LOGIN"Aku ingin mengajak Kelana ke pantai," ucap Raya sambil menatap pemandangan laut di luar jendela. "Dia belum pernah ke pantai yang betulan. Yang ada pasir putih dan air laut yang bersih." "Kita bisa ke Bali," usul Ares. "Atau kalau mau lebih privat, kita sewa villa di Maldives. Pantainya cantik, airnya jernih, dan tidak terlalu ramai turis." Raya menatap suaminya dengan mata berbinar. "Maldives? Serius?" "Sangat serius," jawab Ares. "Kita sudah lama tidak liburan keluarga yang benar. Kelana juga perlu melihat dunia di luar Jakarta." "Tapi bukankah Maldives sangat mahal—" "Raya," potong Ares sambil menggenggam tangan istrinya lebih erat. "Aku punya uang. Dan aku tidak akan menghabiskannya untuk hal lain selain kebahagiaan keluargaku. Kamu, Kelana, dan momen-momen berharga bersama kalian—itu investasi terbaik yang pernah aku buat." Raya merasakan air matanya menggenang. "Kenapa kamu selalu bisa membuat aku mau menangis dengan kata-kata manismu?" Ares tertawa pelan. "Karena itu f
Mobil meluncur keluar dari kompleks rumah sakit, memasuki jalanan San Francisco yang dipenuhi tanjakan dan turunan khas kota itu. Sinar matahari sore mulai meredup, langit berubah menjadi gradasi oranye keemasan yang memantul indah di gedung-gedung pencakar langit. Ares menyalakan musik—jazz lembut yang mengalun pelan dari speaker. Tangannya yang bebas meraih tangan Raya, menggenggamnya di atas console tengah. Raya menatap keluar jendela, melihat pemandangan kota yang begitu berbeda dari Jakarta. Bangunan-bangunan bergaya Victoria, trem kabel yang naik turun bukit, orang-orang berjalan dengan santai. Untuk pertama kalinya dalam berhari-hari—mungkin berminggu-minggu—Raya merasakan kedamaian. "Kamu tahu," ucap Ares sambil melirik Raya sekilas, senyum tipis di bibirnya. "Sejak kita menikah, kita belum pernah benar-benar santai berdua. Selalu ada saja drama yang mengikuti kita." Raya menoleh, menatap profil wajah suaminya yang tampan. "Iya. Rasanya kita dari satu masalah ke masalah la
Ares tersenyum tipis mendengar nada kesal di suara istrinya. Ketegangan di bahunya sedikit mengendur. Ia menarik Raya ke dalam pelukan singkat di dalam lift yang mulai bergerak turun. "Aku janji," bisiknya sambil mengecup puncak kepala Raya. "Aku berjanji, Raya. Semua ini akan segera berakhir. Lulu mungkin melarikan diri, tapi dia sudah kehilangan segalanya—harta, nama baik, dan akses padaku. Dia hanya tikus yang sedang bersembunyi di lubang gelap," ucap Ares dengan nada yang menenangkan namun penuh keyakinan. Raya menarik napas panjang, mencoba mengatur detak jantungnya yang masih tidak keruan. Ia sempat menoleh ke belakang, ke arah pintu bangsal yang baru saja mereka tinggalkan. Wajahnya yang tegas tadi kini berubah lelah, menyisakan sisi kemanusiaan yang mendalam. "Tapi... Tania. Apa dia akan baik-baik saja?" tanya Raya pelan. "Maksudku, setelah semua drama tadi... apakah dia benar-benar akan mendapatkan bantuan yang dia butuhkan?" Ares sempat terdiam sejenak. Kilasan kekh
Dr. Miller terlihat khawatir. Ia sudah berteriak memanggil tim medis untuk menerjang masuk. Medis pun sudah berusaha menahan Raya agar tidak mempropokasi Tania jauh. Tania sendiri menjerit frustrasi, sebuah pekikan yang lebih mirip binatang terluka daripada manusia. "Aku akan membuktikannya padamu! Setelah mati aku akan menghantuimu selamanya!" Dengan satu gerakan penuh keputusasaan, Tania memejamkan mata dan menekan jepit rambut logam itu dengan tenaga penuh ke arah lehernya. Ujung tajam itu sudah merobek kulit lebih dalam, darah segar mulai mengucur deras membasahi jemarinya. Namun, sebelum logam itu sempat memutuskan urat nadinya, sebuah bayangan besar bergerak dengan kecepatan yang tak masuk akal. Ares yang sedari tadi mengawasi dengan otot-otot yang menegang sempurna, tidak lagi menunggu. Di saat konsentrasi Tania terpecah karena provokasi Raya yang memojokkannya, Ares melesat maju. Tangan kekarnya mencengkeram pergelangan tangan Tania dengan kekuatan yang sanggup merem
Ares tak lagi menunjukkan keraguan atau rasa kasihan yang melembut. Melihat serpihan foto anaknya dilempar ke wajah istrinya, aura di sekitar Ares berubah menjadi sangat gelap dan mencekam. Tekanan atmosfer di ruangan itu seolah anjlok, didominasi oleh kemarahan seorang penguasa yang wilayahnya baru saja diinjak-injak. "Tania. Cukup." Suara Ares tidak lagi berteriak. Suara itu rendah, dalam, dan bergetar dengan otoritas yang begitu murni hingga membuat perawat di sudut ruangan tanpa sadar menahan napas. Ares melangkah maju satu tindak, tidak peduli pada jepit rambut tajam yang mengancam leher Tania. "Kamu pikir ancaman murahan seperti itu bisa menggetarkanku?" tanya Ares, suaranya rendah berbahaya. Ares menatap mata Tania dengan pandangan yang begitu dingin, seolah ia sedang menatap benda mati. "Letakkan benda itu sekarang, atau aku pastikan kamu tidak akan pernah melihat matahari lagi, bahkan dari balik jendela rumah sakit ini." Tania gemetar hebat. Ujung jepit rambut itu
Tawa Tania pecah secara tiba-tiba, sebuah suara yang melengking tinggi namun sarat dengan kepedihan yang menyayat hati. Ia tertawa sambil air mata terus mengalir deras membasahi pipinya yang pucat, menciptakan pemandangan yang mengerikan sekaligus memilukan. "Sorot mata yang lembut?" Tania mengulang kata-kata Raya dengan nada sarkastik yang getir. "Kamu bicara seolah-olah kamu mengenalku, seolah kamu tahu apa yang aku korbankan!" Tanpa diduga, Tania dengan gerakan cepat dan berjalan memutar meja menuju arah Raya. "Tania, duduk!" suara Ares menggelegar. Tubuhnya yang tinggi besar langsung bergeser, memposisikan dirinya sebagai perisai di depan Raya. Tangan Ares terangkat, menahan jarak agar Tania tidak bisa menyentuh istrinya. "Aku bilang duduk kembali di kursimu! Jangan memaksa aku memanggil keamanan untuk mengikatmu!" Namun, Tania seolah kehilangan rasa takutnya pada otoritas Ares. Ia terus melangkah maju meski langkahnya limbung. "Kenapa, Ares? Kenapa kamu begitu takut a







