Compartir

Bab 6

Autor: Sasha
Sementara itu, di butik, sebelum manajer mengantar Chastine ke ruang pas, Alice menerima telepon dari salah seorang istri pengusaha kaya yang ingin menanyakan detail mengenai barang sumbangan untuk lelang besok. Karena itu, dia keluar untuk mengambil dokumen dari mobil.

Chastine masuk ke ruang pas sendirian. Pramuniaga mengantarkan gaunnya lalu pergi. Chastine membawa gaun itu ke bilik ganti, melepas mantel kasmir putih dan celana jinnya, kemudian mengenakan gaun panjang tanpa tali.

Tiba-tiba terdengar suara "srek" dari bagian belakang gaun.

Bagian belakang gaunnya robek.

Apa akhir-akhir ini dia bertambah gemuk?

Akan tetapi, kualitas gaun yang dibuat khusus seharusnya tidak seburuk ini.

Saat Chastine masih kebingungan, tiba-tiba gagang pintu bilik ganti ditekan dan diputar dari luar.

Dia terkejut.

Untungnya, saat masuk tadi dia sudah mengunci pintu dari dalam, sehingga orang di luar tidak bisa membukanya.

"Alice, kamu ya?" tanyanya pelan.

Namun, tidak ada jawaban. Hanya terdengar suara gagang pintu yang diputar dengan kasar.

Chastine mulai panik.

"Siapa di luar?"

"Kenapa nggak becus begitu? Kalau nggak bisa dibuka, dobrak saja!" Tiba-tiba terdengar suara yang sangat dikenalnya.

"Kalian siap-siap ambil foto. Aku akan mendobrak pintunya."

Setelah suara pria lain terdengar, disusul bunyi rana kamera.

Chastine melihat bayangan hitam mendekati pintu kaca buram. Sepertinya itu kaki orang yang bersiap menendang pintu. Pada saat yang sama, robekan di bagian belakang gaunnya semakin lebar. Gaun itu bahkan melorot dari dadanya, membuat keadaannya sangat memalukan.

Kalau media sampai mendapatkan foto telanjangnya ... reputasinya pasti akan hancur.

Semua itu terjadi hanya dalam hitungan detik. Dalam kepanikan, Chastine berteriak, "Alice! Siapa pun! Tolong ...."

Namun sebelum ada yang datang, kaki orang itu lebih dulu menghantam pintu.

Brak!

Suara keras itu meledak di telinganya. Lampu kilat kamera langsung menyala berkali-kali, mengarah ke bilik ganti yang kosong.

"Orangnya mana?!"

Seseorang segera menyadari ada yang tidak beres dan berseru kaget.

Saat itulah Chastine keluar dari bilik ganti di sebelahnya dan berdiri di ambang pintu dengan ekspresi dingin. "Aku sudah telepon polisi. Nggak ada satu pun dari kalian yang bisa kabur!"

Tasnya masih berada di ruang pas dan ponselnya ada di dalam tas. Sebenarnya dia hanya menggertak mereka.

Suaranya sedingin es saat menatap sekelompok orang yang langsung berbalik dengan wajah terkejut. Tatapannya kemudian berhenti pada Karina yang berdiri paling dekat dengannya.

Wajah Karina seketika pucat pasi.

Karina menatap Chastine dari atas sampai bawah dengan tercengang.

Jas pria bermotif kotak-kotak abu-abu gelap yang kebesaran menutupi seluruh lekuk tubuh indah Chastine hingga di atas lutut. Di bawah jas itu terlihat sepasang kaki jenjang dan lurus, sementara dia berdiri tanpa alas kaki di lantai yang dingin.

"Kak, kamu salah paham ya?"

"Aku datang untuk membantu temanku memergoki pasangannya yang selingkuh."

Karina memberi isyarat kepada salah seorang wartawan. Wartawan itu langsung ikut membenarkan perkataannya. "Benar, Nyonya Wicaksana. Kami datang untuk memergoki orang yang berselingkuh."

Saat itu, terdengar langkah kaki dari arah pintu.

Mantel kasmir hitam yang dibuat khusus semakin menonjolkan aura berkelas Elric. Dia berjalan perlahan menghampiri Chastine.

