LOGINDina dan Dion adalah pasangan muda dengan seorang putri kecil bernama Dinda. Kehidupan mereka tampak biasa di luar—tawa anak, rumah sederhana, dan harapan akan masa depan. Namun di balik senyum itu, tersembunyi perjuangan hidup yang tak mudah. Ketika penyakit dan kehilangan pekerjaan menghantam, Dina menghadapi hari-hari panjang penuh kekhawatiran, sementara Dion belajar hadir sepenuhnya di tengah tekanan. Dari penolakan pekerjaan hingga usaha kecil yang sulit berkembang, mereka dipaksa menemukan kekuatan dan harapan dari hal-hal sederhana. Mampukah mereka bertahan ketika cinta saja tak lagi cukup? Atau justru badai itu akan menjadikan mereka lebih kuat dari sebelumnya?
View MoreThrough the long, treacherous night, a heavy cloud of despair weighed upon my heart. Each step I took towards the towering castle only deepened my sense of foreboding. The vast, rugged terrain seemed to conspire against us, causing me to stumble over hidden rocks, though I was grateful that the storm had yet to unleash its full fury.
The isolation I felt was palpable, seeping into my veins with every breath, as the reality of leaving our pack, our home, settled like a haunting spectre in my mind.Wrapped tightly in my scarf, its fabric offering a meagre shield against the biting wind, I trudged onward. The weight of responsibility bore down on me, the burden of ensuring my mother's safety and well-being resting solely on my shoulders. Her tired eyes, etched with lines of worry and fatigue, served as a constant reminder that I was her sole caretaker now.As we neared the summit of the mountain, exhaustion gnawed at my mother's strength. With laboured breaths, she signalled her need for a brief respite. Her voice, filled with weariness and desperation, quivered as she spoke, "I can't... go on... much longer, my dear. I've... failed you..."Tears warmed up in my eyes as I knelt beside her, taking her trembling hands in mine. "No, Mama," I whispered, my voice laced with determination. "You haven't failed me. We're in this together. We'll find a way. Just a little further, I promise."Her gaze, filled with love and gratitude, was locked with mine. "You're... so strong, my child. I couldn't ask for a better daughter." Her words, feeble but heartfelt, carried the weight of a lifetime of sacrifices. The words wrapped around me, so comforting and soothing.As fatigue and cold hugged into her old body, I clung to her, desperate to keep her with me. Panic laced my voice as I pleaded, "Stay with me, Mama. Please, have hope"Her voice, barely a whisper, reassured me with fading strength. "You... will always carry me... in your heart. You're... my strength."I sobbed, unable to hold back the flood of emotions. "But I need you here, Mama. I can't do this alone."A gentle smile curved her pale lips. "You're... never alone. Remember... our love... will guide you."At that moment, as her grip on life slipped away, my world shattered. I cradled her lifeless body, tears streaming down my cheeks, as I cried out in anguish. "Mama, please! Don't leave me! I need you!"But the wind carried my desperate pleas into the night, unanswered. My heart ached with a profound emptiness as if a vital piece had been torn away. Yet, even in my grief, her words echoed within me, igniting a flicker of determination to honour her memory and carry her love forward."I will make you proud, Mama," I vowed through tear-stained lips. "I'll find my way, and you'll be with me every step of the journey."In that desolate place, on that fateful night, I embraced the weight of her legacy and the love that would forever bind us together. And with a fragile spark of resilience, I rose to face the daunting path ahead, guided by the eternal flame of a mother's unwavering belief in her child.In the warmth of the room, I woke up with a pounding headache. Outside, footsteps echoed, and the forest appeared to recede. Searching for Mama, weakness consumed me. My body, once strong as a werewolf, now felt feeble and human.Aching ribs signalled my body's depletion. Gathering what little strength remained, I approached the door, desperate for help. Silence met my pleas, while whispers swirled in the distant hallway. I mustered all the energy left in me, crying out for Mama's presence. Before collapsing, the doorknob turned, and strong arms caught me. Blurred vision clouded my senses, but their comforting touch provided