LOGIN“Saya terpilih untuk ikut Latgabma, Anya,” ucap Bintang saat ia dan Anya sudah berbaring di atas ranjang tempat tidur. Suaranya tenang, tapi sedikit ada getar di ujungnya. Jujur, sudah sejak tadi ia terus memendam kalimat itu. Bahkan hingga mereka sudah berada di dalam kamar dan terbaring dengan gaya yang berbeda di atas ranjang.Anya menyamping melihat Bintang, sedang sang Mayor terlentang melihat ke langit-langit kamar.Senyum yang semula mengembang di bibir tipis Anya, seketika mengecut dan hilang dengan perlahan. “Lat—Latgab apa,Om?” tanyanya belum mengerti. “Latgabma. Latihan gabungan antar prajurit dari seluruh negara sekutu. Dan kali ini lokasinya di ... Hawaii,” jelas Bintang yang diikuti dengan menoleh ke arah istrinya.“Hah? Ha—hawaii?” tanya Anya kaget.“Eum ....” Bintang hanya berdehem dan mengangguk sekali. Menatap lekat ke arah Anya guna melihat ekspresi wajah istrinya itu.“Jauh banget, Om? Pasti lama?” ucap Anya pilu. Bibirnya mulai membentuk huruf U terbalik.“Iya,
Anne menatap sebuah foto yang ada di tangannya. Tatapannya datar tapi begitu sendu dan pilu. Ia usap dengan induk jarinya gambar wajah seseorang yang ada di foto itu. Senyum getir mengembang di bibirnya.“Aku sangat merindukanmu. Kamu ke mana? Perginya jauh sekali ya, sampai harus selama itu? Sudah mau dua dekade, Sayang. Apa kamu tidak mau melihat putri kita, yang setiap hari selalu bertanya dimana ayahnya berada? Aku rindu sekali, Sayang. Sangat rindu.”Lelah menahan, akhirnya air mata itu luruh juga. Anne menangis dengan pandang yang masih tertuju pada potret foto tersebut. Potret dirinya bersama sosok yang selama ini selalu putrinya tanyakan keberadaan dan rupanya.Ternyata selama ini Anne membohongi Anya. Ia bukan tidak punya foto sosok ayah putrinya, tapi sengaja tidak menunjukkannya kepada Anya. Sebab ada rahasia yang tidak bisa ia sampaikan kepada Anya. Hanya ia dan sang suami yang tahu alasannya.“Aku masih menunggumu ... di sini.” Anne mengusap air matanya dan menyimpan kemb
Bintang terus membuka lembar demi lembar kertas yang ada di tangannya. Entah sudah kali yang ke berapa ia melihat berkas-berkas itu, dan fokusnya selalu terpatri pada satu potongan koran dengan judul yang cukup membuatnya penasaran. ANGGOTA TNI YANG BERKHIANAT MENGHILANG TANPA JEJAK. Tok-tok-tok! Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Bintang. Dengan cepat ia pun menyimpan kembali berkas-berkas tersebut ke dalam laci meja kerjanya. “Masuk.” Pintu terbuka. Seorang anggota TNI berpangkat Serda masuk dan langsung memberinya hormat. “Izin Komandan, saya mau menyampaikan perintah dari Kolonel Andika untuk Komandan menemuinya di ruangan rapat.” “Sekarang?” tanya Bintang. “Siap! Iya, Komandan. Sekarang.” “Eum. Saya akan segera ke sana. Kamu boleh pergi.” “Siap! Baik, Komandan!” Prajurit tersebut berlalu meninggalkan ruangan. Kemudian menyusul Mayor Bintang di belakangnya. Ia segera menuju ke bagian ruang rapat untuk mengikuti meeting penting dengan para jajaran petinggi Kodim. Pi
Pukul lima petang menjelang Maghrib, Mayor Bintang dan Anya sudah tiba di depan rumah Rahayu. Tiba di sana, mereka langsung disambut baik oleh para penghuni rumah itu. “Kamu sehat, Sayang?” tanya Rahayu kepada menantunya. “Alhamdulillah, sehat Ma. Mama sendiri gimana?” tanya Anya balik. “Alhamdulillah, Mama juga sehat. Masih kuat buat nimbang cucu,” jawab Rahayu menyindir anak dan menantunya. “Baru di depan pintu sudah bahas cucu, Ma.” Bintang tampak tidak suka mendengarnya. “Yah ... Mama kan juga pengen ngeliat wajah anak kamu, Bin.” Sendu nian suara Rahayu saat mengutarakan isi hatinya. Anya tersentuh dan terenyuh. Ia dapat melihat ketulusan diraut wajah yang tak lagi muda itu. Rahayu menyimpan harapan yang begitu besar kepada putranya. Namun, ia sendiri tak bisa menuntut apa-apa. Sementara Bintang, setelah mendengar kata-kata ibunya, ia pun hanya bisa menghela napas berat. Lalu merangkul kedua lengan wanita itu dan membawanya masuk ke dalam. “Nanti kita bahas lagi ya
