Beranda / Fantasi / Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi / Bab 6 – Jejak yang Tidak Bisa Dihapus

Share

Bab 6 – Jejak yang Tidak Bisa Dihapus

Penulis: S.E
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-23 00:43:06

Pagi datang tanpa membawa harapan.

Aku meninggalkan reruntuhan pondok sebelum cahaya sepenuhnya naik. Kabut tipis menyelimuti lereng, menelan jejak kakiku yang sempat mengering. Tubuhku masih dipenuhi rasa sakit, luka di bahu berdenyut tanpa henti. Namun di dalam dadaku, nyala Qi kasar itu berputar perlahan, dingin, tidak ramah, seolah selalu siap merobek tubuh ini kapan saja.

Aku berjalan ke arah timur tanpa tujuan jelas.

Setiap langkah terasa berat. Aku tidak lagi berharap pada keberuntungan. Dunia ini tidak mengenal belas kasihan. Aku hanya berjalan karena berhenti berarti mati.

Menjelang tengah hari, tekanan samar menyentuh inderaku. Tidak kuat, tapi cukup untuk membuat kulitku merinding. Aku berhenti di balik bebatuan, menahan napas. Di kejauhan, dua kultivator berjalan menyusuri jalur lama. Aura mereka tidak stabil, namun jelas lebih terlatih dibanding yang sebelumnya.

Pemburu.

Aku menurunkan kepala, memaksa Qi di tubuhku menyusut. Teknik sesat itu menuntut harga. Dada kiriku terasa perih, tenggorokan panas, tapi aku bertahan. Jika mereka menyadari keberadaanku, aku tidak akan diberi kesempatan melawan.

Suara langkah mendekat.

“Jejaknya masih ada,” ujar salah satu dari mereka.

Aku tahu aku tidak bisa terus bersembunyi.

Saat jarak mereka semakin dekat, aku melempar batu ke arah berlawanan. Bunyi benturan memecah keheningan. Mereka berpaling sesaat. Kesempatan itu kupakai untuk bergerak. Aku berlari menuruni lereng, membiarkan tubuhku terguling di tanah keras.

Teriakan terdengar di belakang.

Aku memasuki celah sempit di antara dua tebing. Jalan itu dipenuhi batu tajam dan akar pohon. Kakiku berdarah, napasku kacau. Aku memaksa Qi kasar itu mengalir ke otot-ototku.

Rasa sakit melonjak.

Namun tubuhku bergerak lebih cepat.

Salah satu pemburu tertinggal. Yang lain tetap mengejar. Tekanannya semakin jelas, menusuk punggungku seperti bilah es. Aku tahu, jika ini berlanjut, aku akan mati kelelahan.

Aku berhenti mendadak.

Aku berbalik dan mengangkat kapak tua ayah. Tidak ada teknik indah. Tidak ada perhitungan matang. Hanya satu tebasan yang kucurahkan dengan seluruh kehendakku.

Benturan keras menggema.

Tubuhku terpental ke dinding batu. Darah mengalir dari sudut bibirku. Lawanku juga terhuyung, lengannya terluka parah. Kami saling menatap dalam diam.

Aku melihat keraguan di matanya.

Keraguan itu cukup.

Aku mundur perlahan, lalu berlari tanpa menoleh lagi.

Malam turun saat aku akhirnya berhenti di bawah pohon tua. Tubuhku remuk, pandanganku berkunang, namun aku masih bernapas. Aku menatap langit gelap tanpa bintang.

Jejak ini mungkin tidak akan pernah hilang.

Namun suatu hari nanti, aku akan cukup kuat hingga tidak perlu lagi menghapusnya.

Aku akan berjalan terus, meski langit sendiri berdiri di hadapanku.

Aku sempat berpikir malam itu hanyalah akhir dari kelelahan.

Ternyata, itu hanyalah awal dari sesuatu yang lebih pelan, lebih kejam.

Saat kesadaranku tenggelam, nyala Qi di dalam tubuhku tidak ikut diam. Ia terus berputar, saling bertabrakan dengan dinding yang sudah rapuh. Ada bagian dari diriku yang retak tanpa suara, tanpa darah, namun meninggalkan rasa hampa yang tidak bisa diabaikan.

Aku tidak tahu berapa lama aku tergeletak.

