MasukZakki merasa tidak senang karena istrinya tiba-tiba muncul di ruang makan, dan langsung nimbrung dalam percakapan, itu pun dengan cara membantah ucapan Pak Ardi,“Anita, sebaiknya kamu bersikap sopan pada orang tua!” tegur Zakki.“Maafkan saya Pa, Ma.” Anita menghampiri kedua mertuanya, mencium tangan mereka.Pak Ardi menatap Anita yang tampak pucat dan lelah. Anita baru saja cuci muka, tidak sempat memoles wajah dengan bedak, karena dia khawatir suaminya salah omong soal bayi itu. Anita tidak mau Pak Ardi terus saja mempertanyakan asal-usul Calvin.Namun yang tidak diduga oleh Anita, alasan dari pertanyaan Pak Ardi soal asal-usul Calvin, soal siapa ibu kandung Calvin, ternyata berkaitan dengan pewarisan perusahaan. Pak Ardi kembali bicara, bahwa dia membangun seluruh bisnisnya dari nol, dengan susah payah. Maka dia tidak mau ada seseorang yang “bawa sial” ikut masuk dalam manajemen perusahaan. Menurut Pak Ardi, anak hasil “khilaf sesaat” adalah seseorang yang bakal bawa sial jika kel
Keesokan hari, usai salat subuh, Marco bersiap pergi.“Bang, di luar masih gelap. Mau ke mana?” tanya Maryam.Marco menatap istrinya yang masih pakai mukena, duduk di sajadah, menekuni Alquran. Itulah aktivitas Maryam usai salat subuh. Sering kali Marco melihat mata Maryam yang basah setelah zikir panjang dan membaca Alquran. Mata seorang istri yang merasa dirinya tidak berguna, karena tidak bisa melahirkan bayi yang hidup. Seperti itulah runtuhnya mental Maryam, terpuruk, dan sedang berusaha dibangkitkan lagi semangatnya.Sementara di sana, ada seorang bayi, yang berusaha disembunyikan oleh kakaknya, oleh mamanya. Bayi yang masih dipertanyakan siapa ibu kandungnya. “Aku mau ke vila, kamu mau ikut? Kamu belum pernah diajak ke vila milik keluargaku.” Ingin rasanya Marco mengatakan hal itu, tapi dia berpikir ulang.“Ada keluargaku di vila, mungkin mereka akan membahas tentang bayi itu. Lantas apa yang akan kulakukan ketika aku datang ke hadapan mereka? Aku akan membeberkan semua yang a
Pak Ardi tidak mengerti, kenapa cucunya tidak boleh dibawa ke rumah.Bu Marianne menjelaskan, “Sekarang sudah malam, Pa. Masak mau membawa bayi ini malam-malam? Biarlah Calvin tinggal di vila ini bersama Maisaroh. Biar bagaimana pun, kita ini kan, orang lain buat Maisaroh. Ibu yang lagi menyusui itu mesti dibuat tenang hatinya, supaya lancar ASI. Vila ini cocok untuk tempat tinggal sementara buat Maisaroh. Di sini sepi, Maisaroh bisa lebih bebas tinggal di sini, lebih tenang. Penjaga vila kan, tinggalnya di paviliun bagian belakang, terpisah dari bangunan yang ditempati oleh Maisaroh. Coba kalau Maisaroh tinggal di rumah kita, dia pasti merasa canggung karena banyak orang.”“Di rumah kita juga ada paviliun yang terpisah dari rumah utama, Maisaroh bisa tinggal di paviliun rumah kita, seolah tinggal di rumah pribadi, enggak campur baur dengan yang lain. Kenapa dia mesti tinggal di vila?”“Udara di sini juga lebih segar dan sehat buat bayi.”“Memangnya udara di rumah kita penuh polusi? T
Mobil Marco tiba di jalan menuju vila. Dari kejauhan Marco sudah melihat mobil milik mamanya yang terparkir di halaman depan vila. Marco tidak lanjut melajukan mobilnya memasuki jalan kecil menuju vila milik keluarganya itu, dia malah mengendarai mobilnya menjauhi area tersebut. Marco tiba di jalan desa, lantas dia memilih parkir mobil itu di depan sebuah bengkel kecil yang sudah tutup. Ada orang yang tinggal di bangunan kecil yang jadi tempat menyimpan peralatan bengkel. Marco kenal dengan orang itu. Dia mengetuk pintu.“Eh, ada Den Marco. Ada apa, malam-malam ke sini?”“Kang, mau titip mobil ya.” bisik Marco, “saya mau ke vila, di sana lagi ada keluarga saya. Mereka enggak tahu saya mau datang. Saya mau bikin kejutan, surprise gitu lah.”“Oh, begitu. Ya sudah, taruh saja mobilnya di belakang bengkel ini. Di sini masih lahan punya saya.”Setelah memarkir mobilnya di belakang bengkel itu, Marco kembali menemui pemilik bengkel. “Nuhun atuh Kang, ini ada sedikit buat ngopi malam-malam.”
