Chastine menatap surat perjanjian cerai yang perlahan keluar dari mesin printer. Dia tidak pernah menyangka hubungannya dengan Elric akan berakhir seperti ini.
Selama dua tahun menikah, dia sudah berusaha sebaik mungkin menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Namun, alih-alih mendapatkan ketulusan, dia malah dikhianati. Memikirkan semua yang telah dia korbankan selama ini membuat hatinya terasa perih.
Untungnya, dia belum terlambat untuk berhenti dan mengakhiri semuanya sekarang.
Setelah tersadar dari lamunannya, barulah dia merasakan dingin yang menusuk dari pakaiannya yang basah kuyup. Dia masuk ke kamar mandi untuk mandi. Saat keluar, dia melihat panggilan masuk dari kediaman utama Keluarga Wicaksana dan langsung menolaknya.
Malam itu, Chastine terus membolak-balikkan tubuhnya dan sulit terlelap. Ketika bangun keesokan paginya, kepalanya terasa sedikit berat dan tubuhnya agak lemas.
Untungnya, kondisinya tidak terlalu buruk.
Saat hendak keluar rumah dan melewati kamar untuk tamu, dia melihat ranjang di dalamnya masih tertata rapi tanpa bekas pernah ditiduri.
Tatapan Chastine meredup.
Elric tidak pulang semalam.
Chastine pun mengendarai mobil menuju institut penelitian tempat Aires bekerja.
Di ruang kepala institut ....
Seorang pria yang tampak tenang dan berwibawa sedang duduk di balik meja kerja. Wajahnya tampan dan tegas. Di balik kacamata tanpa bingkainya, sepasang mata cerdas itu menatap layar komputer dengan penuh konsentrasi. Pena di antara jemarinya yang ramping bergerak di atas kertas, meninggalkan tulisan yang tegas dan rapi.
Chastine mengangkat tangan dan mengetuk pintu. Setelah pria itu menatapnya dengan lembut, dia pun masuk.
"Kak Aires, lama nggak bertemu."
Chastine sangat berterima kasih kepada Aires.
Agar bisa lebih menyesuaikan diri dengan Keluarga Wicaksana, Chastine perlahan mundur dari dunia penelitian setelah menikah.
Ibunya tidak menyetujui keputusannya. Mentornya bahkan sangat menyayangkan hal itu. Hanya Aires yang diam-diam tetap mendukungnya. Setiap kali ada tawaran penelitian, dia juga selalu teringat pada Chastine.
Tanpa undangan dari Aires, mungkin Chastine tetap bisa kembali ke dunia penelitian melalui jalan lain. Namun, prosesnya jelas tidak akan semudah ini.
"Lama nggak bertemu, Chastine."
Aires berdiri dan mengajaknya duduk di sofa untuk menerima tamu.
"Kamu bawa paspormu?"
"Ya."
Chastine mengeluarkan paspornya dari dalam tas dan menyerahkannya.
Aires menerimanya, lalu memeriksanya sekilas. "Belum kedaluwarsa. Seharusnya nggak ada masalah dengan pengurusan dokumennya."
"Tapi, kamu akan pergi cukup lama. Suamimu ...."
Melihat Aires tampak ragu untuk melanjutkan, Chastine juga tidak berniat menyembunyikannya.
"Hubungan kami sedang bermasalah. Aku berencana menceraikannya."
Mendengar kabar itu, Aires terdiam sambil menatap Chastine.
Pernikahan yang baru berlangsung dua tahun telah mengubah gadis yang dulunya ceria dan penuh percaya diri menjadi sosok yang tampak begitu lelah seperti sekarang. Bisa dibayangkan betapa beratnya kehidupan yang dia jalani dalam pernikahan itu.
Aires menghiburnya, "Keputusanmu sudah tepat. Siapa pun yang membuatmu menderita nggak pantas kamu pertahankan. Chastine, aku yakin suatu hari nanti kamu akan bertemu seseorang yang lebih pantas mendapatkan cintamu."
Chastine mengangguk.
Aires mengangkat pergelangan tangan dan melihat jam.
"Mau makan sama-sama? Nanti aku kenalkan ke Pak Zevan. Dia sponsor, sekaligus mitra kerja institut penelitian kita. Ke depannya kalian pasti akan sering berhubungan, jadi sebaiknya berkenalan dulu."
"Oke."
Zevan Hartono.
Chastine pernah mendengar tentangnya.
Pria itu adalah salah satu alumni terkenal Universitas Cendana.