Yang kutahu hanyalah ini—ketika aku membuka mata nanti, tubuh ini tidak akan lagi sama.

Jejak yang kutinggalkan selama pelarian bukan hanya di tanah dan batu. Ia telah masuk ke dalam diriku sendiri. Setiap putaran Qi kini membawa risiko: bertahan sedikit lebih lama, atau runtuh lebih cepat. Tidak ada lagi keseimbangan. Hanya batas tipis yang bisa pecah kapan saja.

Dan di balik rasa sakit itu, ada sesuatu yang berubah.

Aku mulai merasakan bahwa Qi ini bukan sekadar kekuatan yang kucuri dari dunia. Ia mengingat. Ia menanggapi. Seolah setiap penderitaan yang kuterima sedang dicatat, dipadatkan, menunggu saat yang tepat untuk menuntut balasan.

Aku tidak tahu apakah tubuhku akan mampu menahannya.

Namun aku tahu satu hal—jika aku berhenti sekarang, semua yang kulalui akan menjadi sia-sia.

Langit tidak akan peduli apakah aku mati karena dibunuh, atau karena hancur dari dalam.

Di jalan berikutnya, aku akan dipaksa memilih:

menjinakkan kehendak liar ini…

atau membiarkannya meretakkan tubuhku sedikit demi sedikit sampai tidak ada lagi yang tersisa untuk diselamatkan.

Dan mungkin, di antara reruntuhan itu, akan muncul secercah keberuntungan yang tidak seharusnya kumiliki.

Atau justru sesuatu yang membuatku menyesal karena masih bernapas.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 63 — Zona yang Tidak Menjanjikan

    Sesampainya di zona tersebut.Yan tidak langsung melangkah masuk.Zona itu terbentang di hadapannya seperti kesalahan yang dibiarkan terlalu lama. Tidak ada penanda jelas. Tidak ada batas tegas antara wilayah aman dan wilayah yang seharusnya tidak diinjak. Dunia di sekitarnya masih berfungsi angin bergerak, cahaya jatuh, bayangan terbentuk namun semuanya terasa setengah niat, seolah realitas hanya melakukan cukup banyak agar tidak runtuh.Yan berhenti di luar jangkauan pengaruh terkuat zona itu.Bukan karena takut.Melainkan karena ia telah belajar satu hal: setiap peluang yang tidak dijaga oleh bahaya, biasanya bukan peluang melainkan umpan.Ia berdiri diam, membiarkan tubuhnya menyesuaikan diri dengan ritme sekitar. Qi di dalam tubuhnya tidak ia dorong keluar. Tidak ia panggil. Ia hanya dibiarkan berputar dengan pola barunya patah, tidak simetris, namun konsisten. Dengan cara itu, Yan tidak “menyentuh” dunia. Ia hanya berada cu

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 62 — Zona yang Tidak Dihitung

    Aku memasuki wilayah itu tanpa tanda.Tidak ada batas batu. Tidak ada perubahan langit. Bahkan arah angin tetap sama. Namun langkah pertama saja sudah cukup untuk membuatku mengerti zona ini memang tidak diciptakan untuk dikenali.Qi di sekitarku tipis. Bukan kosong, tapi seperti sengaja diratakan. Setiap aliran yang biasanya memberi petunjuk arah di dunia luar di sini teredam, seolah realitas sedang menghemat keberadaannya sendiri.Aku berjalan.Tidak cepat. Tidak pula berhenti.Retakan di intiku terasa lebih tenang di sini, tapi ketenangan itu tidak menenangkan. Ia seperti keheningan sebelum sesuatu diputuskan.Langkahku terhenti saat bau darah muncul.Samar.Bukan pekat seperti pertempuran besar, melainkan jejak tergesa luka yang belum sempat membusuk, napas yang dipaksa terus bergerak.Aku tidak berniat ikut campur.Namun zona ini tidak memberi ruang bagi niat untuk tetap bersih.