Zakki yang sedang berada di rumah barunya, di Serang, Banten, menerima chat dari mamanya.Mama: (Papa sudah tahu soal Humaira yang bukan istri sirimu.)Zakki: (Bagaimana Papa bisa tahu?)Mama: (Mungkin Papa menyuruh orang untuk menyelidiki.)Zakki: (Sebatas apa yang diketahui Papa?)Mama: (Sebatas Humaira bukan istri sirimu. Papa marah sekali, mengira bayi itu hanya fiktif. Sekarang Mama sedang dalam perjalanan ke vila Cihideung, karena Papa mau melihat cucunya.)Zakki: (Kalau Papa tahunya sebatas itu, gak apa-apa, aman Ma.)Mama: (Papa tanya siapa ibu dari bayi itu? Mama mesti jawab apa?)Zakki: (Bilang aja gak kenal. Biar nanti aku yang jelaskan sama Papa.)Mama: (Kamu mau datang ke Bandung?)Zakki: (Ya Ma, biar Papa mendengar penjelasan dari mulutku.)Mama: (Mau kamu jawab apa, kalau Papa tanya siapa ibu bayi itu?)Zakki: (Nanti aku pikirkan lagi.)Mama: (Zakki, kalau kamu membuat kebohongan baru, lama-lama bakal ketahuan juga. Papa bisa makin marah.)Zakki termenung setelah menjaw
Pak Ardi makan malam sembari menunggu istrinya pulang. Ketika Bu Marianne tiba di rumah pada pukul 19:40, dia agak kaget melihat suaminya ada di ruang makan. Biasanya Pak Ardi pulang kerja di atas pukul delapan malam, dan sering makan malam di luar rumah.Bu Marianne mencuci tangan di wastafel, lantas duduk di dekat suaminya. Seorang ART datang, menanyakan apa yang ingin dimakan oleh Bu Marianne, tapi Bu Marianne menggeleng karena dia sudah makan di sore hari bersama staf butiknya.“Maryam ke mana? Dia enggak makan malam?” Bu Marianne menanyakan menantunya.“Jam segini biasanya Neng Maryam lagi baca Alquran di kamarnya. Neng Maryam biasa makan sore jam lima, setelah itu enggak makan lagi sampai besok pagi sarapan. Kecuali kalau Den Marco lagi libur, barulah makan malamnya menyesuaikan dengan kebiasaan Den Marco.” Demikian jawab ART.Selesai makan, Pak Ardi bicara pada istrinya, “Ayo ke ruangan kerja, ada yang mau saya bicarakan!”Dalam ruangan kerja Pak Ardi, yang dihiasi maket gedung
Ketika dokter memberikan surat hasil pemeriksaan terhadap Zakki, dokter sudah berusaha menjelaskan kondisinya, tapi Zakki tidak paham, atau tidak ingin paham karena sulit bagi seorang pria yang mulanya normal, harus menerima penjelasan bahwa dirinya bakal sulit punya anak.“Masih bisa dengan cara b
Bu Marianne menatap menantunya.“Mungkin kalian harus mulai memikirkan saran dokter, punya anak melalui proses bayi tabung. Kabarnya bahkan proses itu punya peluang dapat anak kembar.”Anita terdiam.“Kamu enggan karena biaya yang mahal?”“Ya, biayanya mahal, dan bagi kami, mungkin peluang keberhas
Anita, istri Zakki, memilih untuk kembali ke rumahnya. Tiba di ruang tengah rumahnya, dia duduk bersandar di sofa, mengambil ponsel, mau menelepon suaminya, tapi ternyata nomor Zakki sedang tidak aktif. Anita mengira ponsel Zakki sedang diisi daya.Anita membuka galeri ponselnya, melihat beberapa f
Sopir itu menyanggupi untuk menemui seorang pria yang bekerja di kantor distrik. Sore hari sopir itu datang lagi ke hotel, bersama seorang pria usia awal 40 tahunan, yang memperkenalkan dirinya sebagai Alom. Pak Ardi mempersilakan sopir itu menunggu di kafe hotel, sambil minum kopi dan makan kudapa







