Se connecterBimo sang detektif swasta berada di rumah dan sedang berbincang dengan istrinya. Bimo menceritakan soal pencariannya terhadap seorang wanita bernama Humaira, yang kemungkinan melahirkan di Klinik Bersalin Harapan Ummi. Masalahnya, peristiwa melahirkan itu terjadi sekitar tiga bulan lalu. Bimo belum menemukan cara untuk menyelidiki hal itu.Istri Bimo bernama Titin, dia pergi ke kamar, mengambil ponselnya. Dia membuka grup WA Alumni dari sebuah akademi keperawatan tempatnya menuntut ilmu.“Ada satu alumni yang kerja sebagai perawat di klinik bersalin itu. Namanya Astuti, aku kenal dia.” Titin menatap suaminya, “urusan istri kedua itu, biar aku yang menyelidiki, ya?”Bimo berpikir sejenak. “Baiklah. Kita akan membuktikan, apakah benar istri muda Zakki melahirkan di Klinik Bersalin Harapan Ummi?”“Kalau sudah ada buktinya, terus gimana?”Bimo menyeringai, “Kita akan melihat, siapa yang bohongnya paling besar!”***Keesokan harinya, menjelang siang, Bimo memesan taksi, bersama istri dan k
Bimo terlibat percakapan dengan Bi Inah, tentang Maisaroh yang menyusui bayi dari istri mudanya Zakki. Bimo mengira, Maisaroh sudah banyak mengobrol dengan Bi Inah, ketika sedang berada di mess, dalam pengawasan Bi Inah.Bimo bertanya, “Kalau enggak kenal, bagaimana Maisaroh bisa menyusui bayi dari wanita lain?”Bi Inah menjelaskan sesuai yang dia ketahui, “Kata Saroh, mulanya suaminya kerja renovasi bangunan bengkel punya Den Zakki. Suaminya Saroh mendengar Den Zakki menelepon seseorang, mencari ibu susu buat bayinya. Suami Maisaroh memberanikan diri menawarkan istrinya untuk menyusui bayi itu. Ternyata Den Zakki setuju.”“Jadi Maisaroh dikasi bayi dari Den Zakki?”“Enggak begitu, Pak. Kata Maisaroh, dia dan suaminya disuruh datang ke sebuah klinik bersalin di Kabupaten Bandung.”“Klinik apa?”“Katanya nama klinik itu “Harapan Ummi”. Di sana, bayi itu diserahkan sama perawat, ke tangan Maisaroh dan suaminya. Begitu ceritanya.”“Oooh, jadi mungkin istri kedua Den Zakki melahirkan di k
Bimo sebenarnyan pesimis jika pemilik warung yang pernah mengobrol dengannya itu, akan menghubungi nomornya. Dia pikir pemilik warung itu hanya berbasa-basi mengobrol dengannya dan memperlihatkan rasa simpati. Namun ternyata pada pukul delapan malam, pemilik warung itu menghubungi nomor Bimo melalui chat.(Ini nomornya bapak yang tadi siang mampir ke warung saya, mau mencari kerabatnya Bi Inah?)Bimo : Iya, benar. Ada kabar baik, Bu?”(Bapak masih mencari ibu susu untuk bayi?)Bimo : Masih.(saya sudah ngomong sama Bi Inah. Kalau bisa, Bapak datang ke warung saya, Bi Inah mau ketemu dengan Bapak.)Bimo : Apakah sekarang warung Ibu masih buka?”(Warung saya tutup jam sepuluh malam.)Bimo yang sudah ada di rumah, segera memacu motornya menuju kawasan Dago, tapi di bagian pemukiman padat kelas menengah ke bawah. Bimo memarkir motor di depan warung sembako yang tadi siang disambanginya. Ternyata di dalam sudah ada seorang wanita usia separuh abad.“Ini Bi Inah.” ucap pemilik warung.“Nama
Bimo, mantan polisi yang jadi detektif swasta, sudah mendapatkan nomor ponsel Ridan, suami Maisaroh. Nomor itu didapat dari tetangga Ridan. Kesaksian Ridan tentang bayi itu sangat penting. Bimo ingin tahu, siapa yang menitipkan bayi itu kepada istri Ridan? Bimo yakin, hanya Ridan yang tahu siapa orang itu, sedangkan istrinya hanya dititipi bayi, yang diberikan oleh suaminya. Bimo menghubungi nomor Ridan, tapi nomor itu tidak aktif. Entah ponsel Ridan dimatikan, atau posisi Ridan sedang berada di daerah yang tidak ada sinyal telepon.Akhirnya Bimo berjalan ke luar dari kafe. Seorang juru parkir mendekatinya. Sebenarnya juru parkir itulah yang sedang ditunggu oleh Bimo.“Kang, sudah lama kerja parkir di sini?” tanya Bimo.“Sudah Pak.”“Tahu atuh soal butik di seberang itu?”“Oh, itu butik punya Ibu Marianne. Ada apa, Pak? Mau belanja di sana, tapi isin?” juru parkir itu menyeringai, “di sana memang jualannya baju perempuan, tapi enggak apa-apa kalau laki-laki mau belanja sendirian, tanp