[Malam ini makan di rumah Mama, ya? Mama akan masak makanan kesukaan kamu] Tulis Rahayu dipesan ponsel Anya. Anya dan Bintang baru saja tiba di depan Rumah Sakit Ibu. “Om, Mama ngajak makan malam di rumah,” ucapnya saat mobil sudah berhenti sempurna. “Kapan?” tanya Bintang. “Malam ini, Om.” Bintang tampak mengetuk-ngetuk jari tangannya di atas setir. Berpikir, sedang mencoba mengingat-ingat, apakah dirinya bisa pulang cepat sore ini? “Ya sudah, saya usahakan pulang cepat hari ini ya?” ucapnya. “Ya, Om. Tapi kalau Om nggak bisa, aku bisa minta tolong temen buat—” “Bisa! Saya bisa!” ucap Bintang cepat, nada bicaranya sedikit keras. Anya menatap Bintang heran. “Ya udah, aku turun ya, Om,” ucapnya, lalu mengecup punggung tangan suaminya dan segera keluar dari dalam mobil. Masih sedikit shock setelah mendengar suara lantang Sang Mayor. “Anya ....” Rea datang dan langsung menyapa teman sejawatnya itu. “Eh, kamu, Ya? Ngapain di sini? Kok nggak langsung masuk?” tanya Any
“Om Bintang ....!” pekik Anya seraya berlari ke arah Bintang. Bintang yang sedang melihat layar ponselnya terlonjak dan jantungnya berdegup kencang. “Ada apa Anya?!” tanyanya panik. Anya berdiri dengan wajah berseri. Terus melihat kepada suaminya dengan tatapan tak terputus. “Om, mie gorengnya enak. Mie gorengnya enak.” Anya melompat kegirangan. Persis seperti anak kecil yang baru saja diberi uang jajan. “Oh ya?” “Coba deh ke sini.” Anya langsung menarik tangan Bintang dan membawanya ke dapur. Ia lalu menyendok sedikit mie goreng buatannya dan mengarahkannya ke depan mulut suaminya. “A ....” “Saya bisa sendiri, Anya.” Bintang menolak karena malu. “Udah, buka mulut aja, Om,” perintah sang Ibu Persit bawel. Bintang tak bisa menolak. Ia pun segera membuka mulutnya dan mengunyah mie goreng mahakarya seorang Anya tersebut. “Gimana Om?” tanya Anya penasaran. Bintang tidak menjawab. Bahkan raut wajahnya juga terbilang datar, tanpa ekspresi. Ia hanya terus mengunyah dan
Waktu sudah menunjukkan pukul dua lewat tiga puluh. Mobil Bintang baru saja berhenti di depan sebuah rumah makan kuliner Nusantara, yang menyediakan berbagai macam menu khas Indonesia yang cukup terkenal. Seperti ayam tangkap dari Aceh, sambal matah dari Bali, rendang dari Sumatera Barat dan sebaga
“Om, aku nggak salah denger kan?” tanya Anya yang masih tidak percaya dengan apa yang Bintang ucapkan. “Apa saya perlu mengulanginya lagi?” tanya Bintang balik. Anya menggeleng cepat. “Ya sudah, ayo.” Bintang langsung menarik tangan Anya. Mereka pun berjalan sambil bergandengan tangan di sepan
“Om ....” Anya berdiri dengan pandang yang tak terputus ke arah Bintang. Menatap laki-laki itu dengan perasaan campur aduk. Antara sayang, iba, kasihan.Tadi, saat Anya sedang berjalan hendak mengantar tugas kepada pembina sementaranya, tanpa sengaja, ia melihat Bintang berjalan ke arah ruang Letje
[ Hai, Om, lagi apa? Maaf ya kalau aku ganggu Aku tahu kalau Om bentar lagi mau nikah. Jadi ... aku mau jadi orang pertama yang ngucapin selamat sama Om. Selamat menempuh hidup baru Om Bintang. Semoga pernikahan Om langgeng, bahagia selalu, dan cepat dikasih momongan. Amin] Tulis Anya, pada pesan y







