Compartir

Bab 5

Autor: Sasha
Chastine sama sekali tidak melihat sedikit pun rasa bersalah di mata Elric.

Tangan besar pria itu bergerak dari bahunya ke pergelangan tangan, lalu menekan lukanya. Hasrat di matanya telah sirna, yang tersisa hanya sikap dingin.

"Kenapa menghindar? Kamu nggak mau punya anak lagi?"

Begitu hawa dingin dari telapak tangan Elric menyentuh kulitnya, Chastine langsung menarik tangannya dengan keras.

Darah menetes menyusuri lengannya yang putih dan tampak begitu mencolok. Rasa sakitnya pun semakin menjadi-jadi. Dengan suara lemah yang sarat amarah, dia berkata, "Jangan sentuh aku. Aku nggak mau."

Elric sedikit mengernyit dan maju selangkah. Tatapannya yang dingin memancarkan hasrat untuk mengendalikan segala sesuatu. "Jangan lupa tanggung jawabmu sebagai Nyonya Wicaksana."

Tanggung jawab?

Chastine teringat saat mereka menikah dulu. Karena pernikahan mereka merupakan perjodohan antara dua keluarga, bahkan jumlah anak yang harus mereka miliki untuk meneruskan bisnis keluarga sudah direncanakan sejak awal.

Kesepakatan itu memang tidak memiliki kehangatan sedikit pun, tetapi dulu dia benar-benar pernah menantikannya.

Hanya saja, pernahkah Elric memiliki keinginan yang sama dengannya?

Dengan alasan ingin fokus pada karier, Elric membiarkannya seorang diri menghadapi desakan orang tua Keluarga Wicaksana untuk segera punya anak, sekaligus ejekan ibu dan putri Keluarga Wibisono selama dua tahun penuh.

Saat Chastine menginginkannya, Elric malah tidak mau.

Sekarang, Chastine sudah tidak menginginkannya lagi.

Chastine menatap wajah Elric yang semakin muram. Rasa sakit di pergelangan tangannya membuat sudut matanya memerah. "Itu bukan tanggung jawabku lagi. Cari saja ...."

"Kak."

Karina masuk ke ruang ganti dan berdiri di antara Chastine dan Elric, memotong perkataannya.

"Aku memang salah karena merusak foto pernikahan kalian. Tapi jangan menyakiti dirimu sendiri karena putus asa dan jangan salahkan Kak Elric ya? Aku ambilkan kotak P3K untuk membalut lukamu."

Melihat Karina berpura-pura baik, Chastine menahan air mata yang nyaris jatuh lalu mencibir. "Nggak usah pura-pura baik."

"Kak, aku beneran pengin bantuin kamu." Karina memasang wajah sedih.

Elric melirik tangan Chastine sekilas dan berkata, "Itu akibat ulahnya sendiri. Nggak usah urusin dia."

Dia berbalik dan berjalan ke luar.

Menatap punggung pria yang begitu dingin dan tak berperasaan itu, Chastine berusaha menekan kepedihan yang memenuhi hatinya.

Orang yang tidak mencintainya memang tidak akan peduli, bahkan saat dia terluka.

Seharusnya dia memahami hal sesederhana itu sejak dulu.

Namun kalau begitu, apa artinya semua kehangatan yang pernah diberikan Elric saat menyelamatkannya dan menemaninya dengan sabar waktu itu?

Setelah mendapat pembelaan dari Elric, Karina mendekat dan merendahkan suaranya untuk mengejek Chastine, "Setelah gagal merayu dia, sekarang kamu mau pura-pura memelas biar dikasihani?"

"Kak, mending jangan mimpi. Selama ada aku, jangan harap kamu bisa mendekati Elric."

Hanya tersisa 29 hari.

Karina tidak akan membiarkan mereka berduaan. Dia tidak akan memberi Chastine kesempatan untuk mengubah keputusan Elric.

