Share

Makan malam

Author: Galad Riwl
last update publish date: 2026-03-06 12:52:53

Jantung Celine berdentum kencang, suaranya seolah memenuhi rongga telinganya sendiri. Tatapan Ares dari aula bawah tadi seolah menelanjangi dan mencekiknya secara bersamaan. Ia segera melepaskan diri dari pelukan Eros di balkon dan melangkah mundur ke dalam kamar.

"Kenapa, Sayang? Mukamu tambah pucat," tanya Eros yang baru saja menutup pintu balkon kaca, suaranya kembali melembut—topeng andalan yang selalu ia pakai di depan keluarganya.

Celine menggeleng cepat, mencoba mengatur napasnya yang tidak beraturan. "Aku... aku cuma tidak enak badan, Mas. Mau istirahat sebentar di kasur."

Eros bangkit, menyandarkan punggungnya di kepala ranjang lalu mengecup puncak kepala Celine. "Istirahat ya, Sayangku. Mas mau mandi dulu. Nanti malam kita ada makan malam formal bareng Papa, Mama, dan... Mas Ares."

Celine memejamkan mata kuat-kuat. "Mas... apa aku harus ikut turun? Kepalaku benar-benar pusing."

"Tentu saja harus, Sayang," jawab Eros dengan nada yang tidak menerima penolakan. "Ini kan liburan keluarga. Kamu mau Mas Ares berpikir aku tidak becus mengurus istri sampai kamu sakit di hari pertama? Dandan yang cantik, oke?"

Celine menenggelamkan wajahnya di bantal yang empuk. Sandiwara ini terlalu gila. Pagi tadi ia terbangun di pelukan Ares dengan tubuh polos, dan malam ini ia harus duduk manis tersenyum sebagai adik iparnya?

Malam itu, Celine berusaha tampil sesempurna mungkin sesuai tuntutan Eros. Ia mengenakan dress merah berenda dengan potongan sederhana namun elegan, sangat kontras dengan kulit putih susunya. Lehernya yang masih meninggalkan sedikit jejak kemerahan—karya bibir Ares semalam—berhasil ia tutupi dengan concealer tebal dan helaian rambut yang digerai.

"Sudah siap, Sayang? Ayo ke bawah," panggil Eros sambil menggandeng tangan Celine.

Di ruang makan yang megah, punggung tegap itu sudah terlihat dari kejauhan. Ares Asterion, dengan setelan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, tampak sangat berkuasa. Sosoknya mencuri seluruh atensi di ruangan itu, memancarkan aura dingin yang membekukan darah Celine.

Posisi duduk diatur sedemikian rupa. Lucien berada di ujung meja sebagai kepala keluarga. Hera dan Eros saling berhadapan. Di samping Hera, ada Ares. Dan di samping Eros, ada Celine.

Tepat di depan Celine, adalah pria yang semalam menidurinya dengan liar.

Celine tak sanggup mendongak. Ia hanya menatap piring porselen di depannya. Namun, ia bisa merasakan tatapan tajam bak elang itu terus menusuk wajahnya, seolah ingin menguliti rahasianya di depan meja makan ini.

"Celine, Sayang, kok makannya sedikit sekali?" tanya Hera tiba-tiba, memecah keheningan.

"Uhuk! Uhuk!" Celine tersedak air yang baru saja ia minum karena gugup.

"Kau baik-baik saja, Nak? Apa makanannya tidak cocok?" Hera tampak khawatir.

Celine menggeleng cepat sambil mengelap bibirnya dengan serbet. "Ah, tidak, Ma. Makanannya tentu enak sekali. Celine cuma..."

"Dia memang sedang tidak sehat sejak mendarat tadi, Ma," potong Eros sambil mengusap punggung Celine, memainkan peran suami yang sangat protektif. "Mabuk perjalanan."

Tiba-tiba, suara bariton yang berat dan dingin itu memecah suasana.

"Mabuk perjalanan memang tak bisa di sembuhkan dalam waktu yang lama ya?" ucap Ares tanpa ekspresi, namun matanya menatap tajam tepat ke manik mata Celine.

Tubuh Celine membeku. Kalimat itu memiliki makna ganda yang hanya diketahui oleh mereka berdua. Ia ingat betul bagaimana semalam ia meracau mabuk di bar dan berakhir di ranjang Ares. Jantungnya rasanya mau copot.

"Eh? Ares, maksudmu mabuk apa? Ah mabuk perjalanan, mama kira apa, Celine kan semalam di rumah saja sama Eros," tanya Hera bingung.

Eros tertawa canggung, sedikit panik karena semalam ia sibuk berselingkuh dan mengira Celine di rumah temannya. "Iya, Mas. Istriku ini tidak suka minum alkohol."

Ares menyesap wine merahnya dengan tenang, matanya tak lepas dari Celine yang menunduk pucat pasi. "Hanya menebak. Wajahnya terlihat... sangat kelelahan. Seperti orang yang kurang tidur karena habis beraktivitas berat."

"Kakakku ini memang pengamat yang tajam, meski bicaranya selalu pedas. Maaf ya, Sayang," bisik Eros pada Celine, sama sekali tak menyadari badai mematikan di depan matanya.