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 61 — Kota di Antara Retakan

    Yan berhenti bukan karena tujuannya telah tercapai.Ia berhenti karena tubuhnya memintanya melambat bukan dengan rasa sakit yang tajam, melainkan dengan ketidakselarasan yang semakin sering muncul setiap kali ia memaksa aliran Qi bergerak terlalu jauh.Kota itu muncul di hadapannya tanpa tanda istimewa.Tidak ada aura kuno. Tidak ada tekanan hukum yang berat. Tidak pula keheningan aneh seperti zona mati yang pernah ia lewati. Ia hanyalah sebuah kota persimpangan tempat orang datang, berhenti sejenak, lalu pergi tanpa membawa terlalu banyak jejak.Dan justru itu yang dibutuhkan Yan.Ia memasuki kota dengan langkah yang sengaja diperlambat. Untuk pertama kalinya sejak memilih jalan ketiga, ia menurunkan kehadirannya seminimal mungkin. Tidak menyembunyikan diri, tapi juga tidak menegaskan eksistensinya. Ia membiarkan dunia kembali menganggapnya sebagai satu individu biasa selama dunia masih mau berpura-pura.Di dalam kota,

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 60 — Jalan yang Tidak Dicatat

    Keputusan itu tidak datang dalam bentuk ledakan kehendak.Ia hadir sebagai keheningan yang akhirnya berhenti bernegosiasi.Aku berdiri cukup lama setelah proposal kedua dunia runtuh dengan sendirinya. Tidak ada penolakan dariku. Tidak ada persetujuan. Aku hanya membiarkan lintasan yang disediakan dunia berlalu tanpa kugenggam. Dan seperti semua hal yang tidak kugenggam lagi, ia mengalir pergi.Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, dunia tidak mencoba mengejar.Bukan karena ia menyerah.Melainkan karena ia tidak lagi tahu ke arah mana aku akan bergerak.Aku melangkah pergi.Tidak ke arah yang ditunjukkan hukum. Tidak pula menjauh dengan perlawanan terbuka. Aku memilih arah yang tidak memiliki makna simbolik apa pun jalur tanah yang tidak diberi nama, langit yang tidak disematkan fungsi, dan ruang yang tidak disiapkan untuk diuji.Setiap langkah terasa aneh.Bukan berat.Bukan

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 59 — Proposal Kedua: Biaya yang Tidak Ditulis

    Aku tidak menerima apa pun. Namun dunia tetap melanjutkan tawarannya. Proposal kedua tidak datang sebagai tekanan langsung. Tidak ada perubahan mendadak pada tubuhku. Tidak ada hukum yang mencoba menyentuh inti atau kehendakku. Dunia belajar dari kegagalan sebelumnya: setiap upaya untuk memaksaku hanya akan mempertegas jarak yang telah tercipta. Maka ia memilih jalan lain. Lingkungan di sekitarku mulai stabil terlalu stabil. Tanah tidak lagi kehilangan detail. Udara tidak lagi terasa kosong. Bahkan aliran Qi di luar tubuhku tampak kembali mengikuti pola yang dapat dikenali. Jika aku hanya memperhatikan radius beberapa puluh langkah, dunia tampak seolah telah berdamai dengan keberadaanku. Namun aku merasakan sesuatu yang salah. Bukan di sini. Di tempat lain. Getaran halus merambat melalui struktur realitas, seperti gema yang datang terlambat dari kejadian

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 58 — Proposal Tanpa Kata

    Aku menyadarinya bukan karena ada yang berubah.Melainkan karena terlalu banyak hal yang tidak lagi berubah secara acak.Lintasan di depanku menjadi rapi.Bukan rata. Bukan aman. Tapi tersusun seolah dunia tiba-tiba mengingat kembali cara menghemat kemungkinan. Retakan ruang yang sebelumnya muncul dan hilang tanpa pola kini hanya muncul di titik-titik tertentu. Angin yang dulu tak pernah benar-benar menyentuhku kini selalu berbelok dengan sudut yang sama. Bahkan bayanganku jatuh dengan keterlambatan yang konsisten.Ini bukan kebetulan.Dunia sedang bekerja.Namun bukan dengan cara lama.Tidak ada tekanan hukum yang turun. Tidak ada penunggu yang menampakkan diri. Tidak ada resonansi yang memaksaku menyesuaikan kehendak. Dunia ini tidak menuntutku kembali ke dalam jalurnya ia sedang mencoba menyusunkanku ke dalam sebuah model.Sebuah proposal.Bukan yang diucapkan.Yang dibangun.A

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status