Awalnya, orang yang seharusnya dijodohkan dengan Elric adalah dirinya. Kalau Chastine tidak tiba-tiba kembali dan menggantikannya, dia dan Elric pasti sudah bersama sedari dulu. Elric pasti akan menepati janjinya, bercerai lalu menikah dengannya.

'Aku merayu Elric?' batin Chastine.

Chastine menatap Karina seolah sedang melihat orang bodoh. Dia malas membuang-buang waktu untuk meladeninya. Karina sampai mengentakkan kaki karena kesal, lalu mengejar Elric ke luar.

Chastine membuang pecahan gelang ke tempat sampah, kemudian mengambil kotak P3K untuk membersihkan dan membalut lukanya.

Saat semuanya selesai dibereskan, hari sudah larut malam. Dia sudah tidak punya tenaga untuk mengemasi perhiasan mahar milik ibunya.

Tubuhnya yang kelelahan meringkuk di atas kasur, tetapi dia tetap sulit tidur. Setelah bertahan hingga langit mulai terang, Chastine mengangkat kopernya dan meninggalkan vila tanpa keraguan sedikit pun.

....

Keesokan harinya, Elric turun ke lantai bawah dan melihat Karina sedang sibuk di dapur.

"Kak Elric, sarapannya sebentar lagi siap."

Elric duduk di meja makan dengan ekspresi datar, lalu menoleh kepada Bi Mawar di sampingnya.

"Istriku mana? Kenapa biarin Karina yang siapin sarapan?"

"Tuan, waktu saya datang bekerja tadi, saya berpapasan dengan Nyonya yang hendak keluar. Sepertinya Nyonya pergi ke kantor," jawab Mawar. "Nona Karina sendiri yang ingin masak sarapan."

Selama dua tahun menikah, Chastine selalu lembut dan penurut. Kalau Elric berada di rumah, dia selalu menyiapkan sarapan untuknya demi menyenangkan hati pria itu.

Ini pertama kalinya Elric tidak melihat sarapan buatan Chastine saat dirinya menginap di rumah.

Elric teringat ucapan Chastine semalam bahwa dia tidak menginginkan anak. Wajahnya seketika menjadi dingin. Masalah anak bukan sesuatu yang bisa diputuskan Chastine sendiri hanya karena dia tidak menginginkannya.

"Tuan, tadi wajah Nyonya kelihatan kurang sehat. Pergelangan tangannya juga diperban. Nyonya kelihatannya sangat sedih," ujar Mawar dengan khawatir.

Mengingat ekspresi murung Chastine saat pergi, lalu melihat Karina yang sibuk di dapur, Mawar langsung memahami apa yang terjadi.

Nyonya yang cantik dan lembut itu pasti dibuat kesal oleh Nona Karina. Namun, tuannya ini selalu saja memanjakan Nona Karina dan membiarkannya bertindak keterlaluan.

Mawar ingin sekali membela Chastine, tetapi sebagai seorang pelayan, perkataannya tidak akan banyak berarti.

Elric tidak menunjukkan reaksi apa pun setelah mendengar ucapan Mawar. Ketika melihat Karina keluar membawa sarapan, tatapannya malah menjadi lembut.

....

Chastine pergi ke Grup Wicaksana dan mengajukan surat pengunduran diri dari yayasan amal.

Para anggota dewan yayasan memutuskan akan mengadakan pemungutan suara dalam rapat dewan pada tanggal 15 bulan ini untuk memilih ketua yang baru. Sebelum itu, Chastine masih harus menyelesaikan proyek-proyek yang sudah dijadwalkan.

"Gimana persiapan lelang amal besok?"

Asistennya, Alice, menjawab, "Nyonya Wicaksana ...."

"Mulai sekarang panggil aku Bu Chastine saja," katanya datar.

"Baik, Bu Chastine." Meski merasa heran, Alice tetap menurut. "Tempat dan staf sudah diatur. Hampir semua tamu juga sudah menerima undangan. Hanya saja, jumlah barang yang disumbangkan untuk dilelang masih kurang."

