Share

Bab Empat

Ibu Pov

****************

"Katakan, siapa ayah dari bayimu?"

Wajah pucat Kalila kian pasi ketika ayahnya dengan tegas mempertanyakan ayah dari bayi yang beberapa jam lalu ia lahirkan ke dunia.

"Bu, adeknya belajar mimik dulu, ya. Buat mancing ASI juga, supaya cepat keluar."

Tiba-tiba seorang perawat masuk membawa kereta bayi. Kulihat di lorong ruangan itu juga ada banyak perawat lain yang masing-masing memegang satu kereta, menuju kamar rawat ibu para bayi yang berada di dalamnya. Mungkin saat ini jadwal para ibu menyusui bayi mereka. 

Meskipun ASI Kalila belum ada, perawat menyarankan agar puting ibu tetap diberikan pada bayi. Hal tersebut dapat memancing ASI segera keluar. 

Dengan sangat terpaksa, suamiku pun keluar dari kamar rawat Kalila yang kebetulan hanya ditempati sendiri. Sedangkan beberapa ranjang di sebelahnya masih nampak kosong.

Anak gadisku yang kini sudah punya anak itu pun menyeka sudut netranya yang basah. Aku tahu betul ia sangat takut berhadapan dengan ayahnya. Tapi, apa mau dikata, itu memang sudah semestinya. Kalila bersalah. Kalila harus menjelaskan semuanya. Karena, sesungguhnya suamiku hanya ingin melindungi anak-anaknya.

"Bu," cegah Kalila, ketika aku hendak keluar menyusul suamiku.

Kalila menggapai lenganku, kemudian menatapku penuh harap, agar tak meninggalkannya.

"Lila, Ayah cuma gak bisa terima kamu diperlakukan begini. Siapapun pria itu, dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Cepat atau lambat, Ayah tetap akan mendesak jawabanmu," kataku. Yang dihadiahi lirikan penasaran perawat yang berdiri di sebelah Kalila.

"ASInya gak keluar, Sus." Kalila berkata bersamaan dengan satu tangannya yang mengusap pipinya secara kasar. Menghapus lelehan bening yang seakan terus merangsek ingin ditumpahkan.

Isak kecilnya juga sampai di pendengaranku. Terdengar begitu begitu perih dan menyakitkan. 

"Sabar, Bu. Nanti juga keluar. Asal mengonsumsi makanan bergizi dan tidak boleh stress," ujar sang perawat memberi petuah.

Bukannya tenang setelah diberi petuah oleh perawat, Kalila malah semakin tersedu-sedu sambil mendekap bayi kecilnya yang bahkan belum diberi nama.

Gurat wajah perawat itu nampak serba salah. Mungkin ia bingung, dan takut ucapannya ada yang keliru atau menyinggung perasaan Kalila.

"Gak apa-apa, Sus. Orang habis melahirkan memang begitu, kan?" Aku coba menenangkan perawat itu.

"Iya, Bu. Ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu. Adek sudah boleh sama Ibunya, kok. ASInya tetep dipancing ya, Bu. Kalau masih gak keluar, silahkan diberi susu formula." Perawat itu kemudian keluar.

Sementara itu, aku menyiapkan botol susu untuk bayi Kalila yang mulai menangis karena tak kunjung mendapat asupan dari Ibunya.

"Sekarang kamu tidur aja. Biar Dedeknya sama Ibu." Kuambil alih bayi cantik dengan berat 3,4kg tersebut.

Kugendong sembari bersenandung kecil, agar ia segera terlelap. Sehingga memberi kesempatan bagi Kalila untuk beristirahat.

Ketika hendak meletakkan bayi Kalilla, pandanganku justru terkunci pada tas besar milik putriku. Tak kukira begitu banyak perlengkapan bayi yang dibawa Kalila. Sepertinya dia sungguh mempersiapkan kelahiran bayinya dengan sangat matang.