Setelah jamuan yang terasa seperti siksaan neraka itu berakhir, Ares berdiri lebih dulu. "Aku ke atas duluan. Ada dokumen yang harus kutinjau."

Beberapa menit kemudian, Celine pun segera izin pamit. "Mas Eros, kepalaku pusing lagi. Aku ke atas duluan ya?"

"Iya, Sayang. Mas masih mau ngobrol sebentar sama Papa. Nanti Mas menyusul ke kamar."

Celine berjalan cepat menaiki tangga menuju lantai dua. Ia ingin segera masuk ke kamar dan mengunci pintu rapat-rapat. Namun, langkahnya terhenti secara paksa di lorong kamarnya.

Di sana, bersandar di dinding antara kamarnya dan kamar Ares, pria itu sedang menunggu. Ares memasukkan kedua tangannya ke saku celana, menatap Celine dengan intensitas kemarahan, kekecewaan, dan gairah yang mengerikan.

"Mas A... Ares..." suara Celine bergetar hebat.

Ares menegakkan tubuhnya, melangkah satu tindak lebih dekat hingga bayangan tubuhnya yang setinggi 195 cm itu menelan tubuh mungil Celine.

"Lama tidak bertemu, Celine Broische," ucap Ares dengan suara rendah yang menggetarkan udara di sekitarnya. "Atau harus kupanggil... Adik Ipar?"

Celine mundur selangkah, napasnya tercekat. Namun Ares jauh lebih cepat. Tangan besarnya mencengkeram pergelangan tangan Celine, menarik gadis itu merapat hingga dada mereka hampir bersentuhan. Wangi maskulin bercampur wine yang semalam mengungkung Celine, kini kembali menyerangnya.

"Pagi tadi kamu lari dari apartemenku dengan alasan menjaga batasan karena sudah menikah," bisik Ares tepat di telinga Celine, napas panasnya membuat bulu kuduk gadis itu berdiri. "Tapi kamu tidak bilang... kalau bajingan yang kamu sebut suami itu adalah adik kandungku sendiri, Eline."

Celine mencoba memberontak, matanya mulai berair. "Lepasin, Mas... Kalau Mas Eros lihat kita—"

"Biarkan dia lihat!" potong Ares tajam, suara baritonnya bergetar menahan amarah yang meledak. "Biarkan dia tahu siapa yang menyentuhmu lebih dulu, Eline. Biarkan dia tahu... rasa siapa yang masih menempel dengan jelas di dalam tubuh istrinya ini!"

Galad Riwl

Support penulis dengan meninggalkan jejak, friends (⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤

| Like
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mengapa Harus Ipar   Makan malam

    Jantung Celine berdentum kencang, suaranya seolah memenuhi rongga telinganya sendiri. Tatapan Ares dari aula bawah tadi seolah menelanjangi dan mencekiknya secara bersamaan. Ia segera melepaskan diri dari pelukan Eros di balkon dan melangkah mundur ke dalam kamar. "Kenapa, Sayang? Mukamu tambah pucat," tanya Eros yang baru saja menutup pintu balkon kaca, suaranya kembali melembut—topeng andalan yang selalu ia pakai di depan keluarganya. Celine menggeleng cepat, mencoba mengatur napasnya yang tidak beraturan. "Aku... aku cuma tidak enak badan, Mas. Mau istirahat sebentar di kasur." Eros bangkit, menyandarkan punggungnya di kepala ranjang lalu mengecup puncak kepala Celine. "Istirahat ya, Sayangku. Mas mau mandi dulu. Nanti malam kita ada makan malam formal bareng Papa, Mama, dan... Mas Ares." Celine memejamkan mata kuat-kuat. "Mas... apa aku harus ikut turun? Kepalaku benar-benar pusing." "Tentu saja harus, Sayang," jawab Eros dengan nada yang tidak menerima penolakan. "Ini kan lib

  • Mengapa Harus Ipar   Liburan keluarga

    Deru mesin pesawat mulI mereda, berganti dengan aroma garam laut yang menyeruak masuk ke dalam kabin begitu pintu dibuka. Namun, wajah Celine tampak sepucat kertas. Ia mencengkeram lengan kursi dengan buku jari yang memutih, menahan rasa mual yang mengaduk perutnya. Bukan hanya karena mabuk udara, tapi karena mual harus bersandiwara di sebelah pria pengkhianat ini. "Mas... kepalaku pusing sekali," keluh Celine pelan, mencoba mengetes seberapa jauh Eros akan bermain peran. Eros segera sigap. Wajah kasarnya di rumah lenyap tanpa sisa, digantikan topeng suami penuh cinta. Ia melepaskan sabuk pengamannya dan mengusap dahi Celine yang dingin. "Tuh, kan. Kamu selalu begini kalau naik pesawat kecil. Sini, sandar ke pundak Mas." Celine menahan napas agar tidak menepis tangan itu. Ia membiarkan Eros memapahnya dengan sangat lembut menuruni tangga pesawat. Tangan Eros yang lain dengan cekatan menyeret tiga koper sekaligus. "Lihat itu, Papa. Anakmu kalau sudah urusan istri, tenaganya mendada

