Share

Bab 7

Author: QueenShe
last update Huling Na-update: 2025-10-09 13:20:40

Pukul sebelas malam, Ares masih duduk di kursi kerjanya di ruang pribadi mansionnya. Di hadapannya, sebuah gelas whiskey setengah kosong. Ini gelas ketiganya malam ini.

Ditatapnya layar komputernya yang menampilkan foto profil Raya dari database karyawan. Foto itu diambil di hari pertama Raya bekerja, tersenyum polos, mata berbinar penuh harapan, rambut diikat sederhana. Tidak perlu berdandan berlebihan pun Raya sudah terlihat menarik.

Sangat berbeda dengan Raya yang ia tinggalkan tadi. Raya yang terluka. Raya yang hancur.

Ares menutup mata, mencoba mengatur detak jantungnya yang memburu. Baru saja ia melakukan kebohongan terbesar dalam hidupnya. Dan yang lebih menyakitkan, ia harus menyaksikan bagaimana wajah Raya berubah dari harapan menjadi kehancuran total.

Mata gadis itu berkaca-kaca. Bibirnya yang bergetar menahan isak. Tangannya yang gemetar saat menggenggam tas.

"Sialan," desis Ares, membuka mata dan menatap pantulannya sendiri di jendela dengan penuh kebencian.

Ares meneguk whiskey-nya habis dalam satu tegukan, berharap alkohol itu bisa menghilangkan rasa bersalah yang menggerogotinya. Cairan amber itu membakar tenggorokannya, tapi rasa sakitnya tak ada apa-apanya dibanding rasa sakit di dadanya.

Rasa bersalah semakin kuat, semakin membuatnya sesak.

Ia mengingat tatapan mata Raya saat ia mengatakan gadis itu hanyalah gadis naif. Mata yang begitu indah dan ekspresif itu meredup seketika. Seperti melihat cahaya padam.

Dan saat Raya bertanya tentang ciuman mereka di kantor dengan suara bergetar. Ares menjawabnya sebagai sebuah kesalahan.

Padahal ciuman itu adalah segalanya. Ciuman itu adalah momen ketika ia kehilangan semua kontrol yang selama ini ia jaga ketat. Ciuman itu adalah bukti bahwa ia sudah jatuh terlalu dalam untuk gadis berusia dua puluh dua tahun itu.

Itu bukan kesalahan atau kecelakaan. Itu adalah sesuatu yang sudah ia inginkan sejak lama. Ia masih bisa merasakan kelembutan bibir Raya, mendengar desahan kecilnya, merasakan tubuh mungil itu gemetar di pelukannya.

"Ini yang terbaik," gumamnya lagi, berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk kesekian kalinya. Suaranya terdengar hampa bahkan di telinganya sendiri. "Lagipula usia kami berdua terlampau jauh. Raya bisa mendapatkan pria yang lebih muda dan lebih mencintainya."

Tapi hatinya tahu, itu hanyalah kebohongan yang ia ciptakan untuk melindungi dirinya sendiri. Ares menutup mata, mengatur napasnya yang memburu. Hanya membayangkan Raya berada dalam pelukan pria lain saja, sudah membuat dadanya panas. Karena sejujurnya, ia sangat tertarik pada Raya. Terlalu tertarik, bahkan. Hingga membuatnya hampir kehilangan akal setiap kali perempuan itu berada terlalu dekat.

"Tapi tidak boleh, Ares! Dia mantan pacar anakmu, dan sepertinya Kenzie masih memiliki hati pada Naraya," geramnya pada diri sendiri. "Kamu tak bisa menggandeng gadis yang pernah menjalin hubungan dengan anakmu!"

Ares mengepal rahangnya lebih keras, mengingat bagaimana awal ia mengetahui hubungan antara Kenzie dan Raya. Saat Kenzie datang mengganggu Raya di kantor waktu itu, sesuatu dalam diri Ares tergelitik. Cara Raya bereaksi, cara wajahnya berubah pucat, cara tubuhnya menegang, itu bukan reaksi biasa.

