MasukDeru mesin pesawat mulI mereda, berganti dengan aroma garam laut yang menyeruak masuk ke dalam kabin begitu pintu dibuka. Namun, wajah Celine tampak sepucat kertas. Ia mencengkeram lengan kursi dengan buku jari yang memutih, menahan rasa mual yang mengaduk perutnya. Bukan hanya karena mabuk udara, tapi karena mual harus bersandiwara di sebelah pria pengkhianat ini.
"Mas... kepalaku pusing sekali," keluh Celine pelan, mencoba mengetes seberapa jauh Eros akan bermain peran. Eros segera sigap. Wajah kasarnya di rumah lenyap tanpa sisa, digantikan topeng suami penuh cinta. Ia melepaskan sabuk pengamannya dan mengusap dahi Celine yang dingin. "Tuh, kan. Kamu selalu begini kalau naik pesawat kecil. Sini, sandar ke pundak Mas." Celine menahan napas agar tidak menepis tangan itu. Ia membiarkan Eros memapahnya dengan sangat lembut menuruni tangga pesawat. Tangan Eros yang lain dengan cekatan menyeret tiga koper sekaligus. "Lihat itu, Papa. Anakmu kalau sudah urusan istri, tenaganya mendadak jadi seperti kuli bangunan," goda Hera sambil tertawa kecil, melirik Lucien. "Melihat kalian sedekat ini, Mama jadi tidak sabar ingin segera menggendong cucu. Jangan-jangan setelah liburan ini, Mama langsung dapat kabar baik?" Celine tersenyum kaku. Wajahnya merona karena gugup, bukan tersipu. 'Cucu? Dari pria yang menyuapi janda di mobilnya?' batinnya miris. "Mama... jangan begitu." "Ma, jangan dipaksa," potong Eros sambil tersenyum keibuan, menuntun Celine masuk ke mobil mewah yang menjemput mereka. "Aku menunggu sampai Celine benar-benar siap. Kita tidak sedang kejar setoran, kan, Sayang?" Hera terkikik, menepuk bahu putranya. "Iya, iya, Mama tahu. Kamu memang suami idaman." Mobil melaju membelah jalanan setapak di pinggir pantai. Celine sengaja menempelkan wajahnya di jendela, menghindari tatapan Eros. Matanya berbinar melihat air laut yang biru kristal. "Wah, indah sekali!" seru Celine, mencoba mengalihkan pikirannya yang rumit. Ia menunjuk sebuah formasi batu karang raksasa yang berdiri kokoh di kejauhan. "Mas Eros, lihat itu! Batu karangnya besar sekali, cantik kalau difoto dari sana." Eros melirik sekilas, lalu mendengus pelan dan tersenyum tipis. "Ah, itu. Dulu aku sering diajak Kak Ares main ke sana waktu kecil. Tapi aku jarang sih sekarang, jujur saja Mas tidak terlalu tertarik dengan tempat berangin begitu. Bikin masuk angin." Senyum Celine sedikit memudar. "Oh... begitu ya, Mas." Ia mengurungkan niat untuk mengajak Eros ke sana. Celine mencatat dalam hatinya, tempat itu mungkin akan menjadi satu-satunya tempat ia bisa mencari ketenangan nanti. 'Tidak apa-apa,' pikir Celine sinis, 'Eros memang lebih suka kenyamanan selimut hotel bersama wanita lain daripada berpetualang denganku.' Sesampainya di vila, kemewahan bangunan itu membuat Celine terpana sejenak. Desainnya modern dengan sentuhan tropis yang kental. "Celine, Sayang," panggil Hera saat pelayan membawakan barang mereka. "Kamar kamu dan Eros ada di lantai dua, ya. Mama dan Papa di lantai satu saja, faktor umur, tidak kuat naik tangga terus." "Iya, Mah, tidak apa-apa. Di mana saja nyaman kok," jawab Celine sopan. "Kamar atas memang tidak seluas di bawah, tapi balkonnya jauh lebih luas menghadap ke aula bawah dan pantai. Kamu bisa melihat bintang dari sana malam nanti," tambah Hera dengan kerlingan mata penuh arti. Begitu masuk ke kamar, topeng Eros sedikit mengendur. Ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke ranjang king size dan memejamkan mata. "Mas istirahat sebentar ya? Kepalaku agak berat karena revisi kerjaan dari Mas Ares kemarin belum tuntas," gumamnya tak acuh. "Iya, Mas. Istirahat saja dulu. Biar aku yang rapikan kopernya." Celine dengan telaten mengeluarkan pakaian satu per satu. Ia menata kemeja Eros, lalu beralih ke pakaiannya sendiri. Tiba-tiba tubuhnya meremang saat mengingat di mana ia menghabiskan malam sebelumnya. Setelah hampir satu jam bergerak, tenggorokannya terasa kering kerontang. Ia memutuskan untuk turun ke bawah mencari air minum. Saat ia keluar dari kamar dan berjalan menuju pagar balkon lantai dua yang menghadap langsung ke aula utama di bawah, telinganya menangkap suara riuh dari pintu depan. Langkah kaki