  • Mengapa Harus Ipar   Topeng sang istri

    Angin pagi berembus pelan di depan lobi apartemen mewah itu. Celine berdiri menunduk, merapatkan kardigan pinjaman yang membalut tubuhnya, menunggu taksi online pesanannya tiba. Ares berdiri tegap di sampingnya, kedua tangan dengan santai masuk ke dalam saku celana bahan yang membalut kaki panjangnya."Kamu serius tidak mau saya antar?" suara bariton Ares memecah keheningan di antara mereka.Celine menggeleng pelan, matanya tak berani menatap mata elang pria itu. "Iya, Mas. Lagipula... aku sudah menikah. Aku tidak boleh bertindak seenaknya apalagi di luar seperti ini."Ares menghela napas pendek. "Baiklah.""Terima kasih sudah membawaku pulang dari bar kemarin, Mas," ucap Celine tulus, meski dadanya bergemuruh hebat.Bukannya menjawab, tangan besar Ares terulur. Pletakk. Ia menyentil dahi Celine dengan gerakan pelan namun mengejutkan, diiringi senyum tipis yang sangat jarang ia perlihatkan pada dunia."Awhh! Sakit, Mas!" Celine refleks mengusap dahinya, menatap pria itu dengan sebal.

  • Mengapa Harus Ipar   Pagi selanjutnya

    Sinar matahari pagi menyusup malu-malu dari celah tirai penthouse yang mewah, tepat pada pukul enam pagi. Cahaya keemasan itu menyilaukan mata, mengganggu tidur lelap Celine yang tak pernah senyenyak ini selama tiga bulan terakhir.Celine mengerjapkan matanya perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah sebuah lengan kekar yang melingkar posesif di pinggangnya, serta kehangatan luar biasa yang menyelimuti tubuh polosnya. Saat ia menoleh ke samping, napasnya nyaris terhenti.Wajah Ares Asterion yang masih terlelap tampak begitu damai, lengannya memeluk Celine erat seolah enggan melepaskannya lagi. Celine tersadar bahwa semalaman ia tertidur di atas dada telanjang pria itu. Wajahnya seketika memerah padam. Ingatan tentang pergumulan panas mereka semalam—bagaimana ia meracau dan memohon di bawah kendali Ares—mulai berkelebat meski sedikit kabur.Ia melihat ke sekeliling, mencerna di mana ia berada. Ruangan ini asing, didominasi warna monokrom yang maskulin. Celine kembali menatap Ares. D

  • Mengapa Harus Ipar   Malam panjang

    Sentuhan itu terasa nyata. Dinginnya air dari handuk kecil yang membasuh keringat di dahi Celine terasa seperti sebuah anugerah di tengah rasa pening yang mencekik. Pria itu, dengan ketelatenan yang kontras dengan aura dinginnya, membersihkan sisa-sisa air mata dan riasan yang berantakan di wajah Celine. "Mas Aresssh..." desah Celine, suaranya parau, nyaris tenggelam dalam keheningan apartemen yang kedap suara itu berubah menjadi luka paling dalam. Celine berusaha memfokuskan pandangannya yang kabur. "Ini beneran kamu... aku nggak lagi ngigo kan? Hahaha... gak mungkin ini pasti mimpi indah karena aku mabuk." Ares terhenti sejenak, menatap mata sayu Celine yang masih basah. "Saya di sini, Eline. Di depanmu." Ares membawa telapak tangan Celine untuk mengusap pipinya, tangis Celine pecah lagi. Entah karena pengaruh alkohol yang membakar dadanya atau karena sesak melihat wajah yang selalu ia rindukan di saat ia sedang dikhianati oleh suaminya sendiri. Celine menarik kemeja Ares, mem

  • Mengapa Harus Ipar   Malam yang hancur

    Dunia Celine seolah runtuh dalam satu kedipan mata. Hujan yang mengguyur di luar jendela taksi seolah menjadi latar bagi kehancuran hatinya. Menyakitkan. Rasanya lebih pedih daripada saat Ares menghilang di hari kelulusannya dulu. Eros, pria yang ia anggap sebagai tempat berlabuh, kini justru menjadi badai yang paling menghancurkan. "Pak, putar balik ya," suara Celine bergetar hebat. Ia tak ingin pulang. Tidak ke rumah yang kini terasa seperti penjara penuh kebohongan. "Baik, Mbak. Mau ke mana?" tanya sopir taksi sambil menatap dari spion. "Jalan dulu saja, Pak. Saya... saya sedang berpikir," jawab Celine singkat sebelum air mata kembali membanjiri pipinya. Satu jam berlalu. Taksi itu hanya berputar-putar tak tentu arah di tengah kemacetan kota. "Mbak, mohon maaf, sudah ketemu tujuannya? Ini argo sudah lumayan," sopir itu bertanya sungkan. Celine menyeka air matanya kasar. Ia melirik keluar, lalu teringat sesuatu. "Berhenti di depan sana, Pak." Ia turun di depan sebuah b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status