ログインYudha mengusap tengkuknya sendiri. Ia memang tak berpikir sejauh itu. Tadi kepalanya hanya fokus pada satu hal Wilona harus makan, harus tenang, harus aman.
“Ommm…” Wilona merengek lagi, nadanya seperti anak kecil yang kehabisan permen. “Jangan diem aja, ini gimana?”Yudha menghela napas pendek.“Gimana lagi,” katanya akhirnya. “Tidur di sini atau pulang jalan kaki.”Wilona terdiam. Matanya membesar sedikit.“Nginep?” katanya pelan, seperti memastikan telinganya tidak salaPagi itu, suasana rumah, sudah diwarnai dengan perdebatan kecil yang cukup alot. Revan berdiri di depan pintu kamar dengan wajah yang ditekuk, sementara Vera sedang sibuk merapikan penampilannya di depan cermin. Hari ini adalah hari yang sudah dinanti-nantikan Vera, jadwal belanja perlengkapan bayi bersama Wilona."Ver, kenapa aku nggak boleh ikut? Aku bisa bawakan belanjaannya, aku bisa setir mobilnya, aku bisa pastikan nggak ada orang yang menabrak kamu di mal," ujar Revan dengan nada protektif yang sudah mencapai level maksimal.Vera menghela napas, menoleh ke arah suaminya sambil tersenyum sabar. "Van, aku cuma mau jalan-jalan santai sama Wilona. Kita mau *thrifting* barang lucu, mau pilih baju yang gemas, dan aku butuh waktu bebas walau sebentar.’’‘’Kalau kamu ikut, setiap lima menit kamu pasti tanya aku capek atau nggak, setiap sepuluh menit kamu suruh aku duduk. Aku malah nggak jadi belanja nanti.""Tapi Ver, kandungan kamu sudah tujuh bulan. Mal itu luas, orang-orang di san
Hari berganti minggu hingga bulan. Tanpa terasa kini usia kandungan Vera sudah hampir memasuki usia tujuh bulan.Sinar matahari sore menyelinap masuk melalui jendela besar di ruang tamu kediaman mewah Revan dan Vera. Suasana rumah itu kini terasa jauh lebih hidup dibandingkan beberapa bulan lalu yang sempat beku oleh ketegangan. Di atas sofa beludru yang nyaman, Vera duduk bersandar dengan beberapa bantal menyangga punggungnya.Di hadapannya, Bunda Vita dan Wilona sedang asyik menyesap teh melati hangat. Kedatangan dua wanita paling berpengaruh dalam hidup Vera itu selalu berhasil menciptakan tawa dan obrolan yang tak ada habisnya. "Rasanya baru kemarin Bunda dengar kamu hamil, eh sekarang cucu Bunda sudah mau lahir saja," ujar Bunda Vita dengan mata berbinar penuh syukur. Ia mengusap lembut lutut menantunya. "Gimana, Sayang? Ada keluhan kaki bengkak atau susah tidur?"Vera tersenyum manis, wajahnya tampak sangat *glowing* dengan rona bahagia yang alami. "Alhamdulillah, Bun. Seja
Wajah Revan yang tadinya pucat karena takut kehilangan, seketika berubah menjadi sumringah luar biasa. Kebahagiaan itu meluap-luap hingga ia tidak sanggup hanya duduk diam. Revan langsung berdiri dari kasur, menarik Vera ke dalam pelukannya dengan sangat erat. Ia membenamkan wajahnya di leher istrinya, menghirup aroma tubuh Vera yang menenangkan."Ya Tuhan, Ver! Ini beneran? Kamu nggak lagi bercanda buat ngetes aku kan?" tanya Revan lagi sembari melepaskan pelukannya sebentar hanya untuk menangkup wajah Vera dengan kedua tangannya.Vera tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca melihat binar bahagia di mata Revan yang begitu murni. "Iya, Van. Aku serius. Sudah enam minggu."Revan kembali memeluk Vera, kali ini lebih lembut, seolah ia baru saja menyadari bahwa ada nyawa rapuh yang sedang bersemayam di perut istrinya. Ia menciumi dahi, pipi, dan tangan Vera berkali-kali tanpa henti. Semua rasa lelah, rasa bersalah, dan ketegangan yang ia rasakan selama bebe
