Masuk“Aku berganti suami dalam satu hari? Ini gila!” ujar Kathrine merasa lucu dengan nasibnya sendiri.
Hari itu Kathrine menerima ajakan menikah dari Henry. Dia berpikir bahwa kesepakatan yang ditawarkan oleh Henry tidak ada ruginya. Kathrine sedang hamil anak Henry. Dia tidak akan bisa lepas sampai anak itu lahir.
Beberapa hari setelah mendapatkan akte cerai, Henry dan Kathrine langsung mencatatkan pernikahan mereka secara resmi. Meskipun mereka menikah dengan sebuah perjanjian.
Selama Kathrine tinggal di rumah Henry, semua kebutuhannya dipenuhi. Ada beberapa pembantu khusus yang melayani Kathrine. Henry tidak membiarkan Kathrine melakukan pekerjaan berat. Perhatian Henry sangat jauh berbeda dengan perlakuan Ethan. Kathrine merasa bahwa menikah dengan Henry tidak buruk juga.
“Halo, Kath. Aku mendengar bahwa kau sudah bercerai dengan Ethan,” ujar seorang perempuan yang menghubungi Kathrine lewat telepon.
Perempuan itu adalah Florence Willlow, sahabat sekaligus sepupu Kathrine. Florence tahu banyak hal tentang kehidupan Kathrine. Termasuk tentang kehidupan pernikahan Kathrine dan Ethan.
“Ya. Itu benar. Dia berselingkuh dan membawa selingkuhannya ke rumah. Setelah neneknya meninggal, dia menunjukkan sikap buruk dan mengatakan tidak pernah mencintaiku. Bahkan dia dan selingkuhannya membuatku hamil anak laki-laki lain.” jawab Kathrine. Kathrine menceritakan semua pengkhianatan Ethan dalam pernikahan mereka.
“Tega sekali. Padahal kau sudah melakukan banyak hal untuk keluarganya. Syukurlah sekarang kalian sudah bercerai. Kau bebas dari laki-laki seperti dia. Dia tidak tahu siapa yang dia khianati. Dia harus menerima balasan karena sudah menyakitimu,” umpat Florence. Dia merasa kesal mendengar Kathrine diperlakukan sangat buruk.
“Tentu. Aku tidak akan membiarkan dia dan selingkuhannya bahagia setelah mereka berani menipuku!” balas Kathrine
“Kapan kau akan kembali ke rumah? Sekarang kau tinggal di mana setelah Ethan mengusirmu?” tanya Florence khawatir.
“Di rumah suamiku.”
“Suami?”
“Aku sudah menikah lagi dengan ayah dari bayiku. Sekarang aku tinggal di rumahnya. Dia cukup bertanggung jawab. Dia memperlakukanku dengan baik meskipun pernikahan kami hanya sebuah perjanjian sampai anak ini lahir,” ujar Kathrine bercerita.
“Kau bercerai dan menikah lagi dalam waktu singkat. Apa kau tidak takut akan kecewa lagi?” tanya Florence. Dia masih meragukan keputusan Kathrine.
“Kali ini aku tidak menikah dengan cinta. Jadi aku tidak punya harapan dengan pernikahan ini. Semua akan berakhir setelah aku melahirkan. Kita akan berpisah secara baik.”
“Kau punya pilihan lain. Kau bisa pulang pada keluargamu. Sekalipun kau akan melahirkan sepuluh orang bayi, keluarga kita pasti mampu menghidupinya,” protes Florence.
“Biarkan aku menyelesaikan masalah ini dulu. Kalau aku pulang dalam kondisi hamil dan kenyataan sudah dicerai suami, itu akan berdampak buruk pada reputasi keluarga kita. Setelah semuanya selesai, aku akan membuat Ethan menyesal. Aku akan pulang dan menunjukkan pada semua orang, siapa aku sebenarnya.”
“Jadi siapa kau sebenarnya?” suara seorang pria mengejutkan Kathrine. Dia menoleh dan Henry sudah berada di belakangnya.
