Chastine sama sekali tidak melihat sedikit pun rasa bersalah di mata Elric.
Tangan besar pria itu bergerak dari bahunya ke pergelangan tangan, lalu menekan lukanya. Hasrat di matanya telah sirna, yang tersisa hanya sikap dingin.
"Kenapa menghindar? Kamu nggak mau punya anak lagi?"
Begitu hawa dingin dari telapak tangan Elric menyentuh kulitnya, Chastine langsung menarik tangannya dengan keras.
Darah menetes menyusuri lengannya yang putih dan tampak begitu mencolok. Rasa sakitnya pun semakin menjadi-jadi. Dengan suara lemah yang sarat amarah, dia berkata, "Jangan sentuh aku. Aku nggak mau."
Elric sedikit mengernyit dan maju selangkah. Tatapannya yang dingin memancarkan hasrat untuk mengendalikan segala sesuatu. "Jangan lupa tanggung jawabmu sebagai Nyonya Wicaksana."
Tanggung jawab?
Chastine teringat saat mereka menikah dulu. Karena pernikahan mereka merupakan perjodohan antara dua keluarga, bahkan jumlah anak yang harus mereka miliki untuk meneruskan bisnis keluarga sudah direncanakan sejak awal.
Kesepakatan itu memang tidak memiliki kehangatan sedikit pun, tetapi dulu dia benar-benar pernah menantikannya.
Hanya saja, pernahkah Elric memiliki keinginan yang sama dengannya?
Dengan alasan ingin fokus pada karier, Elric membiarkannya seorang diri menghadapi desakan orang tua Keluarga Wicaksana untuk segera punya anak, sekaligus ejekan ibu dan putri Keluarga Wibisono selama dua tahun penuh.
Saat Chastine menginginkannya, Elric malah tidak mau.
Sekarang, Chastine sudah tidak menginginkannya lagi.
Chastine menatap wajah Elric yang semakin muram. Rasa sakit di pergelangan tangannya membuat sudut matanya memerah. "Itu bukan tanggung jawabku lagi. Cari saja ...."
"Kak."
Karina masuk ke ruang ganti dan berdiri di antara Chastine dan Elric, memotong perkataannya.
"Aku memang salah karena merusak foto pernikahan kalian. Tapi jangan menyakiti dirimu sendiri karena putus asa dan jangan salahkan Kak Elric ya? Aku ambilkan kotak P3K untuk membalut lukamu."
Melihat Karina berpura-pura baik, Chastine menahan air mata yang nyaris jatuh lalu mencibir. "Nggak usah pura-pura baik."
"Kak, aku beneran pengin bantuin kamu." Karina memasang wajah sedih.
Elric melirik tangan Chastine sekilas dan berkata, "Itu akibat ulahnya sendiri. Nggak usah urusin dia."
Dia berbalik dan berjalan ke luar.
Menatap punggung pria yang begitu dingin dan tak berperasaan itu, Chastine berusaha menekan kepedihan yang memenuhi hatinya.
Orang yang tidak mencintainya memang tidak akan peduli, bahkan saat dia terluka.
Seharusnya dia memahami hal sesederhana itu sejak dulu.
Namun kalau begitu, apa artinya semua kehangatan yang pernah diberikan Elric saat menyelamatkannya dan menemaninya dengan sabar waktu itu?
Setelah mendapat pembelaan dari Elric, Karina mendekat dan merendahkan suaranya untuk mengejek Chastine, "Setelah gagal merayu dia, sekarang kamu mau pura-pura memelas biar dikasihani?"
"Kak, mending jangan mimpi. Selama ada aku, jangan harap kamu bisa mendekati Elric."
Hanya tersisa 29 hari.
Karina tidak akan membiarkan mereka berduaan. Dia tidak akan memberi Chastine kesempatan untuk mengubah keputusan Elric.