solace. Faint whispers soothed me, but I succumbed to unconsciousness once more, drifting away.As I stirred from my sleep, I found myself cradled in those same strong arms. They held me tenderly as if I were the most fragile thing in the world, and I found solace in their embrace. Frustration twisted my features as memories of that dreadful night flooded my mind, where everything I held dear was torn apart. Beads of sweat dotted my forehead, and the man beside me reached for a glass of water, offering it to me.Without hesitation, I greedily drank the water, my breath catching in my chest. He gently rubbed my back, his touch offering reassurance. Now, I could hear his whispered words, urging me to calm down. But how could I find calm amidst the storm of emotions brewing within me? The memories of that night played on a loop, and in the midst of it all, Mama's face flashed vividly before my eyes. Desperation surged through me, and I clutched onto the man, my voice trembling as I called out Mama's name, my anguish palpable.Another figure, a woman, appeared on the scene and my vision slowly cleared. The air was heavy with tragedy, and I felt disoriented, unaware of my surroundings. The woman approached, holding an injection in her hand, and pressed it against my skin. The needle pierced my flesh, causing me to flinch, while the man held me steadfastly. I looked up at him, a mixture of worry and confusion etched across my face, but he seemed unperturbed, a pillar of strength in the chaos surrounding us.It felt as though I had been cast into a dark abyss, imprisoned for a crime I hadn't committed. Yet, the touch of the man, his soothing presence, provided a temporary respite from the turmoil raging inside me. His chin rested gently atop my head, his arms encircling my trembling form. He whispered words of comfort, attempting to calm the storm within me.Pushing him away, a surge of determination coursed through me, and I confronted him, my voice wavering yet filled with urgency. "Where is Mama?" His gaze bore into mine, a mix of annoyance and weariness. He let out a heavy sigh before a commotion erupted, the entrance door bursting open simultaneously. And there stood a man, adorned with tattoos that adorned his neck and body, a striking figure.His breaths were slow, yet runny. I could see his muscles tense through his shirt but before he opened his mouth, the man beside me interrupted.Tiga bulan sudah berlalu sejak pagi ketika Dion membuka matanya untuk terakhir kali dan berkata dengan suara paling lembut yang pernah Dina dengar,“Jaga cahaya itu Din jangan biarkan padam.”Sejak saat itu, kehidupan berjalan pelan tidak sepi tapi hening dengan cara yang lain. Rumah kecil mereka di Sumatera Barat kini kembali hidup, dengan aroma gorengan yang khas setiap pagi dan suara Dinda yang memanggil ibunya dari halaman.Namun kini, ada satu sudut rumah yang selalu dijaga tetap rapi meja kerja Dion, dengan bingkai foto keluarga yang berdiri di atasnya, dan sebuah pelita kecil yang selalu dinyalakan setiap malam.Dina menatapnya setiap kali selesai shalat lalu tersenyum pelan.“Yon,” bisiknya, “aku masih nyalain pelitanya, seperti yang kamu mau.Tapi ternyata pelita ini bukan cuma buat rumah kita, tapi buat hati banyak orang juga.”Sejak kasus besar itu terbongkar, nama Dion menjadi simbol kejujuran baru.Pemerintah memberikan penghargaan anumerta bukan uang, bukan jabatan, tapi
Pagi itu datang perlahan menembus kabut yang masih menggantung di udara.Langit berwarna abu muda, seakan menahan napas setelah semalam penuh dentum dan hujan.Dina duduk di ruang tunggu kepolisian, wajahnya pucat tapi matanya menyala dengan tenang seperti seseorang yang telah kehilangan segalanya, namun justru menemukan kekuatan yang paling murni.Di tangannya, flashdisk itu kini terbungkus tisu masih basah tapi utuh.Seorang perwira muda datang menghampiri.“Bu Dina, kami sudah memeriksa data di flashdisk, isinya lengkap bukti transfer, kontrak palsu, rekaman perintah dari Bayu, semuanya ada.”Dina mengangguk pelan “Jadi, semuanya akan terbuka Pak?”Perwira itu tersenyum kecil “Ya Bu, dan maaf saya harus bilang suami Ibu luar biasa dia kirim salinan data yang sama ke kami lewat email anonim, lima menit sebelum kejadian di mushola.”Air mata Dina jatuh tanpa suara “Dia tahu kalau aku akan datang ke sana.”“Iya Bu, dia pastikan semua sisi aman seolah sudah tahu apa yang akan terjadi.”