Entah ia belajar dan mendapat informasi dari mana atau dari siapa. Yang pasti melihat semua barang bawaan Kalila, itu sudah cukup menjelaskan bahwa anakku sungguh telah siap menghadapi hari kelahiran bayinya.

Hatiku terus menerus bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi dengannya? Kenapa semua bisa sampai seperti ini? Kenapa pula Kalila begitu enggan memberitahu kami tentang masalah yang tengah menimpa dirinya?

Usai memastikan keduanya terlelap, kuputuskan untuk menemui suamiku. Semenjak tiba di Jakarta, kami tak banyak berinteraksi. Aku terlalu sibuk mengurus Kalila. Sampai-sampai aku lupa apakah ia sudah makan atau belum. 

"Yah, Ayah udah makan?" tanyaku, seraya duduk menyebelahinya.

"Sudah, tadi sore beli di kantin," jawabnya datar, dengan punggung bersandar dan kepala mendongak ke atas. "Ibu?" Suamiku balik bertanya.

"Ibu, gak selera, Yah." Aku menjawab seadanya.

Suamiku segera menegakkan duduknya. Ia menatapku penuh tanya.

"Jadi, dari tadi Ibu belum makan?" 

Kutanggapi dengan anggukan untuk pertanyaannya. 

"Astaghfirullah, Ayah lupa kalau Ibu sibuk ngurus Kalila." Ia menepuk jidatnya sendiri. "Ya udah, ayo keluar cari makan." ajaknya kemudian.

"Gak usah, Yah. Kasihan nanti Kalila sendirian. Kalau dia butuh apa-apa gimana?" tolakku, yang keberatan meninggalkan Kalila.

Terdengar hembusan napas berat suamiku. Namun, sesaat kemudian berdiri. "Ya udah, Ibu tunggu aja. Biar Ayah yang beli makan buat Ibu," tuturnya.

"Gak usah, Yah. Udah malam. Besok pagi aja. Lagian Ibu juga gak lapar, kok," cegahku.

"Gak apa-apa. Cuma sebentar." 

Tanpa menunggu tanggapanku lagi, suamiku sudah melesat menjauh dari tempat duduk kami tadi.

Benar saya, hanya sekitar 10 menit, ia sudah kembali. Mungkin memang tidak jauh kantinnya. Aku pun menerima nasi kotak yang ia bawa, kemudian menikmatinya hingga tak bersisa.

Meski sebelumnya mengatakan tak lapar dan tak berselera, nyatanya perutku berkata lain. Ia menerima asupan dengan sangat baik.

"Yah, bisakan lebih sabar lagi? Kita tunggu Kalila pulih dulu. Ibu takut nantinya Kalila mengalami baby blues, kalau terlalu banyak yang menekannya." Aku memulai obrolan, usai menghabiskan makanku.

Suamiku tak langsung menjawab. Untuk sejenak ia terdiam. Mungkin sedang mencerna kata-kataku.

"Ayah gak bisa janji." 

Huh, aku pun menghela napas panjang. Walaupun jawabannya tidak meyakinkan, tapi setidaknya ia mau berusaha.

Setelahnya kami pun mengisi keheningan malam di antara kamar-kamar pasien dengan membicarakan hal-hal mengenai rencana esok hari. Hingga kemudian aku memutuskan kembali ke dalam menemani Kalila dan bayinya. Sedangkan suamiku tetap tak ingin beranjak dari deretan bangku yang ada di lorong tersebut.

**********

Pagi menyapa, suamiku dipanggil oleh seorang perawat untuk menyelesaikan administrasi dan berbagai hal yang perlu diurus lainnya sebelum Kalila dan bayinya pulang.

Sementara itu, aku sibuk berkutat dengan barang bawaan Kalila yang lumayan banyak. Saat itu, sebuah tanya kembali mengusik benakku. Rasa penasaran pun mendesakku untuk bertanya.

"Lila, kamu bawa barang segini banyak ke sini, gimana caranya?"

_______________________________

Bersambung

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status