LOGINBintang duduk di teras depan rumahnya dengan sesekali melihat kepada layar ponselnya. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas lewat, namun ia masih belum bisa memejamkan mata. Semua orang tampak sudah masuk kamar masing-masing. Sesekali mulutnya bergerak mengulang kalimat ijab qabul yang besok akan diucapkannya. Dan karena ada pergantian nama mempelai wanita, maka Bintang harus mengubah hapalannya—mengingat penuh nama Anya dan melupakan nama Bulan. Jangan sampai salah. “Belum tidur, Bin?” Rahayu datang dan mengalihkan atensi putranya. “Belum Ma.” Bintang segera meletakan ponselnya di atas meja teras. Rahayu mendekat dan duduk di dekat Bintang. “Bagaimana? Kamu sudah hapal kan?” tanyanya perempuan berkerudung hitam itu. “Alhamdulillah, sudah Ma.” Rahayu manggut-manggut. Kemudian mengalihkan pandangannya ke arah depan jalan. Tampak suasana di jalanan sudah mulai sepi. Sebab mereka tinggal di komplek perumahan pensiunan TNI, jadi tidak begitu ramai kendaraan yang lalu lalang. “Ke
Selama perjalanan menuju ke kosannya, Anya tampak murung dan tidak banyak berbicara. Pandangannya terus tertuju hanya pada jendela mobil, membuat Bintang yakin jika telah terjadi sesuatu pada calon istrinya itu. “Kita makan siang dulu ya?” ucap Bintang memecah keheningan di antara mereka. “Aku belum lapar, Om. Kita langsung pulang aja. Lagian aku mau istirahat, nanti sore aku harus kerja.” Anya membuat alasan. “Kerja?” tanya Bintang tak percaya. “Besok kita sudah akan menikah, Anya. Kenapa kamu masih mau kerja sore ini?” “Ya habis mau gimana lagi, Om. Aku kan belum izin sama bosku. Ntar kalau aku dipecat, aku mau makan apa?” Bintang tertawa pelan mendengar kata-kata Anya. Selama mereka kenal, baru kali ini ia melihat Anya pasrah pada keadaan. Biasanya sangat optimistis. Lagi pula, sudah akan menjadi istri orang, bisa-bisanya Anya masih memikirkan tentang biaya hidup. Lantas, apa guna dirinya, pikir Bintang. “Om ngetawain aku?” tanya Anya dengan ekspresi wajah kesal namun tidak
Bintang diam dengan pandang yang masih tertuju kepada Anya. Dahinya mengernyit, raut wajahnya penuh tanya. Ada apa gerangan? Mengapa tiba-tiba Anya bertanya tentang Bulan?“Kenapa kamu menanyakan itu?” tanya Bintang. “Aku cuma penasaran aja, Om. Kira-kira, kalau misalnya calon istri Om tiba-tiba muncul, Om bakal tetap nikah sama aku, atau lebih milih balik sama dia?” tanya Anya penasaran.Bintang masih diam. Lalu kembali membuang pandang ke arah layar ponselnya. “Kita lihat saja nanti, mana yang lebih dulu. Dia muncul di depan saya, atau foto kita selesai dicetak,” ucapnya santai.Anya tercengang mendengar jawaban Bintang. Bagaimana bisa, laki-laki ini membuat keputusan pernikahan dengan cara sesederhana itu? Ini kan bukan perkara main-main. “Kalau duluan dia muncul?” tanya Anya.“Kamu tahu dari mana kalau dia bakal muncul?” Bintang balik bertanya. “Yah ... siapa tahu kan, tiba-tiba dia jatuh dari langit terus langsung duduk di pangkuan Om.”“Kamu terlalu banyak nonton film fantasi
Sepanjang jalan, Anya hanya diam dengan pandang yang terus tertuju ke arah depan jalan. Berbeda dengan Bintang, laki-laki itu justru tampak seperti orang yang sedang gelisah. Berulang-ulang kali berdehem, tanpa ada sebab. Batuk pun, tidak. Terus mencuri-curi pandang kepada perempuan dengan seragam Persit di sampingnya. “Untung ada baju Mama, ya?” ucapnya membuka obrolan. “Iya, Mama Om Bintang baik banget,” puji Anya. “Mama memang begitu orangnya. Baik sama siapa saja.” “Nggak kayak anaknya ya?” “Heuh? Maksud kamu?” tanya Bintang. “Nggak ... nggak ada apa-apa, Om.” Anya tersenyum pelan tanpa Bintang lihat. Selang beberapa menit kemudian, mobil crossover hitam itu sudah tiba di depan sebuah studio foto. Bintang dan Anya segera turun dan masuk ke dalam bangunan berlantai dua tersebut. Saat sudah di dalam, mereka langsung disambut oleh seorang pria yang merupakan karyawan studio tersebut. Pria itu mengarahkan Bintang dan Anya untuk naik ke lantai dua guna melakukan sesi p
Andini …,” panggil Rahayu lembut pada menantunya. “Iya, Ma? Ada apa?” tanya Andini. “Minta tolong, make-up kan Anya sebentar, ya? Kamu kan ahlinya kalau masalah make up sama masak,” pinta Rahayu. “Ok, Ma. Aman.” “Mama ke belakang dulu ya?” Rahayu berlalu keluar kamar. Sementara Andini, ia segera masuk ke kamarnya untuk mengambil peralatan ‘tempur’ yang biasa digunakannya jika ada acara di kantor Langit, yaitu satu set perlengkapan make up lengkap. “Maaf ya Mbak, aku jadi merepotkan.” Anya benar-benar tidak enak dengan calon kakak iparnya itu. “Apa sih Mbak, ini tuh pekerjaan kecil.” Andini tersenyum tulus. Tanpa menunda lagi, Andini pun langsung memoles wajah Anya. Pertama-tama ia beri pelembab dulu, lalu melapisi wajah gadis itu dengan foundation dan concealer agar lebih mulus. Lanjut meratakannya dengan bedak padat berwarna senada. Pakai bulu mata. Eye liner. Perona pipi (blass on). Dan yang terakhir, lipstik dengan warna natural. “Wah ... Mbak Anya benar-benar beruba
Namun, belum sempat sang Mayor mengulangi kata-katanya, Andini sudah lebih dulu datang dengan nampan berisi teh hangat di tangannya. “Ayo diminum dulu, Mbak,” tawar perempuan berambut ikal tersebut. “Wah, makasih banyak, Mbak. Maaf udah ngerepotin.” Anya langsung duduk. “Nggak kok, Mbak. Malahan aku seneng, akhirnya aku bisa punya kakak ipar juga.” Andini tersenyum ramah. Di tengah-tengah percakapan mereka, tiba-tiba saja ponsel Bintang berdering. Ada panggilan yang masuk. “Din, temani Anya sebentar ya, Mas mau angkat telepon dulu,” pintanya. “Ok, Mas.” Bintang segera berlalu ke luar rumah. Sedang Andini dan Anya memilih untuk melanjutkan ngobrol mereka sembari menikmati beberapa potong kue bolu hasil olahan tangan Andini sendiri. “Kalau aku lihat, Mbak ini sepertinya masih sangat muda.” Andini memulai percakapan dengan Anya. “Heh, iya Mbak. Aku masih dua puluh satu tahun kurang.” Anya tertawa pelan. “Ha? Serius? Tanya Andini tak percaya. “Pantes aku lihat, seper