Ia kemudian meminta Putra, asistennya, untuk menyelidiki. Dan laporan yang ia terima membuat darahnya mendidih.

Kenzie, anak semata wayangnya yang dimanja, telah melukai Raya dengan cara yang sangat kejam. Dipermalukan di depan umum, dikhianati dengan sahabatnya sendiri, bahkan membuat Alicia menyebarkan video yang merendahkan martabat Raya.

Dan sekarang, Raya ingin balas dendam. Menggunakan dirinya sebagai senjata. Ares tidak bisa menerima itu.

"Ini yang terbaik," gumamnya pelan, berusaha meyakinkan dirinya sendiri. "Ini yang terbaik untuk kita berdua."

Tapi hatinya berteriak sebaliknya. Hatinya ingin berlari kembali ke dalam restoran, memeluk Raya erat-erat, dan mengatakan bahwa semua yang barusan ia katakan adalah kebohongan belaka. Hatinya begitu terluka melihat gadis itu pergi dengan mata berkaca-kaca, bahu bergetar menahan tangis.

Namun ia tidak bisa.

Usianya bukan lagi usia untuk bermain-main, apalagi dengan permainan berbahaya seperti ini. Lagipula, tujuan balas dendam Raya adalah anaknya sendiri. Bagaimana mungkin ia bisa menjalani hubungan yang dibangun di atas fondasi yang rapuh seperti itu?

Meskipun itu artinya ia harus menyakiti gadis yang mulai mengisi pikirannya setiap malam. Gadis yang membangkitkan sisi liar dan penuh gairah yang sudah lama ia pendam.

"Maafkan aku, Raya," bisiknya pelan ke arah pantulan di jendela, suaranya serak. "Ini yang terbaik untuk kita berdua. Suatu hari nanti, kamu akan mengerti."

Ares menurunkan gelasnya dengan gerakan lambat, lalu memijat pelipisnya. Kepalanya berat, tapi bukan karena alkohol, karena pikiran. Karena penyesalan yang menyesakkan dada.

Ponselnya bergetar di meja.

Nama Kenzie muncul di layar.

Ares menatap layar itu lama, lalu akhirnya menjawab.

“Ya?” suaranya berat.

“Dad, besok aku mau ke rumah. Kita perlu bicara.”

“Bicara tentang apa?”

“Raya,” jawab Kenzie pelan.

"Naraya?" Ares mengerutkan keningnya. "Ada apa dengan dia?"

"Kuharap Dad harus berhati-hati dengannya."

"Apa maksudmu, Kenzie?" suaranya dalam, datar, tapi mengandung tekanan halus.

"Dad harus tahu siapa Raya sebenarnya." Kenzie tertawa kecil di ujung sana, tawa yang membuat Ares ingin membanting ponselnya. “Dia bukan gadis polos seperti yang terlihat. Dia—”

“Langsung ke intinya,” potong Ares tajam.

Kenzie terdiam sesaat, lalu mendesah seperti seseorang yang akan memberi peringatan penting. "Dia berniat untuk menggoda Dad. Dia ingin membuatku cemburu setelah aku memutuskannya,"

Ares membiarkan Kenzie berbicara sepuasnya. Suara putranya itu terdengar semakin tajam, penuh ejekan yang dibungkus kepura-puraan prihatin.

"Dia bahkan sempat menyombongkan diri padaku, Dad. Katanya Dad terlalu mudah dibuat jatuh hati. Raya gadis yang licik. Aku pikir Dad harus hati-hati."

Ares mengusap wajahnya dengan satu tangan, napasnya berat. Ia tahu betapa manipulatifnya Kenzie kalau merasa terancam atau kalah. Tapi kata-kata Kenzie tentang Raya itu, memang membuatnya geram. Hingga ingin memukul putranya agar sadar.

“Kamu tak perlu mengkhawatirkannya. Aku akan mengurus semuanya," Suara Ares rendah tapi tegas, tak ingin mendengarkan lebih lanjut Kenzie menjelek-jelekan Raya.

