"Kamu bilang perceraiannya nggak bisa diurus?" Setelah mendengar ucapan Jona, mata Chastine langsung sedikit berkaca-kaca.
"Chastine, temanku nggak bisa bantu. Tapi tenang saja, aku sudah serahkan ke kakakku," lanjut Jona. "Kakakku bilang kalau semua dokumennya lengkap, tujuh hari sudah bisa selesai."
Jona tidak menyangka Zevan bahkan tidak mau melihat dokumen itu dan langsung menolaknya.
Zevan memang selalu menjadi sosok yang luar biasa dan dikagumi banyak orang. Sifatnya angkuh, dingin, dan sulit didekati. Karena hubungan kakak Jona dengan keluarganya, Zevan sedikit lebih sabar menghadapi Jona.
Jona sempat mengira dirinya sedikit berbeda di mata pria itu. Namun, satu kalimat dari pria itu langsung menghancurkan semua angan-angannya.
"Jangan buang waktumu untukku."
Apa selama ini Jona terlalu menganggap istimewa kesabaran yang diberikan Zevan kepadanya?
Namun, tidak ada wanita lain di sisi Zevan. Berarti dia masih punya kesempatan.
Setelah mendengar lanjutan perkataan Jona, ketegangan Chastine akhirnya sedikit mereda. Saat itu, luka di pergelangan tangannya kembali berdenyut sakit.
"Terima kasih, Nana. Tolong sampaikan terima kasihku juga ke kakakmu."
"Chastine, apa terjadi sesuatu?"
"Suaramu terdengar nggak baik-baik saja."
"Nggak ada apa-apa."
Chastine tidak ingin Jona mengkhawatirkannya.
Asalkan dia berhasil bercerai dan tak lagi memiliki hubungan apa pun dengan mereka, perlahan suasana hatinya pasti akan membaik.
"Kamu bisa datang ke lelang amal besok?"
"Ada pameran perhiasan di Kota Arden. Sepertinya aku nggak bisa datang." Nada bicara Jona terdengar menyesal.
Kakak perempuan Jona menikah dan menetap jauh dari keluarga, sedangkan kakak laki-lakinya menjadi pengacara ternama. Alhasil, satu-satunya anak yang tersisa untuk meneruskan bisnis keluarga hanyalah Jona.
Jona sendiri sudah sangat sibuk sampai hampir tidak punya waktu istirahat, tetapi masih bersedia mengurus masalah Chastine. Chastine sangat berterima kasih kepadanya.
"Setelah kamu pulang dinas, aku traktir kamu dan kakakmu makan. Jaga kesehatanmu."
Setelah menutup telepon, Chastine baru menyadari darah telah merembes dari perban di pergelangan tangannya. Dia kembali masuk ke butik dan meminta manajer mengambil kotak P3K untuk membalut ulang lukanya.
Setelah memilih gaun lain dengan cepat bersama Alice, mereka pun berpisah.
Sementara itu, di sebuah restoran barat kelas atas ....
Norlan membungkuk dan melapor kepada Elric, "Pak Elric, semua foto yang ada di tangan para wartawan sudah ditangani. Mereka nggak sempat memotret apa pun."
Ekspresi Elric tetap datar. "Ya."
Karina yang duduk di seberangnya tiba-tiba menghentikan pisau dan garpunya sesaat. Namun, dia segera kembali memotong steik untuk menyembunyikan kepanikan di dalam hatinya.
"Kak Elric, aku ke toilet sebentar."
Setelah mendapat jawaban dari Elric, dia berdiri dan berjalan ke luar.
Setelah masuk ke toilet, Karina buru-buru menelepon seseorang, "Sisa bayarannya akan segera aku transfer! Kalau kalian berani membocorkan sepatah kata pun, aku akan memastikan kalian nggak akan bisa kembali lagi ke Kota Marina."
Para wartawan itu langsung mengeluh putus asa. "Bu Karina, meskipun kamu menyuruh kami kembali, kami juga nggak akan berani! Bawahan Pak Elric bilang, setiap kali melihat kami, mereka akan menghajar kami!"
"Kalau ada urusan seperti ini lagi, jangan cari kami."
"Kalau Pak Elric benar-benar nggak peduli sama Nyonya Wicaksana, mana mungkin kami sampai dihajar setengah mati begini?"
"Diam!"
