Share

Bab 5

Sesaat mereka terdiam, Sisi masih dalam pengaruh lelucon Damar tadi dan masih menyisakan tawanya. Sehingga, tanpa ia sadari, Damar menarik lembut jemari Sisi. Sisi tersentak kaget, membisu, entah mau bilang apa. Damar erat meraih jemarinya. Dan meremas lembut jemari Sisi.

Tangan Damar terasa hangat. Sedangkan tangan Sisi dingin sekali, seperti itu yang Sisi rasakan. Damar diam membisu, tanpa berkata. Apalagi Sisi, mereka hanya bertatapan lama. Namun wajah mereka begitu dekat, bola mata mereka lurus bertabrakan. Sunyi di antara mereka tanpa suara. Mereka sepertinya tadi penuh canda dan obrolan-obrolan renyah. Kali ini beda hanya mata mereka yang berbicara. Entah membicarakan apa. Dan genggam erat jemari mereka yang menjawab setiap pertanyaan yang terlontar dari mata masing-masing.

“Aku suka kamu, Si." Suara itu baru terdengar, Sisi merasakan tubuhnya seperti tidak ada tulang belulangnya, lemas. Jantungnya seperti copot entah lepas ke arah mana, ia tidak perduli. Yang Sisi lakukan sekarang hanya terpaku bisu, entah ada keringat menetes atau tidak Sisi tidak merasakan, karena saat itu tidak ada matahari. Hari sudah amat sore, mulai beranjak senja dan gelap. Anginpun sudah berkurang, seharusnya bisa saja Sisi berkeringat saat itu. Tapi apapun itu ia tidak merasakan. Yang ia rasakan hanya darahnya seperti mengalir di seluruh tubuhnya dan ia rasakan alirannya. Tiba-tiba Damar menarik tangannya lembut, membuat Sisi terkejut.

“Maaf, maafkan aku Si, aku sudah lancang!” Damar kemudian beranjak dari duduknya di batang pohon besar di bawah pohon rindang yang dia duduki sejak tadi bersama Sisi. Sisi bingung. Mereka pun berdiri. Menyadari bahwa hari sudah semakin gelap.

“Aku antar, ya?” tawar Damar kemudian. Sisi spontan mengangguk dan tersenyum tipis. Namun ia masih merasakannya barusan, yang membuatnya tersentak hingga jatuh cinta yang memuncak, karena pasalnya Damarpun menyukainya. Jelas dia mengucapkannya tadi, dan apakah itu mimpi? Tidak juga, buktinya sekarang mereka masih jalan berdua ke arah rumah nenek dan Damar mengantarkannya. Berarti, Sisi tidak sedang bermimpi.

Belum juga Damar menggandeng tangan Sisi. Ia biarkan mereka berjalan beriringan namun sedikit merenggang. Mereka hanya jalan dan sudah tidak mengobrol lagi. Namun di hati Sisi, kata-kata Damar seperti suara yang menggema terulang-ulang ditelinganya, tidak hilang-hilang. Kenapa ia berkata seperti itu? Sisi bingung.

Merekapun akhirnya sampai juga di rumah nenek. Disambut Maya yang mendelik seperti mau ngoceh kecil kepada Sisi.

“Aku telepon kamu tidak diangkat-angkat, ternyata handphonemu tertinggal di sini, Si, ampun deh kamu bikin aku khawatir tau, aku hampir mau nyamperin eh kamu dan, Damar sudah di sini?” Maya cemberut, kemudian tersenyum melihat Damar.

“Kalian ketemu di mana?” tanyanya kemudian.

“Kami bertemu sewaktu aku sedang duduk sendirian, May, kemudian si Damar datang nemenin aku ngobrol saja, eh kesorean dan dia anter aku pulang ke sini,” jelas Sisi.

“Syukurlah,” ucap Maya kemudian. Sisi menjelaskan seadanya. Dilanjutkan dengan Damar yang pamit untuk pulang. Sisi pun mengucapkan terima kasih sudah diantarkan sampai rumah nenek. Dan sepertinya Damar bisa telat sampai rumah karena jarak rumahnya dengan rumah nenek lumayan jauh. Makanya dia langsung pamit pada mereka berdua.

Pagi ini Maya dan Sisi berkemas-kemas packing barang-barangnya. Karena hari ini sudah harus bersiap-siap untuk pulang ke Jakarta. Mereka berdua sudah rapi, wangi dan cantik.

“Kalian hati-hati ya," pesan Nenek.

“Nek, makasih sekali, aku pasti bakal kangen nenek terus, dan sudah ngerepotin nenek beberapa hari ini,” Maya mengucap pamit sembari memeluk nenek sangat erat. Sisi pun pamit sambil mencium tangan nenek dan memeluknya juga.

“Terima kasih ya, nek, sudah mau kami repotin, dan masakan nenek sangat enak, aku bisa kangen banget dengan masakan nenek ini."

Nenek membalas pelukan Sisi sambil tersenyum sangat dalam. Mereka pun berjalan ke depan pekarangan, setelah adegan berpeluk-pelukan usai. Maya lambaikan tangan ke arah nenek begitu juga nenek. Sisi terharu melihat antara cucu dan neneknya tersebut yang harus berpisah. Sisi juga amat sedih, harus berpisah dengan Damar.

“Hei! kita tidak pamit dengan Damar?" tanya Sisi tiba-tiba.

“Nanti bisa kok, sekalian. Kan, kita akan lewati rumahnya. Sengaja, supaya sekalian bisa pamit." Maya tersenyum.

“Kenapa sih, Si?” tanya Maya sambil mencolek lengannya.

“Kenapa apanya sih?” Sisi tersipu.

“Tuh matamu."

“Kenapa dengan mataku?” Sisi manyun. “Eh, ngomong-ngomong kalian kemarin seharian ngobrol apa saja sih?” Maya bertanya kepingin tahu saja. Sisi terlihat santai supaya tidak mencurigakan.

“Kami ngobrol biasa saja, May,” jawab Sisi santai.

“Sepertinya Damar suka kamu deh, Si."Maya menggodanya.

“Iiihh, apaan sih kamu, May, jangan ngelantur ah,"

“Memang kenapa? kalian cocok kok. Damar itu pemuda baik, dan aku rasa dia belum punya pacar deh." Maya nyerocos bercanda. Sepertinya Maya mengerti apa yang sedang Sisi rasakan.

Sisi jadi malu. Mereka masih berjalan menyusuri landai-landai yang sedikit turunan. Untungnya tanahnya kering, dan bukan musim penghujan, jadi tidak terlalu licin. Sehingga mereka bisa berjalan sembari ngobrol santai. Dan berpegangan pada pagar bambu yang dipatok pada sisi-sisinya.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status