LOGINSentuhan Ares berpindah dari wajah ke bahu Raya, lalu turun menyusuri lengannya dengan gerakan yang begitu protektif. Setiap jengkal kulit yang disentuhnya seperti membersihkan dari memori buruk yang baru saja terjadi. Ia menciumi ceruk leher Raya, menghirup aroma tubuh istrinya yang bercampur keringat dingin, memberikan kecupan-kecupan kecil yang menenangkan sekaligus membakar. "Aku di sini, sayang. Hanya ada aku dan kamu," bisik Ares di telinga istrinya, suaranya berat dan serak. Tangan Ares bergerak turun menuju pinggang, mulai menarik perlahan satu-satunya penghalang yang tersisa. Namun, di tengah gerakannya, ia tiba-tiba teringat sesuatu. Ia menghentikan tangannya tepat di karet celana dalam Raya, menatap istrinya dengan kening berkerut ragu. "Tunggu sebentar, Sayang... Bukankah jadwalmu sedang datang bulan?" tanya Ares pelan, mencoba tetap rasional di tengah gairah yang memuncak. Raya, yang sudah berada di ambang batas kesabarannya akibat efek obat yang menyiksa, mengera
Ares membaringkan Raya di atas ranjang hotel dengan hati-hati, seakan-akan istrinya terbuat dari kristal yang siap pecah kapan saja. Tapi begitu tubuh Raya menyentuh kasur, tangannya langsung melingkar ke leher Ares dengan kekuatan yang mengejutkan. "Sayang, tunggu—" Raya menariknya turun, bibir wanita itu menghantam bibir Ares dengan brutal, penuh keputusasaan, bukan gairah. Ciumannya liar, tak terkendali, seperti orang yang tenggelam mencari udara. Ares menarik tubuh Raya pelan, dan lembut, memutus ciuman itu dengan napas memburu. "Sayang, dengarkan aku. Tidurlah sampai dokter datang. Kamu harus diperiksa terlebih dulu—" "Gak bisa!" Raya menggeleng keras, air matanya mengalir deras. Tangannya meraih kemeja Ares, mencengkeram dengan kuat. "Aku gak bisa tidur... aku tidak tahan, Ares... tolong sentuh aku... kumohon... Badanku semuanya terasa panas. Aku gak nyaman, Ares..." Dengan gerakan frustasi, Raya mulai melepas jas yang membungkus tubuhnya. Jari-jarinya gemetar saat membuka
Pemandangan di depan matanya adalah visualisasi dari neraka yang paling nyata bagi Ares Mahardika. Di atas ranjang besar dengan seprai kusut, Prama menaungi Raya dengan tubuh telanjang dada. Tangannya tengah meraba paha istrinya ketika dentuman pintu menghentikan gerakannya. Ruangan itu membeku. Tapi aura di sekitar Ares mendidih melampaui titik ledak. "Binatang..." Suara Ares seperti guntur, rendah, parau, bergetar oleh amarah yang melampaui batas kemanusiaan. Prama tersentak. Ia menoleh, lalu dengan sengaja menggeser tubuhnya ke samping, mempertontonkan hasil kerjanya. Raya tergeletak lemas. Kemeja sudah terbuka, hanya bra yang masih melindungi dadanya. Wajahnya merah membara, peluh membasahi pelipis dan leher. Matanya sayu menatap langit-langit dengan kekosongan yang mengerikan. Napasnya pendek-pendek, tersengal, seakan oksigen di ruangan itu telah habis. Prama menoleh dnegan senyum miring di wajahnya. "Ares lihatlah—" Belum sempat kalimat itu selesai, Ares sudah menerjan
Jalanan gelap Bogor terasa mencekik. Ares duduk tegang di kursi belakang, rahangnya mengeras setiap kali mobil melambat karena tikungan. Jemarinya mencengkeram ponsel begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. David di kemudi terus memantau GPS sambil sesekali melirik spion, mengamati raut bosnya yang seperti singa terluka siap menerkam. "Kita sudah dekat dengan villa pertama, Tuan. Sekitar lima belas menit lagi," lapor David. Ares tidak menjawab. Matanya kosong menatap kegelapan di luar jendela, tapi pikirannya penuh dengan skenario terburuk tentang apa yang mungkin terjadi pada Raya. Dalam kepalanya, potongan-potongan kemungkinan terus berputar. Raya sendirian, ketakutan, sambil berharap menunggunya datang. Dada Ares naik turun pelan. Ia menekan napasnya sendiri, memaksa pikirannya tetap dingin. Panik tak akan menyelamatkan siapa pun. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Dua kali dering. Nama Prama terpampang di layar. Teddy yang duduk di samping Ares langsung menahan napas, tubuh
Jari Raya bergetar menekan ikon panggilan. Detak jantungnya seperti drum perang, keras, cepat, menuntut. Nada sambung pertama terasa seperti seabad. Kedua. Ketiga. Angkat, Ares. Kumohon. Matanya tak henti melirik ke arah dapur. Bayangan Prama bergerak di balik dinding. Raya menggigit bibir, menekan ponsel lebih erat ke telinga. Nada kedua. Panggilan langsung diputus Raya, karena ia terlalu takut Prama kembali lagi. "Tuhan," desis Raya frustasi. Ia segera sadar, menelepon lagi akan terlalu berisiko. Prama bisa kembali kapan saja. Dengan gerakan kilat, jemarinya menari di layar ponsel, membuka riwayat panggilan, menghapus jejak nomor Ares. Lalu ia beralih ke aplikasi peta. Tangan gemetar menekan tombol bagikan lokasi, memilih nama Ares dari kontak, dan menekan kirim. Sedetik kemudian, pesan itu terhapus. Bersih. Seolah tak pernah ada. Napasnya memburu. Ia butuh alibi. Cepat. Jemarinya kembali mengetik, kali ini nomor Dio. Panggilan tersambung setelah nada kedua. "Kakak?" suara
Mobil yang dikendarai David meluncur bagai anak panah membelah kegelapan jalanan menuju Bogor. Di kursi belakang, suasana begitu mencekam. Ares terus menatap layar ponselnya, memantau titik merah yang bergerak di peta—lokasi villa yang diberikan Teddy. "Lebih cepat, David!" geram Ares. Suaranya rendah, namun penuh dengan ancaman yang nyata. "Baik, Tuan," sahut David tenang meski tangannya mencengkeram kemudi dengan erat. Ia tahu betul, setiap detik sangat berharga. Teddy di samping Ares tampak hancur. "Res, kalau benar Prama di sana... tolong, jangan biarkan emosimu mengendalikan segalanya. Kita selesaikan ini tanpa kekerasan." Ares menoleh, tatapannya begitu tajam hingga Teddy terdiam. "Dia mengambil istriku dengan tipu daya yang menjijikkan, Teddy. Dia menyamar jadi aku, mempermalukanku, dan sekarang menyekapnya. Jika ada satu helai rambut Raya yang rusak, aku tidak menjamin Prama akan keluar dari sana dengan kaki yang masih bisa berjalan." Teddy meremas tangannya sendiri y