Kathrine merasa Henry selalu muncul tiba-tiba. Dia tidak tahu sejak kapan Henry mendengar pembicaraannya dengan Florence. Henry menatap Kathrine dengan penasaran.
“Ada apa kau menemuiku?” tanya Kathrine mengalihkan topik. Dia tidak mau Henry membahas identitasnya. Henry juga tidak memaksa.
“Nanti malam ada pesta. Dia temanku dan dia memintaku membawa istri baruku. Jadi kau harus ikut aku ke pesta. Aku sudah meminta pembantu untuk menyiapkan gaun dan segala kebutuhanmu. Acaranya jam tujuh malam. Aku akan menunggumu,” ujar Henry.
Setelah Kathrine setuju, Henry pun pergi. Kathrine merasakan perbedaan jelas antara Henry dan Ethan. Kathrine baru menjadi istrinya, tapi Henry sudah mengajaknya pergi bersama ke pesta. Hal yang tidak pernah dilakukan Ethan selama mereka menikah.
Malam itu Henry menungggu Kathrine di ruang tamu. Saat Kathrine turun dengan memakai gaun yang indah, Henry terpesona. Pandangan matanya terus tertuju pada Kathrine. Kathrine sangat cantik malam itu. Tanpa sadar, hati Henry mulai berdebar saat menggandeng tangan Kathrine untuk pergi ke pesta.
“Bagaimana penampilanku? Ini adalah kali pertamaku pergi ke pesta sebagai istri seseorang. Selama ini Ethan tidak pernah membawaku ke acara penting seperti ini. Aku khawatir akan merepotkanmu,” ujar Kathrine. Henry tersenyum menanggapi kekhawatiran Kathrine.
“Kau tampak sangat cantik. Suamimu yang tidak beruntung jika tidak bisa mengajak istri secantik kamu ke pesta,” puji Henry membuat wajah Kathrine merona karena malu.
“Sepertinya kau terlalu berlebihan,” balas Kathrine. “Aku tidak tahu siapa saja yang akan aku temui di pesta nanti. Aku khawatir tidak bisa membawa diri dengan baik dan justru mempermalukanmu.”
“Tenang saja. Aku jamin tidak akan ada yang bisa mempermalukan istri Henry Alexander,” ucap Henry dengan senyum mendominasi. Kata-kata Henry membuat Kathrine cukup tersentuh dan mempercayai perkataan suaminya.
Setibanya di sana, Henry memperkenalkan Kathrine pada temannya yang bernama Leonardo. Pesta itu diadakan untuk merayakan pengangkatan Leonardo sebagai CEO baru di perusahaan keluarganya. Banyak rekan bisnis yang datang. Tanpa disangka, Kathrine bertemu dengan seseorang yang dia kenal.
“Nona Kathrine. Anda di sini?” sapa seorang perempuan yang membuat Kathrine cukup panik. Dia tidak menyangka bisa bertemu Agita di sana. Agita adalah orang kepercayaan keluarganya.
“Siapa? Apa kau mengenalnya?” tanya Henry dengan tatapan penasaran.
“Emm…tidak. Aku tidak tahu siapa dia,” bantah Kathrine. Diam-diam dia memberi kode pada Agita untuk berpura-pura tidak mengenalinya.
“Oh, maaf. Sepertinya saya salah orang. Maaf sudah mengganggu,” kata Agita yang kemudian pergi menyingkir.
Kathrine kembali bergabung bersama Henry dan menemui Leonardo. Saat melihat Henry fokus berbincang, Kathrine meminta izin untuk pergi ke toilet. Padahal sebenarnya dia menemui Agita diam-diam.
“Hei, kemari!” panggil Kathrine dan Agita pun mengikuti jejaknya. Mereka pergi mencari tempat yang tersembunyi.
“Saya tidak menyangka bisa bertemu dengan Nona Kathrine di sini. Apa nona datang bersama tuan Ethan?” tanya Agita.
“Tidak. Aku datang bersama Henry.”
“Henry Alexander dari Fierce Company? Apa nona ada kerja sama dengan perusahaan mereka?” tanya Agita.