Hujan belum berhenti malam itu.Dina berjalan cepat di trotoar, jaketnya basah napasnya berat.Di tangannya, flashdisk yang berisi seluruh bukti kebenaran terasa seperti bara kecil, tapi bisa membakar segalanya jika sampai ke tangan yang salah.Ia berhenti di persimpangan jalan, menatap ke arah papan tanda tua yang nyaris rubuh.Tempat aman, pesan Dion tadi terngiang di kepala.Tapi di dunia seperti ini “aman” terasa seperti mimpi yang terlalu jauh.Ia memutuskan pergi ke tempat satu-satunya yang masih ia percaya mushola kecil di ujung jalan, tempat dulu ia dan Dion sering berdoa ketika segalanya terasa berat.Langkahnya cepat jantungnya berdetak keras seolah waktu menipis.Begitu sampai di dalam mushola, Dina langsung menutup pintu menarik napas dalam-dalam.Ia meletakkan flashdisk di atas sajadah, lalu berlutut.“Ya Allah” suaranya bergetar “aku nggak tahu ini akhir atau awal, tapi kalau benar ini jalan-Mu, tolong jagalah mereka yang kucintai.”Air matanya jatuh di lantai dingin.Di
Langit pagi itu berwarna abu keperakan udara masih lembap sisa hujan semalam, dan jalanan menuju gedung tua PT Arta Mandiri terasa sunyi tak biasa. Dina berdiri di depan pagar berkarat, memandangi bangunan itu lama tempat di mana dulu Dion memulai pekerjaannya, tempat yang kini menjadi akar dari segala luka.Di tangannya, ponsel masih menampilkan email anonim dengan satu kalimat yang terus bergema di kepalanya.“Kalau kamu mau kebenaran, datang ke tempat di mana semuanya dimulai.”Ia menarik napas dalam-dalam, menatap langit yang mulai terang.“Yon” bisiknya pelan, “aku di sini, aku akan akhiri ini untuk kita.”Ia membuka pagar yang sudah nyaris roboh, langkahnya mantap tapi hati berdebar.Udara di dalam gedung berbau lembap dan besi tua bayangan cahaya matahari menembus jendela pecah, memantul di lantai berdebu.Setiap langkah yang ia ambil seperti membuka memori lama tumpukan berkas, meja kerja Dion, dan aroma tinta mesin fotokopi yang dulu sering menempel di baju suaminya.Suara la
Pesan dari sis_ska88 kubaca berulang kali malam itu.Nama itu terdengar familiar, tapi aku tak ingin berprasangka. Mungkin hanya kebetulan. Aku menjawab ramah,“Boleh banget, Mbak. Terima kasih ya sudah mampir.”Keesokan harinya, pesanan itu datang. Alamatnya tertulis PT. Makmur Berjaya Padang, ata
Pagi itu, matahari baru saja menembus jendela kamar. Aku bangun lebih awal dari biasanya. Dinda masih terlelap, tapi aku sudah memikirkan apa yang harus kulakukan hari ini. Aku menatap wajah kecil Dinda yang tenang. “Tidurlah, sayang… Bunda mau berjuang lagi hari ini,” bisikku lembut sambil memben
Aku belajar bertahan. Aku belajar memutar otak agar bisa menghasilkan uang demi kebutuhan sehari-hari. Aku belajar menahan rasa lelah dan kecewa, karena ada Dinda yang selalu membutuhkan senyumku, ada Dion yang meski diam tapi tetap suamiku. Malam hari, ketika Dinda tidur, aku duduk sendiri di ka
Suatu sore, Dion memandang kosong ke langit-langit kamar. “Aku gagal ya, Din?” suaranya serak, hampir tak terdengar. Aku menunduk, menahan air mata. “Kamu nggak gagal, Yon. Cuma lagi diuji.” Dia menarik napas berat. “Ujian ini terasa panjang banget.” Aku mengangguk pelan. “Tapi kita nggak akan b












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.