Beranda / Fantasi / Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi / Bab 5 – Bayangan di Balik Langkahku

Share

Bab 5 – Bayangan di Balik Langkahku

Penulis: S.E
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-20 14:41:02

Aku berjalan tanpa arah yang pasti.

Hutan semakin rapat, cahaya matahari sulit menembus kanopi daun. Tubuhku masih sakit—setiap napas terasa berat, seolah paru-paruku dipenuhi debu besi. Namun nyala Qi kasar itu tetap berputar di dadaku, menjaga kesadaranku agar tidak tenggelam.

Aku tahu satu hal dengan jelas: aku tidak bisa kembali.

Jejak darah yang kutinggalkan pasti sudah menarik perhatian. Tiga kultivator tingkat rendah bukan orang sembarangan. Mereka punya afiliasi. Punya guru. Punya sekte.

Dan sekte tidak melupakan darahnya.

Menjelang senja, tekanan itu datang.

Tidak terlihat, tidak terdengar—namun lututku melemas seketika. Udara di sekitarku terasa berat, seolah dunia menekan dari segala arah. Nyala Qi di dalam tubuhku bergetar liar, hampir runtuh.

Aku membeku.

Ini bukan kultivator biasa.

Aku memaksa diriku menenangkan napas, mengingat ukiran di gua. *Qi direbut dari tubuh.* Aku menahan rasa sakit, memadatkan nyala itu ke titik kecil di dadaku. Tubuhku menjerit, tapi tekanan di luar sedikit mereda.

Seseorang lewat.

Di kejauhan, di atas cabang pohon, sesosok bayangan melayang ringan. Jubah abu-abu dengan lambang sekte di dada. Wajahnya tidak jelas, tapi auranya tajam seperti bilah pedang.

Seorang senior.

Aku menunduk, menyembunyikan seluruh napas dan denyut Qi. Keringat dingin mengalir di punggungku. Jika dia menoleh sedikit saja, aku akan mati tanpa sempat melawan.

Waktu terasa berhenti.

Akhirnya, bayangan itu menjauh.

Aku terjatuh terduduk, paru-paruku terasa terbakar. Aku tertawa pelan—tawa orang yang lolos dari kematian dengan jarak setipis rambut.

Malam turun cepat.

Aku menemukan reruntuhan pondok tua di lereng bukit. Atapnya runtuh, dindingnya retak, tapi cukup untuk berlindung. Di sana, aku mengikat lukaku dengan kain sobek, lalu duduk bersila.

Aku mencoba berkultivasi.

Namun kali ini berbeda.

Nyala Qi kasar itu tidak lagi hanya menyakitkan. Ia terasa… lapar. Seolah menginginkan lebih dari sekadar rasa sakit. Saat aku memaksanya berputar, ingatan samar muncul—teriakan, benturan senjata, detak jantung saat membunuh.

Aku tersentak.

Qi ini menyimpan jejak.

Jejak darah.

Aku sadar, setiap pembunuhan, setiap pertarungan hidup dan mati, akan memperkuat—atau menghancurkanku. Jalan ini tidak memberi ruang bagi keraguan.

Di tengah keheningan malam, aku membuat sumpah.

Aku akan hidup.

Aku akan menjadi cukup kuat hingga tidak perlu lagi bersembunyi seperti tikus.

Jika langit mengirim bayangan untuk menekanku, maka suatu hari nanti—

akulah yang akan menjadi bayangan itu.

Api kecil menyala di mataku.

Di reruntuhan pondok tua itu, Babak baru perjalananku dimulai.

Ada malam ketika getaran itu menjadi lebih jelas.

Bukan suara, bukan tekanan. Hanya perasaan seolah sesuatu sedang menguji, menimbang setiap tarikan napasku, setiap putaran Qi yang kupaksakan bertahan. Saat aku berhenti bergerak, getaran itu ikut diam. Saat aku melangkah, ia kembali menyentuh—selalu dari kejauhan, selalu cukup dekat untuk membuatku sadar bahwa aku tidak lagi sendirian.

