Início / Romansa / Mendadak Jadi Sugar Baby / Pertemuan setelah perpisahan

Compartilhar

Pertemuan setelah perpisahan

Autor: Mommy_Ar
last update Última atualização: 2026-02-28 01:46:08

‘’Orangnya masih ada di ruangan donor!’’

‘’Apa saya bisa menemuinya Dok?’’

‘’Bisa, dia sedang pemulihan.’’

Wilona mengangguk lalu melangkahkan kakinya perlahan menyusuri lorong rumah sakit yang masih dipenuhi bau antiseptik.

Langkahnya terasa berat, seolah setiap pijakan membawa beban ribuan rasa di dadanya. Tangannya masih gemetar sejak dokter mengatakan donor sudah ditemukan.

Ia hanya ingin melihat orang itu. Ia hanya ingin mengucapkan terima kasih.

Tak lebih.
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado
Comentários (2)
goodnovel comment avatar
henny.orlee
gmn gmn panik gak wilo??? panik dong y kan
goodnovel comment avatar
Neneng Gejora
nah kan Mas Yudha malah pingsan,,, Wilona sih. ,,marah dluan,,, . ntr dlu kek,,nunggu penjelasan dari Mas Yudha seperti apa...
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Bab 139

    "Kalau Vera bilang, Vera gak ngapa ngapain dia. apa Mama percaya?" kata Vera datar. "Gak ngapa-ngapain gimana? Kepala Jenny samoai kaya gini!" bentak sari. Vera menghela napas berat, "Ya udah kalau gitu terserah apa kata Mama.""Vera!" bentak sari, "Kenapa semakin dewasa kamu semakin kurang ajar hah! Begini cara Mama ngajarin kamu?""Emang mama pernah ngajarin Vera? Emang mama pernah mendidik Vera? Sejak dia masuk kesini, mama gak pernah peduli lagi sama Vera!" jerit nya muak. Plakkk! Sebuah tamparan mulus mendarat di wajah Vera, "Inget Ver. kalau bukan karena kamu, Jenny gak akan kehilangan ibunya!" ____Sementara itu, di kediaman keluarga Pranata, suasana rumah terasa sangat berbeda. Hangat. Tenang. Lampu kamar anak menyala lembut, memantulkan bayangan kecil di dinding yang dipenuhi stiker warna-warni dan rak mainan. Di dalam kamar itu, Rena sedang duduk di atas tempat tidurnya bersama sang ibu

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Bab 138

     Makan malam itu akhirnya selesai dengan suasana yang cukup hangat. Tidak seperti biasanya, meja makan malam itu terasa lebih hidup karena kehadiran tamu.Setelah beberapa lama berbincang, pasangan tamu itu akhirnya bersiap untuk pulang. Vera ikut berdiri dari kursinya dan mengantar mereka sampai ke ruang depan.Udara malam terasa lebih sejuk ketika pintu rumah dibuka. Di depan pintu, Vera tersenyum sopan sambil sedikit menundukkan kepalanya.“Terimakasih ya Tante, sudah berkunjung,” ucapnya tulus.Wanita paruh baya yang sejak tadi bersikap sangat ramah itu langsung tersenyum lembut.“Sama-sama sayang,” katanya hangat. “Tante juga terima kasih banget karena kamu sudah menemani tante.”Ia melirik sekilas ke arah suaminya yang berdiri di sampingnya. “Kamu tahu sendiri… laki-laki kalau sudah bahas pekerjaan suka lupa segalanya.”Vera langsung terkekeh pelan mendengar itu. Tapi belum sempat ia menjawab, pria paruh baya di se