Dia adalah seorang genius di dunia penelitian. Pada usia 18 tahun, Zevan lulus dari program khusus untuk siswa berbakat, lalu bergabung dengan perusahaan peralatan dirgantara terkemuka. Pesawat tempur yang ikut dia kembangkan berhasil menembus blokade teknologi dari luar negeri.
Ketika semua orang mengira dia akan menjadi tokoh terdepan di dunia penelitian, dia malah tiba-tiba meninggalkan pekerjaannya dan bergabung dengan militer sebagai anggota Angkatan Udara.
Setelah sebuah pertempuran udara, dia dianugerahi penghargaan kelas satu atas jasanya. Namun tak lama kemudian, dia diam-diam mundur dari militer dan beralih ke dunia bisnis.
Dia mengambil alih perusahaan keluarganya dan berfokus pada pengembangan teknologi, membawa Grup Hartono mencapai tingkat yang jauh lebih tinggi.
Kini, usianya baru 28 tahun.
Saat Chastine mengikuti Aires tiba di sebuah restoran mewah, pria itu sudah berada di sana.
Pembawaannya elegan dan berkelas, raut wajahnya tampak dingin. Dia duduk di dekat jendela sambil membaca dokumen. Menyadari ada seseorang yang mendekat, dia mengangkat kepala dan menatap Chastine.
Tatapan matanya yang hitam pekat seolah mampu melihat menembus dirinya. Chastine pun tanpa sadar tertegun. Namun, hanya sesaat.
Tatapan Zevan segera beralih darinya kepada Aires. Sepertinya tadi dia hanya melirik sekilas tanpa sengaja.
Sudut bibir Chastine tanpa sadar membentuk senyum mencela diri sendiri. Mana mungkin sosok legendaris seperti Zevan mengenalnya?
"Pak Zevan, kenalkan, ini juniorku yang sering kuceritakan ke kamu, Chastine." Nada bicara Aires terdengar bangga. "Dia akan bergabung dalam pengembangan cip kali ini dan pergi ke Lembah Silika bersama tim."
Chastine mengulurkan tangan kepada Zevan dengan ekspresi ramah.
"Halo, Pak Zevan. Mohon bantuannya mulai sekarang."
Setelah berdiri lebih dekat, barulah Chastine menyadari betapa tegas dan menonjolnya fitur wajah pria itu.
Penampilan dan pembawaan Elric saja sudah jauh melampaui kebanyakan orang, tetapi Zevan bahkan masih lebih unggul darinya. Dia mengenakan kemeja putih dengan seluruh kancing tertutup hingga paling atas. Aura yang terpancar darinya terasa dingin, tegas, dan disiplin.
Namun, Zevan tidak menyambut uluran tangan yang sekadar untuk berbasa-basi itu. Dengan nada datar dan berjarak, dia langsung bertanya soal pekerjaan.
"Kontraknya sudah ditandatangani?"
Mendengar hal itu, Chastine menarik kembali tangannya dengan sedikit canggung, lalu menatap Aires.
Aires menjelaskan, "Belum sempat. Tapi kalau Chastine sudah memutuskan sesuatu, dia nggak akan berubah pikiran."
Zevan sedikit mengernyit, seolah tidak sepenuhnya setuju dengan ucapan Aires.
Asisten Zevan yang berdiri di sampingnya meletakkan sebuah kontrak di depan Chastine.
Chastine langsung mengerti.
Aires adalah seniornya dan tentu memercayainya. Namun, Zevan belum mengenalnya dan tidak tahu seperti apa dirinya. Kalau Chastine tiba-tiba berubah pikiran dan batal pergi ke Lembah Silika, mereka harus mencari orang lain untuk menggantikannya dan menanggung kerugian yang sebenarnya tidak perlu.
Chastine meminta Aires tidak perlu khawatir, lalu membaca sekilas isi kontrak itu.
Gaji tahunan sebesar 60 miliar. Jika melanggar kontrak, selain harus mengganti seluruh kerugian yang ditimbulkan, dia juga harus membayar kompensasi sebesar 60 miliar.
Menurutnya, persyaratan itu masih masuk akal.
Chastine menerima pena yang disodorkan asisten, membubuhkan tanda tangannya, lalu mendorong kontrak itu ke hadapan Zevan. Dia berkata dengan tegas, "Pak Zevan, aku nggak akan mengecewakanmu."
"Ya."