“Tidak. Sekarang dia suamiku.” Pernyataan Kathrine cukup membuat Agita kaget.
“Suami? Sejak kapan? Bukannya nona menikah dengan tuan Ethan?”
“Ceritanya panjang. Aku sudah bercerai dengan Ethan dan menikah lagi dengan Henry. Tapi intinya, kamu tidak boleh memberitahukan identitasku pada orang lain. Kita harus pura-pura tidak saling mengenal,” perintah Kathrine pada Agita. Agita pun mengiyakan permintaan Kathrine.
“Aku tidak bisa menemuimu lama-lama agar tidak ada yang curiga. Aku harus kembali sekarang,” ujar Kathrine yang kemudian pergi meninggalkan Agita.
Setelah kembali dari pertemuan rahasia itu, tidak disangka Kathrine justru bertemu dengan seseorang yang sangat tidak dia inginkan. Dia bertemu dengan mantan suaminya di pesta, lengkap bersama perempuan selingkuhan itu. Grace tidak melewatkan kesempatan untuk menghina Kathrine.
“Ow, siapa ini? Bukankah ini bekas istrimu yang tidak berguna itu?” ujar Grace pada Ethan. Ethan turut menyumbangkan senyum ejekan.
“Sangat tidak menyangka kita bisa bertemu di sini. Sebelumnya kau hanya perempuan yang mengurus rumah seperti seorang pembantu. Kau tidak pantas berada di acara seperti ini,” ujar Grace dengan sombong. Kathrine hanya tersenyum miring.
“Aku pantas atau tidak, bukan kamu yang bisa menentukannya,” jawab Kathrine.
“Ethan adalah seorang manajer di perusahaan besar. Saat kau masih menjadi istrinya, dia tidak mengajakmu pergi ke pesta. Apalagi sekarang, kau sudah bukan siapa-siapa. Semua orang yang datang ke pesta ini adalah orang penting dalam lingkaran bisnis. Siapa yang berani membawa perempuan rendahan seperti kamu?” tambah Grace.
“Aku yang membawanya ke sini. Ada masalah?” timpal Henry. Kathrine tidak tahu sejak kapan Henry ada di sana dan memperhatikan mereka. Henry menghampiri untuk membela Kathrine.
“Siapa kau?” tanya Grace dengan tatapan asing.
“Aku suami Kathrine. Ayah dari bayi itu,” jawab Henry dengan tenang. Tangannya menarik pinggang Kathrine dan memeluknya lebih dekat.
“Oh, jadi kau menjadi perempuan simpanan pria ini setelah Ethan mencampakkanmu? Aku sudah menduga. Perempuan rumahan sepertimu memang hanya bisa menumpang hidup dan menjadi beban bagi orang lain. Dasar perempuan murahan!” umpat Grace menghina Kathrine.
Kathrine marah tapi di saat yang sama, tangan Henry sudah lebih dulu memukul wajah Grace. Keributan tidak bisa dihindari. Semua orang yang hadir di pesta ikut menyaksikannya.
“Sebenarnya aku tidak memukul seorang perempuan kecuali yang memang pantas dipukul. Pesta ini bukan tempat bagi orang yang tidak bisa menjaga mulutnya dengan baik,” ucap Henry dengan penuh wibawa. Dia benar-benar bertindak untuk Kathrine. Kathrine merasa tersentuh karena ada seseorang yang membelanya.
“Kau pikir kau siapa sehingga berani memukul perempuanku?” ujar Ethan merasa tidak terima. Grace mengadu manja kepada Ethan.
“Apa kau tidak tahu siapa aku?” balas Henry.
“Kau hanya laki-laki bodoh yang mau mengambil perempuan yang sudah aku buang. Kathrine adalah sampah yang tidak berguna. Meskipun kau memberinya sebuah gaun dan membuatnya terlihat cantik, itu tetap tidak akan merubah kenyataan bahwa dia hanya perempuan bekas.”
“Shit!” umpat Henry bersama satu pukulan keras ke arah Ethan. Henry benar-benar marah mendengar perkataan Ethan yang menghina istrinya.
