ANMELDEN“Sekarang aku minta dengan hormat untuk Mas Aldo, Ibu, dan Sherly... untuk tidak lagi mencampuri urusan pribadiku.”Aldo terdiam.Anisa pun tidak mengatakan sepatah katapun.Sebenarnya aku ingin menjelaskan, namun apa pun yang kukatakan, tidak akan mengubah masa lalu.Dan aku tidak lagi membutuhkan pengakuan mereka untuk menentukan hidupku.Aku sudah terlalu lama merasa harus menjelaskan kepada orang lain mengapa aku pergi dari Aldo.Harus menjelaskan bahwa aku tidak berselingkuh.Padahal sekarang aku sadar...Aku tidak perlu memberikan konfirmasi kepada siapa pun tentang siapa yang akan kupilih untuk menjalani hidupku.Karena yang akan menjalaninya adalah aku.Bukan mereka.Aku menarik napas panjang.Kemudian menatap Aldo dengan tenang.Aku melanjutkan dengan suara yang lebih lembut.“Ku mohon kalian pergi dari rumah Ibuku.”Aku berhenti sejenak.“Kalau kalian ingin bertemu dengan anak-anak, besok bisa kembali lagi. Kebetulan mereka sedang liburan dengan nenek dan bibinya.”Aldo mena
"Aku tidak pernah berselingkuh.”Suaraku bergetar, tetapi kali ini aku tidak peduli.“Aku tidak pernah meninggalkan Mas Aldo demi Pak Franky.”Mas Aldo menatapku tanpa berkedip.Aku melanjutkan dengan suara yang lebih tenang.“Aku pergi karena pernikahan kita sudah terlalu lama membuatku merasa tidak dihargai. Aku lelah terus-menerus dicurigai, disalahkan, dan dipaksa bertahan dalam keadaan yang perlahan membuatku kehilangan diriku sendiri.”Air mataku kembali jatuh.“Tapi aku tidak pernah mengkhianati Mas Aldo.”“Bohong…”Sherly menggeleng cepat.Aku menatapnya.“Kalau kamu masih ingin menuduhku, silakan. Tapi kali ini aku tidak akan diam.”Sherly terdiam.Aku mengalihkan pandangan kepada Mas Aldo.“Dan Mas…”Aku menarik napas dalam-dalam.“Aku tidak mau kembali.”Wajahnya seketika berubah.“Aku sudah terlalu lama berusaha menyelamatkan pernikahan kita. Sekarang, aku hanya ingin menyelamatkan diriku sendiri.”Mas Aldo tampak kehilangan kata-kata.Aku kemudian menatap Anisa.“Bu, kala
Aku tidak tahu mengapa hanya dengan melihat kedatangan Pak Franky, dadaku yang sejak tadi terasa sesak tiba-tiba sedikit lebih lega.Aku tidak lagi merasa sendirian.Sepertinya beliau menyadari sesuatu sedang terjadi hanya dengan melihat dua mobil terparkir di halaman rumah ibuku.Mobil Mas Aldo.Dan satu lagi mobil milik Sherly.Pak Irwan berjalan beberapa langkah di belakangnya. Tatapannya langsung menyapu ruang tamu, kemudian berhenti pada Aldo yang masih berdiri dengan pipi memerah bekas tamparan.Pak Franky sendiri tidak mengatakan apa-apa.Aku melihat sorot matanya berubah tipis.“Kamu tidak apa-apa, Karin?”Suara Pak Franky terdengar tenang.Aku menggeleng, tetapi mataku justru mulai panas.Aku tidak ingin menangis di hadapannya.Namun semua yang sejak tadi kutahan seolah runtuh begitu mendengar suaranya.Anisa mendengus.“Bagus sekali. Orang yang kita bicarakan akhirnya datang juga.”Aku menoleh.Pak Franky tetap diam.“Ini laki-laki yang selama ini membuat rumah tangga anak s