Pria itu menjawab dengan datar, lalu mengangkat pena dan membubuhkan tanda tangannya di samping nama Chastine.
Melihat tulisan tangannya yang tegas, Chastine sedikit heran.
Bukankah seharusnya dia menandatangani kontrak dengan institut penelitian?
Namun, dia kemudian teringat bahwa Zevan adalah sponsor utama sekaligus mitra kerja institut penelitian itu, jadi dia memang memiliki wewenang.
Saat pikirannya tidak fokus, bayangan tinggi seorang pria tiba-tiba menyelubungi tubuhnya.
Zevan berdiri dan mengulurkan tangan kepadanya. Setiap gerak-geriknya memancarkan aura kuat, keteguhan dan ketegasan. Tatapan matanya yang dalam tertuju pada Chastine dan dia berkata dengan tenang, "Aku harap kamu bisa segera mulai bekerja di institut penelitian agar bisa lebih cepat mengenal tugas-tugasmu dan rekan-rekanmu. Semoga kerja sama kita berjalan lancar, Bu Chastine."
Chastine mendongak menatapnya.
Pria ini benar-benar tinggi. Sepertinya bahkan dua sentimeter lebih tinggi daripada Elric yang tingginya 190 sentimeter.
Saat tatapan mereka bertemu, mata Zevan tampak hitam pekat dengan sorot yang begitu kuat.
Entah kenapa, Chastine sedikit terintimidasi oleh auranya. Dia buru-buru menyambut uluran tangan Zevan.
"Baik, Pak. Semoga kerja sama kita berjalan lancar."
Ujung jari pria itu terasa dingin dan membuat hati Chastine bergetar sesaat.
Entah kenapa, dia selalu merasa pria ini familier. Dia bahkan ingin bertanya apakah mereka pernah bertemu sebelumnya.
Namun, suara riuh tiba-tiba memecah perhatian mereka. Chastine menoleh ke layar besar di tengah restoran. Sebuah berita kilat sedang ditayangkan.
[ Skandal Perselingkuhan Pewaris Keluarga Elite ]
Foto-foto yang diambil diam-diam oleh wartawan ditampilkan satu per satu. Mulai dari Elric yang menemani Karina turun dari mobil tadi malam dengan penuh perhatian, keduanya memasuki gedung apartemen, hingga Elric yang baru meninggalkan tempat itu dengan mobilnya pagi ini.
Chastine teringat kamar tamu yang masih tertata rapi saat dia keluar rumah tadi pagi.
Sudah lama dia dan Elric tidak tidur sekamar.
Belakangan ini, Elric selalu berangkat pagi dan pulang larut malam. Bahkan setelah sampai rumah, dia masih harus bekerja, sehingga memilih tidur di kamar tamu.
Dulu Chastine mengira Elric melakukan itu karena perhatian dan tidak ingin mengganggu tidurnya. Hatinya bahkan sempat merasa berbunga-bunga karena perhatian kecil itu. Ternyata Elric hanya sedang menjaga jarak demi wanita yang dicintainya.
Senyum getir muncul di bibir Chastine.
"Chastine, kamu nggak apa-apa?"
Pertanyaan Aires menyadarkannya dari lamunan.
Barulah Chastine sadar bahwa sejak tadi dia masih menggenggam tangan Zevan. Dia buru-buru melepaskannya dengan canggung.
"Maaf, Pak Zevan."
Pria itu meliriknya dengan ekspresi datar. Setelah kembali duduk, dia mengambil handuk hangat yang disodorkan pelayan dan mengusap telapak tangannya.
Chastine sedikit mengernyit, dia ragu, apakah Zevan merasa jijik disentuh olehnya?
Kabarnya Zevan memang dingin, menjaga jarak, dan sama sekali tidak dekat dengan wanita. Rupanya rumor itu memang benar.
Sepanjang makan, pikiran Chastine terus melayang ke mana-mana. Namun, setidaknya dia berhasil bertahan sampai selesai dan tidak meninggalkan kesan buruk di hadapan orang yang kelak menjadi atasannya.
Setelah itu, Chastine mengendarai mobil menuju Grup Wicaksana.
Hari ini, dia harus membicarakan perceraian dengan Elric. Setibanya di Grup Wicaksana, Norlan menyerahkan sebuah dokumen kepadanya.
"Maaf, Nyonya. Nyonya Rosalie ...." Norlan tampak sedikit serba salah. "Nyonya Rosalie bilang untuk sementara belum bisa mengeluarkan uang sebanyak ini."