Karina langsung menutup telepon. Dia menatap dirinya sendiri di cermin, sorot matanya berubah gelap dan penuh obsesi.
Mana mungkin Elric peduli pada Chastine? Elric mengusir mereka dari Kota Marina demi menjaga reputasinya, bukan demi Chastine.
Masih tersisa 28 hari! Terlalu lama! Dia sudah tidak sanggup menunggu!
Awalnya, Karina berniat memotret Chastine dalam keadaan telanjang lalu menyebarkan fotonya ke media agar dia dipermalukan di depan umum. Dengan begitu, Elric punya alasan untuk langsung mengusir Chastine dari rumah.
Siapa sangka Chastine malah bisa menghilang begitu saja dari bilik ganti!
Sepertinya selama ini dia masih terlalu baik kepada Chastine.
Setelah makan malam romantis bersama Karina, Elric baru kembali ke vila saat hari sudah larut malam. Dia berhenti sejenak di depan pintu kamar utama.
Saat tangannya baru saja menggenggam gagang pintu, ponselnya berdering. Telepon itu berasal dari divisi luar negeri.
Elric pun melepaskan gagang pintu dan masuk ke ruang kerja di lantai dua untuk memimpin rapat internasional seperti biasa.
....
Dengan tubuh yang diliputi kelelahan, Chastine mendorong koper dan tiba di Moon Bay. Apartemen seluas 230 meter persegi itu sudah direnovasi dan dilengkapi dengan baik. Dia bisa langsung menempatinya tanpa perlu menyiapkan banyak hal.
Chastine hanya membereskan kamar utama sekadarnya, lalu menginap di sana untuk malam itu.
Awalnya dia mengira akan sulit tidur di tempat tidur yang asing. Namun setelah minum obat flu, dia langsung terlelap begitu rebahan di ranjang.
Keesokan paginya, Chastine bangun.
Saat teringat bahwa 27 hari lagi dia akan pergi ke luar negeri untuk menekuni dunia penelitian yang dicintainya, semangatnya langsung bangkit.
Chastine pergi ke hotel untuk mengatur acara lelang amal dan memastikan seluruh rangkaian acara berjalan sesuai rencana.
Malam pun tiba.
Hotel itu dipenuhi gemerlap cahaya. Para sosialita dan istri dari kalangan elite berkumpul memenuhi ruangan. Satu demi satu barang berharga berhasil dilelang.
Alice semakin bersemangat.
"Bu Chastine, sebentar lagi terkumpul 40 miliar!"
Chastine akhirnya bisa bernapas lega. Dana itu dikumpulkan untuk membiayai operasi anak-anak penderita leukemia. Mereka membutuhkan setidaknya 40 miliar.
Ketika cincin pernikahan yang menjadi barang penutup lelang diletakkan di atas panggung, tiba-tiba terdengar keributan dari luar. Kilatan kamera para wartawan menerangi pandangan semua orang. Seorang pria tampan dan wanita cantik memasuki ruang lelang sambil bergandengan tangan.
Saat melihat kalung rubi yang dikenakan Karina, mata Chastine langsung membelalak kaget. Itu peninggalan neneknya. Kalung itu merupakan salah satu perhiasan mahar yang diberikan ibunya kepadanya.
Padahal Chastine jelas-jelas sudah menguncinya di lemari perhiasan.
Para sosialita yang tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi mengira Chastine terpukul melihat kedatangan Elric dan Karina bersama-sama. Mereka pun mulai menggodanya sambil tertawa.
"Nyonya Wicaksana, jangan marah. Namanya juga pria, memang begitu."
"Setidaknya dia masih keluarga sendiri."
Suara sindiran dan tawa mengejek terus terdengar di sekeliling Chastine.
Elric membawa Karina masuk dan tinggal di rumah mereka saja sudah keterlaluan. Sekarang, dia bahkan terang-terangan mempermalukan Chastine di depan begitu banyak orang dengan membawa wanita lain ke acara ini.
Meski marah, Chastine melihat anak-anak yang datang sebagai perwakilan para penderita leukemia. Dia pun menahan emosinya.
"Siapkan tempat duduk untuk mereka."
Mengumpulkan dana adalah hal yang paling penting.
Alice maju dan mengantar Elric serta Karina ke kursi barisan depan.