Di belakangnya, Alice, manajer butik, dan beberapa pramuniaga mengikuti dengan wajah kebingungan.

Alice memegang dokumen dan ponsel, tampaknya baru saja selesai menelepon. Setelah melihat keadaan Chastine yang sedikit berantakan, dia langsung bertanya dengan cemas, "Bu Chastine, kamu kenapa?"

Chastine menepuk tangannya pelan untuk menenangkannya.

Bahkan bawahannya yang baru bekerja bersamanya beberapa bulan saja tahu bagaimana mengkhawatirkannya. Sedangkan Elric hanya memasang ekspresi datar. Tatapannya sekadar menyapu tubuh Chastine, tanpa menunjukkan reaksi lain.

"Kak Elric, untung kamu datang."

"Kakak benar-benar salah paham padaku."

"Aku datang untuk membantu temanku memergoki pasangannya yang selingkuh. Aku nggak tahu Kakak sedang berganti pakaian di dalam."

Karina segera menghampiri Elric dan menggandeng lengannya sambil mengadu, "Kalau nggak percaya, aku bisa langsung memanggil temanku ke sini untuk membuktikannya."

Ekspresi Elric tetap dingin saat berkata, "Ini cuma salah paham."

"Salah paham?"

Hanya karena Karina berkata tidak tahu, Elric langsung menyebut semuanya sebagai kesalahpahaman tanpa mencari tahu kebenarannya.

Padahal Chastine nyaris kehilangan kehormatannya.

Bukti? Teman yang dimaksud Karina tentu hanya akan membantunya berbohong.

Chastine mengepalkan tangannya dengan erat.

"Waktu aku mengenakan gaun itu, jahitan di bagian belakangnya langsung terbuka dan robek sampai ke pinggang. Setelah itu, seseorang menendang pintu dan sekelompok wartawan langsung mengarahkan kamera ke dalam. Kamu masih menganggap ini kesalahpahaman?"

"Ini jelas-jelas jebakan yang sengaja dibuat untuk mencelakaiku."

"Kak Elric, ini benar-benar cuma salah paham! Mana mungkin aku melakukan hal seperti itu sama Kakak?" bantah Karina.

Bibir tipis Elric sedikit bergerak. Dengan nada tenang, dia berkata, "Ya, aku percaya kamu."

"Putar rekaman CCTV!" Chastine langsung menatap manajer butik.

Chastine bukan seseorang yang berani disinggung oleh manajer itu.

Namun, Elric adalah pemimpin salah satu keluarga paling berkuasa di Kota Marina. Pengaruhnya begitu besar hingga seluruh Kota Marina bisa terguncang hanya karena satu keputusannya. Terlebih lagi, dia tidak mungkin berani menyinggung Elric.

Melihat Elric begitu membela Karina, manajer butik seketika bingung harus berbuat apa.

Mendengar ucapan Chastine, Karina langsung menangis dengan wajah penuh kesedihan.

"Kak, aku benar-benar nggak melakukan apa-apa. Kenapa kamu nggak percaya sama aku? Aku adik kandungmu sendiri. Mana mungkin aku mencelakaimu?"

Adik kandung?

Berani sekali dia ngomong begitu!

"Kalau kamu memang nggak melakukan apa-apa, apa yang kamu takutkan?" Chastine mencibir. "Atau sebenarnya kamu takut kebenarannya terbongkar?"

"Aku ...."

Wajah Karina seketika menjadi pucat. Saat dia kebingungan, Elric menggenggam tangannya dengan lembut untuk menenangkannya. Setelah menenangkan Karina, Elric menatap Chastine. Kelembutan di matanya telah berganti menjadi sikap datar. Dia memerintahkan Norlan, "Periksa."

Norlan segera meminta manajer butik menunjukkan jalan.

Beberapa menit kemudian, Norlan kembali.

"Pak Elric, manajer mengatakan setiap Rabu sore CCTV di butik selalu menjalani perawatan. Jadi, nggak ada rekaman apa pun."

"Mana mungkin?"

Wajah Chastine memucat. Saat dia bergumam pelan, suara Elric yang terdengar tidak sabar masuk ke telinganya. "Sekarang kamu puas?"

