Beranda / Fantasi / Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi / Bab 2 – Jalan Sunyi Orang Tak Berbakat

Share

Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi
Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi
Penulis: S.E

Bab 2 – Jalan Sunyi Orang Tak Berbakat

Penulis: S.E
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-20 14:29:26

Aku meninggalkan Desa Shui Mo sebelum matahari terbit.

Tidak ada yang mengantarku. Tidak ada yang menanyakan ke mana aku pergi. Di desa itu, setiap orang sibuk menjaga hidupnya sendiri. Aku tidak menyalahkan mereka. Jika aku berada di posisi mereka, mungkin aku juga akan memilih diam.

Aku membawa karung kecil berisi pakaian lusuh, sebilah kapak tua milik ayah, dan beberapa potong roti kering. Tidak lebih. Orang biasa seperti aku tidak punya kemewahan untuk memilih.

Langkahku menuju pegunungan di utara.

Di sana, menurut cerita, tidak ada desa. Tidak ada jalan dagang. Hanya hutan lebat dan binatang buas. Tempat yang tidak disukai manusia—dan karena itu, jarang disentuh kultivator.

Itu sudah cukup bagiku.

Hari-hari pertama adalah siksaan.

Kakiku lecet, pundakku nyeri, dan perutku sering kosong. Beberapa kali aku hampir berbalik. Setiap kali pikiran itu muncul, bayangan ayah tergeletak di tanah kembali muncul di kepalaku. Lalu aku melangkah lagi.

Malam hari adalah yang terburuk.

Hutan gelap. Suara binatang terdengar dari segala arah. Aku tidur dengan punggung menempel pada pohon, kapak di pangkuan. Beberapa kali aku terbangun karena mimpi buruk—mimpi tentang tatapan kosong kultivator itu.

Pada hari ketujuh, aku hampir mati.

Seekor serigala abu-abu menyerang saat aku mencari air. Aku menebas dengan kapak sekuat tenaga, tapi tubuhku terlalu lambat. Cakar itu menyayat lenganku. Rasa sakit membuat pandanganku gelap.

Aku menang.

Atau mungkin, serigala itu hanya memilih pergi.

Aku duduk terengah-engah di tanah, darah menetes dari lenganku. Tubuhku gemetar, bukan hanya karena luka, tapi karena kesadaran yang menghantamku dengan keras.

Aku terlalu lemah.

Jika terus begini, aku tidak akan hidup cukup lama untuk menentang apa pun.

Malam itu, aku duduk bersila di dalam gua kecil. Aku menutup mata, mengatur napas, menenangkan pikiran seperti yang pernah kulihat dilakukan para kultivator dari kejauhan.

Aku tidak tahu apa yang kulakukan.

Aku hanya mengikuti satu keyakinan sederhana: jika tubuh ini milikku, maka seharusnya aku bisa mendengarkannya.

Awalnya, tidak ada apa-apa.

Lalu, perlahan, aku merasakan sesuatu.

Hangat.

Sangat lemah. Seperti nyala lilin di tengah angin. Sensasi itu muncul di perut bagian bawah, berdenyut pelan mengikuti detak jantungku.

Rasa sakit menyusul.

Ototku menegang. Kepalaku pening. Keringat dingin membasahi punggung. Beberapa kali aku hampir berhenti. Tapi aku bertahan.

Aku tidak punya bakat.

Jika aku berhenti karena sedikit rasa sakit, maka aku pantas diinjak selamanya.

Entah berapa lama waktu berlalu. Saat aku membuka mata, fajar sudah menyentuh mulut gua. Sensasi hangat itu masih ada. Tidak kuat. Tidak stabil. Tapi nyata.

Aku tidak tahu apakah ini disebut kultivasi.

Namun aku tahu satu hal.

Untuk pertama kalinya, aku tidak sepenuhnya pasrah pada langit.

Di kedalaman hutan, tanpa guru, tanpa teknik, dan tanpa jaminan hidup.

aku mulai menapaki jalan sunyi orang yang tidak pernah diharapkan berhasil.

Aku belum tahu bahwa nyala lemah di dalam tubuhku bukanlah awal yang benar. Ia tidak tumbuh dengan cara yang seharusnya, dan tidak mengikuti aturan yang diakui dunia ini.

Di hutan sunyi itu, tanpa guru dan tanpa perlindungan langit, aku akan menemukan sesuatu yang seharusnya tidak disentuh oleh orang biasa sebuah jalan kasar yang menolak pengakuan, namun menuntut harga yang tidak bisa dibayar dengan penyesalan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 63 — Zona yang Tidak Menjanjikan

    Sesampainya di zona tersebut.Yan tidak langsung melangkah masuk.Zona itu terbentang di hadapannya seperti kesalahan yang dibiarkan terlalu lama. Tidak ada penanda jelas. Tidak ada batas tegas antara wilayah aman dan wilayah yang seharusnya tidak diinjak. Dunia di sekitarnya masih berfungsi angin bergerak, cahaya jatuh, bayangan terbentuk namun semuanya terasa setengah niat, seolah realitas hanya melakukan cukup banyak agar tidak runtuh.Yan berhenti di luar jangkauan pengaruh terkuat zona itu.Bukan karena takut.Melainkan karena ia telah belajar satu hal: setiap peluang yang tidak dijaga oleh bahaya, biasanya bukan peluang melainkan umpan.Ia berdiri diam, membiarkan tubuhnya menyesuaikan diri dengan ritme sekitar. Qi di dalam tubuhnya tidak ia dorong keluar. Tidak ia panggil. Ia hanya dibiarkan berputar dengan pola barunya patah, tidak simetris, namun konsisten. Dengan cara itu, Yan tidak “menyentuh” dunia. Ia hanya berada cu