Awalnya, orang yang seharusnya dijodohkan dengan Elric adalah dirinya. Kalau Chastine tidak tiba-tiba kembali dan menggantikannya, dia dan Elric pasti sudah bersama sedari dulu. Elric pasti akan menepati janjinya, bercerai lalu menikah dengannya.
'Aku merayu Elric?' batin Chastine.
Chastine menatap Karina seolah sedang melihat orang bodoh. Dia malas membuang-buang waktu untuk meladeninya. Karina sampai mengentakkan kaki karena kesal, lalu mengejar Elric ke luar.
Chastine membuang pecahan gelang ke tempat sampah, kemudian mengambil kotak P3K untuk membersihkan dan membalut lukanya.
Saat semuanya selesai dibereskan, hari sudah larut malam. Dia sudah tidak punya tenaga untuk mengemasi perhiasan mahar milik ibunya.
Tubuhnya yang kelelahan meringkuk di atas kasur, tetapi dia tetap sulit tidur. Setelah bertahan hingga langit mulai terang, Chastine mengangkat kopernya dan meninggalkan vila tanpa keraguan sedikit pun.
....
Keesokan harinya, Elric turun ke lantai bawah dan melihat Karina sedang sibuk di dapur.
"Kak Elric, sarapannya sebentar lagi siap."
Elric duduk di meja makan dengan ekspresi datar, lalu menoleh kepada Bi Mawar di sampingnya.
"Istriku mana? Kenapa biarin Karina yang siapin sarapan?"
"Tuan, waktu saya datang bekerja tadi, saya berpapasan dengan Nyonya yang hendak keluar. Sepertinya Nyonya pergi ke kantor," jawab Mawar. "Nona Karina sendiri yang ingin masak sarapan."
Selama dua tahun menikah, Chastine selalu lembut dan penurut. Kalau Elric berada di rumah, dia selalu menyiapkan sarapan untuknya demi menyenangkan hati pria itu.
Ini pertama kalinya Elric tidak melihat sarapan buatan Chastine saat dirinya menginap di rumah.
Elric teringat ucapan Chastine semalam bahwa dia tidak menginginkan anak. Wajahnya seketika menjadi dingin. Masalah anak bukan sesuatu yang bisa diputuskan Chastine sendiri hanya karena dia tidak menginginkannya.
"Tuan, tadi wajah Nyonya kelihatan kurang sehat. Pergelangan tangannya juga diperban. Nyonya kelihatannya sangat sedih," ujar Mawar dengan khawatir.
Mengingat ekspresi murung Chastine saat pergi, lalu melihat Karina yang sibuk di dapur, Mawar langsung memahami apa yang terjadi.
Nyonya yang cantik dan lembut itu pasti dibuat kesal oleh Nona Karina. Namun, tuannya ini selalu saja memanjakan Nona Karina dan membiarkannya bertindak keterlaluan.
Mawar ingin sekali membela Chastine, tetapi sebagai seorang pelayan, perkataannya tidak akan banyak berarti.
Elric tidak menunjukkan reaksi apa pun setelah mendengar ucapan Mawar. Ketika melihat Karina keluar membawa sarapan, tatapannya malah menjadi lembut.
....
Chastine pergi ke Grup Wicaksana dan mengajukan surat pengunduran diri dari yayasan amal.
Para anggota dewan yayasan memutuskan akan mengadakan pemungutan suara dalam rapat dewan pada tanggal 15 bulan ini untuk memilih ketua yang baru. Sebelum itu, Chastine masih harus menyelesaikan proyek-proyek yang sudah dijadwalkan.
"Gimana persiapan lelang amal besok?"
Asistennya, Alice, menjawab, "Nyonya Wicaksana ...."
"Mulai sekarang panggil aku Bu Chastine saja," katanya datar.
"Baik, Bu Chastine." Meski merasa heran, Alice tetap menurut. "Tempat dan staf sudah diatur. Hampir semua tamu juga sudah menerima undangan. Hanya saja, jumlah barang yang disumbangkan untuk dilelang masih kurang."