Nada bicaranya seakan menyalahkan Chastine karena membuat keributan tanpa alasan.

Tanpa menunggu jawabannya, Elric membawa Karina pergi. Nada bicaranya begitu lembut, seperti bisikan mesra kepada kekasih, "Sejak kapan kamu ikut-ikutan memergoki orang selingkuh? Sepertinya kamu terlalu banyak waktu luang. Aku harus cariin kamu kesibukan."

"Kak Elric ...."

Karina merapat ke lengan Elric dengan manja.

Melihat pemandangan itu, Chastine meninggikan suaranya.

"Sejak awal aku nggak pernah bilang kalau aku sedang berganti pakaian di dalam bilik. Aku hanya bilang akan menelepon polisi untuk menangkapnya, tapi dia langsung menjelaskan sama aku bahwa dia nggak tahu aku sedang berganti pakaian di dalam."

"Kalau semua ini nggak direncanakan, bagaimana dia bisa tahu aku ada di dalam?"

Langkah Elric dan Karina langsung terhenti.

Karina menatap Elric dengan panik. Dia menggigit bibir dan berusaha menjelaskan, "Kak ... Elric ... itu ...."

Namun, suara Elric justru terdengar semakin lembut saat menenangkannya, "Nggak perlu menjelaskan. Aku tahu kamu bukan gadis jahat. Kamu hanya dipengaruhi orang-orang yang salah."

Tatapan Elric berubah tajam dan dingin saat menyapu sekelompok wartawan di belakang mereka.

"Patahkan kaki mereka, lalu usir mereka dari Kota Marina."

"Kak Elric!"

Karina menatapnya dengan syok.

Para wartawan itu langsung ketakutan dan berusaha meminta pertolongan, tetapi para pengawal membekap mulut mereka dan menyeret mereka keluar.

Karina benar-benar panik.

Chastine juga tercengang.

Sebenarnya, demi siapa Elric melampiaskan kemarahannya?

Kemudian Chastine melihat tangan Elric dengan lembut menutupi tangan Karina. Pria itu berkata pelan, "Reputasimu lebih penting."

Karina langsung tersenyum cerah dan melirik Chastine dengan penuh kemenangan.

Melihat punggung Elric yang pergi dengan begitu dingin, mata Chastine terasa perih.

Ternyata Elric bukan sedang melampiaskan kemarahannya demi Chastine. Dia hanya ingin menutupi perbuatan Karina.

Elric sudah bertahun-tahun berkecimpung di dunia bisnis dan sangat cerdas. Mana mungkin dia tidak menyadari bahwa Karina sengaja membuat jebakan untuk mencelakai Chastine?

Dia hanya tidak peduli pada kebenaran. Dia juga tidak peduli pada harga diri Chastine.

Lalu soal rekaman CCTV itu ....

Chastine langsung meminta penjelasan dari manajer.

"Nyonya, saya benar-benar nggak bersalah. Gaun Anda sebelumnya dikirim kembali ke tempat produksi untuk diperbaiki dan baru dikirim kembali pagi ini. Gaun itu harganya ratusan juta. Mana mungkin kami berani melakukan sesuatu terhadap gaun Anda?"

"Lalu bagaimana dengan CCTV?" tanya Chastine.

Butik gaun mewah seperti ini tidak mungkin melakukan perawatan CCTV pada hari kerja!

Manajer itu tidak berani menyinggung Elric, tetapi dia juga tahu Chastine bukan orang yang bisa dibohongi seenaknya.

Setelah ragu beberapa detik, akhirnya dia mengatakan yang sebenarnya, "Rekamannya dihapus oleh orang-orang Pak Elric."

"Maaf, Nyonya. Saya hanya orang biasa dan nggak punya kuasa untuk melawan mereka."

"Kami akan mengembalikan seluruh uang yang Anda bayarkan untuk gaun ini dan membantu Anda memilih gaun lain. Saya harap Nyonya bersedia menyelesaikan masalah ini secara baik-baik."

Elric bukan hanya mengetahui semua yang dilakukan Karina. Dia bahkan membantu menghapus bukti untuk menutupi perbuatannya. Hawa dingin dari telapak kaki Chastine seakan terus merambat ke seluruh tubuhnya.