Kenzie terkekeh pelan, terdengar puas. “Bagus. Kalau Dad mau mengurusnya. Gadis seperti Raya tempatnya bukan di samping kita, Dad. Sebaiknya Dad memecatnya segera.”

Ares langsung memutuskan sambungan telepon. Ditatapnya ponselnya lama, seolah masih mendengar gema suara anaknya.

Tangan Ares mengepal di meja, jemarinya menegang sampai buku-buku jarinya memutih. "Semakin kamu melarangku berdekatan dengan Naraya. Semakin aku ingin membuktikan kalau Naraya bisa memilikiku Kenzie!"

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 451

    ​Ibu Ratih duduk di kursi tepat di samping ranjang, tangannya yang mulai keriput namun terasa sangat sejuk terus mengusap jemari Raya yang masih terpasang selang infus. Di sudut ruangan, Dio duduk di sofa, pura-pura asyik dengan ponselnya namun telinganya terpasang lebar-lebar untuk menyimak percakapan ibu dan kakaknya. ​"Raya... bagaimana awalnya bisa begini? Pak Ares menelepon Ibu kemarin suaranya gemetar, hampir menangis dia. Ibu langsung lemas, jantung Ibu rasanya mau copot," ujar Ibu Ratih dengan nada yang sarat akan kekhawatiran. Matanya yang teduh menatap dalam ke arah Raya, mencari kepastian bahwa putri sulungnya itu benar-benar baik-baik saja. ​Raya menghela napas panjang, ia menyandarkan kepalanya di tumpukan bantal yang telah diatur sedemikian rupa oleh Ares tadi. "Maaf ya, Bu, sudah buat Ibu jantungan sampai harus terbang jauh-jauh dari Surabaya." ​"Jangan minta maaf, ceritakan saja," desak Ratih. ​"Sebenarnya... aku juga bodoh, Bu," aku Raya pelan, matanya menatap l

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 450

    "I—Ibu?" Raya mengulang panggilannya dengan suara yang nyaris hilang. Tangannya dengan gemetar menarik kerah baju rumah sakitnya setinggi mungkin. Rasanya ia ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga. ​Ibu Ratih berdiri mematung di ambang pintu, matanya berkedip beberapa kali seolah sedang memproses pemandangan yang baru saja tertangkap indranya. Di belakangnya, David membuang muka ke arah dinding koridor dengan ekspresi yang sangat menderita, sementara si perawat muda di sampingnya sudah menunduk dalam, menatap ujung sepatunya sendiri seakan-akab itu adalah benda paling menarik di dunia. ​Keheningan yang mencekam itu hanya pecah saat Dio, yang baru saja selesai memarkir mobil, melangkah masuk dengan santai. "Lho, ngapain pada berhenti di pintu? Ayo mas—" Ucapan Dio terhenti. Ia melihat kakaknya, Ares, yang sedang berdiri tegak namun dengan telinga yang memerah, lalu melihat Raya yang sudah separuh bersembunyi di balik bantal. ​"Kenapa Bu? Bukannya dari kemarin udah gak

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 449

    "Kamu mau aku jawab jujur kan?" tanya ares pelan dan hati-hati. Kepala Raya otomatis mengangguk-ngangguk. "Janji ya, jangan marah? Aku gak mau kamu stres lagi." Ares menatap kedua mata Raya dalam. Terlihat kedua netra istrinya istrinya itu bergetar, ada kilat keraguan dan ketakutan disana. "Aku janji," jawab Raya pelan. "Begini sayanh," suara Ares terdengar rendah, nyaris seperti gumaman. "Dulu, saat Lulu hamil Kenzie... aku masih sangat muda. Aku sedang gila kerja, sedang membangun fondasi Mahardika Group yang baru raja di alihkan padaku. Jadi aku harus bekerja kerasa agar tidak goyah." Ares menghela napas perlahan. "Saat itu aku memberikan semua fasilitas terbaik, rumah sakit terbaik, dokter terbaik. Tapi aku tidak ada di sana. Aku memberikan uang, tapi tidak memberikan diriku sendiri. Aku tidak pernah memindahkan kamar, memesan kursi roda, bahkan aku jarang sekali mengelus perutnya." Ares menoleh kembali ke arah Raya yang kini matanya berkaca-kaca. "Dan Tania..." Ares men

