ANMELDENBintang terperanjat dan nyaris tak berkedip saat melihat Anya. Dia terus diam, menunggu Anya sampai di meja akad. Tak berselang lama, perempuan itu sudah duduk di sampingnya.Bintang berusaha keras untuk tidak menoleh kepada Anya. Namun, rasa penasarannya terhadap penampilan calon istrinya itu mendorongnya untuk melihat ke arah samping. Dan tak bisa Bintang menafikan, Anya benar-benar terlihat cantik di matanya. Anya melepas senyum tipis kepada Bintang yang nyaris tak berkedip dalam melihatnya. Jelas saja, sebab selama ini, Sang Mayor tak pernah melihat dirinya berdandan. Jadi saat ia berpenampilan berbeda, laki-laki dewasa itu menjadi sangat terkejut. “Apa bisa kita mulai ijab kabulnya?” tanya penghulu kepada Bintang dan para saksi nikah. “Bi–bisa, Pak,” jawab Bintang seraya mengembalikan pandangnya ke arah depan.“Baik. Sebelum ijab kabul dilakukan, saya akan bacakan terlebih dahulu beberapa hal penting dalam pernikahan.”Penghulu memulai prosesi ijab kabul dengan menyampaikan
Pagi menjelang. Suara azan subuh sayup-sayup mulai terdengar. Bersaing dengan suara alarm Anya yang memecah keheningan ruang kamar kos berukuran empat kali empat meter itu. Anya mengerjapkan mata sesaat. Lalu meraih ponselnya yang ada di dekat bantal dan melihat kepada angka jam yang tertera di layarnya. Sudah pukul lima pagi. Ia lalu bangkit dan segera berjalan ke arah kamar mandi kos sebelum penghuni kamar lainnya bangun. Kalau sampai antri, maka dapat dipastikan Anya akan terlambat sampai ke hotel. Beruntung, baru ada Anya dan salah seorang penghuni kamar kos lainnya. Jadi Anya bisa langsung masuk dan mandi dengan segera. Selang lima belas menit, ia pun sudah selesai. Anya kembali ke kamarnya dan langsung membangunkan Anne. “Bun ... Bunda .... Sudah subuh, Bun.” “Eum ....” Anne membuka mata perlahan dan langsung melihat Anya dengan dahi yang bertaut. “Sudah adzan ya?” tanyanya. “Udah, Bun. Bunda langsung mandi ya? Sebelum yang lain bangun.” Anne langsung bangkit dan mengambil
Bintang duduk di teras depan rumahnya dengan sesekali melihat kepada layar ponselnya. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas lewat, namun ia masih belum bisa memejamkan mata. Semua orang tampak sudah masuk kamar masing-masing. Sesekali mulutnya bergerak mengulang kalimat ijab qabul yang besok akan diucapkannya. Dan karena ada pergantian nama mempelai wanita, maka Bintang harus mengubah hapalannya—mengingat penuh nama Anya dan melupakan nama Bulan. Jangan sampai salah. “Belum tidur, Bin?” Rahayu datang dan mengalihkan atensi putranya. “Belum Ma.” Bintang segera meletakan ponselnya di atas meja teras. Rahayu mendekat dan duduk di dekat Bintang. “Bagaimana? Kamu sudah hapal kan?” tanyanya perempuan berkerudung hitam itu. “Alhamdulillah, sudah Ma.” Rahayu manggut-manggut. Kemudian mengalihkan pandangannya ke arah depan jalan. Tampak suasana di jalanan sudah mulai sepi. Sebab mereka tinggal di komplek perumahan pensiunan TNI, jadi tidak begitu ramai kendaraan yang lalu lalang. “Ke
Selama perjalanan menuju ke kosannya, Anya tampak murung dan tidak banyak berbicara. Pandangannya terus tertuju hanya pada jendela mobil, membuat Bintang yakin jika telah terjadi sesuatu pada calon istrinya itu. “Kita makan siang dulu ya?” ucap Bintang memecah keheningan di antara mereka. “Aku belum lapar, Om. Kita langsung pulang aja. Lagian aku mau istirahat, nanti sore aku harus kerja.” Anya membuat alasan. “Kerja?” tanya Bintang tak percaya. “Besok kita sudah akan menikah, Anya. Kenapa kamu masih mau kerja sore ini?” “Ya habis mau gimana lagi, Om. Aku kan belum izin sama bosku. Ntar kalau aku dipecat, aku mau makan apa?” Bintang tertawa pelan mendengar kata-kata Anya. Selama mereka kenal, baru kali ini ia melihat Anya pasrah pada keadaan. Biasanya sangat optimistis. Lagi pula, sudah akan menjadi istri orang, bisa-bisanya Anya masih memikirkan tentang biaya hidup. Lantas, apa guna dirinya, pikir Bintang. “Om ngetawain aku?” tanya Anya dengan ekspresi wajah kesal namun tidak
Bintang diam dengan pandang yang masih tertuju kepada Anya. Dahinya mengernyit, raut wajahnya penuh tanya. Ada apa gerangan? Mengapa tiba-tiba Anya bertanya tentang Bulan?“Kenapa kamu menanyakan itu?” tanya Bintang. “Aku cuma penasaran aja, Om. Kira-kira, kalau misalnya calon istri Om tiba-tiba muncul, Om bakal tetap nikah sama aku, atau lebih milih balik sama dia?” tanya Anya penasaran.Bintang masih diam. Lalu kembali membuang pandang ke arah layar ponselnya. “Kita lihat saja nanti, mana yang lebih dulu. Dia muncul di depan saya, atau foto kita selesai dicetak,” ucapnya santai.Anya tercengang mendengar jawaban Bintang. Bagaimana bisa, laki-laki ini membuat keputusan pernikahan dengan cara sesederhana itu? Ini kan bukan perkara main-main. “Kalau duluan dia muncul?” tanya Anya.“Kamu tahu dari mana kalau dia bakal muncul?” Bintang balik bertanya. “Yah ... siapa tahu kan, tiba-tiba dia jatuh dari langit terus langsung duduk di pangkuan Om.”“Kamu terlalu banyak nonton film fantasi
Sepanjang jalan, Anya hanya diam dengan pandang yang terus tertuju ke arah depan jalan. Berbeda dengan Bintang, laki-laki itu justru tampak seperti orang yang sedang gelisah. Berulang-ulang kali berdehem, tanpa ada sebab. Batuk pun, tidak. Terus mencuri-curi pandang kepada perempuan dengan seragam Persit di sampingnya. “Untung ada baju Mama, ya?” ucapnya membuka obrolan. “Iya, Mama Om Bintang baik banget,” puji Anya. “Mama memang begitu orangnya. Baik sama siapa saja.” “Nggak kayak anaknya ya?” “Heuh? Maksud kamu?” tanya Bintang. “Nggak ... nggak ada apa-apa, Om.” Anya tersenyum pelan tanpa Bintang lihat. Selang beberapa menit kemudian, mobil crossover hitam itu sudah tiba di depan sebuah studio foto. Bintang dan Anya segera turun dan masuk ke dalam bangunan berlantai dua tersebut. Saat sudah di dalam, mereka langsung disambut oleh seorang pria yang merupakan karyawan studio tersebut. Pria itu mengarahkan Bintang dan Anya untuk naik ke lantai dua guna melakukan sesi p







