Share

Liburan keluarga

Penulis: Galad Riwl
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-18 20:55:24

Deru mesin pesawat mulI mereda, berganti dengan aroma garam laut yang menyeruak masuk ke dalam kabin begitu pintu dibuka. Namun, wajah Celine tampak sepucat kertas. Ia mencengkeram lengan kursi dengan buku jari yang memutih, menahan rasa mual yang mengaduk perutnya. Bukan hanya karena mabuk udara, tapi karena mual harus bersandiwara di sebelah pria pengkhianat ini.

"Mas... kepalaku pusing sekali," keluh Celine pelan, mencoba mengetes seberapa jauh Eros akan bermain peran.

Eros segera sigap. Wajah kasarnya di rumah lenyap tanpa sisa, digantikan topeng suami penuh cinta. Ia melepaskan sabuk pengamannya dan mengusap dahi Celine yang dingin. "Tuh, kan. Kamu selalu begini kalau naik pesawat kecil. Sini, sandar ke pundak Mas."

Celine menahan napas agar tidak menepis tangan itu. Ia membiarkan Eros memapahnya dengan sangat lembut menuruni tangga pesawat. Tangan Eros yang lain dengan cekatan menyeret tiga koper sekaligus.

"Lihat itu, Papa. Anakmu kalau sudah urusan istri, tenaganya mendadak jadi seperti kuli bangunan," goda Hera sambil tertawa kecil, melirik Lucien. "Melihat kalian sedekat ini, Mama jadi tidak sabar ingin segera menggendong cucu. Jangan-jangan setelah liburan ini, Mama langsung dapat kabar baik?"

Celine tersenyum kaku. Wajahnya merona karena gugup, bukan tersipu. 'Cucu? Dari pria yang menyuapi janda di mobilnya?' batinnya miris. "Mama... jangan begitu."

"Ma, jangan dipaksa," potong Eros sambil tersenyum keibuan, menuntun Celine masuk ke mobil mewah yang menjemput mereka. "Aku menunggu sampai Celine benar-benar siap. Kita tidak sedang kejar setoran, kan, Sayang?"

Hera terkikik, menepuk bahu putranya. "Iya, iya, Mama tahu. Kamu memang suami idaman."

Mobil melaju membelah jalanan setapak di pinggir pantai. Celine sengaja menempelkan wajahnya di jendela, menghindari tatapan Eros. Matanya berbinar melihat air laut yang biru kristal.

"Wah, indah sekali!" seru Celine, mencoba mengalihkan pikirannya yang rumit. Ia menunjuk sebuah formasi batu karang raksasa yang berdiri kokoh di kejauhan. "Mas Eros, lihat itu! Batu karangnya besar sekali, cantik kalau difoto dari sana."

Eros melirik sekilas, lalu mendengus pelan dan tersenyum tipis. "Ah, itu. Dulu aku sering diajak Kak Ares main ke sana waktu kecil. Tapi aku jarang sih sekarang, jujur saja Mas tidak terlalu tertarik dengan tempat berangin begitu. Bikin masuk angin."

Senyum Celine sedikit memudar. "Oh... begitu ya, Mas."

Ia mengurungkan niat untuk mengajak Eros ke sana. Celine mencatat dalam hatinya, tempat itu mungkin akan menjadi satu-satunya tempat ia bisa mencari ketenangan nanti. 'Tidak apa-apa,' pikir Celine sinis, 'Eros memang lebih suka kenyamanan selimut hotel bersama wanita lain daripada berpetualang denganku.'

Sesampainya di vila, kemewahan bangunan itu membuat Celine terpana sejenak. Desainnya modern dengan sentuhan tropis yang kental.

"Celine, Sayang," panggil Hera saat pelayan membawakan barang mereka. "Kamar kamu dan Eros ada di lantai dua, ya. Mama dan Papa di lantai satu saja, faktor umur, tidak kuat naik tangga terus."