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Bab 137

    Pagi di kantor berjalan seperti biasanya.Begitu tiba di gedung perusahaan, Vera langsung menata kembali fokusnya. Semua pikiran tentang semalam ia paksa disimpan jauh-jauh di sudut kepalanya.Di kantor, ia bukan gadis yang menangis di balkon. Ia adalah sekretaris profesional yang harus bekerja dengan rapi dan cepat.Suara ketukan keyboard, dering telepon, serta langkah para karyawan memenuhi ruangan kerja yang sibuk itu.Vera baru saja duduk di mejanya hingga tak lama Jordi datang membawa setumpuk map. “Ver, selesaiin proposal ini ya?” katanya sambil meletakkan berkas itu di meja Vera.Vera langsung membuka halaman pertama sambil mengangkat alis. “Ini buat kapan?”“Masih besok pagi kok!”Vera mengangguk santai. “Oke.”Ia mulai membolak-balik dokumen itu dengan teliti. Namun belum sempat ia membaca terlalu jauh, Jordi kembali berbicara.“Oh ya,” katanya seolah baru ingat sesuatu. “Hari ini cancel semua jadwal pak Revan yang keluar ya.”“L

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Bab 136

    Sinar matahari pagi perlahan masuk melalui celah tirai jendela kamar. Cahaya hangat itu jatuh tepat di wajah Vera, membuat alisnya sedikit berkerut karena silau.“Eughhh…”Vera mengerang pelan sambil menggerakkan tubuhnya di atas tempat tidur. Kepalanya terasa sedikit berat, mungkin karena semalam ia tertidur terlalu larut setelah menangis cukup lama.Perlahan ia membuka mata. Beberapa detik pertama, ia hanya menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.“Kok aku di sini?” gumamnya pelan.Vera mengedipkan matanya beberapa kali, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang masih setengah mengantuk.Lalu ia menoleh ke kanan. Kemudian ke kiri. Keningnya langsung berkerut bingung.Kamar ini… bukan kamar tamu. Tatapannya menyapu seluruh ruangan.Interior kamar itu terlihat rapi, maskulin, dengan warna-warna netral yang dominan. Lemari besar di sudut ruangan, meja kerja minimalis, serta aroma parfum pria yang samar-samar masih terasa di udara.Beberapa detik kemudian mata Vera membola. Ia la

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Bab 135

    Keheningan malam semakin larut. Angin tipis yang berhembus dari balkon membawa udara dingin yang menyentuh wajah mereka. Lampu-lampu kota masih berkelip di kejauhan, tetapi suasana di balkon apartemen itu terasa tenang, bahkan terlalu tenang.Setelah menumpahkan semua isi hatinya, Vera akhirnya terdiam. Dadanya tidak lagi terasa sesak seperti sebelumnya. Ada kelegaan kecil yang perlahan merambat di dalam dirinya.Selama ini ia selalu menahan semuanya sendiri. Tidak pernah benar-benar menceritakan kepada siapa pun.Namun malam ini… entah kenapa kata-kata itu mengalir begitu saja. Mungkin karena terlalu lelah.Mungkin juga karena Revan hanya mendengarkan tanpa menghakimi. Tanpa ia sadari, matanya mulai terasa berat.Kepalanya perlahan condong ke samping. Beberapa detik kemudian, tubuh Vera sudah terlelap di kursi balkon.Kepalanya bersandar di bahu Revan. Napasnya teratur, menandakan ia benar-benar tertidur.Revan yang merasakan beban ringan di bahunya menoleh sedikit. Ia melihat wajah

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Bab 134

    Di dalam apartemen milik Revan, lampu ruang tamu sudah diredupkan. Suasana sunyi, hanya sesekali terdengar suara kendaraan jauh di bawah jalan raya kota. Namun Vera tidak bisa tidur.Berkali-kali ia mencoba memejamkan mata di kamar tamu, tetapi bayangan kejadian di restoran terus kembali menghantuinya.Akhirnya ia menyerah. Vera keluar dari kamar dan berjalan pelan menuju balkon apartemen.Udara malam langsung menyambutnya ketika ia membuka pintu kaca. Ia duduk di salah satu kursi balkon.Kakinya ia tekuk ke atas kursi, kedua lengannya memeluk lututnya, sementara kepalanya bersandar lemah di sana.Dari lantai setinggi itu, lampu-lampu kota terlihat seperti lautan bintang kecil.Namun mata Vera tidak benar-benar melihat pemandangan itu. Tatapannya kosong. Menerawang jauh.Berulang kali ia menghela napas panjang, seolah ada beban berat yang menekan dadanya dan tidak tahu bagaimana cara melepaskannya.Beberapa menit berlalu dalam kesunyian itu. Hingga tiba-tiba ada suara yang mengejutka

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status