Aku menyadari satu hal yang membuat dadaku terasa dingin.

Aku tidak sedang diburu.

Aku sedang diamati.

Jejak darah, sisa Qi, bahkan ketidaksempurnaan teknik sesat ini—semuanya seperti tanda yang sengaja dibiarkan tetap ada. Bukan karena kelalaian, melainkan karena seseorang ingin melihat sejauh apa aku bisa bertahan sebelum tubuh ini runtuh dengan sendirinya.

Jika aku berlari, mereka akan membiarkanku berlari.

Jika aku bertarung, mereka akan menunggu hasilnya.

Dan ketika aku akhirnya jatuh—mereka hanya perlu muncul untuk memungut sisa yang masih bernapas.

Aku mengepalkan tangan.

Jika ini ujian, maka aku akan memaksanya menjadi kesalahan.

Karena ketika hari itu tiba, dan bayangan itu akhirnya menampakkan diri, aku tidak berniat menjadi jawaban yang mereka harapkan.

Di jalan ini, waktu tidak lagi memihakku.

Dan Babak berikutnya akan menentukan apakah jejak yang kutinggalkan cukup dalam untuk membuat langit… mengingat namaku.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 63 — Zona yang Tidak Menjanjikan

    Sesampainya di zona tersebut.Yan tidak langsung melangkah masuk.Zona itu terbentang di hadapannya seperti kesalahan yang dibiarkan terlalu lama. Tidak ada penanda jelas. Tidak ada batas tegas antara wilayah aman dan wilayah yang seharusnya tidak diinjak. Dunia di sekitarnya masih berfungsi angin bergerak, cahaya jatuh, bayangan terbentuk namun semuanya terasa setengah niat, seolah realitas hanya melakukan cukup banyak agar tidak runtuh.Yan berhenti di luar jangkauan pengaruh terkuat zona itu.Bukan karena takut.Melainkan karena ia telah belajar satu hal: setiap peluang yang tidak dijaga oleh bahaya, biasanya bukan peluang melainkan umpan.Ia berdiri diam, membiarkan tubuhnya menyesuaikan diri dengan ritme sekitar. Qi di dalam tubuhnya tidak ia dorong keluar. Tidak ia panggil. Ia hanya dibiarkan berputar dengan pola barunya patah, tidak simetris, namun konsisten. Dengan cara itu, Yan tidak “menyentuh” dunia. Ia hanya berada cu

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 62 — Zona yang Tidak Dihitung

    Aku memasuki wilayah itu tanpa tanda.Tidak ada batas batu. Tidak ada perubahan langit. Bahkan arah angin tetap sama. Namun langkah pertama saja sudah cukup untuk membuatku mengerti zona ini memang tidak diciptakan untuk dikenali.Qi di sekitarku tipis. Bukan kosong, tapi seperti sengaja diratakan. Setiap aliran yang biasanya memberi petunjuk arah di dunia luar di sini teredam, seolah realitas sedang menghemat keberadaannya sendiri.Aku berjalan.Tidak cepat. Tidak pula berhenti.Retakan di intiku terasa lebih tenang di sini, tapi ketenangan itu tidak menenangkan. Ia seperti keheningan sebelum sesuatu diputuskan.Langkahku terhenti saat bau darah muncul.Samar.Bukan pekat seperti pertempuran besar, melainkan jejak tergesa luka yang belum sempat membusuk, napas yang dipaksa terus bergerak.Aku tidak berniat ikut campur.Namun zona ini tidak memberi ruang bagi niat untuk tetap bersih.

