Share

Bab 223

Author: Naiynana
last update publish date: 2026-03-09 15:27:26

Kalea berdiri berhadapan dengan Ginna. Keduanya saling tatap sebelum akhirnya tertawa bersama-sama.

Perut keduanya sudah besar, terutama Kalea karena terpaut empat minggu. Dan dengan sadar, mereka saling menempelkan perut satu sama lain.

“Bukankah ini ajaib? Mungkin saja sebenarnya, kita saling menunggu agar bisa hamil bersamaan. Agar kita bisa bahagia sama-sama!” Ginna berseru dengan nada cerianya.

“Bisa jadi!” Keduanya pun tertawa lagi.

“Tapi … ya Tuhan, Lea. Serius kita mau nongkrong sama ne
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (14)
goodnovel comment avatar
Larose
anak² papa...meskipun terhura entah knp perasaanku juga gak enak
goodnovel comment avatar
Joezeus Maria Catalanoto
ada yg naroh bawang nih disini...
goodnovel comment avatar
Rosyani Rini
peluk Hamish selagi masih bisa... mewek lagi!!!
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Mencuri Hati Tuan Hamish   Bab 302

    “Aaaargghh!” “Aarrggghh!” “Wait! Wait! Arrgghhhh!” “Noooo! Aaarrgggh!”Ling Ling menengok ke arah ruang perawatan tubuh, begitu juga kawan-kawannya yang lain. Di luar jendela salon, suara klakson tuk-tuk dan hiruk-pikuk Jalan Sukhumvit terdengar bersahut-sahutan, tapi suara teriakan William dari dalam ruangan masih kalah nyaring. Pemuda itu berteriak seolah-olah sedang diinterogasi agen rahasia.“Itu si Willy gak apa-apa, kah?” tanya Donna, cemas.“Lagi diapain dia di dalam? Mana terapisnya dari tadi ngomong Khab-khab terus, jangan-jangan Willy di-SmackDown?” Ling Ling ikut bertanya-tanya, lehernya memanjang berusaha mengintip dari balik tirai sutra khas Thai.“Tenang saja, paling dia lagi dipijat dan dilulur,” jawab Martha menenangkan. “Ini salon tradisional paling populer di Bangkok. Semua lulur, spa, semua racikan sendiri dengan resep-resep kecantikan khas Kerajaan Thailand kuno. Lihat saja review di internet. Ratingnya bagus-bagus.”Para wanita menuju lansia yang sedang menikmati

  • Mencuri Hati Tuan Hamish   bab 301

    Sepasang mata berkacamata mengintip dari balik kerumunan orang-orang yang berteduh dari derasnya hujan. Mata itu milik William. Pemuda yang diam-diam tengah mengamati ke arah toko bunga.Shaynala ada di sana. Berdiri bingung menatap bunga dan payung di tangannya.Gadis itu berkali-kali melirik arlojinya sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi dengan menggunakan payung tersebut.William tersenyum. Setelahnya, pemuda itu pun turut pergi, berlawanan arah. Berjalan menembus hujan. Basah-basahan dengan hati yang begitu ringan.Tak masalah meski payung satu-satunya ia berikan. Jangankan hanya payung, apa pun ia akan usahakan untuk Shaynala.Sampai di hotel tempatnya menginap bersama sang nenek, William langsung kena omel. Ling Ling marah-marah karena cucu kesayangannya malah hujan-hujanan.“Terus roti pesenan nenek mana?” tanya Ling Ling.“Hah? Astaga! Lupaaa!”Ling Ling berdecak, tetapi tak lanjut marah.“Ya sudah. Mandi sana. Jangan kemana-mana lagi. Harus tidur cepat. Besok kamu harus be

  • Mencuri Hati Tuan Hamish   bab 300

    Shaynala meeting bersama timnya di venue pertandingan akan dilaksanan. Selain untuk mengecek tempat dan segala macamnya, ia juga membahas pertandingan yang sudah di depan mata. Johan berkali-kali memberi catatan-catatan penting tentang kelemahan dan kelebihan Shaynala sepanjang latihan. Pria itu juga tak lupa membahas Tingkat kesulitan dari lawan yang akan dihadapi.“Ivana Frederick. Dia juara bertahan. Dia terkenal dengan pukulan mautnya. Hati-hati. tapi setelah kuamati, dia selalu menyasar bagian kiri. Jadi, kamu harus lebih perhatian ke sana. Jangan sampai memberi celah buat si Ivana mukul bagian kirimu.” Johan menejelaskan.Shaynala manggut-manggut, sambil sesekali mencatat. Rapat pun masih berlangsung hingga setengah jam kemudian.Di luar venue, Arsen sudah pegal menunggu. Ia memang menemani Shaynala, menggantikan Hamish yang sedang ada rapat darurat secara daring.“Ah, lama sekali. Kalian ini sekalian bahas dollar yang makin naik itukah? Pantatku sudah tepos tahu gak?” tanya Ars