"Berikan daftar nama donaturnya padaku. Sisanya akan aku hubungi sendiri."
Chastine mengeluarkan ponselnya dan melihat sebuah pesan dari Karina.
Dia membukanya.
Dalam foto itu, Elric duduk di meja makan sambil memegang pisau dan garpu. Dia menyodorkan sepotong sandwich ke arah kamera. Sinar matahari pagi menyinari tubuhnya, membuat pria itu terlihat semakin tampan. Jakun yang menonjol dan garis rahangnya yang tegas memancarkan daya tarik yang kuat.
Foto itu sangat jernih. Tatapan Elric tampak lembut, bahkan bayangan wajah Karina yang tersipu malu di dalam matanya terlihat jelas.
Dulu, Elric juga pernah memperlakukannya selembut itu.
Jari Chastine yang menempel di layar sedikit bergetar. Dia membuka akun Karina, lalu langsung memblokirnya. Tatapan Chastine beralih ke cincin pernikahan di jari manisnya. Dia melepaskannya, lalu ujung jarinya mengusap ukiran nama "Elric dan Chastine" di bagian dalam cincin.
Saat menikah dulu, Chastine sendiri yang bersikeras meminta nama mereka diukir di sana. Namun sekarang, ukiran itu terasa begitu ironis.
Dia menyerahkan cincin itu kepada Alice dan berkata, "Masukkan ini ke daftar lelang."
Alice terkejut. "Bu Chastine, ini cincin pernikahanmu. Kalau dilelang, apa Pak Elric nggak akan marah?"
Elric tidak akan peduli. Dia mungkin bahkan tidak tahu di mana cincin pernikahannya sendiri berada.
"Nggak masalah."
Chastine mengambil daftar nama dari tangan Alice.
Melihat Chastine benar-benar serius, Alice pun menerima cincin itu dan pergi untuk mengurusnya.
Saat keluar dari kantor, Alice tiba-tiba merasa memahami maksud Chastine dan bergumam, "Aku ini benar-benar bodoh. Nanti Pak Elric pasti akan memenangkan cincin itu dalam lelang, lalu memberikannya kembali kepada Bu Chastine. Dengan begitu, Pak Elric bisa membantu kegiatan amal sekaligus membujuk istrinya."
Namun, Chastine tidak berpikir demikian.
Saat dia menjabat sebagai ketua yayasan amal, sikap Elric kepadanya sudah mulai dingin. Beberapa kali Chastine mengundangnya menghadiri acara yayasan, tetapi Elric selalu menolak dengan alasan sibuk bekerja. Dia sama sekali tidak akan datang.
Elric tidak pernah terpikir untuk hadir demi mendukungnya. Karena hal itu, Chastine bahkan sering menjadi bahan sindiran para istri orang kaya lainnya. Terlebih lagi, sekarang di mata Elric hanya ada Karina.
Chastine membuka daftar orang-orang kaya di kota. Tatapannya berhenti pada kartu nama berlapis emas milik Grup Hartono. Dia segera menelepon nomor yang tertera di sana.
Saat jam istirahat siang, Norlan datang ke kantornya dan menyerahkan beberapa obat.
"Nyonya, obat Anda tertinggal."
Chastine memang lupa membawa obat-obatan itu dari vila. Dia menerimanya dan mengucapkan terima kasih.
"Nyonya, kemarin Pak Elric meminta saya mengalihkan kepemilikan sebuah rumah ke Anda. Semua prosedurnya sudah selesai. Ini sertifikat kepemilikan dan kuncinya," lanjut Norlan. "Ini hadiah ulang tahun pernikahan dari Pak Elric untuk Anda."
Chastine langsung mengerti.
Selama dua tahun menikah, dia selalu menerima hadiah dari Elric setiap ada hari istimewa.