Suasana kamar tidur utama sore itu terasa begitu tenang. Sinar matahari yang mulai meredup menyelinap melalui celah gorden, menciptakan bayangan panjang di atas ranjang. Setelah momen makan bersama yang cukup manis dan menghangatkan hati, Revan merasa sedikit lebih tenang. Ia duduk bersandar di kepala ranjang sambil mengecek tabletnya, meninjau perkembangan proyek terbaru yang sempat terbengkalai karena fokusnya terbagi untuk urusan rumah tangga.Tak lama, Vera duduk di sampingnya, namun pikirannya tidak sedang berada di ruangan itu. Ia meremas ujung pakaiannya, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang ia miliki. Kata-kata Wilona terus bergema di kepalanya: “Cepat atau lambat dia pasti tahu.”"Revan," panggil Vera dengan suara yang begitu pelan dan penuh keraguan.Revan seketika mengalihkan pandangannya dari layar tablet. Ia melihat gurat kegelisahan di wajah istrinya. Dengan sigap, ia meletakkan tabletnya di atas meja nakas dan memutar posisi tubuhnya menghadap Vera."Iya,
Setelah kepergian Wilona, keheningan di apartemen itu terasa berbeda. Tidak lagi mencekam seperti hari-hari sebelumnya, melainkan lebih tenang dan kontemplatif. Vera berdiri diam di balkon, membiarkan angin sepoi-seperti mengacak rambutnya, sementara kata-kata Wilona terus berputar di kepalanya. Sahabatnya itu benar, membenci Revan mungkin terasa memuaskan untuk ego sesaat, namun ada nyawa lain yang kini bergantung pada kedamaian hatinya.Dia akan jadi seorang Ibu, memaafkan akan jauh lebih baik.Vera menghela napas berat, mencoba mengusir sisa-sisa rasa sesak yang masih bersarang di dadanya. ‘Gimana Sayang? Kamu mau maafin papa kamu hem ?’’ tanya Vera mengusap perut nya datar.‘Maafin Mama ya kalau Mama egois,’‘Benar kata sahabat Mama, papa kamu berhak tahu keberadaan kamu.’‘Baiklah, mala mini, kita kasih kejutan ke papa kamu ya?’Ia menatap langit Jakarta yang mulai berubah jingga, menyadari bahwa menghukum Revan dengan kediaman hanya akan membuat suasana semakin beracun bagi
Beberapa hari telah berlalu sejak badai besar menghantam apartemen itu. Suasana di dalam rumah yang biasanya penuh dengan obrolan ringan kini berubah menjadi sunyi yang canggung, namun ada sesuatu yang berbeda dari sisi Revan. Sejak konfrontasi soal foto di Surabaya itu, sikap Revan benar-benar berubah drastis. Ia seolah tersentak dari tidurnya dan menyadari bahwa ia hampir saja kehilangan poros hidupnya.Revan tidak lagi menjadi pria yang gila kerja hingga lupa waktu. Kini, jadwal harian pria itu sangat teratur dan bisa ditebak. Ia baru akan berangkat ke kantor pada pukul sembilan pagi, setelah memastikan Vera sudah bangun dan mendapatkan sarapan yang layak, meskipun ia harus memesannya dari restoran karena ia masih trauma dengan kejadian *steak* tempo hari. Dan tepat pukul tiga sore, sosoknya sudah kembali muncul di depan pintu apartemen. Tidak ada lagi lembur, tidak ada lagi pertemuan di luar jam kantor, dan tidak ada lagi alasan "terjebak badai".Di kantor pun, Revan melaku
Ruang keluarga itu berubah menjadi medan perang tanpa suara.Udara terasa berat. Bahkan jam dinding yang biasanya berdetak pelan kini seperti menghitung detik kehancuran hubungan ibu dan anak itu.Dengan suara parau yang tertahan, Yudha akhirnya bicara, “Yudha kecewa sama Mama!”Kalimat itu tidak d
“Kabur? Kabur ke mana?” tanya Dirga.Suaranya rendah, tapi jelas menekan. Salah satu pria menelan ludah keras sampai terdengar.“K—kami tidak tahu Pak… kami juga sedang mencari… karena kami juga sudah kena amukan bos kami!”Dirga menyipitkan mata. Ia melangkah satu langkah lebih dekat
Beberapa tahun kemudian …. Sinar matahari sore jatuh lembut di halaman rumah sederhana itu. Angin desa berembus pelan, menggoyangkan daun-daun mangga di samping pagar bambu. Suasana biasanya ramai oleh suara anak-anak, tawa, dan langkah kaki kecil yang berlarian. Tapi sore ini, hanya ada satu sos
Mobil hitam itu akhirnya berhenti di halaman kantor pusat. Gedung tinggi dengan dinding kaca menjulang, terlihat begitu gagah tetapi bagi Yudha, semua itu masih terasa seperti tempat asing yang kebetulan memakai namanya.Begitu mobil berhenti, supir segera turun membuka pintu.Yudha