"Aku ingin kita kembali.”Dadaku terasa sesak.Namun kali ini bukan karena rindu.Lebih karena aku tidak menyangka dia masih bisa mengatakan kalimat itu setelah semuanya yang terjadi.Aku sedang sendirian di rumah ketika suara ketukan terdengar dari depan.Ibu sedang pergi bersama Dinda, Alka, dan Kenzie. Mereka sengaja mengajak anak-anak berlibur beberapa hari agar rumah tidak terlalu sepi.Aku mengira mereka sudah pulang.Namun begitu pintu kubuka, langkahku langsung terhenti.Mas Aldo.Dia berdiri di depan rumah dengan wajah yang sulit kubaca."Aku akan memperbaiki kesalahanku padamu."Aku menggeleng pelan.“Sudah tidak bisa, Mas.”“Kenapa tidak?”“Kita sudah bercerai.”“Kita bisa menikah lagi.”Aku menatapnya.“Mas sudah menjatuhkan talak tiga kepadaku.”Wajahnya berubah.“Aku tahu.”Mas Aldo masuk dan duduk di ruang tamu.Aku memilih duduk berseberangan dengannya.Ada jarak yang cukup jauh di antara kami.Dulu, jarak seperti itu mungkin tidak berarti apa-apa.Sekarang, justru ter
“Saya bukan Boss kamu lagi.”Wajahnya mendekat.Aku seketika membeku.Jarak kami yang tiba-tiba menjadi dekat membuat jantungku berdegup lebih cepat. Senyum tipis di sudut bibirnya justru membuatku semakin sulit berkata-kata.“Panggil saya sesukamu, tapi jangan Bapak,” bisiknya. “Saya masih seusia mantan suamimu.”Aku menelan ludah.Entah kenapa, hanya mengganti satu panggilan sederhana terasa begitu sulit.Selama bertahun-tahun, aku terbiasa memanggilnya Pak Franky. Ada jarak yang selalu kujaga di antara kami.Namun sekarang…Beliau justru sedang memintaku menghilangkan jarak itu.Aku hanya mengangguk kecil.Pak Franky tersenyum.“Kalau mau, panggil saya Sayang.”Aku langsung menatapnya.“Cinta.”Beliau terkekeh melihat ekspresiku.Wajahku pasti sudah memerah.“Bapak ini…”Alisnya terangkat.“Katanya jangan panggil Bapak.”Aku langsung terdiam.Beliau tertawa pelan.“Kalau begitu, panggil saya Mas. Seperti kebanyakan panggilan laki-laki di sini.”Aku menarik napas.“Iya, Pak…”Aku be
“Sekarang kamu bisa minta apa saja dariku, Karin.”Suara Mas Aldo terdengar dari seberang telepon.“Kamu mau rumah baru? Mobil mewah? Tas mahal? Atau apa pun yang kamu inginkan, aku sudah bisa memenuhi semuanya.”Aku terdiam.Beberapa tahun lalu, kalimat seperti itu mungkin akan membuatku bahagia.Dulu aku pernah berharap Mas Aldo mendapatkan pekerjaan yang baik. Bukan demi rumah mewah atau barang mahal, tetapi karena aku ingin melihatnya bangkit. Aku ingin suamiku memiliki kehidupan yang membuatnya bangga.Namun sekarang, ketika semua yang dulu dia impikan sudah bisa dimilikinya, hatiku justru terasa biasa saja.“Simpan saja untuk kebutuhan anak-anak kita nanti, Mas.”Aku menjawab pelan.“Aku tidak butuh semua itu darimu.”“Karin…”“Aku harus pergi. Kenzie sedang mencariku.”Aku segera mengakhiri telepon sebelum percakapan itu semakin panjang.Ponselku masih berada di tangan ketika aku menghampiri Kenzie kecilku.Untuk apa Mas Aldo memamerkan keberhasilannya sekarang?Aku tidak perna