Para sosialita yang tadi mengejek Chastine langsung berubah sikap begitu berhadapan dengan Elric dan Karina. Ada yang memuji kecantikan Karina, ada pula yang memuji gaun dan kalungnya. Mereka bahkan terang-terangan menyanjung Karina seolah dialah Nyonya Wicaksana yang sebenarnya.
Chastine memilih untuk tidak melihatnya dan memberi isyarat kepada juru lelang agar melanjutkan acara.
Ketika sorotan lampu jatuh pada cincin berlian merah muda di atas panggung, sebuah tatapan sedingin es langsung tertuju kepada Chastine.
Para tamu pun mulai berbisik-bisik.
"Bukannya itu cincin yang diberikan Pak Elric waktu melamar Nyonya Wicaksana? Aku ingat waktu itu bahkan masuk koran. Kenapa sekarang malah dilelang?"
"Memangnya bisa kenapa lagi? Cincin pernikahannya saja sudah nggak dia inginkan. Sepertinya ...."
Chastine berdiri di samping seolah tidak mendengar apa pun dan memberi isyarat agar lelang segera dimulai. Juru lelang berkata, "Harga pembukaan 2,4 miliar. Setiap penawaran naik 200 juta. Lelang dimulai."
Namun, seluruh ruangan mendadak sunyi. Tidak ada seorang pun yang mengangkat papan penawaran. Barulah Chastine menyadari bahwa semua orang takut kepada Elric dan tidak berani membeli cincin berlian merah muda itu.
Sebagai ketua yayasan amal, Chastine tidak berhak ikut menawar.
Melihat anak-anak yang duduk manis di sofa dengan wajah polos dan menggemaskan, Chastine mulai gelisah.
Tiba-tiba dia teringat Aires. Dia segera mengambil ponselnya dan menelepon pria itu.
"Kak Aires, bisa bantu aku menawar sebuah cincin berlian merah muda? Nanti uangnya akan aku transfer ke kamu."
"Tentu, Chastine."
Suara Aires baru saja terdengar di telinganya ketika suara pria lain yang jernih dan rendah tiba-tiba bergema di seluruh ruang lelang.
"Dua miliar enam ratus juta."
Chastine langsung menoleh ke arah sumber suara.
Seorang pria bertubuh tinggi dan tegap berdiri membelakangi cahaya. Dia mengenakan mantel panjang abu-abu gelap. Kemeja putih dan celana panjang hitam di baliknya membalut tubuhnya yang kekar. Dengan langkah mantap, dia berjalan menghampiri Chastine.
Auranya begitu luar biasa, rasanya bagaikan sosok yang jauh dan sulit dijangkau. Sepasang matanya yang hitam tampak kelam dan dingin.
Entah kenapa, Chastine selalu merasa pria itu tidak asing. Padahal, ini baru ketiga kalinya mereka bertemu.
"Zevan? Bukannya dia putra ketiga Keluarga Hartono yang baru dipanggil pulang dari luar negeri untuk memimpin Grup Hartono? Dia baru pulang dua minggu lalu. Suamiku sudah mengirim undangan bahkan dua minggu sebelumnya, tapi tetap nggak berhasil ngundang dia."
"Bos besar teknologi yang terkenal low profile itu malah datang ke acara Yayasan Amal Wicaksana. Apa Grup Wicaksana dan Grup Hartono akan bekerja sama dalam proyek besar?"
"Aku belum dengar apa-apa! Tapi kalau dua perusahaan besar itu bergabung, perekonomian Kota Marina pasti akan melonjak! Andai keluarga kita juga bisa ikut terlibat."
"Wow, tampan sekali!"
"Katanya dulu dia juga anggota Angkatan Udara. Pasti lebih tampan kalau pakai seragam!"
"Sayangnya sifatnya dingin dan sulit didekati."
Chastine mendengar kekaguman para sosialita di sekitarnya. Para wartawan pun seolah mendapat berita besar dan sibuk memotret Zevan tanpa henti.
Setelah tersadar, dia berkata melalui telepon, "Kak Aires, Pak Zevan datang ke acara yayasan. Kamu yang ngundang dia?"
"Keluarga Hartono memang aktif dalam kegiatan amal. Pak Zevan pernah menanyakan soal ini, jadi aku merekomendasikan Yayasan Amal Wicaksana ke dia," jawab Aires membenarkan.
"Terima kasih, Kak Aires."
