Home / Fantasi / Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi / Bab 1 – Langit yang Tidak Pernah Salah

Share

Bab 1 – Langit yang Tidak Pernah Salah

Author: S.E
last update Last Updated: 2025-12-20 14:34:56

Namaku Wen Fan.

Aku lahir di desa kecil bernama Shui Mo, sebuah tempat yang nyaris terlupakan oleh dunia. Desa itu tidak miskin, namun juga tidak hidup. Ia hanya bertahan. Hari-hari berlalu tanpa tujuan, seperti air sungai yang mengalir tanpa pernah bertanya ke mana ia akan berakhir.

Sejak kecil, aku sudah memahami satu kenyataan sederhana.

Aku tidak berbakat.

Ketika usiaku sepuluh tahun, seorang kultivator pengelana singgah dan menguji anak-anak desa. Satu per satu, mereka maju dengan wajah penuh harap. Saat giliranku tiba, telapak tangannya menyentuh dahiku. Sentuhan itu singkat. Terlalu singkat.

Ia menggeleng.

“Tak ada akar spiritual,” katanya datar.

Sejak hari itu, namaku berhenti disebut. Tidak ada ejekan. Tidak ada belas kasihan. Di dunia ini, ketidakbergunaan tidak pantas mendapatkan reaksi apa pun.

Aku menerimanya.

Aku membantu ayah di gudang kayu. Mengangkat balok, membersihkan serbuk, menukar tenaga dengan semangkuk nasi. Ayah jarang bicara. Ketika ia berbicara, kalimatnya sederhana.

“Selama kita hidup jujur,” katanya suatu malam,

“langit tidak akan terlalu kejam.”

Aku mempercayainya.

Hari itu, langit cerah.

Tidak ada tanda bahaya ketika tiga kultivator turun dari udara. Mereka tidak membawa niat jahat. Setidaknya, tidak secara terang-terangan. Namun di dunia ini, keberadaan kultivator saja sudah cukup untuk mengubah segalanya.

Penduduk desa berlutut serempak. Aku ikut menunduk di samping ayah. Nafasku teratur. Pikiranku kosong. Aku berharap mereka segera pergi.

Salah satu dari mereka menatap gudang kayu kami. Ia mengernyit, seolah terganggu oleh sesuatu yang sepele.

“Bangunan ini menghalangi aliran Qi,” katanya.

Kalimat itu singkat.

Dampaknya mutlak.

Ia melambaikan tangan.

Gudang kayu runtuh dalam sekejap. Debu memenuhi udara. Tanah bergetar. Ayah terpental, tubuhnya menghantam tiang batu dengan suara tumpul. Aku berteriak dan berlari ke arahnya, namun tekanan tak terlihat menekanku ke tanah.

Aku tidak bisa bergerak.

Aku hanya bisa melihat darah mengalir dari pelipis ayah. Matanya terbuka, namun pandangannya kosong.

“Mohon… berhenti…” suaraku pecah.

Kultivator itu melirikku. Tatapannya tenang, tanpa emosi.

“Orang biasa,” katanya. “Tak perlu diperhatikan.”

Mereka pergi begitu saja.

Tidak ada penjelasan.

Tidak ada penyesalan.

Langit kembali sunyi.

Aku merangkak menuju ayah. Tanganku gemetar saat menyentuh tubuhnya. Dingin. Tidak ada napas. Aku menunggu air mata, namun mataku kering. Yang tersisa hanya rasa berat di dada, seolah sesuatu runtuh perlahan di dalam diriku.

Malam itu, aku mengubur ayah sendirian.

Tidak ada doa. Tidak ada tangisan. Hanya tanah basah dan bau darah yang belum sepenuhnya hilang.

Aku mengangkat kepala dan menatap langit.

Langit itu luas. Tenang. Seolah tidak terjadi apa-apa.

Saat itulah aku mengerti.

Langit tidak pernah salah.

Yang salah adalah aku karena terlalu lemah untuk menolak apa pun.