"Berikan daftar nama donaturnya padaku. Sisanya akan aku hubungi sendiri."

Chastine mengeluarkan ponselnya dan melihat sebuah pesan dari Karina.

Dia membukanya.

Dalam foto itu, Elric duduk di meja makan sambil memegang pisau dan garpu. Dia menyodorkan sepotong sandwich ke arah kamera. Sinar matahari pagi menyinari tubuhnya, membuat pria itu terlihat semakin tampan. Jakun yang menonjol dan garis rahangnya yang tegas memancarkan daya tarik yang kuat.

Foto itu sangat jernih. Tatapan Elric tampak lembut, bahkan bayangan wajah Karina yang tersipu malu di dalam matanya terlihat jelas.

Dulu, Elric juga pernah memperlakukannya selembut itu.

Jari Chastine yang menempel di layar sedikit bergetar. Dia membuka akun Karina, lalu langsung memblokirnya. Tatapan Chastine beralih ke cincin pernikahan di jari manisnya. Dia melepaskannya, lalu ujung jarinya mengusap ukiran nama "Elric dan Chastine" di bagian dalam cincin.

Saat menikah dulu, Chastine sendiri yang bersikeras meminta nama mereka diukir di sana. Namun sekarang, ukiran itu terasa begitu ironis.

Dia menyerahkan cincin itu kepada Alice dan berkata, "Masukkan ini ke daftar lelang."

Alice terkejut. "Bu Chastine, ini cincin pernikahanmu. Kalau dilelang, apa Pak Elric nggak akan marah?"

Elric tidak akan peduli. Dia mungkin bahkan tidak tahu di mana cincin pernikahannya sendiri berada.

"Nggak masalah."

Chastine mengambil daftar nama dari tangan Alice.

Melihat Chastine benar-benar serius, Alice pun menerima cincin itu dan pergi untuk mengurusnya.

Saat keluar dari kantor, Alice tiba-tiba merasa memahami maksud Chastine dan bergumam, "Aku ini benar-benar bodoh. Nanti Pak Elric pasti akan memenangkan cincin itu dalam lelang, lalu memberikannya kembali kepada Bu Chastine. Dengan begitu, Pak Elric bisa membantu kegiatan amal sekaligus membujuk istrinya."

Namun, Chastine tidak berpikir demikian.

Saat dia menjabat sebagai ketua yayasan amal, sikap Elric kepadanya sudah mulai dingin. Beberapa kali Chastine mengundangnya menghadiri acara yayasan, tetapi Elric selalu menolak dengan alasan sibuk bekerja. Dia sama sekali tidak akan datang.

Elric tidak pernah terpikir untuk hadir demi mendukungnya. Karena hal itu, Chastine bahkan sering menjadi bahan sindiran para istri orang kaya lainnya. Terlebih lagi, sekarang di mata Elric hanya ada Karina.

Chastine membuka daftar orang-orang kaya di kota. Tatapannya berhenti pada kartu nama berlapis emas milik Grup Hartono. Dia segera menelepon nomor yang tertera di sana.

Saat jam istirahat siang, Norlan datang ke kantornya dan menyerahkan beberapa obat.

"Nyonya, obat Anda tertinggal."

Chastine memang lupa membawa obat-obatan itu dari vila. Dia menerimanya dan mengucapkan terima kasih.

"Nyonya, kemarin Pak Elric meminta saya mengalihkan kepemilikan sebuah rumah ke Anda. Semua prosedurnya sudah selesai. Ini sertifikat kepemilikan dan kuncinya," lanjut Norlan. "Ini hadiah ulang tahun pernikahan dari Pak Elric untuk Anda."

Chastine langsung mengerti.

Selama dua tahun menikah, dia selalu menerima hadiah dari Elric setiap ada hari istimewa.