“Kau sudah berani menghina istriku. Hari ini aku akan menunjukkan padamu, siapa yang akan menjadi sampah setelah ini,” ujar Henry. Dia kemudian mengambil dari sakunya dan menghubungi seseorang.
“Bukankah Ethan Xavier adalah manajer pemasaran di perusahaan kita? Aku tidak mau punya karyawan seperti dia. Pecat dia sekarang juga!” kata Henry memberi perintah. Ethan dan Grace merasa heran mendengarnya.
Tak lama kemudian, ponsel Ethan berdering. Seseorang menghubunginya dan mengatakan bahwa dia sudah diberhentikan dari pekerjaannya. Hal itu membuat Ethan syok. Dia penasaran tentang identitas Henry yang mempunyai kekuasaan untuk memecatnya.
“Siapa kau?” tanya Ethan.
“Aku Henry Alexander. CEO Fierce Company.”
“Bos?”
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Fokus Henry teralihkan setelah mendapat pertanyaan tak biasa dari Kathrine. "Aku hanya berpikir dia adalah pewaris Foster Group dan perempuan yang sudah disiapkan untukmu sejak awal. Apa kau tidak tertarik padanya?" tanya Kathrine lagi-lagi menguji Henry. "Tidak perlu berpikir jauh tentang itu. Aku tidak akan mengkhianatimu sama seperti mantan suamimu," jawab Henry justru menyangka pertanyaan Kathrine adalah sebuah kekhawatiran terulangnya masa lalu. Henry menyangka Kathrine bertanya hubungannya dengan cucu Kakek Hikmawan karena dia takut akan dicampakkan lagi karena perempuan lain seperti yang dilakukan Ethan. Dia mengerti rasa trauma seorang perempuan tidak mudah dihilangkan. Henry pun berjanji tidak akan menyakiti Kathrine seperti mantan suaminya. "Percayalah padaku. Aku tidak sama dengan mantan suamimu. Meskipun kau bilang pernikahan kita hanya tiga bulan, tapi selama kita masih menjadi suami istri, aku janji tidak akan dekat dengan
"Ponselmu berdering? Kenapa kau tidak menjawab teleponnya?" tanya Henry membuat Kathrine gugup."Oh itu, bukan sesuatu yang penting juga, Pak" jawab Kathrine beralasan. Dia hanya membuat teleponnya diam dan bukan mereject panggilan. "Istriku juga tidak menjawab panggilan," ujar Henry membuat Kathrine dan Agita kembali saling lempar pandangan. Jelas panggilan itu tidak akan terjawab karena istrinya ada di hadapannya sendiri. "Tidak apa. Biar nanti saya langsung pulang cepat saja ke rumah. Sekalian kasih surprise juga padanya.""Memangnya hubungan bapak sedekat itu dengan istri?" tanya Kathrine membuat Henry mengerutkan kening."Maksudnya? Kenapa kamu bertanya seperti itu?" ujar Henry. "Em tidak, saya hanya penasaran saja bagaimana sebenarnya hubungan bapak dengan istri mengingat apa yang sedang diberitakan tentang kalian," kata Kathrine berdalih."Rumor yang beredar itu tidak benar. Saya tidak pernah merebut istri siapa pun. Ethan saja yang tidak bisa menghargai istrinya. Saya menik
"Kalian saling kenal?" Pertanyaan Henry membuat Kathrine dan Agita sama-sama kebingungan. Mereka tidak menyangka akan bertemu dengan Henry di sana. Lagi-lagi Kathrine harus bersandiwara. "Em, Pak Henry juga makan siang di sini?" tanya Kathrine berusaha mencairkan suasana agar tidak tegang. "Ya begitulah. Kamu belum menjawab pertanyaanku. Kau sedang apa di sini bersama orang dari Foster Group?" tanya Henry mengulang kembali pertanyaannya. Dia juga melayangkan tatapan curiga pada Agita. "Saya dan Agita memang sudah lama berteman. Iya kan, Git?" ujar Kathrine berbohong. Dia memberi kode pada Agita agar ikut bekerja sama. "Iya itu benar," kata Agita. "Dulu kami kuliah di kampus yang sama. Sayangnya setelah melamar kerja, kami diterima di perusahaan yang berbeda. Setelah bekerja kami sama-sama sibuk dan jarang bertemu. Tadi kami juga tidak sengaja bertemu di sini lalu sekalian makan siang bersama," kata Kathrine mengarang cerita. "Kalau begitu boleh saya bergabung sekalian?" tanya