Aku mengepalkan tangan hingga kuku menusuk kulit.

Jika kultivasi adalah hak mereka yang berbakat, maka aku akan mencari jalan yang tidak membutuhkan bakat.

Jika takdir sudah ditentukan, maka aku akan hidup cukup lama untuk menentangnya.

Di bawah langit sunyi itu, sumpahku lahir.

Dan sejak malam itu, aku berhenti menjadi orang biasa.

Aku tidak tahu berapa lama aku bisa bertahan.

Namun aku belum tahu bahwa langkah pertamaku menjauh dari Desa Shui Mo akan membawaku ke tempat di mana manusia mati tanpa nama, binatang berburu dengan kecerdikan, dan tubuh orang tak berbakat sepertiku dipaksa memilih hancur perlahan, atau berubah dengan cara yang tidak seharusnya.

Jalan itu menungguku di pegunungan utara.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 26 — Nama yang Hampir Terucap

    Hari itu berjalan seperti tugas-tugas sebelumnya.Aku menyelesaikan satu pekerjaan kecil di wilayah yang jarang kudatangi. Tidak ada perintah langsung. Tidak ada penjelasan. Seperti biasa, aku hanya mengisi ruang kosong yang sudah menungguku sejak awal hari.Saat pekerjaanku selesai, aku berbalik untuk pergi.Seseorang berbicara.Bukan perintah. Bukan panggilan jelas. Hanya suara singkat dari belakang, ragu, seolah sedang memastikan sesuatu yang belum sepenuhnya ia yakini.Ucapannya terhenti di tengah.Aku tidak menoleh.Aku tahu, jika aku berhenti sekarang, jarak di antara kami akan berubah. Bukan secara fisik, tapi secara makna. Maka aku tetap melangkah, menjaga ritme yang sama, seolah tidak ada apa pun yang hampir terjadi.Namun aku mendengar cukup jelas bagian yang tidak jadi diucapkan.Itu hampir menjadi nama.Bukan julukan. Bukan sebutan fungsi.Nama.Langkahku tida

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 25 — Harga yang Tidak Disebutkan

    Tidak ada yang berubah pada hari-hari setelah retakan itu muncul. Tugas tetap datang dengan ritme yang sama. Tidak lebih sering, tidak pula berkurang. Orang-orang di sekitarku tetap bergerak seperti biasa, seolah tidak ada satu pun pergeseran yang patut dicatat. Dari luar, hidupku terlihat stabil. Justru kestabilan itulah yang membuatku sadar bahwa sesuatu sedang berlangsung tanpa suara. Pada tugas-tugas kecil, aku mulai merasakan perbedaan yang sulit dijelaskan. Gerakan yang dulu terasa ringan kini membutuhkan perhatian lebih. Qi kasarku tetap patuh, namun setiap kali kugerakkan, ada beban tipis yang tertinggal di tubuh. Bukan nyeri yang jelas. Bukan luka. Lebih seperti kelelahan yang tidak sepenuhnya pergi. Aku mencoba mengabaikannya. Aku tetap menjalankan tugas dengan cara yang sama

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 24 — Retakan Pertama

    Perubahan itu tidak datang dari luar.Ia tidak muncul sebagai perintah baru, ancaman, atau tatapan yang berbeda. Dunia tetap bergerak dengan ritme yang sama, dan tugasku tetap datang tanpa variasi berarti.Namun pada suatu tugas rutin, aku menyadari sesuatu yang halus.Saat perintah itu sampai, aku tidak langsung bergerak.Hanya sepersekian napas.Terlalu singkat untuk disebut ragu.Terlalu kecil untuk dianggap penolakan.Namun jeda itu nyata.Qi kasarku tidak langsung mengikuti kehendak seperti biasanya. Ia bergerak sedikit terlambat, seolah menunggu konfirmasi yang sebelumnya tidak pernah dibutuhkan.Aku tetap menjalankan tugas.Gerakanku tidak meleset.Hasilnya tetap rapi.Tidak ada satu pun detail yang bisa disalahkan.Dari luar, tidak ada perbedaan.Tidak ada yang menoleh.Tidak ada yang mencatat.Tidak ada yang bertanya.Perbedaan itu hanya ada d