Rosalie adalah mantan ketua yayasan amal Grup Wicaksana. Setelah Chastine mengambil alih jabatan itu, dia baru mengetahui bahwa ada kekurangan dana dalam pembukuan.
Rosalie memang pernah berjanji akan mengganti kekurangan itu. Namun, lebih dari setahun berlalu dan Chastine sama sekali belum menerimanya.
Baru belakangan ini Rosalie akhirnya menyanggupi untuk membayarnya, tetapi dia meminta Chastine mengikuti prosedur resmi dan membawa dokumen untuk ditandatangani olehnya.
Sebelum pergi tadi malam, Chastine sudah meminta kepala pelayan menyerahkan dokumen itu kepada Rosalie. Tak disangka, wanita itu sekali lagi mengingkari janjinya.
Chastine tidak ingin mempersulit Norlan. Dia menerima dokumen itu dan menumpuknya bersama surat perjanjian cerai, lalu masuk ke ruang direktur utama. Dia berniat menagih dana itu lagi nanti.
Elric sedang duduk di sofa dengan kedua kakinya yang bersilang santai, membaca dokumen di tangannya. Setelan jas yang dia kenakan juga bukan yang dipakainya tadi malam.
Elric memang terobsesi dengan kebersihan. Dia tidak mungkin mandi dan berganti pakaian sembarangan di tempat lain. Itu berarti, semalam bukan pertama kalinya dia pergi ke rumah Karina.
Bulu mata panjang Chastine bergetar pelan sebelum dia menyembunyikan seluruh emosinya.
Melihat Chastine masuk, Elric mengangkat mata dengan datar.
"Semalam kamu pergi ke mana?"
Chastine bahkan belum sempat mempertanyakan keberadaan Elric semalam, tetapi Elric malah lebih dulu menginterogasinya.
Melihat Chastine tidak menjawab, nada bicaranya berubah dingin, "Jangan diulangi lagi."
Dia hanya menegur Chastine karena pergi dari acara makan malam tanpa izin, tetapi sama sekali tidak peduli kenapa Chastine meninggalkan kediaman utama.
Entah sejak kapan, hanya ada satu hal yang Elric pedulikan darinya, yaitu Chastine harus menjadi Nyonya Wicaksana yang tahu menjaga sikap.
Chastine tidak menanggapinya dan hanya bertanya pelan, "Gimana keputusanmu soal perceraian kita?"
Elric mengernyit. "Cuma masalah kecil. Kenapa harus diributkan?"
Bermesraan dengan selingkuhannya di kantor, membawa wanita itu masuk ke kediaman keluarga tanpa memedulikan harga dirinya sebagai seorang istri, bahkan terang-terangan menginap di rumah selingkuhannya.
Skandal itu bahkan sudah menjadi perbincangan publik sampai sekarang.
Namun, Grup Wicaksana sama sekali tidak berniat melakukan klarifikasi atau menangani pemberitaan itu dan membiarkan semua orang menertawakannya.
Lalu di mata Elric, semua itu hanya masalah kecil?
Chastine mencengkeram dokumen di tangannya. Matanya mulai berkaca-kaca karena marah sekaligus sakit hati.
Tiba-tiba, tangannya digenggam dengan lembut. Chastine mendongak dengan terkejut.
Ekspresi Elric masih sedatar biasanya. Dia mengambil dokumen dari tangan Chastine dan mengeluarkan sebuah pena dari saku jasnya, lalu membuka lembar demi lembar dokumen itu dan mulai menandatanganinya.
Pena itu adalah hadiah ulang tahun pernikahan pertama yang Chastine berikan kepadanya. Tak disangka, Elric masih menggunakannya sampai sekarang.
Dengan nada datar, dia berkata, "Aku kasih kamu 10 miliar."
"Mulai sekarang, kalau yayasan kekurangan dana, langsung minta ke bagian keuangan."
Dalam urusan uang, Elric memang selalu murah hati padanya.
Namun, sejak awal bukan itu yang Chastine inginkan.
Chastine menatap Elric setelah dia selesai menandatangani dokumen pertama milik yayasan amal. Kemudian, pria itu melanjutkan ke lembar kedua dan ketiga, dua rangkap surat perjanjian cerai yang sudah Chastine siapkan, lalu mengangkat pena untuk menandatanganinya.
Asalkan Elric mau melihatnya beberapa detik lebih lama, dia pasti akan menyadari bahwa dokumen itu adalah surat perjanjian cerai.