Share

Wanita Sombong

Author: Stary Dream
last update Last Updated: 2025-10-10 13:39:27

Andini berdiri menatap taman kecil yang ada di depan teras rumahnya. Taman yang dipenuhi dengan aglonema kesayangan ibunya. Andini sendiri mendedikasikan hidupnya untuk bekerja di rumah sakit hingga sedikit sekali dia ikut campur dalam penataan rumahnya.

Andra yang baru menyusul melihat wanita bercadar ini sedang berdiri memandang lurus ke sebuah taman.

"Padahal ada kursi." Gerutunya pelan.

Suasana menjadi canggung karena keduanya sama-sama tak mau membuka suara. Padahal dari dalam, suara dua ibu paruh baya itu sangat memekakkan telinga. Akhirnya, Maryam menemukan teman sepermainannya. Mereka tampak cocok bergosip bersama

"Jadi kamu bekerja sebagai perawat?" Andra mencoba memecah keheningan.

Andini menoleh sampai membuat Andra memalingkah wajah. Ada apa dengan mata itu? Andra jadi ingin mencongkelnya saking tajamnya.

"Seperti yang kamu dengar."

Apakah ini di kutub utara? Lagi-lagi Andra menggerutu di dalam hatinya. Suara Andini boleh diadu dengan dinginnya es disana.

"Jadi kamu lulusan magister? Di Universitas mana?" Tanya Andra lagi.

"Ui."

Bolehkah Andra kembali masuk ke dalam dan menyeret Maryam keluar? Dia ingin pulang dan meninggalkan wanita sombong ini.

"Aku juga lulusan UI."

"Aku tahu." Jawabnya.

"Darimana?" Tanya Andra lagi dan lagi.

"Kamu sering mengatakannya di wawancara."

"Oh.. apa kamu sering menonton filmku?"

"Tidak pernah."

Oh, Andra sampai mengepalkan tangannya. Jika tidak ingat gender, Andra pasti akan membanting wanita ini.

"Aku jarang membuka televisi atau pergi ke bioskop." Sambung Andini. "Hari-hariku sibuk bekerja."

"Ya.. memang jelas terlihat." Wanita kaku dan tidak ramah. Bintang satu untuk wanita ini.

"Jadi kamu menerima perjodohan ini?" Giliran Andini yang memberikan pertanyaan.

"Menurutmu bagaimana?"

"Aku bertanya padamu." Andini menekankan suaranya sampai Andra ingin menggigit ujung kukunya. Baru kali ini ada wanita yang membuatnya gugup, padahal lawan mainnya saja tak membuatnya seperti ini ketika akan melalukan adegan romantis.

"Jujur saja aku tidak menerimanya. Aku datang kemari karena terpaksa." Biar saja Andra jujur untuk membuat wanita ini tersinggung.

"Aku juga menolaknya. Kita berdua berasal dari dunia yang berbeda."

"Untunglah kamu cepat menyadarinya. Aku seorang artis besar dan sedang di puncak kejayaan. Menikah dengan wanita yang bukan berasal dari dunia yang sama bisa membuat pamor ku tenggelam."

"Kamu suka membuat sensasi?"

"Eh!" Andra terlonjak kaget. "Apa maksud ucapanmu?"

"Hanya tanya. Kamu tadi bicara seperti itu masalahnya." Jawab Andini cuek sedari tadi.

"Kalau begitu kita sudah sepakat untuk mengakhiri perjodohan ini, kan? Bagus. Aku akan mengatakannya pada ibuku."

Dahi Andini mengkerut mendengar ucapan Andra. Pria ini main memutuskan saja.

"Kenapa? Apa kamu ingin meneruskannya?" Tanya Andra ketika melihat perubahan ekspresi Andini.

"Terserah padamu saja."

"Ya. Memang harusnya seperti itu. Kamu bisa mendapatkan seorang ustadz karena tampilanmu itu. Lagipula kamu bisa jadi istri muda dari seorang alim agama." Andra memandang sinis.

"Ya.. itu lebih baik daripada menjadi istri dari seorang aktor yang suka bersentuhan dengan lawan jenis."

Dar! Der! Dor! Andra merasa tertembak di dada kanan dan kirinya. Wanita ini bisa menepis sindirannya. Baiklah, skor seri sekarang. Andra memilih mundur sebelum terjadi aksi cakar-cakaran disini.