"Kamu ikut saya."Perintah Henry pada Kathrine setelah membubarkan rapat. Hal itu membuat Kathrine cukup gugup. Dia khawatir Henry curiga padanya. Meski begitu dia tetap mengikuti Henry ke ruangannya. "Saya suka keberanian dan semangatmu untuk membalikkan keadaan di tengah situasi perusahaan yang sedang sulit. Kamu juga bisa menularkan energi positif dan membangun kepercayaan diri karyawan yang lain. Saya rasa kamu mampu menjadi penanggung jawab tim untuk tender proyek ini," kata Henry menyampaikan keinginannya. "Maksud bapak bagaimana ya?" tanya Kathrine memastikan. "Ke depannya, tanggung jawab terkait tim ini aku serahkan padamu. Kau leadernya," jawab Henry.Kathrine menerima jabatan itu dengan senang hati. Dia tidak menaruh curiga sama sekali. Dia berpikir dengan menjadi penanggung jawab tim maka pergerakannya akan lebih mudah untuk mengarahkan karyawan yang lain sesuai keinginannya. Dia juga lebih bebas menuangkan aspirasinya untuk proyek itu. "Kalau bapak sudah memberikan kep
"Aku tetap akan mencari cara membantu perusahaan Henry. Tapi aku tidak bisa membuka identitasku sekarang," ujar Kathrine pada kakeknya. Kakek Hikmawan tidak memaksa dan mempercayakan semuanya pada Kathrine. Kathrine memutar otak mencari cara. Henry tidak akan mau menerima bantuan darinya jika tahu dia adalah cucu Kakek Hikmawan dan pewaris Foster Group. Kathrine juga meminta kakeknya agar membujuk Kakek Wijaya tetap merahasiakan identitasnya. Saat ini perusahaan Henry sedang kesulitan karena kekurangan karyawan. Banyak karyawan Fierce Company yang pindah karena disuap dengan uang dan iming-iming gaji yang lebih besar. Masalah itu cukup krusial karena saat ini mereka sedang mempersiapkan proyek untuk tender besar yang sudah menghabiskan banyak dana. "Halo, Agita. Tolong buatkan aku identitas palsu sebagai karyawan Fierce Company," titah Kathrine menghubungi Agita lewat telepon. "Identitas palsu sebagai karyawan? Apa yang akan Nona Kathrine lakukan?" tanya Agita. "Sepertinya ak
"Jelaskan padaku kenapa kau bisa ada di sini apalagi sampai bersembunyi di bawah meja," tanya Henry setelah membantu Kathrine keluar dari persembunyiannya. Kathrine duduk bersama mereka. Kathrine sibuk berpikir mencari alasan untuk membohongi Henry. Sementara Henry sibuk memeriksa jari tangan Kathrine yang memerah karena terkena injak. "Maafkan saya Nona Kathrine. Saya tidak sengaja. Saya tidak tahu kalau ada Nona di bawah meja," ucap pelayan itu merasa bersalah. Dia sadar sudah melakukan tindakan tidak sopan pada majikannya sendiri. "Tidak masalah. Kembalilah ke dapur," balas Kakek Hikmawan membuat pelayan itu pamit undur diri. Kakek Hikmawan tahu situasi bahwa identitas cucunya masih harus dirahasiakan. "Kenapa pelayan itu tahu namamu dan tampak sudah mengenalmu dengan akrab?" tanya Henry semakin membuat Kathrine bingung. Satu pertanyaan belum dijawab, sudah muncul pertanyaan yang lain. Kakek Hikmawan memberi kode bahwa dia tidak mau ikut campur dan memasrahkan segalanya pa







