Masuk“Namaku Henry Alexander. Dokter itu adalah temanku. Dia memberitahu bahwa perempuan yang mengandung anakku terlibat masalah di rumah sakit. Itu sebabnya aku datang. Ayo bicarakan masalah ini baik-baik,” ujar pria itu memperkenalkan diri pada Kathrine. Mereka duduk bersama di cafe yang ada di lantai satu rumah sakit.
“Aku Kathrine Maeve. Sejak awal aku tidak bermaksud untuk menyewakan rahimku untuk melahirkan anakmu. Aku berpikir aku mengandung anak suamiku. Tapi dia menipuku. Dia yang menyetujui kontrak sewa rahim itu, bukan aku. Dia beralasan bahwa dia mengalami masalah kesuburan dan mengajakku melakukan tindakan inseminasi agar kami bisa punya anak. Aku tidak menyangka bahwa dia menggunakan sperma pria lain sampai aku mengandung saat ini,” jelas Kathrine.
“Aku mengerti bahwa kau sudah tertipu. Sekarang pernikahanmu dan suamimu juga sudah berakhir. Kau mungkin tidak punya alasan lagi untuk mempertahankan kehamilan ini. Tapi suamimu sudah mengambil bayaran dariku. Kau tetap harus melahirkan anakku sesuai perjanjian,” kata Henry membuat Kathrine kesal.
“Bukan aku yang mengambil keuntungannya. Tapi kenapa harus aku yang menanggung penderitaannya?” balas Kathrine.
“Nona Kathrine, kau harus mengerti. Hubunganmu dan suamimu bukan urusanku. Aku tidak peduli apa yang terjadi dengan pernikahanmu. Aku hanya menginginkan seorang anak untuk menjadi penerus keluarga.”
“Sial! Berpisah dengan suami seperti Ethan, tapi terjebak dengan pria yang egois juga seperti ini. Aku benar-benar tidak beruntung,” umpat Kathrine.
“Aku tidak peduli dengan pemikiranmu tentang aku. Sekarang kau sudah bercerai dengan suamimu. Kau sudah tidak punya tempat tinggal. Aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk dengan anakku. Oleh karena itu, kau harus ikut tinggal bersamaku,” kata Henry.
“Kau mengira aku tidak punya tempat tinggal lain sehingga harus ikut denganmu?”
“Aku hanya khawatir kau akan melakukan aborsi secara diam-diam. Kau harus berada dalam pengawasanku,” balas Henry memberi alasan.
“Kau tidak bisa memaksaku seperti ini,” tolak Kathrine.
“Kalau kau menolak, kau harus menerima sanksi sesuai kontrak. Kau tidak mau ikut tinggal bersamaku. Itu dapat dianggap kau membahayakan keselamatan anakku. Kau harus membayar dendanya.”
“Kau mencoba menyelesaikan masalah dengan uang?”
“Setidaknya pikirkan anak itu. Apa kau benar-benar tega mengakhiri hidupnya?” kata Henry membuat Kathrine terdiam. Dia mengelus perutnya yang mulai buncit. Meskipun pernikahannya dengan Ethan tidak bisa dipertahankan, tapi anak dalam kandungannya itu tidak bersalah untuk dijadikan korban.
“Ikutlah denganku hanya sampai anak itu lahir. Empat bulan lagi. Setelah itu kau bisa melanjutkan hidup sesuai keinginanmu. Aku butuh anak itu. Aku akan menjaga kalian dan memenuhi semua kebutuhanmu sampai kau melahirkan. Bahkan kalau kau mau, aku membayar lagi dua kali lipat dibanding jumlah yang aku berikan pada suamimu,” kata Henry memberi penawaran.
“Kau ingin jual beli anak denganku? Apa anak ini pantas mempunyai ayah sepertimu?” sindir Kathrine. Dia masih sinis pada Henry.
“Terserah bagaimana kau menilaiku. Tapi aku tidak seburuk itu,” balas Henry.