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 62 — Zona yang Tidak Dihitung

    Aku memasuki wilayah itu tanpa tanda.Tidak ada batas batu. Tidak ada perubahan langit. Bahkan arah angin tetap sama. Namun langkah pertama saja sudah cukup untuk membuatku mengerti zona ini memang tidak diciptakan untuk dikenali.Qi di sekitarku tipis. Bukan kosong, tapi seperti sengaja diratakan. Setiap aliran yang biasanya memberi petunjuk arah di dunia luar di sini teredam, seolah realitas sedang menghemat keberadaannya sendiri.Aku berjalan.Tidak cepat. Tidak pula berhenti.Retakan di intiku terasa lebih tenang di sini, tapi ketenangan itu tidak menenangkan. Ia seperti keheningan sebelum sesuatu diputuskan.Langkahku terhenti saat bau darah muncul.Samar.Bukan pekat seperti pertempuran besar, melainkan jejak tergesa luka yang belum sempat membusuk, napas yang dipaksa terus bergerak.Aku tidak berniat ikut campur.Namun zona ini tidak memberi ruang bagi niat untuk tetap bersih.

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 61 — Kota di Antara Retakan

    Yan berhenti bukan karena tujuannya telah tercapai.Ia berhenti karena tubuhnya memintanya melambat bukan dengan rasa sakit yang tajam, melainkan dengan ketidakselarasan yang semakin sering muncul setiap kali ia memaksa aliran Qi bergerak terlalu jauh.Kota itu muncul di hadapannya tanpa tanda istimewa.Tidak ada aura kuno. Tidak ada tekanan hukum yang berat. Tidak pula keheningan aneh seperti zona mati yang pernah ia lewati. Ia hanyalah sebuah kota persimpangan tempat orang datang, berhenti sejenak, lalu pergi tanpa membawa terlalu banyak jejak.Dan justru itu yang dibutuhkan Yan.Ia memasuki kota dengan langkah yang sengaja diperlambat. Untuk pertama kalinya sejak memilih jalan ketiga, ia menurunkan kehadirannya seminimal mungkin. Tidak menyembunyikan diri, tapi juga tidak menegaskan eksistensinya. Ia membiarkan dunia kembali menganggapnya sebagai satu individu biasa selama dunia masih mau berpura-pura.Di dalam kota,

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 60 — Jalan yang Tidak Dicatat

    Keputusan itu tidak datang dalam bentuk ledakan kehendak.Ia hadir sebagai keheningan yang akhirnya berhenti bernegosiasi.Aku berdiri cukup lama setelah proposal kedua dunia runtuh dengan sendirinya. Tidak ada penolakan dariku. Tidak ada persetujuan. Aku hanya membiarkan lintasan yang disediakan dunia berlalu tanpa kugenggam. Dan seperti semua hal yang tidak kugenggam lagi, ia mengalir pergi.Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, dunia tidak mencoba mengejar.Bukan karena ia menyerah.Melainkan karena ia tidak lagi tahu ke arah mana aku akan bergerak.Aku melangkah pergi.Tidak ke arah yang ditunjukkan hukum. Tidak pula menjauh dengan perlawanan terbuka. Aku memilih arah yang tidak memiliki makna simbolik apa pun jalur tanah yang tidak diberi nama, langit yang tidak disematkan fungsi, dan ruang yang tidak disiapkan untuk diuji.Setiap langkah terasa aneh.Bukan berat.Bukan

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 59 — Proposal Kedua: Biaya yang Tidak Ditulis

    Aku tidak menerima apa pun. Namun dunia tetap melanjutkan tawarannya. Proposal kedua tidak datang sebagai tekanan langsung. Tidak ada perubahan mendadak pada tubuhku. Tidak ada hukum yang mencoba menyentuh inti atau kehendakku. Dunia belajar dari kegagalan sebelumnya: setiap upaya untuk memaksaku hanya akan mempertegas jarak yang telah tercipta. Maka ia memilih jalan lain. Lingkungan di sekitarku mulai stabil terlalu stabil. Tanah tidak lagi kehilangan detail. Udara tidak lagi terasa kosong. Bahkan aliran Qi di luar tubuhku tampak kembali mengikuti pola yang dapat dikenali. Jika aku hanya memperhatikan radius beberapa puluh langkah, dunia tampak seolah telah berdamai dengan keberadaanku. Namun aku merasakan sesuatu yang salah. Bukan di sini. Di tempat lain. Getaran halus merambat melalui struktur realitas, seperti gema yang datang terlambat dari kejadian

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 58 — Proposal Tanpa Kata

    Aku menyadarinya bukan karena ada yang berubah.Melainkan karena terlalu banyak hal yang tidak lagi berubah secara acak.Lintasan di depanku menjadi rapi.Bukan rata. Bukan aman. Tapi tersusun seolah dunia tiba-tiba mengingat kembali cara menghemat kemungkinan. Retakan ruang yang sebelumnya muncul dan hilang tanpa pola kini hanya muncul di titik-titik tertentu. Angin yang dulu tak pernah benar-benar menyentuhku kini selalu berbelok dengan sudut yang sama. Bahkan bayanganku jatuh dengan keterlambatan yang konsisten.Ini bukan kebetulan.Dunia sedang bekerja.Namun bukan dengan cara lama.Tidak ada tekanan hukum yang turun. Tidak ada penunggu yang menampakkan diri. Tidak ada resonansi yang memaksaku menyesuaikan kehendak. Dunia ini tidak menuntutku kembali ke dalam jalurnya ia sedang mencoba menyusunkanku ke dalam sebuah model.Sebuah proposal.Bukan yang diucapkan.Yang dibangun.A

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status