Share

Twenty seven

Author: Kara
last update Huling Na-update: 2022-11-20 21:25:01

Perasaan tenangku itu ternyata tidak bertahan lama. Saat pintu tertutup dan saat aku menyadari jika aku terjebak di ruangan asing yang hanya berdua dengan Tama, tiba-tiba membuatku canggung.

Lengannya yang mendekapku membuat sekeliling tubuhku memanas. Saat aku mendongak matanya sudah menatap ke mataku. Aku membeku berada di dekatnya.

"Kamu kelihatan pucat hari ini." Dia mengangkat tangannya dan ingin memeriksaku tapi aku refleks mundur. Aku mendorong tangannya dan berdeham.

"Ini idenya Bi Susan," kataku cepat, "soal makan siang ini maksudku, itu idenya dia."

Mata cokelat Tama menyipit dan dia pun terkekeh geli, "Ah ... jadi begitu."

Aku tidak sanggup lagi menatap matanya dan aku pun menoleh untuk menghindar. Aku terperanjat melihat ruangan Tama yang termat lebar. Isinya super lengkap menurutku karena ada mini bar dan juga pantry. Beberapa pot tanaman hias juga ada memberi kesan sejuk yang menyenangkan. Dan untuk beberapa alasan aku merasa familiry dengan ruangan ini.

Aku menoleh lag
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Ike Rahma
lanjut thor....semanagat.....makin penasaran saja nih.....
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Mendadak Hamil Setelah Bangun dari Koma   Tetangga Baru (bag 2)

    Siang datang tanpa banyak perubahan, tapi kejadian pagi itu tidak benar-benar pergi dari benak Aluna. Wanita itu sudah berusaha menjalani hari seperti biasa. Ia menyapu halaman, menjemur pakaian, menyiapkan makan siang. Gerakannya rapi, teratur, seperti orang yang tahu persis apa yang harus dilakukan agar hari tidak berantakan. Namun sesekali, pikirannya melompat kembali ke halaman sebelah, ke kardus yang oleng, ke suara jatuh yang keras, ke tangis singkat yang terasa terlalu ramai untuk pagi yang seharusnya tenang.Ia menegur dirinya sendiri dalam hati.Tidak ada yang perlu dipikirkan terlalu lama.Tapi tetap saja, rasa itu masih tinggal.Triplets kini sudah bermain di ruang tengah. Sesekali mereka melirik ke jendela, memastikan truk pindahan masih ada. Kadang mereka bertanya, “Mama, Tante Mira lagi ngapain?” atau “Mama, nanti boleh main ke sana?” Aluna menjawab singkat, mencoba menjaga antusiasme mereka tetap terkendali.“Nanti, ya," selalu menjadi jawabannya.

  • Mendadak Hamil Setelah Bangun dari Koma   Tetangga Baru

    Pagi itu, rumah sebelah tidak seperti biasanya.Sejak matahari belum sepenuhnya naik, suara mesin sudah terdengar. Truk besar berhenti tepat di depan pagar, menutup sebagian jalan kecil yang biasanya lengang. Kardus-kardus diturunkan satu per satu, disusun asal di teras. Ada suara orang berbicara cepat, saling memanggil nama, dan bunyi pintu dibuka-tutup berulang kali.Triplets sudah berdiri di balik pagar sejak suara pertama terdengar.Mereka belum mandi. Rambut masih acak, kaus tidur kusut, tapi mata mereka berbinar penuh rasa ingin tahu. Tangan kecil mencengkeram besi pagar, wajah mereka menempel terlalu dekat, seolah jarak beberapa meter itu masih kurang.“Mama, itu siapa?”“Mama, rumahnya sekarang ada orang ya?”“Mama, mereka pindah beneran?”Sejak mulai masuk sekolah dan mendengar teman-teman memanggil ibu mereka dengan sebutan mama, triplets pun sempat protes dan ingin mengganti panggilannya.Awalnya Aluna menolak keras, karena dia sudah nyaman

  • Mendadak Hamil Setelah Bangun dari Koma   Kejutan Kecil (bag 2)