  • Mencuri Hati Tuan Hamish   Bab 299

    William berlari dan hampir tersandung trotoar gara-gara mukanya terhalang penuh oleh kibar-kibar daun topi milik Martha yang selebar tempayan. Untung saja di sisinya, dua kawan Ling Ling begitu sigap menariknya agar terus berlari.Beberapa orang menoleh. Terheran-heran melihat gerombolan wanita dengan dress bunga-bunga berlarian seperti tengah dikejar hantu. Ling Ling bahkan sampai mengangkat dressnya hingga selutut agar memudahkannya bergerak.“Haaahhh! Hah! Hah! Hampir sajaaa!” Ling Ling terengah-engah, mengatur napas. Ia dan kawanannya akhirnya bisa menjauh dari restoran tempat Hamish dan Shaynala makan.“Kamu ini bagaimana? Kenapa pilih restoran itu?” Martha protes seraya melepas topinya dari kepala William.“Mana aku tahu kalau Hamish makan di sana. Sepertinya dia mengingap di hotel dekat situ,” jawab Ling Ling.“Di hotel mana kira-kira mereka tinggal. Takut kalau ternyata tahu-tahu satu hotel. Eh, kamu coba tanyakan anakmu. Suruh tanya Hamish dia nginap di hotel mana.” Donna yan

  • Mencuri Hati Tuan Hamish   Bab 298

    BUGGG!Sebuah pukulan keras mengenai samping kepala Johan yang tertutup pelindung. Pria berdarah Ambon itu terhuyung sebelum akhirnya kembali menegakkan tubuhnya.“Apa ada hal baik, Nala?” tanya Johan sambil kembali kuda-kuda.“Kenapa memang?” tanya Shaynala dengan mata tetap waspada, memindai gerak-gerik Johan.“Pukulan-pukulanmu hari ini mengerikan. Tapi meski begitu, energimu tak cepat habis. Pasti moodmu sedang baik sekali. Apa ada kabar bagus? Atau karena ini pertandingan resmi terakhirmu?”Shaynala terdiam sejenak. Pikirannya kembali dipenuhi sosok William. Ia senang karena di sesi les kemarin, ia beberapa kali berinteraksi. Tanya jawab dan sempat saling bertukar senyum beberapa kali.BUGGGG!“Hkkk!”Shaynala terpelanting. Ia baru saja kena pukulan Johan.“Sejak kapan di atas ring bisa melamun, Nala? Hah?” teriak Johan galak.Shaynala terengah, lalu kembali berusaha bangkit.“Sudah kukatakan beribu-ribu kali, jangan pernah membiarkan pikiranmu terpecah! Jangan pernah buat kepala

  • Mencuri Hati Tuan Hamish   Bab 297

    William menggeret kopernya memasuki bandara. Hari ini, ia akan terbang ke Thailand. Perasaannya membuncah-buncah membuatnya tubuhnya panas dingin. Gugup, tegang, senang, juga takut bercampur baur menyesaki dadanya.Ia kemudian berdiri mematung di tengah arus lalu Lalang calon penumpang. Jemarinya mencengkram erat genggaman koper kabin dan paspor yang mulai terasa lembab oleh keringat dingin.“Aku akan kembali bertemu Nala,” gumamnya seraya mendongak. Menatap lurus-lurus sebuah pengumuman jadwal penerbangan elektornik raksasa di hadapannya.Matanya gelisah, memindai baris demi baris teks digital yang terus berganti warna. Mencari satu kata kunci yang sedari tadi membuat jantungnya bertalu: BANGKOK.William mengembuskan napas panjang lewat mulut. Di Bangkok nanti, ia mungkin akan kembali merajut kisah yang sudah lama tersimpan rapi di dalam kotak yang dibiarkan berdebu. Dan ia berharap, perjalanan kali ini akan sukses. Berharap kisahnya bisa berjalan serta berakhir dengan baik.“Will, j

  • Mencuri Hati Tuan Hamish   bab 222

    “Apa?” Sarah yang sedang menggendong Eldan menatap Hamish dan Elias bergantian. Anak dan cucu lelakinya itu mendekatinya dengan wajah-wajah serius.“Ma, Mama yakin mau tinggal di sini?” tanya Elias.“Kalo tak yakin buat apa bicara?” jawab Sarah.“Terus rumah Mama bagaimana? Kosong?” lanjut Elias.“

    last updateLast Updated : 2026-04-05
  • Mencuri Hati Tuan Hamish   Bab 230

    “Papa?” Stephen terkejut melihat ayahnya yang sudah seperti ikan kehabisan air. Wajahnya merah padam, basah penuh keringat bercampur air mata dengan napas yang megap-megap.Sungguh memprihatinkan kondisi pria berambut tipis hampir botak dengan mata segaris itu.“Aiyaaaaa papanya Steve! Ginna yang m

    last updateLast Updated : 2026-04-05
  • Mencuri Hati Tuan Hamish   Bab 220

    Hamish mondar-mandir. Ia sedang menunggu satpam rumahnya yang sengaja ia telpon dan diminta tolong untuk membelikan beberapa tespek.Ia begitu gelisah. Antara harapan yang setinggi gunung dan juga ketakutan akan rasa kecewa.“Kalau misal nanti hasilnya negatif ….”“Ssstt! Tak masalah!” Hamish memot

    last updateLast Updated : 2026-04-04
  • Mencuri Hati Tuan Hamish   Bab 210

    Hamish belum berhenti tertawa melihat tampang cemberut Stephen. Hari ini pria itu berkunjung ke kantor Stephen untuk berkonsultasi.Malam itu, ia menelepon Stephen tetapi tak diangkat dan berikutnya ia sendiri yang mengabaikan telepon dari Stephen, lalu berakhir lupa untuk berkomunikasi.Sekarang,

    last updateLast Updated : 2026-04-04
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status