Selepas mengobrol singkat, keduanya masuk ke dalam ruang tamu dan bergabung dengan Lastri dan Maryam.

"Sudah ngobrolnya? Cepet banget." Maryam sampai terheran-heran.

"Namanya juga baru kenal, pasti malu-malu." Lastri menimpali.

Tapi kedua orang ini menunjukkan ekspresi yang berbeda. Terutama Andra yang terlihat kesal.

"Hari sudah malam, lebih baik kita pulang." Ajak Andra.

"Benar. Kami pulang dulu kalau begitu. Untuk pertemuan berikutnya, nanti aku hubungi lagi."

Lastri tersenyum. "Kami tunggu kabar baiknya." Ia lalu beralih pada Andra. "Andra.. walaupun Andini sudah berusia 33 tahun, tapi dia masih perawan. Takutnya kamu pikir dia janda karena umurnya yang mendekat tua." Lastri tertawa keras.

Sementara Andra tersentak. 33 tahun katanya? Gila saja! Itu sama saja menjodohkan Andra dengan perawan tua.

"Umur hanyalah angka. Yang penting hatinya." Maryam membalas ucapan Lastri. Ia tersenyum memandangi calon menantunya. Sedangkan, Andini memilih menunduk.

"Mari kita pulang, bu." Andra sudah tak tahan lagi. Selesai berpamitan, dia bergegas masuk ke mobilnya dan pulang ke rumah.

"Ngobrol apa aja tadi?" Tanya Lastri pada anaknya yang tengah mencuci piring bekas tamu tadi.

"Apa aja."

"Dini! Kamu nggak macem-macem, kan?"

"Maksud, mama?"

"Kamu nggak nolak Andra, kan? Dia itu artis besar, Din! Bayangin, seorang artis besar menginjakan kakinya di rumah kecil kita!" Seru Lastri.

"Memang harus menginjak, kan? Kalau melayang itu hantu namanya."

"Oh, Tuhan." Lastri menepuk jidatnya. "Pokoknya mama mau kamu menerima perjodohan ini."

Andini menghentikan kegiatannya dan menatap ibunya.

"Apa nggak ada pria lain yang bisa mama jodohkan padaku?"

"Memang apa salahnya kalo suamimu artis? Kamu harus bangga dong!"

"Tapi aku mau punya suami yang sekufu denganku, ma! Yang sama menjaganya sepertiku. Tidak menyentuh lawan jenis sembarangan. Sedangkan, mama tahu sendiri pekerjaannya gimana." Sebenarnya Andini pernah menonton film yang dibintangi oleh Andra. Dimana semua film yang diperankannya selalu menyelipkan adegan mesra hingga bersentuhan bibir. Oh, Andini tidak suka pria seperti itu.

"Terus maumu bagaimana? Nyari yang sepertimu? Yang selalu pakai gamis kemana-mana?" Lastri mendelik kesal.

"Mama kan ikut pengajian. Seharusnya, Mama tahu yang baik atau tidak." Sela Andini.

"Bantah terus kamu ini! Kemarin mama jodohkan dengan polisi itu kamu nolak! Sekarang sama artis juga nolak. Mau cari yang gimana sih, hah?"

"Aku cuma mencari yang terbaik, ma."

"Bukan yang terbaik! Kamu itu terlalu pemilih!" Bentak Lastri.

Andini lalu menggeleng. "Kalau aku menerima perjodohan mama dengan polisi waktu lalu mungkin aku tinggal nama sekarang. Mama dengar sendiri kasusnya, kan? Dia tega memukuli istrinya sendiri. Mau mama aku kayak gitu?"

Terdiam Lastri akan ucapan anaknya. Memang benar, perjodohan Andini yang pertama gagal itu ada untungnya. Sebabnya polisi itu bermain tangan dengan istrinya hingga menyebabkan istrinya sekarat.

"Tapi mama jamin kalau Andra ini bagus 100%!"

Andini menggeleng mantap. "Aku menolak perjodohan ini."

"Mau cari seperti apa sih kamu ini?" Lastri jadi putus asa. "Atau kamu besok pergi ke pesantren sana. Bawa papan nama dirimu dan tulis besar-besar kalau kamu lagi cari jodoh. Bisa jadi ada ustadz yang kecantol sama kamu! Itupun kalau ada yang mau sama perawan tua kayak kamu!"