Di awal pernikahan, dia sempat merasa bahagia dan menganggapnya sebagai bentuk perhatian. Belakangan, setelah tahu semua hadiah itu sebenarnya diurus oleh Norlan, dia memang sempat kecewa.

Namun, dia berusaha memaklumi Elric sebagai seorang presdir yang sangat sibuk. Setiap keputusan dan jadwalnya berkaitan dengan mata pencaharian ratusan ribu karyawan.

Karena itu, Chastine tidak pernah berharap Elric akan mengingatnya dan memberikan kejutan kecil seperti sepotong kue atau sebungkus permen.

Asalkan Elric memberikan sedikit saja respons, dia akan menyambutnya dengan penuh semangat. Bahkan ketika sikap Elric semakin lama semakin dingin, Chastine tetap bertahan dan menjaga pernikahan mereka dengan sepenuh hati.

Namun sekarang, ketika mengingat semuanya kembali, dia baru sadar betapa bodohnya dirinya.

Sibuk hanyalah alasan.

Chastine menarik kembali pikirannya dan menerima sertifikat kepemilikan itu, lalu membukanya.

Moon Bay.

Apartemen mewah di Kota Marina dengan privasi yang sangat terjamin. Lokasinya juga dekat dari kantor dan pusat penelitian.

Mengingat 29 hari lagi dia akan meninggalkan Kota Marina, rasanya tidak perlu membeli rumah baru. Dia juga tidak ingin membuang waktu untuk mencari tempat tinggal.

Tinggal di hotel dalam jangka panjang juga tidak bisa menjamin privasi dan keamanan, terutama untuk dokumen penelitiannya.

Saat teringat kalung zamrud senilai puluhan miliar yang diberikan Elric kepada Karina, Chastine akhirnya menerima apartemen itu.

Malam harinya, Chastine pergi bersama Alice ke butik untuk mencoba gaun pesanan khusus yang akan dikenakannya dalam acara yayasan amal besok. Di sela-sela mencoba gaun, dia mengirim pesan kepada Jona.

[ Nana, gimana soal perceraianku? Temanmu sudah ngasih jawaban? ]

Saat itu Jona sedang berada di kediaman Keluarga Hartono. Saat mendengar suara mesin mobil dari luar, dia membalas pesan itu.

[ Tenang saja. Sebentar lagi aku ketemu sama dia. ]

Setelah mengakhiri percakapan, Jona melihat seorang pria berjalan menghampirinya setelah kepala pelayan memberitahukan kedatangannya.

Keluarga Jona memiliki hubungan bisnis dengan Keluarga Hartono. Kakak perempuan Jona menikah dengan kakak laki-laki Zevan, sehingga kedua keluarga memiliki hubungan kekerabatan melalui pernikahan.

Karena hubungan itulah, Jona memiliki kesempatan untuk mendekati Zevan. Namun, sikap Zevan terhadapnya selalu menjaga jarak.

Ketika Chastine bertanya apakah dia memiliki teman yang bisa membantu mempercepat proses perceraian, orang pertama yang terlintas dalam benak Jona adalah Zevan.

Zevan pernah bertugas di Angkatan Udara dan memiliki jaringan koneksi yang luas. Belum lagi, sekarang dia mempunyai posisi yang sangat berpengaruh di dunia bisnis. Kebanyakan orang pasti akan menghormatinya dan bersedia membantunya.

Jona ingin membantu sahabatnya. Karena itu, dia tidak sabar sampai datang berkunjung larut malam.

Namun, dia juga memiliki sedikit kepentingan pribadi. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan apa pun untuk mendekati Zevan.

"Zevan, aku punya sahabat yang suaminya berselingkuh. Dia ingin segera mendapatkan surat cerai. Bisa nggak kamu bantu dia?"

Jona membuka dokumen perjanjian perceraian dan menyerahkannya kepada Zevan.

