Namun, Elric tidak melakukannya. Dia langsung membubuhkan tanda tangan di bagian akhir halaman tanpa membaca isinya. Dia sama sekali tidak menganggap serius perkataan Chastine.
Setelah menandatangani dokumen itu, Chastine mendengar suaranya yang menyiratkan peringatan, "Aku nggak mau dengar kata cerai lagi."
Tidak ingin bercerai?
Percuma saja, dia sudah menandatangani surat perjanjian cerainya.
Chastine menekan rasa getir akibat sikap Elric yang begitu meremehkannya. Kini, pikirannya benar-benar jernih.
Surat perjanjian cerai sudah ditandatangani. Itu sudah cukup.
Dia segera merapikan dokumen itu, lalu berbalik dan berjalan ke luar.
Tiba-tiba, suara datar Elric terdengar dari belakang, "Jangan lupa datang ke restoran malam ini."
Mendengar itu, langkah Chastine sama sekali tidak berhenti. Dia keluar dari ruang direktur utama dengan acuh tak acuh.
Saat melewati bagian sekretaris, dia mendengar Norlan berkata kepada para sekretaris, "Nggak usah khawatir. Setelah foto perayaan ulang tahun pernikahan Pak Elric dan Nyonya tersebar malam ini, rumor perselingkuhan itu akan hilang sendiri."
Jadi, itu rencana Elric. Dia ingin memanfaatkan Chastine untuk membantah rumor perselingkuhannya.
Kalau begitu, Chastine akan memberikan salah satu surat perjanjian cerai itu sebagai hadiah ulang tahun pernikahan untuknya. Dia ingin melihat bagaimana Elric akan menyangkal rumor itu nanti.
Sekarang, hal terpenting adalah mendapatkan akta cerai.
Chastine kembali ke ruang kerjanya di Grup Wicaksana, lalu menelepon sahabatnya, Jona.
"Nana, kamu punya teman yang bisa membantuku mengurus perceraian?"
Suara Jona yang penuh kekhawatiran terdengar dari seberang telepon, "Chastine, kamu sudah mikirin baik-baik?"
"Kalian sudah menikah dua tahun dan ini pertama kalinya Elric diterpa skandal seperti ini. Apa mungkin ada kesalahpahaman?"
"Dia berselingkuh dengan Karina!"
Bibir Chastine sedikit bergetar. Setelah kemarahannya mereda, yang tersisa hanyalah rasa perih di hati.
Dulu, dia pernah membuka hatinya kepada Elric dan menceritakan semua penderitaan yang dialaminya semasa kecil. Saat itu, pria yang biasanya selalu tenang itu sempat menunjukkan rasa iba dan sakit hati di matanya.
Namun sekarang, ketulusan yang pernah Chastine serahkan kepadanya justru berubah menjadi pisau yang menusuk jantungnya sendiri.
Para wartawan tidak berhasil memotret wajah Karina dari depan. Selain Chastine, tak ada seorang pun yang mengetahui kebenarannya.
Mendengar perkataannya, suara Jona langsung meninggi, "Ibu dan anak Keluarga Wibisono itu benar-benar nggak tahu malu! Mereka sudah menyakiti ibumu dan mempermalukanmu."
"Selama ini, Elric nggak perhatian sama kamu saja sudah keterlaluan. Sekarang dia malah berani selingkuh sama wanita yang paling menyakitimu!"
"Ceraikan saja! Nggak usah pertahankan laki-laki seperti dia!"
"Ya."
Mendapat dukungan dari Jona membuat Chastine merasa sedikit terhibur.
Jona adalah putri dari keluarga pengusaha perhiasan. Relasinya luas dan pengetahuannya juga banyak. Dia pasti bisa membantu Chastine.
"Nana, kami sudah menandatangani surat perjanjian cerai. Kalau mengikuti proses di catatan sipil, ada waktu tunggu satu bulan. Aku nggak mau menunggu selama itu. Apa kamu punya cara lain?"
Jona menjawab tanpa ragu, "Aku punya teman yang koneksinya sangat luas. Aku jamin dalam tiga hari kamu sudah bisa mendapatkan akta cerai."
"Terima kasih, Nana."
Bagus. Setelah tiga hari, dia tidak perlu bertemu dengan mereka lagi.
Sepulang kerja, Chastine mengantarkan surat perjanjian cerai kepada Jona, lalu pergi ke restoran. Seorang pelayan mengantarnya ke meja di dekat jendela.
Di restoran yang sangat luas itu hanya ada Chastine seorang. Dia mengeluarkan sebuah kotak hadiah persegi panjang dari dalam tas. Di dalamnya ada sebuah penjepit dasi yang dibuat dengan sangat indah.