Setelah melewati diskusi panjang, Kathrine akhirnya setuju ikut bersama Henry. Henry mengantar Kathrine untuk mengambil barang-barangnya di rumah Ethan. Sesampainya di sana, pintu rumah tertutup rapat. Sebuah koper milik Kathrine sudah berada di depan pintu. Ethan dan Grace sangat bersiap untuk mengusir Kathrine.
Kathrine menatap rumah itu dengan penuh penyesalan. Dia menghabiskan waktu selama bertahun-tahun untuk merawat penghuninya. Tapi akhir yang dia dapat adalah pengkhianatan. Kathrine mengambil kopernya dan melangkah pergi dari rumah Ethan. Sejak hari itu, dia memutuskan untuk mengakhiri segala hubungan dengan keluarga itu.
“Kau tidak ingin menangis?” ujar Henry setelah Kathrine masuk ke mobil.
“Buat apa? Aku tidak mau membuang air mataku untuk orang yang tidak pantas,” jawab Kathrine ketus. Dia sangat marah atas perlakuan Ethan terhadap dirinya.
Mereka pergi dari rumah itu. Di tengah perjalanan, Henry mendapat kabar bahwa kakeknya sedang sakit dan meminta Henry datang menjenguk. Henry membawa Kathrine ikut bersamanya.
Awalnya Kathrine menunggu di mobil. Tapi pelayan rumah memberitahu kakek Henry bahwa Henry datang bersama seorang perempuan. Kakek memerintahkan agar perempuan itu dibawa menemuinya.
“Aku memanggilmu ke sini karena ingin menagih janjimu. Kau bilang akan segera memberiku seorang cucu. Apakah perempuan ini adalah istrimu?” tanya kakek membuat Henry dan Kathrine saling pandang. Kakek melihat perut Kathrine yang buncit dan dia salah paham.
“Saya bukan…”
“Iya, Kakek. Ini adalah istriku. Aku membawanya untuk mengenalkannya padamu. Namanya Kathrine,” ujar Henry memotong ucapan Kathrine. Dia memberi isyarat agar Kathrine mengikuti sandiwaranya.
“Kenapa kau baru membawanya padaku sekarang?” ujar kakek.
“Sebenarnya aku sangat mencintai Kathrine tapi aku khawatir kakek tidak merestui hubungan kita karena latar belakang keluarga yang berbeda. Kathrine adalah gadis yatim piatu. Aku khawatir kakek akan merugikannya dan berusaha memisahkankan kami,” jawab Henry beralasan.
“Dasar kau ini! Apa kakekmu terlihat sejahat itu? Aku hanya khawatir kalau kau tidak menikah dan keluarga kita tidak punya penerus. Sekarang aku senang karena kau tidak berbohong padaku. Kau menolak perjodohan dengan alasan sudah menikah dan bahkan sebentar lagi kalian akan memberiku cucu. Hari ini kau datang membawa istrimu bertemu langsung denganku. Aku tidak punya alasan lagi untuk memaksakan perjodohan itu,” ujar Kakek.
“Itu berarti kakek akan membatalkan perjodohannya?” tanya Henry memastikan.
“Untuk apa aku mau menjodohkan laki-laki yang sudah punya istri? Sekarang hiduplah dengan baik bersama istrimu. Buat dia bahagia. Kalau tidak, aku sendiri yang akan menghukummu!” kata kakek.
Kakek Henry menunjukkan perhatian pada Kathrine. Dia bertanya tentang kehamilan Kathrine. Dia sangat bersemangat menunggu kelahiran cucunya. Dia meminta Henry selalu menemani Kathrine selama kehamilan. Kathrine bisa merasakan bahwa kakek Henry adalah orang baik.
“Masa kehamilan itu tidak mudah. Jaga istrimu dengan baik. Penuhi semua kebutuhannya. Yang terpenting, kamu harus memberinya cinta dan kasih sayang. Dia sudah menanggung kesulitan karena mengandung anakmu,” pesan kakek Henry. Mereka akhirnya pulang dari rumah kakek.
“Kenapa kau membohongi kakekmu? Aku bukan istrimu. Apalagi kau menggunakan aku dan anak ini sebagai alasan untuk menolak perjodohan. Kau sangat egois,” protes Kathrine di mobil.