Di awal pernikahan, dia sempat merasa bahagia dan menganggapnya sebagai bentuk perhatian. Belakangan, setelah tahu semua hadiah itu sebenarnya diurus oleh Norlan, dia memang sempat kecewa.
Namun, dia berusaha memaklumi Elric sebagai seorang presdir yang sangat sibuk. Setiap keputusan dan jadwalnya berkaitan dengan mata pencaharian ratusan ribu karyawan.
Karena itu, Chastine tidak pernah berharap Elric akan mengingatnya dan memberikan kejutan kecil seperti sepotong kue atau sebungkus permen.
Asalkan Elric memberikan sedikit saja respons, dia akan menyambutnya dengan penuh semangat. Bahkan ketika sikap Elric semakin lama semakin dingin, Chastine tetap bertahan dan menjaga pernikahan mereka dengan sepenuh hati.
Namun sekarang, ketika mengingat semuanya kembali, dia baru sadar betapa bodohnya dirinya.
Sibuk hanyalah alasan.
Chastine menarik kembali pikirannya dan menerima sertifikat kepemilikan itu, lalu membukanya.
Moon Bay.
Apartemen mewah di Kota Marina dengan privasi yang sangat terjamin. Lokasinya juga dekat dari kantor dan pusat penelitian.
Mengingat 29 hari lagi dia akan meninggalkan Kota Marina, rasanya tidak perlu membeli rumah baru. Dia juga tidak ingin membuang waktu untuk mencari tempat tinggal.
Tinggal di hotel dalam jangka panjang juga tidak bisa menjamin privasi dan keamanan, terutama untuk dokumen penelitiannya.
Saat teringat kalung zamrud senilai puluhan miliar yang diberikan Elric kepada Karina, Chastine akhirnya menerima apartemen itu.
Malam harinya, Chastine pergi bersama Alice ke butik untuk mencoba gaun pesanan khusus yang akan dikenakannya dalam acara yayasan amal besok. Di sela-sela mencoba gaun, dia mengirim pesan kepada Jona.
[ Nana, gimana soal perceraianku? Temanmu sudah ngasih jawaban? ]
Saat itu Jona sedang berada di kediaman Keluarga Hartono. Saat mendengar suara mesin mobil dari luar, dia membalas pesan itu.
[ Tenang saja. Sebentar lagi aku ketemu sama dia. ]
Setelah mengakhiri percakapan, Jona melihat seorang pria berjalan menghampirinya setelah kepala pelayan memberitahukan kedatangannya.
Keluarga Jona memiliki hubungan bisnis dengan Keluarga Hartono. Kakak perempuan Jona menikah dengan kakak laki-laki Zevan, sehingga kedua keluarga memiliki hubungan kekerabatan melalui pernikahan.
Karena hubungan itulah, Jona memiliki kesempatan untuk mendekati Zevan. Namun, sikap Zevan terhadapnya selalu menjaga jarak.
Ketika Chastine bertanya apakah dia memiliki teman yang bisa membantu mempercepat proses perceraian, orang pertama yang terlintas dalam benak Jona adalah Zevan.
Zevan pernah bertugas di Angkatan Udara dan memiliki jaringan koneksi yang luas. Belum lagi, sekarang dia mempunyai posisi yang sangat berpengaruh di dunia bisnis. Kebanyakan orang pasti akan menghormatinya dan bersedia membantunya.
Jona ingin membantu sahabatnya. Karena itu, dia tidak sabar sampai datang berkunjung larut malam.
Namun, dia juga memiliki sedikit kepentingan pribadi. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan apa pun untuk mendekati Zevan.
"Zevan, aku punya sahabat yang suaminya berselingkuh. Dia ingin segera mendapatkan surat cerai. Bisa nggak kamu bantu dia?"
Jona membuka dokumen perjanjian perceraian dan menyerahkannya kepada Zevan.
Semua dokumen dan persyaratannya sudah lengkap. Zevan hanya perlu melihatnya sekilas dan meminta seseorang mengurusnya.