Itu adalah hadiah ulang tahun pernikahan yang dia buat sendiri dengan sepenuh hati. Dia menghabiskan waktu sebulan untuk membuatnya. Bahkan, sela antara ibu jari dan telunjuknya sempat terluka terkena kikir.
Chastine mengeluarkan penjepit dasi itu dari kotak hadiah dan memasukkannya ke dalam tas. Sebagai gantinya, dia memasukkan satu rangkap surat perjanjian cerai yang sudah digulung, lalu mengikat kembali kotak itu dengan pita yang disimpul kupu-kupu.
Dia menunggu selama setengah jam sebelum Elric akhirnya muncul.
Pria di hadapannya bertubuh tinggi dan tegap, dengan fitur wajah tegas seolah dipahat dengan sempurna. Namun, ekspresinya tetap datar. Setelah duduk, dia langsung memerintahkan, "Sajikan makanannya."
"Tunggu."
Chastine menyela dan menyerahkan kotak hadiah itu kepadanya. "Hadiah ulang tahun pernikahan kedua kita."
Tidak akan ada hadiah ketiga.
Tatapan Chastine beralih ke tangan Elric yang terulur. Dia melihat bekas cincin samar di jari manis pria itu. Elric bahkan sudah melepas cincin pernikahan mereka, tetapi masih tidak mengizinkan Chastine membicarakan perceraian!
Chastine menahan amarah yang mulai muncul di hatinya dan berkata dengan datar, "Mau kamu buka dulu?"
Elric tidak menunjukkan ekspresi apa pun, tetapi tetap menuruti perkataannya. Dia menarik pita kupu-kupu itu dan membuka tutup kotaknya.
Dia sudah tahu apa yang ada di dalamnya. Selama sebulan terakhir, Chastine diam-diam sibuk membuat hadiah untuknya. Elric sempat mengira Chastine sedang membuat sesuatu yang berharga.
Ternyata hanya sebuah penjepit dasi.
Pada saat yang sama, para wartawan yang sejak tadi menunggu di luar jendela berlomba-lomba mengambil foto. Kilatan kamera menerangi pemandangan itu.
Chastine memperhatikan Elric mengangkat tutup kotak itu.
Baru saja sudut kertas putih di dalamnya terlihat, Elric tiba-tiba melepaskan tangannya dan melemparkan kotak hadiah itu ke pelukan Norlan.
Dia kemudian mengeluarkan ponsel dari saku dalam jasnya. Melihat ponsel yang bergetar di telapak tangannya, sudut bibir Elric bahkan membentuk senyum hangat.
Namun saat dia kembali menatap Chastine, ekspresinya sudah berubah dingin. "Aku masih ada urusan. Selesai makan, kamu pulang sendiri."
Dia datang hanya untuk membiarkan wartawan mengambil foto sebagai klarifikasi, lalu langsung pergi.
Setelah selesai memanfaatkan Chastine, dia kembali meninggalkannya begitu saja. Chastine sudah muak dengan sikap acuh tak acuh dan perlakuan Elric yang terus memanfaatkannya selama dua tahun terakhir.
Tatapannya perlahan berubah dingin. Suaranya terdengar jernih dan tenang, "Elric, kamu benar-benar nggak bisa meluangkan satu menit lagi untuk membuka kotak itu dan melihat isinya?"
Langkah Elric terhenti. Dia menatap Chastine dengan dingin.
"Perlu aku ajari gimana seharusnya kamu bersikap sebagai istriku?"
Dia sudah cukup bersabar menghadapi Chastine yang membuat keributan sebanyak dua kali. Tidak akan ada yang ketiga kalinya.
Berhadapan dengan tatapan dingin Elric yang seolah sedang memandang orang asing, Chastine tiba-tiba merasa lega. Dia akhirnya benar-benar tenang.
"Ya sudah."
Sudah tidak penting lagi.
Setelah mereka bercerai, tidak akan ada hubungan apa pun di antara mereka.
Bagaimana sikap Elric kepadanya juga sudah tidak ada hubungannya lagi dengan Chastine.
Di luar jendela ....
Mobil para wartawan memenuhi jalan hingga menyebabkan kemacetan. Sebuah Bentley hitam ikut berhenti di tengah arus kendaraan.
Di kursi belakang, tatapan seorang pria tertuju pada sosok ramping dan rapuh yang tersorot cahaya kamera. Sorot matanya tampak gelap dan dalam.
Asistennya yang duduk di kursi pengemudi, Farhan, menerima sebuah panggilan telepon. Dia menutupi mikrofon ponselnya lalu bertanya, "Bos, Bu Jona ingin mengajak Anda makan. Sepertinya, dia ingin minta bantuan dari Anda."
Mendengar ucapannya, Zevan sedikit mengernyit.