Celine terhenti. "Kau akhirnya datang juga! Kenapa lama sekali?" Suara Lucien terdengar sangat bersemangat menyambut seseorang. "Penerbanganku tertunda karena harus mengurus kekacauan laporan yang dikerjakan Eros, Pa," sahut sebuah suara bariton yang dalam. Dingin, tegas, dan sangat maskulin. Jantung Celine berhenti berdetak sesaat. Kakinya seolah dipaku di lantai kayu balkon. Meski ia sudah tahu kenyataan ini sejak pagi tadi di apartemen, mendengar suara itu bergema di tengah keluarga suaminya memberikan hantaman teror yang berbeda. Celine memberanikan diri melongok ke bawah, tangannya gemetar mencengkeram pagar ukiran kayu. Di sana, di aula utama, seorang pria berdiri tegap mengenakan setelan jas hitam formal yang membungkus tubuh atletisnya. Tingginya mencolok, hampir menyentuh dua meter, membuat semua pelayan di sekitarnya tampak kerdil. Tubuh Celine menegang. Napasnya menderu cepat. Wajah itu, garis rahang yang tegas itu, dan sepasang mata elang yang kemarin malam menatapnya dengan penuh gairah... kini berada di bawah sana sebagai bagian dari keluarga suaminya. Seolah memiliki radar, pria di bawah itu tiba-tiba mendongakkan kepalanya tepat ke arah lantai dua. Tatapan mata yang tajam dan kelam itu langsung mengunci netra Celine. Ares Asterion mematung. Matanya yang dingin perlahan menyipit, menatap gadis yang paginya menolak diantar pulang, kini berdiri di balkon vila keluarganya. "Eline...?" bibir Ares bergumam tanpa suara dari bawah sana, gurat keterkejutan terukir jelas di wajah kakunya. Tepat pada detik yang menegangkan itu, pintu kamar di belakang Celine terbuka. Eros berjalan keluar sambil menguap, lalu melingkarkan tangannya dengan posesif di pinggang Celine dari belakang. Ia menyandarkan dagunya di bahu Celine, sebuah gestur mesra yang membuat Celine menahan napas karena jijik. "Sayang, kamu ngapain berdiri di sini—eh?" Eros menunduk ke bawah dan tersenyum lebar. "Mas Ares! Akhirnya sampai juga." Di bawah sana, rahang Ares mengeras hingga otot-otot lehernya menegang. Tangan besarnya terkepal kuat di sisi tubuh. Mata elangnya kini berubah menjadi tatapan badai yang meledak-ledak, menatap tajam ke arah lengan Eros yang memeluk pinggang Celine. "Kenalkan, ini Celine... istriku yang sering aku ceritakan." Adiknya sendiri baru saja memperkenalkan wanita yang mendesah di bawah kungkungannya semalam... sebagai istrinya.Desahan Ares kian berat, tangannya secara naluriah menekan lembut belakang kepala Celine, menuntun gerakan gadis itu untuk mencapai puncak. Tubuh tegap itu menegang hebat saat gairahnya meledak, menodai wajah dan sudut bibir Celine. Ares menatap pemandangan di bawahnya dengan tatapan penuh kepemilikan. Ia mengulurkan telapak tangannya yang lebar."Muntahkan di sini," perintah Ares rendah.Celine menurut, membiarkan Ares membersihkan sisa percintaan kilat mereka dengan lembut. Pria itu kemudian membantu Celine mengenakan kembali bikininya, merapikan helai rambut yang berantakan karena angin pantai."Rasa Mas Ares masih sama," bisik Celine sambil menatap mata Ares yang kini sedikit lebih lembut.Ares menaikkan sebelah alisnya. "Sama?""Tidak cair, manis... tidak pahit seperti yang sering aku baca di internet," Celine menjawab jujur, wajahnya kembali merona.Ares terkekeh pendek, suara baritonnya terasa hangat di telinga Celine. "Kamu juga masih sama sensitifnya seperti dulu, Elin.""Ihh
Di balik dinding batu karang yang menjulang, waktu seolah berhenti berputar. Suara deburan ombak yang menghantam karang menjadi musik pengiring bagi napas yang kian memburu. Ares memojokkan Celine, tangan besarnya mengelus punggung mulus itu hingga turun ke bawah, meremas lembut bokong Celine yang kenyal."Kamu cantik sekali, Elin..." bisik Ares, suaranya serak tertahan di ceruk leher Celine.Celine hanya bisa memejamkan mata, tangannya mencengkeram bahu kokoh Ares yang keras. "Mas..." "Boleh saya lepas?" tanya Ares pelan namun penuh tuntutan, matanya menatap kaitan tali bikini putih yang melilit tubuh istrinya sang adik.Celine ragu sejenak, namun rasa rindu yang membuncah mengalahkan akal sehatnya. "Iya..."Dengan satu tarikan lembut, Ares melepaskan kaitan bra dan bikini Celine. Keindahan tubuh yang selama ini ia mimpikan di malam-malam sepinya kini terpampang nyata. Putih, proporsional, dan sempurna."God... kamu masih sama, Elin. Tidak ada yang berubah," gumam Ares, matanya mena
