Home / Fantasi / Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi / Bab 3 – Teknik yang Tidak Diakui Langit

Share

Bab 3 – Teknik yang Tidak Diakui Langit

Author: S.E
last update Last Updated: 2025-12-20 14:34:37

Hari-hari berikutnya berlalu tanpa hitungan.

Aku hidup seperti bayangan di hutan. Makan ketika ada, bertahan ketika tidak. Luka di lenganku mengering, meninggalkan rasa perih yang terus mengingatkanku betapa rapuhnya tubuh ini. Setiap malam, aku duduk bersila di sudut gua, menjaga nyala hangat di perutku agar tidak padam.

Nyala itu tidak patuh.

Kadang ia muncul, kadang menghilang. Saat aku mencoba memaksanya berputar mengikuti napas, rasa sakit menyambar seperti besi panas menusuk tulang. Aku jatuh, muntah, lalu bangkit lagi. Tidak ada yang mengajariku mana yang benar. Aku hanya tahu satu hal: jika aku berhenti, semuanya berakhir.

Suatu malam, hujan turun tanpa suara. Air merembes ke dalam gua, membasahi lantai batu. Aku hampir pergi, sampai aku melihatnya.

Ukiran.

Di dinding belakang gua, tertutup lumut dan debu, ada goresan-goresan halus membentuk barisan simbol aneh. Bukan tulisan desa. Bukan juga huruf yang pernah kulihat. Garis-garisnya patah, kasar, seolah diukir oleh seseorang yang kehabisan waktu.

Aku mendekat.

Saat ujung jariku menyentuh ukiran itu, nyala hangat di perutku bergetar keras. Kepalaku berdenyut. Dunia seakan menjauh, menyisakan suara napasku sendiri.

Kata-kata muncul di benakku—bukan sebagai suara, melainkan sebagai pemahaman.

Qi tidak ditarik dari langit.

Qi direbut dari tubuh.

Aku tersentak mundur. Jantungku berdebar.

Teknik.

Bukan teknik yang diajarkan sekte. Tidak ada aliran lembut, tidak ada keselarasan dengan alam. Yang tertulis di sana adalah jalan kasar: memaksa tubuh menyerap sisa-sisa energi dunia melalui rasa sakit, luka, dan kehendak bertahan hidup.

Teknik yang tidak diakui.

Aku menimbang lama. Jika ini jalan yang salah, aku bisa mati. Tapi jika aku menunggu teknik yang benar, aku akan mati lebih cepat.

Aku memilih.

Aku duduk bersila, mengikuti ukiran itu sebisaku. Napasku dipercepat, lalu dipatahkan. Ototku ditegangkan, lalu dilepaskan paksa. Aku menggigit lidahku hingga rasa darah memenuhi mulut.

Nyala hangat itu meledak.

Rasa sakit menghantam seperti palu. Aku terjatuh, tubuhku kejang. Di dalam, energi liar berputar tak beraturan, mengikis dinding-dinding rapuh yang belum siap.

Aku hampir pingsan.

Di ambang gelap, satu pikiran menahanku: wajah ayah, dingin dan tak bernapas.

Aku bertahan.

Saat aku sadar, tubuhku basah oleh keringat dan hujan. Napasku pendek, tapi stabil. Nyala itu masih ada—lebih kasar, lebih berat. Tidak jinak. Namun ia milikku.

Aku tertawa pelan, suara serak yang hampir tidak terdengar.

Langit mungkin tidak mengakuiku.

Tapi aku tidak lagi meminta izin.

Di gua sunyi itu, dengan teknik yang tidak diakui dan tubuh yang menolak menyerah—

aku mengambil langkah pertama untuk berjalan melawan langit.

Aku tidak segera menyadari bahwa apa yang kutemukan di gua itu bukanlah awal kebangkitan, melainkan awal dari pengikisan perlahan.

Nyala Qi yang kasar memang menjawab keputusasaanku, tetapi ia tidak pernah berniat bersikap lembut. Setiap tarikan napas berikutnya akan menuntut lebih banyak dari tubuh ini, dan setiap langkah ke depan akan semakin menjauhkan aku dari batas aman orang biasa.

Aku akan belajar bahwa jalan yang tidak diakui langit tidak sekadar menyakitkan—ia memaksa pemiliknya untuk memilih antara runtuh perlahan atau berdiri dengan tubuh yang terus hancur.

Dan ketika penderitaan itu mulai meluap ke dunia di sekitarku, aku akan menyadari bahwa harga dari jalan ini tidak berhenti pada diriku sendiri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 26 — Nama yang Hampir Terucap

    Hari itu berjalan seperti tugas-tugas sebelumnya.Aku menyelesaikan satu pekerjaan kecil di wilayah yang jarang kudatangi. Tidak ada perintah langsung. Tidak ada penjelasan. Seperti biasa, aku hanya mengisi ruang kosong yang sudah menungguku sejak awal hari.Saat pekerjaanku selesai, aku berbalik untuk pergi.Seseorang berbicara.Bukan perintah. Bukan panggilan jelas. Hanya suara singkat dari belakang, ragu, seolah sedang memastikan sesuatu yang belum sepenuhnya ia yakini.Ucapannya terhenti di tengah.Aku tidak menoleh.Aku tahu, jika aku berhenti sekarang, jarak di antara kami akan berubah. Bukan secara fisik, tapi secara makna. Maka aku tetap melangkah, menjaga ritme yang sama, seolah tidak ada apa pun yang hampir terjadi.Namun aku mendengar cukup jelas bagian yang tidak jadi diucapkan.Itu hampir menjadi nama.Bukan julukan. Bukan sebutan fungsi.Nama.Langkahku tida

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 25 — Harga yang Tidak Disebutkan