“Aku hanya ingin membuat kakek senang. Dia kehilangan semangat hidup karena memikirkan aku yang belum menikah dan belum bisa memberikan keturunan,” jelas Henry.
“Kalau kakekmu tahu, dia pasti sangat kecewa. Kau memberinya kebahagiaan palsu,” bantah Kathrine.
“Aku tidak sepenuhnya berbohong. Anak itu memang anakku,” balas Henry.
“Lalu bagaimana denganku?” tanya Kathrine.
“Bukankah selama ini kau menganggapnya seperti anakmu sendiri? Kenapa tidak lanjutkan berpura-pura seperti itu. Perbedaannya hanya ayahnya saja yang berganti orang.”
“Apa maksudmu?”
“Menikahlah denganku.”
“Menikah?”
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Fokus Henry teralihkan setelah mendapat pertanyaan tak biasa dari Kathrine. "Aku hanya berpikir dia adalah pewaris Foster Group dan perempuan yang sudah disiapkan untukmu sejak awal. Apa kau tidak tertarik padanya?" tanya Kathrine lagi-lagi menguji Henry. "Tidak perlu berpikir jauh tentang itu. Aku tidak akan mengkhianatimu sama seperti mantan suamimu," jawab Henry justru menyangka pertanyaan Kathrine adalah sebuah kekhawatiran terulangnya masa lalu. Henry menyangka Kathrine bertanya hubungannya dengan cucu Kakek Hikmawan karena dia takut akan dicampakkan lagi karena perempuan lain seperti yang dilakukan Ethan. Dia mengerti rasa trauma seorang perempuan tidak mudah dihilangkan. Henry pun berjanji tidak akan menyakiti Kathrine seperti mantan suaminya. "Percayalah padaku. Aku tidak sama dengan mantan suamimu. Meskipun kau bilang pernikahan kita hanya tiga bulan, tapi selama kita masih menjadi suami istri, aku janji tidak akan dekat dengan
"Ponselmu berdering? Kenapa kau tidak menjawab teleponnya?" tanya Henry membuat Kathrine gugup."Oh itu, bukan sesuatu yang penting juga, Pak" jawab Kathrine beralasan. Dia hanya membuat teleponnya diam dan bukan mereject panggilan. "Istriku juga tidak menjawab panggilan," ujar Henry membuat Kathrine dan Agita kembali saling lempar pandangan. Jelas panggilan itu tidak akan terjawab karena istrinya ada di hadapannya sendiri. "Tidak apa. Biar nanti saya langsung pulang cepat saja ke rumah. Sekalian kasih surprise juga padanya.""Memangnya hubungan bapak sedekat itu dengan istri?" tanya Kathrine membuat Henry mengerutkan kening."Maksudnya? Kenapa kamu bertanya seperti itu?" ujar Henry. "Em tidak, saya hanya penasaran saja bagaimana sebenarnya hubungan bapak dengan istri mengingat apa yang sedang diberitakan tentang kalian," kata Kathrine berdalih."Rumor yang beredar itu tidak benar. Saya tidak pernah merebut istri siapa pun. Ethan saja yang tidak bisa menghargai istrinya. Saya menik
"Kalian saling kenal?" Pertanyaan Henry membuat Kathrine dan Agita sama-sama kebingungan. Mereka tidak menyangka akan bertemu dengan Henry di sana. Lagi-lagi Kathrine harus bersandiwara. "Em, Pak Henry juga makan siang di sini?" tanya Kathrine berusaha mencairkan suasana agar tidak tegang. "Ya begitulah. Kamu belum menjawab pertanyaanku. Kau sedang apa di sini bersama orang dari Foster Group?" tanya Henry mengulang kembali pertanyaannya. Dia juga melayangkan tatapan curiga pada Agita. "Saya dan Agita memang sudah lama berteman. Iya kan, Git?" ujar Kathrine berbohong. Dia memberi kode pada Agita agar ikut bekerja sama. "Iya itu benar," kata Agita. "Dulu kami kuliah di kampus yang sama. Sayangnya setelah melamar kerja, kami diterima di perusahaan yang berbeda. Setelah bekerja kami sama-sama sibuk dan jarang bertemu. Tadi kami juga tidak sengaja bertemu di sini lalu sekalian makan siang bersama," kata Kathrine mengarang cerita. "Kalau begitu boleh saya bergabung sekalian?" tanya