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 448

    "David, dengar. Aku tidak mau tahu bagaimana caranya, hubungi orang untuk memindahkan semua furnitur di kamar utama ke kamar tamu besar di lantai satu. Aku tidak mau Raya naik tangga satu langkah pun saat pulang nanti," tegas Ares.Ares masih menempelkan ponsel di telinganya, melangkah mondar-mandir di sudut ruang rawat VVIP dengan nada suara yang rendah namun sarat perintah. Raya hanya bisa bersandar lemah di tumpukan bantal, memperhatikan suaminya yang tampak seperti sedang merencanakan invasi militer daripada sekadar persiapan pulang dari rumah sakit.Raya membelalakkan mata. "Ares, itu berlebihan..." bisiknya, namun suaranya tenggelam oleh titah Ares selanjutnya."Dan satu lagi, pesan kursi roda elektrik yang paling nyaman. Cari yang bantalannya paling empuk. Pasang pegangan tambahan di kamar mandi lantai satu. Oh, dan sewa dua perawat profesional untuk berjaga bergantian di rumah. Aku ingin mereka siap sebelum Raya menginjakkan kaki di teras," lanjut Ares tanpa jeda.David di seb

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 447

    Setelah dua hari berada di observasi ketat, Raya akhirnya dipindahkan ke ruang rawat VVIP. Kondisinya mulai stabil, namun dokter memberikan syarat mutlak, Raya hanya boleh pulang jika pendarahannya benar-benar berhenti total.Masalahnya, kini bukan lagi pendarahan yang membuat Raya pening, melainkan sikap Ares yang berubah menjadi "polisi penjaga" tingkat tinggi."Ares, aku cuma mau duduk bersandar. Punggungku pegal kalau tidur terus," keluh Raya saat melihat Ares baru saja meletakkan laptopnya di sofa, fokus sepenuhnya kembali pada sang istri."Tidak boleh, Raya. Dokter bilang bed rest. Kata rest itu artinya berbaring, bukan duduk," sahut Ares tegas sambil merapikan selimut Raya hingga sebatas dada."Tapi bersandar di bantal itu tidak akan membuatku lari maraton, Ares! Aku hanya ingin mengganti posisi," Raya mencoba memprotes, tangannya bergerak hendak meraih gelas air di nakas karena tenggorokannya terasa kering.Belum sempat jemari Raya menyentuh gelas itu, tangan Ares sudah lebih

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 446

    ​"Dokter, tolong istri saya!" teriak Ares, suaranya menggelegar penuh keputusasaan yang mampu menghentikan aktivitas siapa pun di sana. Ares berlari menyusuri koridor pualam putih itu dengan napas yang memburu tak beraturan. Di dekapannya, tubuh Raya yang lunglai tampak begitu kecil dan rapuh. Kemeja kerja Ares yang mahal kini tak lagi rapi. Noda darah merah pekat membasahi bagian depan pakaiannya, saksi bisu horor yang baru saja ia temukan di lantai kamar mandi. "Cepat, periksa istri saya!" teriak Ares. ​Beberapa perawat segera berlari membawa brankar dorong. Ares meletakkan Raya dengan sangat hati-hati. ​"Pak, silahkan menunggu di luar," ujar seorang perawat pria saat mereka sampai di depan pintu Unit Gawat Darurat. ​"Saya harus masuk, saya suaminya!" Ares mencoba merangsek maju, matanya memerah menahan tangis dan amarah pada dirinya sendiri. ​"Pak Ares, tolong," David yang baru saja tiba segera menahan pundak tuannya. "Biarkan tim medis bekerja. Anda hanya akan menghambat me

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status