Bimo masih berbincang dengan seorang wanita yang merupakan tetangga Maisaroh. Bimo berusaha mencari tahu nomor telepon Maisaroh, ataupun suaminya.Bimo berujar, “Begini, nasabah bank memang mencatatkan nomor telepon pada datanya, tapi nomornya Ibu Maisaroh dan suaminya ternyata tidak aktif. Makanya saya ke sini, karena nomor mereka tidak bisa dihubungi. Saya pengin tahu, mereka serius atau tidak, soal pinjaman itu.”Bimo melihat seorang anak laki-laki usia sekitar 10 tahunan, memakai seragam SD, datang ke rumah tetangga Maisaroh, lantas duduk di bale-bale bambu depan rumah itu sembari melepas sepatu dan kaus kakinya.“Ini putra Ibu?” tanya Bimo.“Iya, anak sulung saya.”“Mah, buku tulis sudah penuh, mau beli lagi.” ucap anak itu.“Uang mamah barusan sudah dipakai buat belanja. Nanti tunggu bapak pulang, mudah-mudahan banyak penumpang.”Mendengar obrolan ibu dan anak itu, hati Pak Bimo meleleh. Hanya sekadar buku tulis, wanita itu ternyata tidak punya uang untuk membelinya. Anaknya har
Marco mengambil kertas hasil tes DNA yang masih dipegang oleh Maryam. Dia melipat kertas itu, dimasukkan lagi ke dalam tas kerjanya.Maryam masih terus bertanya, “Kenapa Abang melakukan tes DNA pada seorang bayi? Siapa wanita yang melahirkan bayi itu? Abang menjalin hubungan dengan wanita lain?”Marco menjawab, “Sekarang kamu pikirkan pakai logika!” Marco menyentuh pelipis Maryam. “Kalau misalnya aku punya hubungan pribadi dengan wanita lain, dan saat ini ada bayi yang lahir, coba kamu hitung mundur selama ... sembilan bulan, sampai setahun deh!”“Buat apa?” Maryam cemberut.“Coba saja hitung mundur, kamu tahu ada di mana aku pada saat sembilan bulan lalu.”“Ada di Makassar.”“Pada saat itu, dengan siapa aku hidup di Makassar?”“Dengan aku .... ““Lantas kalau aku hidup denganmu, siapa yang bakal hamil anakku?”Maryam masih cemberut. “Tapi waktu itu Abang kan, sering bepergian ke banyak tempat, sampai beberapa hari enggak pulang.”“Terus kenapa pada saat itu kamu enggak cemburu? Padah
Maryam tidak mengira bakal bertemu dengan Bi Rumsih, seorang ART yang pernah dilihatnya bekerja untuk keluarga Marco.“Jadi Bibi berhenti kerja dari rumahnya Marco?”“Iya, tadinya mah bibi pamit berhenti sama Ibu Marian, karena bibi mau nguruisn orang tua yang sudah sakit parah, di kampung bibi, di
Maryam merasa risih ketika seorang gadis kecil berusia 5 tahun memanggil “Bunda” padanya, kemudian mencium tangannya.“Bunda, tadi aku pegi cekolah diantal Oma. Kalau Bunda udah cembuh, Bunda antal aku cekolah ya?” Suara anak itu masih cadel, tapi Maryam bisa memahami ucapannya. Anak itu ingin dian
Setelah mendapati bahwa rumah milik Heru itu tak berpenghuni, para polisi yang berjumlah empat orang, plus Marco, segera berpencar. Mereka mencari tetangga untuk bertanya. Seorang polisi bahkan pergi dengan motornya untuk mengecek rumah Farida, yang sebelumnya sudah pernah didatangani oleh staf RS.
Marco mengenal Inspektur Polisi Binsar Siagian ketika masih kuliah, sekitar dua tahun lalu. Ketika itu Binsar adalah penyidik untuk kasus kematian di homebase pencinta alam, di kampus Marco. Dalam percakapan telepon, Marco bilang ingin bertemu dan minta bantuan Binsar. “Datang saja ke kantin di ma