Andini hanya bisa beristighfar di dalam hatinya. Ia tak perduli dan masuk ke kamarnya. Sementara, Lastri masih mengomel karena kesal.

Di sisi lain, telinga Andra hampir pecah karena Maryam terus menerus memuji Andini. Padahal, Andra juga bingung. Ah, lebih tepatnya belum menemukan kebaikan yang diceritakan oleh Maryam.

"Ibu yakin betul kalau Andini itu cantik. Gimana kalau dia aslinya cacat? Atau punya luka di wajah? Makanya dia pake cadar."

"Kamu ini!" Maryam sampai memukul kepala anaknya dengan kesal. "Lihat itu dari dahi dan matanya, nak. Mulus. Putih. Bercahaya. Ibu yakin dia cantik luar dalam."

"Matanya jelek begitu kok dibilang cantik sih?! Asal ibu tahu kalau Andini menolak perjodohan ini."

"Dia bilang begitu? Atau kamu yang memaksanya?" Selidik Maryam.

"Astaga! Dia memang bilang begitu tadi!" Gerutu Andra kesal. "Lagian ibu kira-kira dong kalo mau ngejodohin aku itu sama perempuan yang masih muda. Biar seger gitu, loh!"

"Percuma aja kalau masih muda tapi udah jadi bekasan orang lain. Pokoknya ibu nggak mau menerima penolakan kalian. Disini ibu yang mengambil keputusan!"

"Terserah. Kalau ibu memang maksa. Biar ibu aja yang menikah dengan Andini."

Andra melenggang santai dengan membawa kunci mobilnya. Ia harus pergi ke pesta ulang tahun temannya.

"Mau kemana kamu?" Tegur Maryam.

"Ke pesta ulang tahun Prilia. Sebentar aja!"

Maryam berdecak namun memiliki ide pemintas. "Ya, pergilah."

Andra pergi ke sebuah cafe yang berada di pusat kota. Sesampainya disana, dia sudah mendapat tawa ejekan dari teman-temannya.

"Kenapa kalian ngelihatin aku gitu?" Tanya Andra heran.

"Ibumu tadi nelpon katanya minta tolong jagain anak ibu biar nggak keluyuran malam!" Jawab Prilia terkikik geli.

"Sial!" Andra mengumpat.

"Padahal umur udah 35 tahun. Tapi tali pusar kayaknya nggak dilepas sama ibumu!" Sahut Bembi yang memancing gelak tawa.

"Diamlah!" Andra melotot pada sahabat prianya.

"Memang kamu tadi darimana? Kok datengnya telat?" Tanya Asti.

"Dari rumah seseorang. Ibu mengajukan perjodohan gila untukku."

Keempat sahabat Andra tertawa dengan keras. Mereka bahkan ada yang menunjuk wajah Andra dengan geli.

"Gila, ya! Segitu nggak lakunya kamu dimata ibumu."

"Padahal Andra mah kalau mau pilih cewek tinggal nunjuk aja!" Sahut Bembi.

"Tapi, sayang Andra nggak mau sama siapapun. Cintanya udah habis sama mantan!" Sambung Dian.

"Diamlah!" Ah, salah alamat Andra kemari. Dia menjadi bulan-bulanan sahabatnya.

Andra sendiri memiliki geng yang terdiri dari 5 orang, 2 pria dan 3 wanita. Yaitu dirinya, Bembi, Dian, Asti dan Prilia. Mereka dulu pernah bermain di film yang sama ketika baru merintis menjadi aktor. Dan setelah 15 tahun, persahabatan mereka tetap terukir dengan kuat.

"Ngomong-ngomong siapa ceweknya? Artis juga?" Tanya Prilia.

Andra menggeleng. "Perempuan biasa. Berhijab pakai cadar. Dan lebih gilanya lagi dia itu perawan tua!"

Oh, semakin kencang empat orang ini menertawakan Andra.

"Sudahlah! Aku pulang saja kalau begitu!" Andra hendak merajuk.

"Jangan, dong. Tuh makan kuenya dulu biar gantengnya nggak ilang." Balas Dian sambil tertawa.

Andra mengambil tiramisu yang ada disana dan memakannya perlahan.

"Oh, ya. Katanya kamu mau observasi ke rumah sakit jiwa? Bener itu?" Tanya Asti.

"Iya, dua hari lagi. Demi peran." Sahut Andra sambil mengunyah.

"Emang kamu peranin apa sih?" Dian memberikan pertanyaan.

