MasukKaki Ares melangkah memasuki rumah sakit jiwa. Auranya sangat berbeda dari kunjungan sebelumnya. Tidak ada lagi kelembutan di wajahnya—hanya dominasi murni yang menguar dari setiap langkahnya. Rahangnya keras, tatapannya dingin, dan auranya begitu intimidatif sampai beberapa perawat yang berpapasan dengannya refleks menunduk hormat. David berjalan setengah langkah di belakang, membawa tablet dan beberapa dokumen. Wajahnya serius, siap mencatat apa pun yang diperlukan. Tepat di depan ruang dokter, Dr. Helen sudah menunggu. "Mr. Mahardika," sapa Dr. Helen sambil berdiri. "Terima kasih sudah datang kembali." Ares hanya mengangguk singkat. Tidak ada senyum, ataupunnbasa-basi. "Bagaimana kondisinya setelah kemarin?" Dr. Helen menarik napas panjang, membuka clipboard di tangannya. "Setelah Anda pergi kemarin, Tania menangis semalaman. Perawat mencoba menenangkannya, tapi dia terus memanggil nama Anda. Pagi harinya, dia berhenti menangis… tapi kondisinya justru lebih mengkhawatirkan." A
Tetap berusaha santai, dan tak terpengaruh. Raya menampilkan cengiran lebar yang sangat tidak meyakinkan. Ia langsung meraih bathrobe putih di kursi santai dan memakainya tergesa. "Hehehe… aku lupa," ucapnya dengan nada polos yang dibuat-buat. "Tapi masa iya aku harus berenang pakai piyama?" Ares di seberang sana mengeraskan rahangnya. Tatapannya tajam, menembus layar ponsel dengan dominasi dan rasa posesif yang tak terbendung. "Sebelum aku datang, kamu tidak boleh berenang lagi. Titik. Aku tidak mau ada mata lain yang sengaja atau tak sengaja melihat apa yang hanya boleh menjadi milikku." Raya mengerucutkan bibirnya, sengaja bersikap manja. "Tapi aku bosan di rumah sendirian..." "Cari kegiatan lain," potong Ares tegas, meski suaranya mulai melunak melihat wajah menggemaskan istrinya. "Spa, baca buku, atau minta Anita mengantarmu jalan-jalan. Apapun, asalkan bukan berenang." Raya menghela napas panjang, berpura-pura pasrah. "Iya deh, Boss. Maaf ya." Hati Raya menghangat. Ia
Raya terbangun karena suara dering ponsel yang bergetar di meja samping tempat tidur. Matanya masih setengah terpejam, rambutnya berantakan, tapi tangannya refleks angsung meraih ponsel. Layar menampilkan nama "Cintaku" dengan panggilan video call. Raya langsung menggeser tombol hijau, dan layar menyala—menampilkan wajah Ares— bukan Ares yang sebenarnya, tapi Ares versi kecil. Wajah anak itu memenuhi layar—mata bulat yang membelalak, pipi chubby yang memerah, rambut hitam lurus yang sedikit berantakan, dan di sekitar mulutnya terlihat banyak sisa makanan menempel—sepertinya cokelat atau selai. Raya tertegun. Jantungnya langsung berdegup kencang—terlalu kencang sampai ia merasa dadanya sesak. Dia Kelana. Anak Ares. Entah kenapa, perasaan gugup yang luar biasa tiba-tiba menguasainya. Ada perasaan asing yang membuatnya bingung untuk berkata-kata. Ia takut ditolak oleh Kelana. Takut anak ini tak menyukainya. Takut ia tak bisa menjadi ibu yang baik. Tapi di sisi lain, ia juga ingin ber
Di belakang Kelana, Nanny Grace—wanita paruh baya berkebangsaan Inggris dengan rambut pirang pendek dan wajah ramah—muncul dengan senyum tipis. Ia mengenakan cardigan rajut dan celana panjang, terlihat rapi meski hari sudah malam. "Good evening, Mr. Mahardika," sapa Nanny Grace dengan aksen British yang kental. "Welcome back." "Good evening, Grace," balas Ares sambil menurunkan Kelana, tapi tangannya tetap menggenggam tangan kecil putranya. "How is he?" "Very energetic as always," jawab Susan sambil tersenyum geli. "He's been asking about you every day. 'When Daddy come?' he said." Ares tersenyum lebar, melirik Kelana yang menatapnya dengan mata berbinar. "Really? You ask about me every day?" Kelana mengangguk cepat. "Yes! Every day! Nanny say you come soon. Now you here!" "Yes, I'm here now," jawab Ares sambil mengacak rambut Kelana lembut. Lalu Ares mengangkat kantong yang dibawanya. "And I bring something for you." Mata Kelana langsung membulat sempurna. "What is it?" Ares
Ares tersenyum lembut, menatap layar ponselnya dalam-dalam. Ia benar-benar mengerti betapa besarnya kekhawatiran yang berkecamuk di dalam dada Raya, meski wanita itu mencoba menutupinya dengan senyuman. "Sebenarnya masih ada kendala kecil. Tania tadi sempat marah. Tapi gak apa-apa, masih bisa ditangani," jelas Ares, berharap Raya menerima penjelasannya. Raya terdiam sejenak. Ia tak terlihat puas dengan jawaban itu. Instingnya sebagai wanita mengatakan ada hal yang lebih berat dari sekadar 'mengamuk', namun ia memilih untuk tidak mendesak. Ia tak ingin menambah beban di pundak Ares yang saat ini sedang berada ribuan mil jauhnya. Lagipula, tujuannya bertanya hanyalah untuk memastikan apakah Ares menemui Tania atau tidak. Setelah mendapatkan kepastian itu, ia segera mengalihkan pembicaraan untuk mencairkan suasana. "Aku kangen kamu," bisik Raya tiba-tiba. Suaranya lirih "Aku kangen kamu," bisik Raya tiba-tiba, suaranya lirih. Ares tersenyum lembut, matanya melembut. "Aku juga kange
Ares melangkah keluar dari kamar Tania, diikuti David dan dokter yang menangani. Pintu tertutup di belakang mereka, namun suara tangisan Tania masih terdengar samar—isak tangis yang terdengar begitu putus asa, memecah keheningan lorong rumah sakit. Ares berhenti sejenak, punggungnya masih menghadap pintu. Rahangnya mengeras, napasnya tertaha, Menahan sesuatu yang berat di dadanya. Dokter Helen berdiri di sampingnya, menatap Ares dengan tatapan profesional namun penuh pengertian. "Mr. Mahardika, ini adalah kemunduran yang wajar. Emosi pasien dengan kondisi seperti Tania sangat tidak stabil. Tapi saya yakin dengan penanganan yang tepat, dia akan kembali tenang." Ares menoleh, menatap dokter dengan tatapan dingin namun penuh dominasi. "Awasi dia lebih ketat. Saya tidak mau ada kejadian seperti dulu terulang lagi. Pasang CCTV di kamarnya lebih banyak jika perlu." Dokter mengangguk cepat. "Baik, Mr. Mahardika. Kami akan meningkatkan pengawasan." "Saya akan kembali besok," tambah Ares