    Tidak ada yang berubah pada hari-hari setelah retakan itu muncul. Tugas tetap datang dengan ritme yang sama. Tidak lebih sering, tidak pula berkurang. Orang-orang di sekitarku tetap bergerak seperti biasa, seolah tidak ada satu pun pergeseran yang patut dicatat. Dari luar, hidupku terlihat stabil. Justru kestabilan itulah yang membuatku sadar bahwa sesuatu sedang berlangsung tanpa suara. Pada tugas-tugas kecil, aku mulai merasakan perbedaan yang sulit dijelaskan. Gerakan yang dulu terasa ringan kini membutuhkan perhatian lebih. Qi kasarku tetap patuh, namun setiap kali kugerakkan, ada beban tipis yang tertinggal di tubuh. Bukan nyeri yang jelas. Bukan luka. Lebih seperti kelelahan yang tidak sepenuhnya pergi. Aku mencoba mengabaikannya. Aku tetap menjalankan tugas dengan cara yang sama

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 24 — Retakan Pertama

    Perubahan itu tidak datang dari luar.Ia tidak muncul sebagai perintah baru, ancaman, atau tatapan yang berbeda. Dunia tetap bergerak dengan ritme yang sama, dan tugasku tetap datang tanpa variasi berarti.Namun pada suatu tugas rutin, aku menyadari sesuatu yang halus.Saat perintah itu sampai, aku tidak langsung bergerak.Hanya sepersekian napas.Terlalu singkat untuk disebut ragu.Terlalu kecil untuk dianggap penolakan.Namun jeda itu nyata.Qi kasarku tidak langsung mengikuti kehendak seperti biasanya. Ia bergerak sedikit terlambat, seolah menunggu konfirmasi yang sebelumnya tidak pernah dibutuhkan.Aku tetap menjalankan tugas.Gerakanku tidak meleset.Hasilnya tetap rapi.Tidak ada satu pun detail yang bisa disalahkan.Dari luar, tidak ada perbedaan.Tidak ada yang menoleh.Tidak ada yang mencatat.Tidak ada yang bertanya.Perbedaan itu hanya ada d

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 23 — Orang-Orang yang Tidak Saling Kenal

    Rutinitas kembali berjalan seolah tidak pernah ada yang berubah.Setelah tubuhku menanggung harga dari kesalahan kecil sebelumnya, tugasku tetap datang dengan pola yang sama. Tidak ada pengurangan. Tidak ada penambahan. Dari luar, segalanya tampak stabil. Namun sejak hari itu, aku mulai menyadari sesuatu yang sebelumnya luput dari perhatianku.Di beberapa lokasi, ada bagian pekerjaan yang seharusnya kulakukan, namun sudah selesai ketika aku tiba.Tidak ada tanda siapa yang mengerjakannya. Tidak ada catatan serah terima. Tidak ada alasan yang bisa ditanyakan.Awalnya aku mengira itu kebetulan. Wilayah ini luas, dan aku bukan satu-satunya yang bergerak. Namun kejadian serupa terulang. Di satu tugas lain, aku justru datang lebih awal dan mendapati diriku menyelesaikan pekerjaan yang jelas terlalu rapi untuk hanya ditangani satu orang.Aku tidak merasa didahului. Aku merasa dibagi.Tidak ada koordinasi. Tidak ada perintah tambah

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 22 — Kesalahan yang Tidak Dicatat

    Kesalahan itu terlalu kecil untuk disebut sebagai kesalahan, bahkan oleh diriku sendiri.Dalam salah satu tugas rutin, aku terlambat menyadari sebuah detail yang seharusnya tidak kulewatkan. Bukan kelalaian fatal. Bukan sesuatu yang membuat pekerjaan gagal. Tugas itu tetap selesai, tepat waktu, dan dari luar tidak ada satu pun yang tampak berbeda.Tidak ada yang menegurku.Tidak ada perubahan sikap.Tidak ada konsekuensi yang bisa ditunjuk.Justru itulah yang membuatku gelisah.Aku sudah cukup lama hidup di dunia yang langsung dan kejam. Salah berarti dibalas. Lemah berarti ditekan. Namun kali ini, semuanya berjalan seolah kesalahan itu tidak pernah ada. Seolah dunia memilih untuk tidak mengingatnya.Malam itu, saat aku duduk dan mulai berkultivasi, aku segera merasakan ada yang berubah.Qi kasarku tetap bergerak, namun jalurnya terasa menyempit. Bukan tersumbat. Bukan rusak. Melainkan seperti menolak dilewati denga

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 21 — Fungsi Tanpa Suara

    Tidak ada yang memanggilku hari itu.Namun sejak aku membuka mata, aku tahu aku akan keluar kamar.Bukan karena perintah. Bukan karena janji. Melainkan karena ada ruang kosong di dalam rutinitas dunia ini yang menungguku mengisinya.Aku berjalan melewati lorong wilayah kultivator dengan langkah yang sama seperti biasanya. Tidak tergesa. Tidak ragu. Orang-orang di sekitarku bergerak seperti biasa beberapa berlatih, beberapa berbincang singkat, beberapa hanya lewat tanpa tujuan jelas. Tidak ada satu pun yang menoleh khusus kepadaku.Namun tidak ada pula yang menghalangiku.Aku berhenti di sebuah bangunan penyimpanan kecil. Pintu kayunya sudah terbuka setengah, seolah sengaja dibiarkan begitu. Di dalamnya, beberapa peti kayu tersusun rapi. Tidak ada tanda kepemilikan. Tidak ada segel.Aku tahu apa yang harus kulakukan.Aku memindahkan dua peti ke tempat lain. Bukan pekerjaan berat. Bukan pekerjaan penting. Namun saat a

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status