Semua dokumen dan persyaratannya sudah lengkap. Zevan hanya perlu melihatnya sekilas dan meminta seseorang mengurusnya.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Mengandung Anak CEO, Mantan Suami Malah Minta Rujuk   Bab 50

    Malam semakin larut, tetapi Chastine tidak bisa tidur.Mengingat kembali adegan dalam mimpinya, ternyata saat itu ada begitu banyak orang yang membantu mereka.Memikirkan Farhan, dia jadi teringat celana Zevan. Dia mengeluarkan celana itu dari mesin pengering, menyetrikanya hingga rapi, lalu memasukkannya ke tas.Setelah itu, dia membersihkan seluruh bagian rumah dari dalam hingga ke luar. Sampai tubuhnya terasa lelah dan mati rasa, dia pun tidak punya waktu untuk memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak dipikirkannya.Setelah hari mulai terang, dia mandi untuk menghilangkan rasa lelah di tubuhnya.Saat hendak keluar, dia menerima telepon dari psikolognya. Sudah waktunya kontrol bulanan.Sebentar lagi Chastine akan pergi ke luar negeri. Akhir-akhir ini, dia makin sering bermimpi buruk. Dia pun ingin berbicara dengan psikolognya. Dia berencana pergi sore nanti.Saat hendak keluar, pintu unit di seberang terbuka. Zevan mengenakan setelan jas yang dibelikannya kemarin. Potongannya pas di

  • Mengandung Anak CEO, Mantan Suami Malah Minta Rujuk   Bab 49

    "Mencari masalah dengannya sama saja dengan mencari masalah denganku. Aku harap Bu Solana memahami hal ini.""Barang-barang ini akan kusimpan dulu untukmu."Ancaman yang begitu jelas membuat Solana langsung ketakutan dan tidak berani bersuara.Elric menutup telepon, lalu menatap Karina yang berlutut di lantai sambil menangis tersedu-sedu. Tatapan dinginnya perlahan berubah lembut."Kak Elric, maaf .... Apa Kakak pergi dari rumah ...?" Karina gemetar ketakutan setelah mendengar percakapan telepon Elric dengan ibunya.Namun, karena Elric tidak menyalahkannya, dia kembali menenangkan dirinya sendiri.Pergi dari rumah? Wanita itu bersusah payah mendekatinya, bukankah demi membalas dendam? Dendamnya bahkan belum terbalaskan, bagaimana mungkin Chastine tega meninggalkannya?Namun, ketika teringat tatapan Chastine yang begitu kecewa saat pergi, jantungnya seolah diremas kuat-kuat oleh sesuatu.Rasa sesak itu segera ditepisnya. Mana mungkin dia peduli pada seseorang yang telah memanfaatkannya?

  • Mengandung Anak CEO, Mantan Suami Malah Minta Rujuk   Bab 48

    Chastine berhadapan dengan sepasang mata hitam Elric yang mengerikan.Amarah membara di mata pria itu saat dia menatap Mawar. Setelah mengetahui bahwa Chastine diberi obat, dia sangat marah.Mawar menjelaskan dengan panik, "Tuan, Nyonya, saya nggak memasukkan obat itu. Sarang burung walet ini saya masak selama dua jam ...." Nada bicaranya menyiratkan rasa menyesal."Kamu mengada-ada!" Suara Karina terdengar tajam.Elric menunduk menatap Karina. Mata Karina berkaca-kaca saat mengadu dengan wajah penuh kesedihan, "Dia memfitnahku. Mana mungkin aku mencelakai Kakak? Ibuku juga nggak mungkin melakukannya."Suara Elric melunak. "Tenang saja. Asalkan kamu nggak melakukannya, nggak ada yang bisa memfitnahmu ....""Tuan, saya punya buktinya." Mawar mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menjelaskan dengan tenang, "Saat bertemu Nyonya Solana sore tadi, saya merekam percakapan kami."Karina langsung pucat dan menerjang Mawar. Namun, Mawar sudah menekan tombol putar dan mengangkat ponselnya tinggi-