Gagang pintu terus berputar dengan kasar. Jantung Celine seolah melompat ke tenggorokan. Dalam posisi masih di pangkuan Ares, ia hanya bisa mematung sementara pria itu menatapnya dengan ketenangan yang mematikan. "Eline, dengar..." Ares berbisik rendah, tangan besarnya mendongakkan dagu Celine agar menatap matanya. "Saya tidak mau merusak hubungan dengan keluarga, termasuk hubungan kamu dengan mereka. Sekarang, lewat balkon, kembali ke kamarmu. Saya akan mengurus Eros." "Mas..." Celine merintih kecil. Ada rasa tidak rela yang tiba-tiba menyeruak. Ares tak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menggendong tubuh mungil Celine, membawanya menuju balkon yang menghubungkan deretan kamar lantai dua. Pelukan Celine mengerat, kepalanya bersandar di dada bidang Ares yang berdetak kuat. "Tapi mas... aku masih-" "Saya akan menemuimu lagi besok," bisik Ares saat menurunkan Celine di batas balkon kamarnya sendiri. "Saya tidak akan meninggalkanmu lagi. Kali ini tidak akan." Celine menatapnya r
"Lepasin, Mas!" desis Celine, suaranya gemetar menahan amarah dan ketakutan yang bercampur aduk. Ares tidak bergeming. Alih-alih melepaskan, ia justru mempererat genggamannya. Matanya yang tajam seolah sedang menelanjangi seluruh luka yang selama ini Celine sembunyikan. "Aku tidak mau Mas Eros sampai berpikir macam-macam kalau melihat ini!" Celine mencoba menyentakkan tangannya. "Macam-macam?" Ares menyeringai dingin, suaranya merendah hingga hanya bisa didengar oleh mereka berdua. "Dari awal kamu itu sudah milik saya, Celine. Milik saya." Celine terbelalak, napasnya tertahan. "Berani-beraninya kamu bicara seperti itu! Aku sudah menikah!" Suara Celine yang agak meninggi rupanya terdengar hingga ke lantai bawah. "Sayang! Kamu tidak apa-apa di atas?" seru Eros dari ruang tengah, suaranya terdengar cemas. Celine membeku. Jantungnya berpacu liar. "Ga-gapapa, Mas! Aku cuma hampir terpeleset tadi!" sahutnya dengan nada yang diusahakan senormal mungkin. Belum sempat Celine ber
Jantung Celine berdentum kencang, suaranya seolah memenuhi rongga telinganya sendiri. Tatapan Ares dari aula bawah tadi seolah menelanjangi dan mencekiknya secara bersamaan. Ia segera melepaskan diri dari pelukan Eros di balkon dan melangkah mundur ke dalam kamar. "Kenapa, Sayang? Mukamu tambah pucat," tanya Eros yang baru saja menutup pintu balkon kaca, suaranya kembali melembut—topeng andalan yang selalu ia pakai di depan keluarganya. Celine menggeleng cepat, mencoba mengatur napasnya yang tidak beraturan. "Aku... aku cuma tidak enak badan, Mas. Mau istirahat sebentar di kasur." Eros bangkit, menyandarkan punggungnya di kepala ranjang lalu mengecup puncak kepala Celine. "Istirahat ya, Sayangku. Mas mau mandi dulu. Nanti malam kita ada makan malam formal bareng Papa, Mama, dan... Mas Ares." Celine memejamkan mata kuat-kuat. "Mas... apa aku harus ikut turun? Kepalaku benar-benar pusing." "Tentu saja harus, Sayang," jawab Eros dengan nada yang tidak menerima penolakan. "Ini kan lib
Deru mesin pesawat mulI mereda, berganti dengan aroma garam laut yang menyeruak masuk ke dalam kabin begitu pintu dibuka. Namun, wajah Celine tampak sepucat kertas. Ia mencengkeram lengan kursi dengan buku jari yang memutih, menahan rasa mual yang mengaduk perutnya. Bukan hanya karena mabuk udara, tapi karena mual harus bersandiwara di sebelah pria pengkhianat ini. "Mas... kepalaku pusing sekali," keluh Celine pelan, mencoba mengetes seberapa jauh Eros akan bermain peran. Eros segera sigap. Wajah kasarnya di rumah lenyap tanpa sisa, digantikan topeng suami penuh cinta. Ia melepaskan sabuk pengamannya dan mengusap dahi Celine yang dingin. "Tuh, kan. Kamu selalu begini kalau naik pesawat kecil. Sini, sandar ke pundak Mas." Celine menahan napas agar tidak menepis tangan itu. Ia membiarkan Eros memapahnya dengan sangat lembut menuruni tangga pesawat. Tangan Eros yang lain dengan cekatan menyeret tiga koper sekaligus. "Lihat itu, Papa. Anakmu kalau sudah urusan istri, tenaganya mendada







