentang bayi itu. Lantas apa yang akan kulakukan ketika aku datang ke hadapan mereka? Aku akan membeberkan semua yang a

  • Mencintai Seorang Climber   bab 394. Kebohongan Harus Diakhiri

    Pak Ardi tidak mengerti, kenapa cucunya tidak boleh dibawa ke rumah.Bu Marianne menjelaskan, “Sekarang sudah malam, Pa. Masak mau membawa bayi ini malam-malam? Biarlah Calvin tinggal di vila ini bersama Maisaroh. Biar bagaimana pun, kita ini kan, orang lain buat Maisaroh. Ibu yang lagi menyusui itu mesti dibuat tenang hatinya, supaya lancar ASI. Vila ini cocok untuk tempat tinggal sementara buat Maisaroh. Di sini sepi, Maisaroh bisa lebih bebas tinggal di sini, lebih tenang. Penjaga vila kan, tinggalnya di paviliun bagian belakang, terpisah dari bangunan yang ditempati oleh Maisaroh. Coba kalau Maisaroh tinggal di rumah kita, dia pasti merasa canggung karena banyak orang.”“Di rumah kita juga ada paviliun yang terpisah dari rumah utama, Maisaroh bisa tinggal di paviliun rumah kita, seolah tinggal di rumah pribadi, enggak campur baur dengan yang lain. Kenapa dia mesti tinggal di vila?”“Udara di sini juga lebih segar dan sehat buat bayi.”“Memangnya udara di rumah kita penuh polusi? T

  • Mencintai Seorang Climber   bab 393. Bayi yang Disembunyikan

    Mobil Marco tiba di jalan menuju vila. Dari kejauhan Marco sudah melihat mobil milik mamanya yang terparkir di halaman depan vila. Marco tidak lanjut melajukan mobilnya memasuki jalan kecil menuju vila milik keluarganya itu, dia malah mengendarai mobilnya menjauhi area tersebut. Marco tiba di jalan desa, lantas dia memilih parkir mobil itu di depan sebuah bengkel kecil yang sudah tutup. Ada orang yang tinggal di bangunan kecil yang jadi tempat menyimpan peralatan bengkel. Marco kenal dengan orang itu. Dia mengetuk pintu.“Eh, ada Den Marco. Ada apa, malam-malam ke sini?”“Kang, mau titip mobil ya.” bisik Marco, “saya mau ke vila, di sana lagi ada keluarga saya. Mereka enggak tahu saya mau datang. Saya mau bikin kejutan, surprise gitu lah.”“Oh, begitu. Ya sudah, taruh saja mobilnya di belakang bengkel ini. Di sini masih lahan punya saya.”Setelah memarkir mobilnya di belakang bengkel itu, Marco kembali menemui pemilik bengkel. “Nuhun atuh Kang, ini ada sedikit buat ngopi malam-malam.”

  • Mencintai Seorang Climber   bab 392. Membuat Kebohongan Baru

    Zakki yang sedang berada di rumah barunya, di Serang, Banten, menerima chat dari mamanya.Mama: (Papa sudah tahu soal Humaira yang bukan istri sirimu.)Zakki: (Bagaimana Papa bisa tahu?)Mama: (Mungkin Papa menyuruh orang untuk menyelidiki.)Zakki: (Sebatas apa yang diketahui Papa?)Mama: (Sebatas Humaira bukan istri sirimu. Papa marah sekali, mengira bayi itu hanya fiktif. Sekarang Mama sedang dalam perjalanan ke vila Cihideung, karena Papa mau melihat cucunya.)Zakki: (Kalau Papa tahunya sebatas itu, gak apa-apa, aman Ma.)Mama: (Papa tanya siapa ibu dari bayi itu? Mama mesti jawab apa?)Zakki: (Bilang aja gak kenal. Biar nanti aku yang jelaskan sama Papa.)Mama: (Kamu mau datang ke Bandung?)Zakki: (Ya Ma, biar Papa mendengar penjelasan dari mulutku.)Mama: (Mau kamu jawab apa, kalau Papa tanya siapa ibu bayi itu?)Zakki: (Nanti aku pikirkan lagi.)Mama: (Zakki, kalau kamu membuat kebohongan baru, lama-lama bakal ketahuan juga. Papa bisa makin marah.)Zakki termenung setelah menjaw

  • Mencintai Seorang Climber   Bab 391. Siapa Ibu Bayi Itu?

    Pak Ardi makan malam sembari menunggu istrinya pulang. Ketika Bu Marianne tiba di rumah pada pukul 19:40, dia agak kaget melihat suaminya ada di ruang makan. Biasanya Pak Ardi pulang kerja di atas pukul delapan malam, dan sering makan malam di luar rumah.Bu Marianne mencuci tangan di wastafel, lantas duduk di dekat suaminya. Seorang ART datang, menanyakan apa yang ingin dimakan oleh Bu Marianne, tapi Bu Marianne menggeleng karena dia sudah makan di sore hari bersama staf butiknya.“Maryam ke mana? Dia enggak makan malam?” Bu Marianne menanyakan menantunya.“Jam segini biasanya Neng Maryam lagi baca Alquran di kamarnya. Neng Maryam biasa makan sore jam lima, setelah itu enggak makan lagi sampai besok pagi sarapan. Kecuali kalau Den Marco lagi libur, barulah makan malamnya menyesuaikan dengan kebiasaan Den Marco.” Demikian jawab ART.Selesai makan, Pak Ardi bicara pada istrinya, “Ayo ke ruangan kerja, ada yang mau saya bicarakan!”Dalam ruangan kerja Pak Ardi, yang dihiasi maket gedung

  • Mencintai Seorang Climber   bab 350. Pulih Sama-Sama

    Anita menatap suaminya, senyum tipis mengembang di bibirnya. “Apa iya, Maryam bisa menggeser posisiku sebagai menantu utama? Sedangkan untuk urusan anak saja, Mama bersedia sekongkol dengan kita untuk mengambil bayinya Maryam.”Zakki menjawab, “Ssst, sudahlah. Bayi itu milik kita, secara hukum dia

  • Mencintai Seorang Climber   bab 348. Kepulangan

    Zakki dan Anita merasa khawatir akan kepulangan Marco. Mereka mendiskusikan bagaimana cara menghindarkan bayi mereka supaya tidak dilihat oleh Marco dan Maryam.Zakki bicara, “Kita punya keluarga besar. Kalau setahu mereka kita punya bayi, maka kita mesti perlihatkan bayi itu ke hadapan keluarga, a

  • Mencintai Seorang Climber   bab 347. Berharap Duka Berlalu

    Aparat melakukan konferensi pers, mengabarkan tentang seorang komandan distrik berpangkat Letnan Kolonel yang berhasil membebaskan seluruh sandera dari tangan kelompok separatis di pegunungan wilayah timur. Sandera yang berjumlah delapan orang telah dibawa turun gunung.Para jurnalis lokal bertanya

  • Mencintai Seorang Climber   bab 346. Menawar Tebusan

    Pimpinan kelompok separatis mengamati beberapa lembar uang yang dia ambil secara random, semua tampak asli, uang pecahan 20 dolar.Komandan bicara, “Seratusribu dolar, kalau dibikin uang rupiah, nilainya lebih dari 1,5 miliar. Saya kira jumlah ini cukup untuk menebus semua sandera. Biarkan saya baw

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status