  • Mengandung Anak CEO, Mantan Suami Malah Minta Rujuk   Bab 47

    "Bu, bukankah menjebaknya seperti itu kurang pantas?""Kurang pantas gimana? Lebih bagus lagi kalau si anak durhaka itu melihatnya sendiri dan cemburu sampai mati."Chastine pergi tanpa ekspresi. Setelah mengambil tas di ruang VIP, dia berkendara menuju rumah sakit untuk kembali menangani urusan setelah insiden di peresmian itu. Dia menemui ibu dan anak itu lagi.Larut malam, dia duduk di balkon Moon Bay, menatap pemandangan di kejauhan dengan tatapan muram.Karina akan memberi Elric obat agar bisa tidur dengannya ....Ucapan Jona kembali terngiang di benaknya. Bagaimana kalau sebenarnya Elric dan Karina tidak pernah berhubungan, dan Elric hanya mendekati Karina karena sudah berjanji akan memberinya seorang anak?Waktu itu, meski terhalang hujan dan jarak, melihat mereka saling tarik hingga jatuh ke sofa bukan berarti mereka benar-benar melakukan apa-apa. Jangan-jangan Elric memang tidak pernah menyentuh Karina?Chastine menoleh dan melihat sosok pria yang elegan dan berwibawa di balko

  • Mengandung Anak CEO, Mantan Suami Malah Minta Rujuk   Bab 46

    Chastine mendengar panggilan itu dan menoleh. Pandangannya melewati koki yang sedang memasak di dalam ruang VIP, lalu dia melihat Jona. Dia pun tersenyum senang."Ada temanku yang datang mengantarkan sesuatu. Pak Zevan, Kak Aires, aku keluar sebentar."Aires yang duduk di sampingnya menjawab singkat, "Hati-hati."Sementara itu, Zevan justru tampak tidak senang.Ternyata hari ini Aires yang mengundang Zevan datang. Zevan tidak puas dengan perkembangan penelitian mereka. Aires berharap Chastine bisa memberikan beberapa masukan.Dia berjalan menuju pintu dan melihat Jona mengalihkan pandangan dari belakangnya. Menghadapi tatapan Jona yang dipenuhi rasa heran, dia menjelaskan, "Aku sudah bergabung dengan tim penelitian Kak Aires."Jona langsung merangkul bahunya dengan gembira. "Akhirnya kamu sadar juga.""Mana ada ibu rumah tangga yang lebih menarik daripada wanita karier? Dulu kamu benar-benar seperti kehilangan akal."Setelah mengatakan itu, Jona spontan menghentikan ucapannya. Melihat

  • Mengandung Anak CEO, Mantan Suami Malah Minta Rujuk   Bab 45

    Tanpa menunggu jawaban Zevan, Chastine sudah berdiri dan berjalan ke luar.Melihat sosoknya yang tampak kehilangan semangat, ujung jari Zevan mengusap bekas air mata yang jatuh di jasnya.....Setelah membasuh wajah dengan air, barulah dia berhasil menenangkan diri."Kak, gimana kalau aku pakai gaun ini untuk menghadiri pemilihan ketua yayasan amal?" Karina masuk dengan angkuh. Melihat wajah Chastine yang sudah merah padam, dia pura-pura baru menyadarinya. "Kak, nggak ada yang memberitahumu ya?"Chastine tidak menggubrisnya. Setelah mengeringkan wajah, dia berjalan ke luar.Karina mengejar menarik tangan Chastine. "Dewan direksi yayasan sangat nggak puas dengan tindakanmu. Besok mereka akan mengadakan rapat untuk mencopot jabatanmu dan memilih ketua baru. Aku kandidat yang paling kuat.""Kamu nggak akan terpilih!" Chastine melepaskan tangannya.Karina sengaja membiarkan tubuhnya jatuh ke belakang. Sepasang tangan yang panjang dan ramping segera merangkul pinggangnya dan membantunya ber

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status