Farhan langsung memahami maksudnya.
Bosnya berasal dari keluarga terpandang dan berpengaruh selama beberapa generasi, sekaligus seorang taipan di dunia bisnis. Pendidikannya tinggi, kemampuan bertarungnya luar biasa, dan yang terpenting, dia juga sangat tampan.
Selain itu, dia selalu menjaga diri dan tidak pernah bermain-main dengan wanita. Sosoknya begitu suci, dingin, dan sulit didekati.
Entah berapa banyak wanita yang sudah menghalalkan segala cara untuk mendekati dan mendapatkan hatinya, tetapi dia tidak pernah memberi kesempatan kepada siapa pun.
Farhan mengalihkan pandangannya dan berkata kepada Jona melalui telepon, "Maaf, Bu Jona. Pak Zevan nggak punya waktu ...."
....
Saat Chastine meninggalkan restoran, hari sudah larut malam.
Udara musim semi masih terasa sangat dingin, hawa menusuk tulang menerpa tubuhnya.
Chastine menggigil kedinginan dan merapatkan mantel kasmir di bahunya. Namun, tiba-tiba pandangannya berputar dan rasa sakit yang hebat menyerang tubuhnya.
Dia mengeluarkan ponsel, berniat menelepon sopir untuk menjemputnya. Namun, tanpa sengaja dia malah menelepon Elric. Yang menjawab telepon itu adalah suara lembut seorang wanita.
Dengan nada penuh kemenangan dan ejekan, Karina berkata, "Kak, aku sarankan kamu nggak usah nungguin dia lagi."
"Kakak Ipar sedang merayakan kelulusanku."
"Kamu nggak tahu betapa romantisnya Kakak Ipar. Dia tahu aku suka ...."
Jadi, Elric tadi pergi terburu-buru demi Karina.
Dengan sisa tenaganya, Chastine memutus sambungan telepon.
Tubuhnya sudah tidak sanggup bertahan. Saat dia bersandar pada pagar dan perlahan merosot ke bawah, tiba-tiba sebuah tangan yang hangat menyentuh pinggangnya dan menopang tubuhnya agar tidak jatuh.
Chastine sadar seseorang sedang memeluknya.
Aroma pinus yang segar dan asing tercium samar. Dia langsung waspada dan membuka mata, lalu melihat wajah tampan tanpa cela di hadapannya.
"Pak Zevan?"
Chastine mencengkeram telapak tangannya sendiri dengan ujung jari, memaksa dirinya tetap sadar. Dia mengangkat tangan, berniat menciptakan jarak di antara mereka.
Namun baru saja telapak tangannya menyentuh dada Zevan, pria itu seolah langsung memahami maksudnya dan mundur selangkah.
Kedua tangan yang semula menopang pinggang Chastine pun berpindah ke sikunya.
Hal itu membuat Chastine sedikit lega.
Namun, tiba-tiba tangan Zevan melepaskannya.
Chastine tidak mampu menopang tubuhnya sendiri dan secara refleks mencengkeram lengan Zevan. Tubuh Chastine terasa dingin sekaligus panas. Pandangannya mulai kabur dan pikirannya juga tidak terlalu jernih. Dia merasa dirinya bisa jatuh kapan saja.
Dia memohon, "Pak Zevan, bisa tolong antarkan aku ke rumah sakit sebentar? Jaraknya cuma dua blok dari sini."
Melihat wajah pria itu tetap dingin, Chastine menjadi sedikit cemas.
"Tolong. Aku benar-benar sedang nggak enak badan."
Zevan sedikit mengernyit. Sepasang mata hitamnya yang dalam menatap Chastine selama dua detik, seolah sedang menilai apakah perkataannya bisa dipercaya.
Tanpa sadar, Chastine semakin erat mencengkeram lengan bajunya.
Tiba-tiba, tubuh tinggi pria itu merendah dalam pandangannya. Sesaat kemudian, Chastine merasakan lengan Zevan menyentuh punggung dan lekukan lututnya. Tubuhnya tiba-tiba terangkat.
Lantaran takut terjatuh, Chastine refleks mencengkeram kerah bajunya. Dia bisa merasakan otot pria itu yang kencang dan hawa panas menyentuh kulitnya. Rasanya bagaikan ombak ganas yang menyimpan sedikit aura berbahaya. Hal itu membuat Chastine tiba-tiba merasa tidak nyaman.
Dia mendongak dan melihat sorot mata Zevan tampak dingin dan muram. Punggung tegap pria itu bahkan sedikit condong ke belakang, terlihat jelas dia tidak suka Chastine terlalu dekat dengannya.
Chastine buru-buru melepaskan tangannya, lalu menunduk untuk menghindari tatapannya.
"Terima kasih."
