“Apa kamu pikir kita lagi barter?” ulang Yudha dengan nada datar tapi sarat tekanan. Alisnya berkerut tipis, sorot matanya tajam, khas seorang pemimpin yang tak terbiasa dibantah, apalagi oleh gadis seusia Wilona.“Hehehe, kan biar adil, Om,” jawab Wilona sambil menggaruk pipinya. Senyum kikuknya mengembang, berusaha menutupi rasa canggung yang mulai merayap.Yudha mendecak pelan. “Ckckck!” Ia menggeleng kecil, antara kesal dan tak habis pikir. Entah kenapa, bocah satu ini selalu punya cara membuat emosinya berantakan tanpa benar-benar bisa dimarahi.Wilona melirik jam di ponselnya, lalu melangkah mundur satu langkah. “Ya udah, Om lanjut kerja aja. Wilo mau pulang,” katanya ringan. Sebelum berbalik, ia menunduk sedikit, nada suaranya melunak. “Sekali lagi terima kasih ya, Om.”“Hemm,” Yudha hanya menjawab singkat tanpa menoleh. Tangannya kembali meraih pulpen, seolah ingin menegaskan bahwa percakapan itu sudah selesai.Wilona tersenyum kecil melihat respon itu. Ia tahu, meski ter
Terakhir Diperbarui : 2026-01-03 Baca selengkapnya