Se connecterMereka kembali tenggelam dalam irama yang liar. Suara kulit yang beradu dan desahan nafas yang memburu memenuhi ruangan suite itu. Ares mengganti posisi Raya, mendudukkannya di atas pangkuannya agar Raya bisa memegang kendali atas kedalamannya sendiri. Raya bergerak naik turun dengan lincah, memanjakan suaminya dengan jepitan yang kian mengerat, sementara Ares memegangi pinggul Raya, membantunya menciptakan hentakan yang lebih keras. Gairah itu mencapai puncaknya kembali. Tubuh Raya bergetar hebat untuk kedua kalinya malam itu. Ares yang melihat reaksi istrinya, tidak lagi mampu menahan bendungan energinya. Ia kembali membaringkan Raya, melakukan beberapa hentakan terakhir yang sangat dalam hingga pangkal kejantanannya menekan kuat di sana. Ejakulasi kali ini terasa jauh lebih hebat dan berdenyut lama. Ares mengerang sangat keras, membenamkan wajahnya di bantal di samping kepala Raya saat ia melepaskan seluruh sisa energinya. Mereka berdua terkapar, saling berpelukan dengan sisa-s
Ares tidak lagi mampu menahan diri lebih lama. Dengan satu gerakan lembut namun penuh kuasa, ia menarik Raya kembali ke atas, membalikkan posisi hingga kini tubuh mungil istrinya berada di bawah dekapannya yang hangat. Mata mereka bertemu—beradu dalam gairah yang sudah mencapai titik didih. "Aku mencintaimu, Raya," bisiknya sesaat sebelum menyatukan tubuh mereka. Penyatuan itu terjadi dengan sangat perlahan, seolah Ares ingin memastikan setiap inci dari dirinya dan diri Raya merasakan sensasi yang paling dalam. Raya memejamkan mata, tangannya melingkar erat di leher Ares, merasakan keutuhan yang selama satu bulan ini hanya ada dalam mimpinya. Gerakan mereka awalnya tenang dan berirama, sebuah tarian yang penuh penghormatan atas ikatan sah yang kini mereka miliki. Namun, perlahan irama itu berubah. Kebutuhan yang selama ini terpendam mulai mengambil alih. Ares bergerak dengan dorongan yang lebih dalam dan bertenaga, sementara Raya menyambutnya dengan lenguhan yang memicu adrenali
Pintu kamar hotel menutup rapat. Keheningan segera menyergap, namun ini bukan hening yang canggung. Ini adalah jenis sunyi yang membara panas, penuh gairah, yang dipenuhi oleh ingatan akan sentuhan-sentuhan lama yang terpaksa dipendam selama satu bulan terakhir. Satu bulan sejak kejadian memalukan itu—sejak Ratih memergoki mereka dan memberikan titah mutlak untuk menjaga jarak—rasanya seperti selamanya bagi Ares. Raya berdiri di depan meja rias, punggungnya menghadap Ares. Jemarinya gemetar saat melepas jepit rambut satu per satu. Ia bisa merasakan tatapan Ares di punggungnya, tatapan yang begitu intens hingga kulitnya terasa seperti terbakar. Langkah kaki Ares mendekat, berat dan penuh kepastian. Begitu sampai di belakang Raya, ia tak langsung menyentuh, melainkan menghirup aroma dari tengkuk istrinya yang kini tak lagi terlarang. “Sudah satu bulan, sayang,” bisik Ares, suaranya parau dan rendah, sarat akan rasa lapar yang tertahan. Jarinya menyentuh kulit Raya yang tak ditut
Raya duduk di samping Ares, wajahnya memerah, senyumnya tak pudar. Ares masih menatapnya. Terpesona, terpaku, seolah dunia berhenti berputar. Fattah menyenggol kakinya pelan. "Res, fokus," bisik Fattah sambil menahan tawa. Ares tersadar, lalu menatap ke depan dengan wajah memerah. Prosesi janji setia dua insan dalam ikatan sah di mata Tuhan dan negara berlangsung khidmat. Ares menarik napas dalam. Mengucapkan sumpah pernikahan dengan suara yang jelas, lantang, penuh keyakinan. Tak lama penghulu menyatakan sah, Tepuk tangan riuh langsung meledak di seluruh ballroom. Teriakan rasa syukur dan "Selamat!" terdengar dari berbagai sudut, terutama dari Brandon, Kevin, Fattah, dan Geri yang bersorak kencang sambil bertepuk tangan. Seperti menonton bola, membuat para istrinya meminta mereka diam. Ketegangan di wajah Ares seketika mencair menjadi senyum haru. Ia menunduk dalam, mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Napasnya tersengal, dadanya sesak karena terlalu banyak emosi yang m
Lima hari ke depan terasa seperti putaran badai bagi Raya. Sejak matahari terbit hingga larut malam, rumahnya tak pernah sepi. Vendor bunga datang dan pergi, tim katering melakukan uji rasa terakhir, dan Liora—memutuskan menginap—menjadi asisten pribadi Raya yang paling sibuk sekaligus paling cerewet soal perawatan diri. "Pokoknya kamu harus tidur yang cukup, Raya! Aku nggak mau melihat pengantin wanita mengantuk saat akad nikah," omel Liora sambil menempelkan masker wajah ke wajah Raya pada H-2. "Li—" Raya mencoba protes. "Diam!" potong Liora galak. "Lihat kantung matamu. Kamu bukan panda, tapi lingkar matamu udah mulai hitam. Itu tandanya kamu kurang tidur." Belum sempat Raya membela diri, Liora sudah mengeluarkan ramuan lain—minyak esensial, eye cream, dan berbagai produk perawatan yang membuat meja rias Raya terlihat seperti toko kosmetik mini. "Aku juga udah panggil orang buat ratus rempah besok pagi. Biar auramu wangi dan segar. Aura pengantin tuh harus wangi dari ubun-ub
Raya menatap layar ponselnya. Tangannya perlahan mulai dingin. Pesan dari Kenzie seolah menjadi siraman air es di tengah hangatnya persiapan pernikahan yang sedang berlangsung di luar kamarnya. Suara palu yang memukul pasak tenda dan tawa para pekerja dekorasi di halaman terdengar seperti dengungan jauh di telinganya. Kalimat "Aku akan menunggumu" terasa seperti beban berat yang mencoba menariknya mundur tepat saat ia akan melangkah maju. Raya menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya. Bukan karena goyah, tapi mengingat hubungannya dengan Kenzie di masa lalu. Dan juga hubungan Kenzie dengan Ares. Kini Raya sudah tak membenci Kenzie. Tapi entah kenapa setiap berurusan dengan mantan kekasihnya itu, ia selalu merasa bersalah untuk sesuatu yang bukan kesalahannya. Ia mulai mengetik balasan dengan jemari yang kini mantap. Raya: Kenzie, tolong berhenti. Aku sebentar lagi menikah dengan ayahmu. Kuharap kamu bisa menerimanya, jadi berhentilah. Setelah menekan tomb