"Iya, Mah, tidak apa-apa. Di mana saja nyaman kok," jawab Celine sopan.

"Kamar atas memang tidak seluas di bawah, tapi balkonnya jauh lebih luas menghadap ke aula bawah dan pantai. Kamu bisa melihat bintang dari sana malam nanti," tambah Hera dengan kerlingan mata penuh arti.

Begitu masuk ke kamar, topeng Eros sedikit mengendur. Ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke ranjang king size dan memejamkan mata.

"Mas istirahat sebentar ya? Kepalaku agak berat karena revisi kerjaan dari Mas Ares kemarin belum tuntas," gumamnya tak acuh.

"Iya, Mas. Istirahat saja dulu. Biar aku yang rapikan kopernya."

Celine dengan telaten mengeluarkan pakaian satu per satu. Ia menata kemeja Eros, lalu beralih ke pakaiannya sendiri. Tiba-tiba tubuhnya meremang saat mengingat di mana ia menghabiskan malam sebelumnya. Setelah hampir satu jam bergerak, tenggorokannya terasa kering kerontang. Ia memutuskan untuk turun ke bawah mencari air minum.

Saat ia keluar dari kamar dan berjalan menuju pagar balkon lantai dua yang menghadap langsung ke aula utama di bawah, telinganya menangkap suara riuh dari pintu depan.

Langkah kaki Celine terhenti.

"Kau akhirnya datang juga! Kenapa lama sekali?" Suara Lucien terdengar sangat bersemangat menyambut seseorang.

"Penerbanganku tertunda karena harus mengurus kekacauan laporan yang dikerjakan Eros, Pa," sahut sebuah suara bariton yang dalam. Dingin, tegas, dan sangat maskulin.

Jantung Celine berhenti berdetak sesaat. Kakinya seolah dipaku di lantai kayu balkon. Meski ia sudah tahu kenyataan ini sejak pagi tadi di apartemen, mendengar suara itu bergema di tengah keluarga suaminya memberikan hantaman teror yang berbeda.

Celine memberanikan diri melongok ke bawah, tangannya gemetar mencengkeram pagar ukiran kayu.

Di sana, di aula utama, seorang pria berdiri tegap mengenakan setelan jas hitam formal yang membungkus tubuh atletisnya. Tingginya mencolok, hampir menyentuh dua meter, membuat semua pelayan di sekitarnya tampak kerdil.

Tubuh Celine menegang. Napasnya menderu cepat. Wajah itu, garis rahang yang tegas itu, dan sepasang mata elang yang kemarin malam menatapnya dengan penuh gairah... kini berada di bawah sana sebagai bagian dari keluarga suaminya.

Seolah memiliki radar, pria di bawah itu tiba-tiba mendongakkan kepalanya tepat ke arah lantai dua.

Tatapan mata yang tajam dan kelam itu langsung mengunci netra Celine. Ares Asterion mematung. Matanya yang dingin perlahan menyipit, menatap gadis yang paginya menolak diantar pulang, kini berdiri di balkon vila keluarganya.

"Eline...?" bibir Ares bergumam tanpa suara dari bawah sana, gurat keterkejutan terukir jelas di wajah kakunya.

Tepat pada detik yang menegangkan itu, pintu kamar di belakang Celine terbuka. Eros berjalan keluar sambil menguap, lalu melingkarkan tangannya dengan posesif di pinggang Celine dari belakang. Ia menyandarkan dagunya di bahu Celine, sebuah gestur mesra yang membuat Celine menahan napas karena jijik.

"Sayang, kamu ngapain berdiri di sini—eh?" Eros menunduk ke bawah dan tersenyum lebar. "Mas Ares! Akhirnya sampai juga."

Di bawah sana, rahang Ares mengeras hingga otot-otot lehernya menegang. Tangan besarnya terkepal kuat di sisi tubuh. Mata elangnya kini berubah menjadi tatapan badai yang meledak-ledak, menatap tajam ke arah lengan Eros yang memeluk pinggang Celine.