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 61 — Kota di Antara Retakan

    Yan berhenti bukan karena tujuannya telah tercapai.Ia berhenti karena tubuhnya memintanya melambat bukan dengan rasa sakit yang tajam, melainkan dengan ketidakselarasan yang semakin sering muncul setiap kali ia memaksa aliran Qi bergerak terlalu jauh.Kota itu muncul di hadapannya tanpa tanda istimewa.Tidak ada aura kuno. Tidak ada tekanan hukum yang berat. Tidak pula keheningan aneh seperti zona mati yang pernah ia lewati. Ia hanyalah sebuah kota persimpangan tempat orang datang, berhenti sejenak, lalu pergi tanpa membawa terlalu banyak jejak.Dan justru itu yang dibutuhkan Yan.Ia memasuki kota dengan langkah yang sengaja diperlambat. Untuk pertama kalinya sejak memilih jalan ketiga, ia menurunkan kehadirannya seminimal mungkin. Tidak menyembunyikan diri, tapi juga tidak menegaskan eksistensinya. Ia membiarkan dunia kembali menganggapnya sebagai satu individu biasa selama dunia masih mau berpura-pura.Di dalam kota,

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 60 — Jalan yang Tidak Dicatat

    Keputusan itu tidak datang dalam bentuk ledakan kehendak.Ia hadir sebagai keheningan yang akhirnya berhenti bernegosiasi.Aku berdiri cukup lama setelah proposal kedua dunia runtuh dengan sendirinya. Tidak ada penolakan dariku. Tidak ada persetujuan. Aku hanya membiarkan lintasan yang disediakan dunia berlalu tanpa kugenggam. Dan seperti semua hal yang tidak kugenggam lagi, ia mengalir pergi.Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, dunia tidak mencoba mengejar.Bukan karena ia menyerah.Melainkan karena ia tidak lagi tahu ke arah mana aku akan bergerak.Aku melangkah pergi.Tidak ke arah yang ditunjukkan hukum. Tidak pula menjauh dengan perlawanan terbuka. Aku memilih arah yang tidak memiliki makna simbolik apa pun jalur tanah yang tidak diberi nama, langit yang tidak disematkan fungsi, dan ruang yang tidak disiapkan untuk diuji.Setiap langkah terasa aneh.Bukan berat.Bukan

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 59 — Proposal Kedua: Biaya yang Tidak Ditulis

    Aku tidak menerima apa pun. Namun dunia tetap melanjutkan tawarannya. Proposal kedua tidak datang sebagai tekanan langsung. Tidak ada perubahan mendadak pada tubuhku. Tidak ada hukum yang mencoba menyentuh inti atau kehendakku. Dunia belajar dari kegagalan sebelumnya: setiap upaya untuk memaksaku hanya akan mempertegas jarak yang telah tercipta. Maka ia memilih jalan lain. Lingkungan di sekitarku mulai stabil terlalu stabil. Tanah tidak lagi kehilangan detail. Udara tidak lagi terasa kosong. Bahkan aliran Qi di luar tubuhku tampak kembali mengikuti pola yang dapat dikenali. Jika aku hanya memperhatikan radius beberapa puluh langkah, dunia tampak seolah telah berdamai dengan keberadaanku. Namun aku merasakan sesuatu yang salah. Bukan di sini. Di tempat lain. Getaran halus merambat melalui struktur realitas, seperti gema yang datang terlambat dari kejadian

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 58 — Proposal Tanpa Kata

    Aku menyadarinya bukan karena ada yang berubah.Melainkan karena terlalu banyak hal yang tidak lagi berubah secara acak.Lintasan di depanku menjadi rapi.Bukan rata. Bukan aman. Tapi tersusun seolah dunia tiba-tiba mengingat kembali cara menghemat kemungkinan. Retakan ruang yang sebelumnya muncul dan hilang tanpa pola kini hanya muncul di titik-titik tertentu. Angin yang dulu tak pernah benar-benar menyentuhku kini selalu berbelok dengan sudut yang sama. Bahkan bayanganku jatuh dengan keterlambatan yang konsisten.Ini bukan kebetulan.Dunia sedang bekerja.Namun bukan dengan cara lama.Tidak ada tekanan hukum yang turun. Tidak ada penunggu yang menampakkan diri. Tidak ada resonansi yang memaksaku menyesuaikan kehendak. Dunia ini tidak menuntutku kembali ke dalam jalurnya ia sedang mencoba menyusunkanku ke dalam sebuah model.Sebuah proposal.Bukan yang diucapkan.Yang dibangun.A

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status