"Psikiater. Jadi aku harus mengobservasi prilaku pasien disana dan juga belajar bagaimana cara berkomunikasi dengan mereka."

"Andra mah memang selalu totalitas!" Seru Bembi.

"Itulah alasan pialaku berjajar di rumah!" Jawab Andra congkak.

"Jadi nyesel muji dia tadi!" Ucap Bembi yang kembali membuat tawa semua orang.

Sementara, Andra teringat akan sesuatu.

Wanita bercadar yang sombong itu tadi bilang kalau dia bekerja di rumah sakit jiwa, kan? Matilah. Di kota ini, rumah sakit itu hanya ada satu.

"Jangan sampai aku bertemu dengan wanita sombong itu!" Gumam Andra dalam batinnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Min Yesi
suka nih ma karakter cwe ny, keliatan ny ga menye" meskipun bercadar
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Mendadak Jadi Istri Artis   Wanitaku (Ending)

    Sudah dua bulan berlalu, setelah melalui rangkaian proses yang panjang.. akhirnya pelirisan film Andra yang terbaru dengan judul, "Perisai Bayangan" akan segera naik ke layar lebar.Para cast dan juga punggawa film yang terlibat diundang untuk menghadiri gala premier yang akan dilaksanakan satu minggu lagi. Termasuk Andini yang sudah mendapatkan undangan. Hari nanti, dia akan menampilkan dirinya pertama kali ke media sebagai seorang penulis.Walau dirinya masih merasa tak sebesar penulis yang lain. Tetap saja ini sebuah prestasi.Malam itu, Andra sudah siap dengan gagahnya. Dibantu Andini, Andra memakai kemeja hitam dengan jaket kulit. Sementara Andini memakai gamis berwarna merah muda, sama dengan warna hijab dan cadarnya."Apa aku sudah tampan?" Andra berpose depan istrinya hingga membuat Andini tertawa."Kamu selalu tampan." Bahkan berkali-kali lipat lebih tampan semenjak Andra memutuskan untuk berhijrah. Seperti ada pijaran cahaya yang terpancar dari dahi yang sekarang rajin menyu

  • Mendadak Jadi Istri Artis   Ketegasan Andra

    Rena hampir terjatuh jika tak pandai menjaga keseimbangan tubuhnya..ia lalu menatap Andra dengan kesal. Pria itu sekarang sudah berani bersikap kasar kepadanya."Andra!" Rena jadi marah."Rupanya aku belum terlalu mengenalmu, Rena. Kemana perginya Rena yang anggun itu? Rena yang bijaksana dan sangat dewasa. Apa mungkin ini adalah sikap asli yang selama ini kamu tahan????""Andra!!" Rena ingin menyela ucapan pria di hadapannya."Memangnya kamu pikir siapa dirimu hingga berani memukul istriku, hah?" Andra jadi meradang hingga membuat Rena terkesiap. "Berani sekali kamu membuatnya menangis!""Dia yang memulainya duluan! Dia menghinaku! Mengatakan jika aku berusaha menggodamu.""Oh.. ternyata kamu bisa juga berbohong, ya?" Andra menatap sengit. "Sekarang pergilah dari sini sebelum aku habis kesabaran!""Aku tidak mau. Aku masih mencintaimu, Andra. Sudah ku katakan sejak dulu kalau cintaku hanya untukmu!"Andra tercengang namun sedetik kemudian tersenyum miring."Karena tidak mendapatkan k

  • Mendadak Jadi Istri Artis   Adu Domba Rena

    "Rena!" Andra melepas pelukan wanita ini dengan kasar. "Ada apa denganmu?"Rena terkesiap. Ia yang tadi menangis terisak jadi berhenti. Dia terkejut karena Andra yang tiba-tiba menolaknya."Andra.." lirih Rena berkaca-kaca."Maaf aku nggak bermaksud mendorongmu." Pria ini lalu melirik Andini yang berdiri tak jauh darinya. "Kamu disini, Rena? Bukannya kamu pindah keluar negeri?"Rena menggeleng sedih. "Aku tidak tahan, Andra. Suamiku.. maksudku, aku akan bercerai dengannya.""Loh, kenapa?""Dia main tangan padaku. Dia juga ternyata memiliki selingkuhan, Andra.." jelas Rena tersedu-sedu. "Aku menyesal menikahinya.""Lebih baik kita cerita di dalam."Andra meminta wanita ini untuk masuk ke rumah terlebih dahulu. Berbahaya jika sampai ada yang tahu jika Rena mampir ke rumahnya sambil menangis.Sedangkan, Andini tahu diri. Dia menyingkir ke kamarnya sendiri. Memberi ruang pada dua insan yang dulu pernah memadu kasih."Aku menyesal menikah dengan pilihan papaku, Andra. Jika aku tahu begini.