    Setelah makan malam, rumah perlahan berubah. Riuh yang tadi memenuhi ruang mulai mengendap dan menyisakan suara-suara kecil yang akrab. Triplets duduk di lantai ruang tengah, mainan mereka kini tersusun setengah rapi, setengah ditinggalkan. Energi mereka belum habis sepenuhnya, tapi lelah yang mendera mulai mengalahkan antusiasme.Tama membantu membereskan meja makan. Gerakannya sedikit kikuk, seperti seseorang yang masih mencari posisi di ruang yang seharusnya miliknya. Aluna mencuci piring di wastafel, air mengalir stabil, menciptakan irama lembut yang menenangkan.Mereka bekerja berdampingan tanpa banyak bicara.Biasanya, Tama akan kembali ke ponselnya. Membalas pesan. Mengecek surel. Menyusun ulang jadwal esok hari. Tapi malam itu, ponsel tetap di saku jaketnya. Diam. Seolah dunia luar bisa menunggu.Ia melirik Aluna dari sudut mata. Wajah itu terlihat tenang, tapi terlalu teratur untuk benar-benar santai. Setiap gerakan seperti sudah dihafal amat sangat efisien,

  • Mendadak Hamil Setelah Bangun dari Koma   Kejutan Kecil

    Sore itu, Tama langsung buru-buru menutup laptopnya sebelum matahari benar-benar turun.Bukan karena pekerjaannya selesai. Justru karena masih ada terlalu banyak yang belum beres dan itu menjadi penyebab ia memilih untuk berhenti.Layar hitam di depannya memantulkan wajahnya sendiri. Mata yang lelah, rahang yang tegang serta garis halus di dahi yang semakin sulit disamarkan. Ia duduk diam beberapa detik, mendengarkan suara pendingin ruangan yang berdengung konstan, seolah kantor ini bernapas sendiri tanpa perlu kehadirannya.Ponselnya bergetar di meja.Satu panggilan masuk.Tama melirik layar sekilas. Nomor yang sangat ia kenal. Biasanya, ia akan langsung mengangkat. Biasanya, ia juga tidak pernah membiarkan satu panggilan pun terlewat. CEO tidak punya kemewahan untuk menghilang, begitu prinsip yang selama ini ia pegang, bahkan ketika tubuhnya sudah meminta jeda.Hanya saja sore itu, ia memutuskan untuk membalikkan ponsel. Memilih untuk tidak mau peduli.Layar padam.Getaran berhenti.

  • Mendadak Hamil Setelah Bangun dari Koma   Tidak Bekerja

    Keesokan paginya, untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, Tama tidak berangkat pagi. Biasanya, ketika matahari baru menembus sela tirai, ia sudah berdiri di depan cermin dengan jas yang rapi dan dasi yang sudah terikat sempurna. Tapi kali ini berbeda. Ia duduk di tepi ranjang, menatap layar ponselnya beberapa detik, lalu menekan nomor sekretarisnya. Memberi tahu bahwa hari ini dia tidak akan pergi ke kantor.“Bilang aja saya WFH hari ini,” katanya tegas tapi tenang.Nada suaranya tegas khas seorang pemimpin, tapi di dalamnya ada kelembutan yang jarang muncul belakangan ini. Setelah menutup telepon, Tama menatap sosok istrinya yang masih berbaring.Aluna membuka mata perlahan. Wajahnya pucat, lemah, tapi masih berusaha tersenyum. Pandangan matanya sedikit kabur, seolah masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya. Biasanya, di jam seperti ini, suaminya sudah terburu-buru merapikan dasi, memeriksa laporan di laptop, atau menjawab panggilan dari klien luar negeri. Tapi pagi itu, pr

  • Mendadak Hamil Setelah Bangun dari Koma   Aluna Drop

    Pukul 09.20, Aluna sudah berkeringat.Ia sempat duduk sebentar di tepi tempat tidur, tapi pandangannya langsung jatuh pada keranjang cucian di pojok kamar—penuh hingga hampir meluber.“Ya ampun…” desahnya lagi.Ia tahu bisa menundanya, tapi tidak tahan melihat tumpukan itu. Jadi, ia berdiri lagi, menyeret keranjang ke kamar mandi.Baju kecil, seragam playgroup, celana rumah, saputangan, semuanya masuk ke mesin cuci.Sementara mesin berputar, ia menata rak handuk, menyapu lantai kamar mandi, lalu mengelap cermin.Tak ada jeda. Tak ada waktu duduk.Pukul 10.10, saat akhirnya ia menatap pantulan dirinya di cermin, ia baru sadar wajahnya pucat. Rambut yang tadi diikat kini lepas sebagian, menempel di pelipis basah oleh keringat.“Kayak orang habis olahraga,” gumamnya pelan, mencoba tersenyum pada diri sendiri.Namun, senyum itu cepat pudar ketika pandangannya berkunang sejenak.Ia bersandar pada wastafel, menutup mata

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status