Langkah Zevan cepat dan mantap. Hanya dalam beberapa menit, dia sudah membawa Chastine sampai ke ruang IGD.
Setelah melihat para tenaga medis berjas putih, Chastine akhirnya merasa lega dan dia pun kehilangan kesadaran. Sebelum benar-benar pingsan, dia sempat melihat Zevan hendak pergi, tetapi dicegah oleh petugas medis.
Dua jam kemudian, Chastine terbangun karena suara ribut di sekitarnya.
Setelah menyadari dirinya sedang terbaring di ranjang rumah sakit, pandangannya mengikuti seruan kagum para tenaga medis dan beralih ke luar jendela.
Pertunjukan cahaya menerangi langit malam. Tatapan Chastine tampak kosong.
Ucapan Karina kembali terngiang di benaknya.
"Kamu nggak tahu betapa romantisnya Kakak Ipar. Dia tahu aku suka pertunjukan drone, jadi dia sengaja mendatangkan tim dari luar kota."
"Kakak Ipar bilang seluruh Kota Marina bisa melihatnya."
Setelah pertunjukan cahaya berakhir, sebuah tulisan besar muncul di langit.
[ True love is for you. ]
Cinta sejati?
Kalau mereka adalah cinta sejati, lalu Chastine ini apa?
Kalau mereka memang benar-benar saling mencintai, saat kedua keluarga mengatur pernikahan dulu, seharusnya Elric menikahi Karina. Bukan dirinya.
Chastine teringat dengan bagaimana dulu dirinya ingin lebih dekat dengan Elric setelah pria itu menyelamatkan nyawanya. Dia selalu berusaha keras agar bisa menikah dengan Elric dan setelah menikah pun, Chastine terus berusaha menjadi seseorang yang pantas berdiri di sisinya. Semua kenangan itu membuat hati Chastine terasa begitu perih.
Chastine menarik kembali pandangannya tanpa ekspresi. Dia turun dari ranjang dan mulai membereskan barang-barangnya, bersiap meninggalkan rumah sakit.
Saat membuka tas, dia melihat penjepit dasi indah yang dibuatnya sendiri.
Elric tidak pantas memilikinya. Sama seperti dua tahun yang dia korbankan untuk Elric.
Bedanya, masa muda yang sudah dia berikan tidak mungkin bisa diambil kembali. Namun, penjepit dasi ini berbeda. Chastine lebih rela membuangnya daripada memberikannya kepada Elric. Dia mengambil penjepit dasi itu dan hendak melemparkannya ke tempat sampah ketika tanpa sengaja bertemu dengan tatapan mata hitam pekat Zevan.
Chastine tertegun.
Dia menghabiskan waktu sebulan penuh untuk membuat penjepit dasi ini dengan sepenuh hati. Kenapa dia harus membuangnya hanya karena Elric adalah pria berengsek?
Namun setiap kali melihatnya, Chastine pasti akan teringat pada ketulusan hatinya yang diinjak-injak oleh Elric.
Melihat Zevan sedang memperhatikan penjepit dasi itu, Chastine berkata, "Pak Zevan, terima kasih sudah mengantarku ke rumah sakit. Kalau kamu nggak keberatan, terimalah penjepit dasi ini sebagai ucapan terima kasih dariku."
Melihat pria itu menatapnya, Chastine tiba-tiba tersadar.
Zevan adalah direktur utama Grup Hartono. Apa yang tidak dia miliki? Mana mungkin dia tertarik pada barang buatan tangan seperti ini?
Chastine merasa canggung dan hendak menarik kembali tangannya. Namun, Zevan malah mengulurkan tangan tanpa menunjukkan banyak ekspresi dan menerima penjepit dasi itu.
Setengah jam kemudian ....
Elric menerima telepon dari perawat dan segera datang ke rumah sakit.
Saat keluar dari lift, dia berpapasan dengan seorang pria bertubuh tinggi dan tegap. Karena pembawaan pria itu begitu luar biasa, Elric tanpa sadar meliriknya lebih lama. Dari sudut matanya, dia melihat sebuah penjepit dasi terpasang di dasi pria itu.
Elric langsung menoleh ke arah pintu lift yang perlahan menutup. Tatapannya menyapu penjepit dasi itu sebelum bertemu dengan mata hitam Zevan yang tenang.
Penjepit dasi yang dikenakan pria itu hampir sama persis, baik dari segi pengerjaan maupun warnanya, dengan penjepit dasi yang dibuat Chastine.
Barang yang dibuat Chastine untuknya malah dikenakan oleh pria lain?
Tidak mungkin!
Elric mengernyit. Wajahnya berubah dingin saat berkata kepada asistennya, "Norlan, bawakan kotak hadiah dari istriku. Aku mau melihatnya."