Chastine menutup telepon, lalu menyambut Zevan dengan penuh semangat. Dia mengulurkan tangan kepadanya dan berkata, "Pak Zevan, selamat datang!"
Pagi tadi, Grup Hartono sudah mengirimkan sumbangan. Sekarang, presdir Grup Hartono bahkan datang sendiri ke acara itu!
Ini benar-benar sebuah kehormatan besar.
Tangannya digenggam oleh telapak tangan Zevan yang hangat. Tatapan pria itu sekilas menyapu pergelangan tangan Chastine.
Chastine baru menyadari pergelangan tangannya masih dibalut perban putih. Merasa kurang pantas, dia buru-buru menarik tangannya kembali, lalu mengantar Zevan yang berwajah dingin itu ke tempat duduknya.
Dari seberang lorong, dia mendengar percakapan Karina dan Elric.
"Katanya Pak Zevan sangat tertutup dan jarang menerima undangan ke acara seperti ini."
"Bagaimana bisa Kak Chastine berhasil mengundangnya?"
Mendengar ucapan Karina, Elric melirik Zevan sekilas. Dengan ekspresi datar, dia mengangkat papan penawaran.
"Empat miliar."
Zevan duduk dengan santai. Ekspresinya tetap dingin. Dia mengangkat papan penawarannya sekilas.
Juru lelang menyambut penawarannya, "Empat miliar dua ratus juta, satu kali."
Wajah Elric semakin dingin saat berkata, "Sepuluh miliar."
Mana mungkin dia membiarkan cincin yang pernah digunakannya untuk melamar Chastine jatuh ke tangan pria lain?
Ketika mendengar angka itu, seluruh ruangan langsung gempar.
Semua tatapan serentak beralih kepada Zevan, menantikan apakah dia akan membalas penawaran Elric.
Chastine menatap Zevan dengan sedikit linglung. Namun, Zevan hanya meletakkan papan penawarannya ke samping dan tampaknya tidak berniat melanjutkan. Memang tidak ada gunanya menaikkan harga lagi.
Juru lelang pun mengetukkan palu dan menetapkan pemenangnya.
Detik berikutnya, Chastine mendengar seruan Karina yang penuh kegembiraan.
"Wow, Kak Elric hebat sekali!"
Chastine masih tidak percaya. Tatapannya tanpa sadar beralih kepada Elric.
Sebagai seorang pebisnis, Elric selalu mengejar keuntungan. Dia juga terkenal sangat cerdas dan cakap dalam mengambil keputusan. Namun, kali ini dia malah membeli cincin berlian merah muda itu dengan harga yang jauh melampaui nilai pasarnya.
Mungkin ini adalah investasi gagal kedua yang pernah dibuatnya. Hanya saja kali ini, dia melakukannya demi Karina. Malam ini, total dana amal yang berhasil terkumpul mencapai 44 miliar, jauh melampaui target.
Chastine sangat senang, tetapi dia tidak bisa tersenyum. Dia mengantar anak-anak pulang. Ketika kembali, dia melihat Elric dan Karina berdiri berdampingan sambil bergandengan tangan.
Wajah Elric tampak muram. Jemarinya memainkan cincin berlian merah muda yang berkilauan, lalu dia bertanya dengan suara dingin, "Kenapa kamu jual cincin pernikahan kita?"
Tidak jauh dari sana, jamuan makan malam masih berlangsung meriah. Orang-orang berbisik satu sama lain. Suara ejekan terhadap Chastine terus terdengar.
Sudah tidak disayang lagi, dicampakkan ....
Perhatian yang seharusnya tertuju pada anak-anak penderita leukemia kini sepenuhnya beralih menjadi gosip tentang rumah tangga mereka. Semua itu terjadi karena Elric datang terang-terangan bersama Karina dan menghancurkan suasana acara.
Chastine sudah mencurahkan begitu banyak tenaga untuk menjalankan proyek amal ini. Semua itu dia lakukan demi Grup Wicaksana, juga demi membangun nama baik Elric dan perusahaan. Namun, Elric menghancurkan semuanya dengan mudah seolah semua usahanya tidak berarti.
Pada saat itu, Chastine tiba-tiba merasa begitu tidak berdaya. Dia sudah tidak ingin berpura-pura lagi.
"Aku sudah nggak mau pakai lagi."
"Aku juga nggak mau kamu lagi, dan aku nggak menginginkan pernikahan kita lagi ...."