Pria itu tidak pantas membuatnya bersedih. Namun, hatinya terasa begitu kecewa.

Chastine keluar dari butik dan segera menelepon Jona. Dia sangat ingin tahu kapan perceraiannya bisa diselesaikan. Dia bahkan tidak ingin menunggu satu detik lagi.

Beberapa menit kemudian, teleponnya akhirnya tersambung.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Mengandung Anak CEO, Mantan Suami Malah Minta Rujuk   Bab 50

    Malam semakin larut, tetapi Chastine tidak bisa tidur.Mengingat kembali adegan dalam mimpinya, ternyata saat itu ada begitu banyak orang yang membantu mereka.Memikirkan Farhan, dia jadi teringat celana Zevan. Dia mengeluarkan celana itu dari mesin pengering, menyetrikanya hingga rapi, lalu memasukkannya ke tas.Setelah itu, dia membersihkan seluruh bagian rumah dari dalam hingga ke luar. Sampai tubuhnya terasa lelah dan mati rasa, dia pun tidak punya waktu untuk memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak dipikirkannya.Setelah hari mulai terang, dia mandi untuk menghilangkan rasa lelah di tubuhnya.Saat hendak keluar, dia menerima telepon dari psikolognya. Sudah waktunya kontrol bulanan.Sebentar lagi Chastine akan pergi ke luar negeri. Akhir-akhir ini, dia makin sering bermimpi buruk. Dia pun ingin berbicara dengan psikolognya. Dia berencana pergi sore nanti.Saat hendak keluar, pintu unit di seberang terbuka. Zevan mengenakan setelan jas yang dibelikannya kemarin. Potongannya pas di

  • Mengandung Anak CEO, Mantan Suami Malah Minta Rujuk   Bab 49

    "Mencari masalah dengannya sama saja dengan mencari masalah denganku. Aku harap Bu Solana memahami hal ini.""Barang-barang ini akan kusimpan dulu untukmu."Ancaman yang begitu jelas membuat Solana langsung ketakutan dan tidak berani bersuara.Elric menutup telepon, lalu menatap Karina yang berlutut di lantai sambil menangis tersedu-sedu. Tatapan dinginnya perlahan berubah lembut."Kak Elric, maaf .... Apa Kakak pergi dari rumah ...?" Karina gemetar ketakutan setelah mendengar percakapan telepon Elric dengan ibunya.Namun, karena Elric tidak menyalahkannya, dia kembali menenangkan dirinya sendiri.Pergi dari rumah? Wanita itu bersusah payah mendekatinya, bukankah demi membalas dendam? Dendamnya bahkan belum terbalaskan, bagaimana mungkin Chastine tega meninggalkannya?Namun, ketika teringat tatapan Chastine yang begitu kecewa saat pergi, jantungnya seolah diremas kuat-kuat oleh sesuatu.Rasa sesak itu segera ditepisnya. Mana mungkin dia peduli pada seseorang yang telah memanfaatkannya?

  • Mengandung Anak CEO, Mantan Suami Malah Minta Rujuk   Bab 48

    Chastine berhadapan dengan sepasang mata hitam Elric yang mengerikan.Amarah membara di mata pria itu saat dia menatap Mawar. Setelah mengetahui bahwa Chastine diberi obat, dia sangat marah.Mawar menjelaskan dengan panik, "Tuan, Nyonya, saya nggak memasukkan obat itu. Sarang burung walet ini saya masak selama dua jam ...." Nada bicaranya menyiratkan rasa menyesal."Kamu mengada-ada!" Suara Karina terdengar tajam.Elric menunduk menatap Karina. Mata Karina berkaca-kaca saat mengadu dengan wajah penuh kesedihan, "Dia memfitnahku. Mana mungkin aku mencelakai Kakak? Ibuku juga nggak mungkin melakukannya."Suara Elric melunak. "Tenang saja. Asalkan kamu nggak melakukannya, nggak ada yang bisa memfitnahmu ....""Tuan, saya punya buktinya." Mawar mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menjelaskan dengan tenang, "Saat bertemu Nyonya Solana sore tadi, saya merekam percakapan kami."Karina langsung pucat dan menerjang Mawar. Namun, Mawar sudah menekan tombol putar dan mengangkat ponselnya tinggi-