  • Mendadak Jadi Istri Artis   Wanita Itu Datang Lagi

    Andini menyentuh bibir yang disentuh oleh suaminya. Ya, cerewet. Andra tadi mengatakan seperti itu. Karena Andini yang mengomel jadi Andra membungkamnya dengan sebuah ciuman.Sebentar. Tak sampai 30 detik bibir itu menyatu. Dua bibir yang menempel dengan rasa kaku.Ciuman pertama bagi Andini yang berhasil membuat jantungnya berdebar sampai saat ini. Andini malah berkali-kali menarik nafas panjang dan menghembuskannya untuk menetralisir gemuruh yang ada di hati ini.Tangan Andini bahkan masih gemetaran. Berulang kali dia memegang bibirnya ini. Bibir yang sempat disentuh oleh suaminya. Tak menyangka kalau Andra mengambil tindakan seberani itu.Sedangkan di kamarnya, Andra juga gelisah sendiri. Aduh, gimana ya? Dia sudah sering beradegan mesra dengan lawan mainnya. Bahkan bersentuhan bibir dengan hebatnya.Tapi, kenapa Andra begitu gugup ketika bibir mereka bersentuhan. Bibir istrinya itu begitu lembut dan semanis madu. Astaga.. pasti ini kali pertama Andini mendapatkan ciumannya. Namun

  • Mendadak Jadi Istri Artis   First Kiss

    Masuk hari ke empat, Andini pergi menemui direktur setelah ia diperintahkan untuk mutasi ke tempat yang bahkan dia tak tahu kemana. Setidaknya, wanita ini ingin tahu apakah surat keputusan sudah terbit apa belum.Andini ingin bersiap kalau saja sewaktu-waktu dia diperintahkan keluar dari rumah sakit ini.Pukul 10 pagi setelah memberikan terapi rehabilitasi, Andini pergi menemui direktur. Namun sekretaris wanita itu mengatakan jika ibu direktur tengah dinas diluar. Andini pun terpaksa kembali lagi ke ruangannya.Di tengah perjalanannya, ia bertemu dr. Richard. Mereka berdua pun saling menyapa."Udah lama banget aku nggak dapet pasien cewek kayaknya!" Seloroh pria ini."Iya juga.. padahal dokter selalu jadi idola di ruang Kasih." Balas Andini sambil tersenyum.Richard lalu terkekeh. "Apa kabarmu, Andini?""Lebih baik dok.""Kamu dari ruang direktur?""Iya. Nyari beliau.""Ngadep soal apa lagi? Bukannya masalahmu sudah clear?" Tanya Richard."Bu dir bilang aku akan dimutasi, jadi aku mau

  • Mendadak Jadi Istri Artis   Memantaskan Diri

    "Mari kita berpisah, mas. Aku membebaskanmu dari pernikahan ini."Andra terkesiap ketika melihat air mata yang mengalir di wajah istrinya. Dia tahu jika Andimi sering menangis karena ulahnya secara diam-diam. Namun, sekarang.. dia melihat langsung air mata yang jatuh dari mata indah itu. Oh, hati Andra jadi sakit sekali.. dia ingin membalaskan dendam pada orang yang sudah menyakiti hati istrinya. Tapi, dia lupa jika orang yang sering menyakiti istrinya adalah dia sendiri."Dini.. kamu sadar apa yang kamu katakan barusan?"Andini mengangguk dan menatap pria itu dengan sedih."Aku tahu kita sudah terjebak cukup lama dalam pernikahan ini. Aku yakin kamu sudah sangat tersiksa karena hidup denganku. Maafkan aku, mas.. aku nggak pantas bersanding denganmu sampai aku tidak bisa mengakuimu sebagai suamiku." Ucap Andini menangis lagi."Andini..." kini giliran Andra yang terperangah karena ucapan istrinya."Kamu juga sudah menalakku, mas. Memang lebih baik kita berpisah saja.""Kapan aku member

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status