"Kamu ikut saya."Perintah Henry pada Kathrine setelah membubarkan rapat. Hal itu membuat Kathrine cukup gugup. Dia khawatir Henry curiga padanya. Meski begitu dia tetap mengikuti Henry ke ruangannya. "Saya suka keberanian dan semangatmu untuk membalikkan keadaan di tengah situasi perusahaan yang sedang sulit. Kamu juga bisa menularkan energi positif dan membangun kepercayaan diri karyawan yang lain. Saya rasa kamu mampu menjadi penanggung jawab tim untuk tender proyek ini," kata Henry menyampaikan keinginannya. "Maksud bapak bagaimana ya?" tanya Kathrine memastikan. "Ke depannya, tanggung jawab terkait tim ini aku serahkan padamu. Kau leadernya," jawab Henry.Kathrine menerima jabatan itu dengan senang hati. Dia tidak menaruh curiga sama sekali. Dia berpikir dengan menjadi penanggung jawab tim maka pergerakannya akan lebih mudah untuk mengarahkan karyawan yang lain sesuai keinginannya. Dia juga lebih bebas menuangkan aspirasinya untuk proyek itu. "Kalau bapak sudah memberikan kep
"Aku tetap akan mencari cara membantu perusahaan Henry. Tapi aku tidak bisa membuka identitasku sekarang," ujar Kathrine pada kakeknya. Kakek Hikmawan tidak memaksa dan mempercayakan semuanya pada Kathrine. Kathrine memutar otak mencari cara. Henry tidak akan mau menerima bantuan darinya jika tahu dia adalah cucu Kakek Hikmawan dan pewaris Foster Group. Kathrine juga meminta kakeknya agar membujuk Kakek Wijaya tetap merahasiakan identitasnya. Saat ini perusahaan Henry sedang kesulitan karena kekurangan karyawan. Banyak karyawan Fierce Company yang pindah karena disuap dengan uang dan iming-iming gaji yang lebih besar. Masalah itu cukup krusial karena saat ini mereka sedang mempersiapkan proyek untuk tender besar yang sudah menghabiskan banyak dana. "Halo, Agita. Tolong buatkan aku identitas palsu sebagai karyawan Fierce Company," titah Kathrine menghubungi Agita lewat telepon. "Identitas palsu sebagai karyawan? Apa yang akan Nona Kathrine lakukan?" tanya Agita. "Sepertinya ak
"Jelaskan padaku kenapa kau bisa ada di sini apalagi sampai bersembunyi di bawah meja," tanya Henry setelah membantu Kathrine keluar dari persembunyiannya. Kathrine duduk bersama mereka. Kathrine sibuk berpikir mencari alasan untuk membohongi Henry. Sementara Henry sibuk memeriksa jari tangan Kathrine yang memerah karena terkena injak. "Maafkan saya Nona Kathrine. Saya tidak sengaja. Saya tidak tahu kalau ada Nona di bawah meja," ucap pelayan itu merasa bersalah. Dia sadar sudah melakukan tindakan tidak sopan pada majikannya sendiri. "Tidak masalah. Kembalilah ke dapur," balas Kakek Hikmawan membuat pelayan itu pamit undur diri. Kakek Hikmawan tahu situasi bahwa identitas cucunya masih harus dirahasiakan. "Kenapa pelayan itu tahu namamu dan tampak sudah mengenalmu dengan akrab?" tanya Henry semakin membuat Kathrine bingung. Satu pertanyaan belum dijawab, sudah muncul pertanyaan yang lain. Kakek Hikmawan memberi kode bahwa dia tidak mau ikut campur dan memasrahkan segalanya pa