"Kenalkan, ini Celine... istriku yang sering aku ceritakan."

Adiknya sendiri baru saja memperkenalkan wanita yang mendesah di bawah kungkungannya semalam... sebagai istrinya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mengapa Harus Ipar   Liburan keluarga

    Deru mesin pesawat mulI mereda, berganti dengan aroma garam laut yang menyeruak masuk ke dalam kabin begitu pintu dibuka. Namun, wajah Celine tampak sepucat kertas. Ia mencengkeram lengan kursi dengan buku jari yang memutih, menahan rasa mual yang mengaduk perutnya. Bukan hanya karena mabuk udara, tapi karena mual harus bersandiwara di sebelah pria pengkhianat ini. "Mas... kepalaku pusing sekali," keluh Celine pelan, mencoba mengetes seberapa jauh Eros akan bermain peran. Eros segera sigap. Wajah kasarnya di rumah lenyap tanpa sisa, digantikan topeng suami penuh cinta. Ia melepaskan sabuk pengamannya dan mengusap dahi Celine yang dingin. "Tuh, kan. Kamu selalu begini kalau naik pesawat kecil. Sini, sandar ke pundak Mas." Celine menahan napas agar tidak menepis tangan itu. Ia membiarkan Eros memapahnya dengan sangat lembut menuruni tangga pesawat. Tangan Eros yang lain dengan cekatan menyeret tiga koper sekaligus. "Lihat itu, Papa. Anakmu kalau sudah urusan istri, tenaganya mendada

  • Mengapa Harus Ipar   Topeng sang istri

    Angin pagi berembus pelan di depan lobi apartemen mewah itu. Celine berdiri menunduk, merapatkan kardigan pinjaman yang membalut tubuhnya, menunggu taksi online pesanannya tiba. Ares berdiri tegap di sampingnya, kedua tangan dengan santai masuk ke dalam saku celana bahan yang membalut kaki panjangnya."Kamu serius tidak mau saya antar?" suara bariton Ares memecah keheningan di antara mereka.Celine menggeleng pelan, matanya tak berani menatap mata elang pria itu. "Iya, Mas. Lagipula... aku sudah menikah. Aku tidak boleh bertindak seenaknya apalagi di luar seperti ini."Ares menghela napas pendek. "Baiklah.""Terima kasih sudah membawaku pulang dari bar kemarin, Mas," ucap Celine tulus, meski dadanya bergemuruh hebat.Bukannya menjawab, tangan besar Ares terulur. Pletakk. Ia menyentil dahi Celine dengan gerakan pelan namun mengejutkan, diiringi senyum tipis yang sangat jarang ia perlihatkan pada dunia."Awhh! Sakit, Mas!" Celine refleks mengusap dahinya, menatap pria itu dengan sebal.

  • Mengapa Harus Ipar   Pagi selanjutnya

    Sinar matahari pagi menyusup malu-malu dari celah tirai penthouse yang mewah, tepat pada pukul enam pagi. Cahaya keemasan itu menyilaukan mata, mengganggu tidur lelap Celine yang tak pernah senyenyak ini selama tiga bulan terakhir.Celine mengerjapkan matanya perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah sebuah lengan kekar yang melingkar posesif di pinggangnya, serta kehangatan luar biasa yang menyelimuti tubuh polosnya. Saat ia menoleh ke samping, napasnya nyaris terhenti.Wajah Ares Asterion yang masih terlelap tampak begitu damai, lengannya memeluk Celine erat seolah enggan melepaskannya lagi. Celine tersadar bahwa semalaman ia tertidur di atas dada telanjang pria itu. Wajahnya seketika memerah padam. Ingatan tentang pergumulan panas mereka semalam—bagaimana ia meracau dan memohon di bawah kendali Ares—mulai berkelebat meski sedikit kabur.Ia melihat ke sekeliling, mencerna di mana ia berada. Ruangan ini asing, didominasi warna monokrom yang maskulin. Celine kembali menatap Ares. D