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 23 — Orang-Orang yang Tidak Saling Kenal

    Rutinitas kembali berjalan seolah tidak pernah ada yang berubah.Setelah tubuhku menanggung harga dari kesalahan kecil sebelumnya, tugasku tetap datang dengan pola yang sama. Tidak ada pengurangan. Tidak ada penambahan. Dari luar, segalanya tampak stabil. Namun sejak hari itu, aku mulai menyadari sesuatu yang sebelumnya luput dari perhatianku.Di beberapa lokasi, ada bagian pekerjaan yang seharusnya kulakukan, namun sudah selesai ketika aku tiba.Tidak ada tanda siapa yang mengerjakannya. Tidak ada catatan serah terima. Tidak ada alasan yang bisa ditanyakan.Awalnya aku mengira itu kebetulan. Wilayah ini luas, dan aku bukan satu-satunya yang bergerak. Namun kejadian serupa terulang. Di satu tugas lain, aku justru datang lebih awal dan mendapati diriku menyelesaikan pekerjaan yang jelas terlalu rapi untuk hanya ditangani satu orang.Aku tidak merasa didahului. Aku merasa dibagi.Tidak ada koordinasi. Tidak ada perintah tambah

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 22 — Kesalahan yang Tidak Dicatat

    Kesalahan itu terlalu kecil untuk disebut sebagai kesalahan, bahkan oleh diriku sendiri.Dalam salah satu tugas rutin, aku terlambat menyadari sebuah detail yang seharusnya tidak kulewatkan. Bukan kelalaian fatal. Bukan sesuatu yang membuat pekerjaan gagal. Tugas itu tetap selesai, tepat waktu, dan dari luar tidak ada satu pun yang tampak berbeda.Tidak ada yang menegurku.Tidak ada perubahan sikap.Tidak ada konsekuensi yang bisa ditunjuk.Justru itulah yang membuatku gelisah.Aku sudah cukup lama hidup di dunia yang langsung dan kejam. Salah berarti dibalas. Lemah berarti ditekan. Namun kali ini, semuanya berjalan seolah kesalahan itu tidak pernah ada. Seolah dunia memilih untuk tidak mengingatnya.Malam itu, saat aku duduk dan mulai berkultivasi, aku segera merasakan ada yang berubah.Qi kasarku tetap bergerak, namun jalurnya terasa menyempit. Bukan tersumbat. Bukan rusak. Melainkan seperti menolak dilewati denga

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 21 — Fungsi Tanpa Suara

    Tidak ada yang memanggilku hari itu.Namun sejak aku membuka mata, aku tahu aku akan keluar kamar.Bukan karena perintah. Bukan karena janji. Melainkan karena ada ruang kosong di dalam rutinitas dunia ini yang menungguku mengisinya.Aku berjalan melewati lorong wilayah kultivator dengan langkah yang sama seperti biasanya. Tidak tergesa. Tidak ragu. Orang-orang di sekitarku bergerak seperti biasa beberapa berlatih, beberapa berbincang singkat, beberapa hanya lewat tanpa tujuan jelas. Tidak ada satu pun yang menoleh khusus kepadaku.Namun tidak ada pula yang menghalangiku.Aku berhenti di sebuah bangunan penyimpanan kecil. Pintu kayunya sudah terbuka setengah, seolah sengaja dibiarkan begitu. Di dalamnya, beberapa peti kayu tersusun rapi. Tidak ada tanda kepemilikan. Tidak ada segel.Aku tahu apa yang harus kulakukan.Aku memindahkan dua peti ke tempat lain. Bukan pekerjaan berat. Bukan pekerjaan penting. Namun saat a

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status