  • Mengandung Anak CEO, Mantan Suami Malah Minta Rujuk   Bab 47

    "Bu, bukankah menjebaknya seperti itu kurang pantas?""Kurang pantas gimana? Lebih bagus lagi kalau si anak durhaka itu melihatnya sendiri dan cemburu sampai mati."Chastine pergi tanpa ekspresi. Setelah mengambil tas di ruang VIP, dia berkendara menuju rumah sakit untuk kembali menangani urusan setelah insiden di peresmian itu. Dia menemui ibu dan anak itu lagi.Larut malam, dia duduk di balkon Moon Bay, menatap pemandangan di kejauhan dengan tatapan muram.Karina akan memberi Elric obat agar bisa tidur dengannya ....Ucapan Jona kembali terngiang di benaknya. Bagaimana kalau sebenarnya Elric dan Karina tidak pernah berhubungan, dan Elric hanya mendekati Karina karena sudah berjanji akan memberinya seorang anak?Waktu itu, meski terhalang hujan dan jarak, melihat mereka saling tarik hingga jatuh ke sofa bukan berarti mereka benar-benar melakukan apa-apa. Jangan-jangan Elric memang tidak pernah menyentuh Karina?Chastine menoleh dan melihat sosok pria yang elegan dan berwibawa di balko

  • Mengandung Anak CEO, Mantan Suami Malah Minta Rujuk   Bab 46

    Chastine mendengar panggilan itu dan menoleh. Pandangannya melewati koki yang sedang memasak di dalam ruang VIP, lalu dia melihat Jona. Dia pun tersenyum senang."Ada temanku yang datang mengantarkan sesuatu. Pak Zevan, Kak Aires, aku keluar sebentar."Aires yang duduk di sampingnya menjawab singkat, "Hati-hati."Sementara itu, Zevan justru tampak tidak senang.Ternyata hari ini Aires yang mengundang Zevan datang. Zevan tidak puas dengan perkembangan penelitian mereka. Aires berharap Chastine bisa memberikan beberapa masukan.Dia berjalan menuju pintu dan melihat Jona mengalihkan pandangan dari belakangnya. Menghadapi tatapan Jona yang dipenuhi rasa heran, dia menjelaskan, "Aku sudah bergabung dengan tim penelitian Kak Aires."Jona langsung merangkul bahunya dengan gembira. "Akhirnya kamu sadar juga.""Mana ada ibu rumah tangga yang lebih menarik daripada wanita karier? Dulu kamu benar-benar seperti kehilangan akal."Setelah mengatakan itu, Jona spontan menghentikan ucapannya. Melihat

  • Mengandung Anak CEO, Mantan Suami Malah Minta Rujuk   Bab 45

    Tanpa menunggu jawaban Zevan, Chastine sudah berdiri dan berjalan ke luar.Melihat sosoknya yang tampak kehilangan semangat, ujung jari Zevan mengusap bekas air mata yang jatuh di jasnya.....Setelah membasuh wajah dengan air, barulah dia berhasil menenangkan diri."Kak, gimana kalau aku pakai gaun ini untuk menghadiri pemilihan ketua yayasan amal?" Karina masuk dengan angkuh. Melihat wajah Chastine yang sudah merah padam, dia pura-pura baru menyadarinya. "Kak, nggak ada yang memberitahumu ya?"Chastine tidak menggubrisnya. Setelah mengeringkan wajah, dia berjalan ke luar.Karina mengejar menarik tangan Chastine. "Dewan direksi yayasan sangat nggak puas dengan tindakanmu. Besok mereka akan mengadakan rapat untuk mencopot jabatanmu dan memilih ketua baru. Aku kandidat yang paling kuat.""Kamu nggak akan terpilih!" Chastine melepaskan tangannya.Karina sengaja membiarkan tubuhnya jatuh ke belakang. Sepasang tangan yang panjang dan ramping segera merangkul pinggangnya dan membantunya ber

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status