  • Mengapa Harus Ipar   Malam panjang

    Sentuhan itu terasa nyata. Dinginnya air dari handuk kecil yang membasuh keringat di dahi Celine terasa seperti sebuah anugerah di tengah rasa pening yang mencekik. Pria itu, dengan ketelatenan yang kontras dengan aura dinginnya, membersihkan sisa-sisa air mata dan riasan yang berantakan di wajah Celine. "Mas Aresssh..." desah Celine, suaranya parau, nyaris tenggelam dalam keheningan apartemen yang kedap suara itu berubah menjadi luka paling dalam. Celine berusaha memfokuskan pandangannya yang kabur. "Ini beneran kamu... aku nggak lagi ngigo kan? Hahaha... gak mungkin ini pasti mimpi indah karena aku mabuk." Ares terhenti sejenak, menatap mata sayu Celine yang masih basah. "Saya di sini, Eline. Di depanmu." Ares membawa telapak tangan Celine untuk mengusap pipinya, tangis Celine pecah lagi. Entah karena pengaruh alkohol yang membakar dadanya atau karena sesak melihat wajah yang selalu ia rindukan di saat ia sedang dikhianati oleh suaminya sendiri. Celine menarik kemeja Ares, mem

  • Mengapa Harus Ipar   Malam yang hancur

    Dunia Celine seolah runtuh dalam satu kedipan mata. Hujan yang mengguyur di luar jendela taksi seolah menjadi latar bagi kehancuran hatinya. Menyakitkan. Rasanya lebih pedih daripada saat Ares menghilang di hari kelulusannya dulu. Eros, pria yang ia anggap sebagai tempat berlabuh, kini justru menjadi badai yang paling menghancurkan. "Pak, putar balik ya," suara Celine bergetar hebat. Ia tak ingin pulang. Tidak ke rumah yang kini terasa seperti penjara penuh kebohongan. "Baik, Mbak. Mau ke mana?" tanya sopir taksi sambil menatap dari spion. "Jalan dulu saja, Pak. Saya... saya sedang berpikir," jawab Celine singkat sebelum air mata kembali membanjiri pipinya. Satu jam berlalu. Taksi itu hanya berputar-putar tak tentu arah di tengah kemacetan kota. "Mbak, mohon maaf, sudah ketemu tujuannya? Ini argo sudah lumayan," sopir itu bertanya sungkan. Celine menyeka air matanya kasar. Ia melirik keluar, lalu teringat sesuatu. "Berhenti di depan sana, Pak." Ia turun di depan sebuah b

  • Mengapa Harus Ipar   Kepahitan yang terungkap

    Aroma mentega cair dan ragi yang sedang mengembang selalu menjadi obat penenang bagi Celine Broische. Di dalam toko rotinya yang mungil namun estetik, lulusan terbaik Universitas Ashford ini merasa dunianya lengkap. Dengan senyum lembutnya yang khas, Celine menyerahkan sekantong croissant hangat kepada seorang pelanggan anak-anak."Terima kasih, Tante Celine!" seru bocah itu riang.Celine terkekeh, mengusap kepala bocah itu. "Sama-sama, Sayang. Hati-hati di jalan, ya."Menjadi pemilik toko roti adalah pilihan hidup yang awalnya ditentang banyak orang, mengingat gelarnya yang mentereng. Namun bagi Celine yang yatim piatu, toko ini adalah rumah. Dan sejak tiga bulan lalu, rumah itu memiliki penghuni baru: Eros Asterion, suaminya.Ponsel di atas meja kasir bergetar. Sebuah nama muncul di layar, membuat garis wajah Celine melunak seketika."Halo, Mas Eros?""Sudah makan siang, Sayang? Aku pesankan makanan ya?" suara Eros terdengar perhatian di seberang sana.Celine melirik jam dinding. "A

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status