LOGIN"Ya iyalah. Nanti pasti diomelin lagi kalau ke pesta nggak izin kayak itu," sahut Karina santai, seperti menyatakan hal yang sudah jelas.Diam-diam, Amelia menghela napas pelan. Ternyata, dia hanya terlalu overthinking. "Aku udah ngasih tau kamu. Kamu aja yang bilang ke dia," ujarnya, mencoba melempar tanggung jawab."Duh, ribet. Papa pulang malem. Aku mau langsung tidur," gerutu Karina sambil mengibaskan tangannya. Kemudian, ia melangkah pergi menuju kamarnya sendiri.Amelia mendengus pelan. Sekarang ia ragu untuk menghubungi Kayden setelah kejadian pagi tadi. Pria itu mungkin saja masih dalam kondisi marah.‘Mending nggak usah kasih tahu, deh,’ pikirnya, memilih jalan yang tampak lebih aman.Setelah bersiap dengan gaun sederhana namun terlihat manis, Amelia segera berangkat menuju alamat yang Alvin kirimkan. Langit di luar sudah gelap. Tak lama, taksi online yang dipesannya berhenti di depan tujuan. Sebuah rumah yang cukup besar, bergaya modern minimalis. Pesta ternyata dilangsung
"Em, Pak Alvin," panggil Amelia dengan suara pelan, mencoba memecah keheningan."Ya?" Alvin menoleh dengan santai, ekspresinya seperti biasa. Seolah perkataan yang baru dia lontarkan bukan apa-apa.Amelia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan semua keberanian. Kemudian menatap Alvin dengan sorot mata serius."Maaf sebelumnya. Saya nggak bisa nerima perasaan Pak Alvin. Saya udah punya pacar, Pak," ucapnya menolak dengan halus agar tak menyinggungnya. Amelia tak ingin hubungan mereka menjadi canggung karena hal ini. Apa lagi dia masih membutuhkan Alvin untuk tugas akhirnya.Alvin terdiam sejenak. Wajahnya tak menunjukkan kekecewaan. Akhirnya, ia tersenyum tipis yang sedikit berbeda dari biasanya. "Iya, nggak apa-apa. Tapi menyukai seseorang itu hak saya, kan?""Iya, sih. Tapi—" Amelia mencoba melanjutkan. Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, tapi Alvin tiba-tiba menyela."Ya udah, kalau begitu. Silahkan kamu fokus sama pacar kamu, saya nggak bakal ganggu. Tapi tolong jangan lara
“Kok kamu ngomong gitu sih, Kay?” balas Melisa. “Aku cuma mau tau kabar Karina aja. Tadi aku sempet ke rumah, tapi nggak ada siapa-siapa.”Kayden menatapnya dengan sinis. “Kalau emang kamu berniat nemuin Karina, bukan ke sini. Harusnya kamu tau dia sekarang udah kerja di rumah sakit, kan?”“A-aku nggak tau rumah sakit yang mana. Jadi aku ke sini buat nanya ke kamu,” bantah Melisa. “Emang salah mau berusaha berhubungan baik sama anakku—” Belum selesai bicara, Kayden langsung menyela, tak memberinya ruang sedikit pun.“Nggak perlu. Karina nggak butuh ibu gagal macam kamu. Disaat dia sakit, nangis seharian, kamu malah pergi sama laki-laki lain. Malah sahabatnya, Amelia, yang jagain dia dulu. Empati kamu bahkan lebih rendah dari anak kecil,” geramnya meledak dalam kalimat-kalimat tajam. Kayden melempar dua paper bag pemberian Melisa. Isinya sedikit berserakan di tanah.Melisa yang awalnya datang dengan penuh percaya diri, lengkap dengan niat yang dibungkus manis dan barang mahal, kini te
'Angkat dong, Kay.’ pikir Amelia sedikit menggerutu. Sudah beberapa kali dia mencoba menelepon pria itu sejak tadi, namun masih tak ada tanggapan sama sekali.Akhirnya, dengan napas berat, Amelia menyerah untuk menghubunginya. Mungkin lebih baik membiarkannya mendinginkan kepala untuk sejenak. Dia memutuskan untuk bersiap pergi ke kampus. Namun, saat hendak berbalik menuju kamar mandi, ponselnya kembali bergetar.Dengan terburu-buru, Amelia meraihnya. Jantungnya berdebar kencang. Namun, begitu melihat layar, ekspresinya berubah dari harap menjadi kebingungan.“Siapa, nih?” gumamnya heran. Merasa penasaran, Amelia tetap menerima panggilan itu. “Halo?”“H-halo, Amel? Apa kabar?” terdengar sapaan gugup dari seorang pria dengan suara yang langsung membuat wajah Amelia terdiam. Ekspresinya berubah datar. Itu adalah Ayahnya, Alan.“Ini siapa, ya?” tanya Amelia, pura-pura tak kenal. Di dalam dadanya, rasa sesak dan pahit yang ditinggalkan oleh perkataan dan sikap Ayahnya.“Masa nggak kenal s
‘Kenapa Pak Alvin ke sini lagi?!’ jerit Amelia dalam hati panik. Dia bergegas melangkah keluar gerbang rumah, menghampiri pria itu.Karina yang masih berdiri di ambang pintu teras, terlihat menatap dengan mata berbinar-binar, seolah sedang menonton drama di pagi hari.Ketika Amelia hampir mendekat ke sisi pintu mobil, Alvin tiba-tiba keluar dan mendekatinya. Wajahnya menyunggingkan senyuman santai.“Pagi, Amel.”Amelia menghentikan langkahnya, menarik napas panjang untuk menenangkan diri. “Iya, pagi, Pak. Pak Alvin kenapa ke sini lagi?” “Hm, saya mau jemput kamu. Hari ini kan ada janji bimbingan lanjutan ke kampus?” sahut Alvin dengan ramah.“Kenapa nggak ngasih tau dulu, Pak?” seru Amelia, tak bisa menahan nada sedikit kesal atas kedatangannya yang tiba-tiba.Alvin memiringkan kepalanya. “Saya udah kirim pesan dan telepon kamu beberapa kali, tapi nggak ada tanggapan sama sekali. Jadi saya dateng aja langsung.”Tatapan Alvin kemudian secara tak sengaja menyapu ke arah halaman rumah d
“Maksud kamu, apa? Pak Alvin cuma Dosen pembimbing aku,” sahut Amelia, masih berusaha menetralkan napasnya yang tersengal-sengal. “Terus kenapa dia bisa tau kamu tinggal di sini?” desis KaydenAmelia mendengus pelan, masih berusaha menjelaskan dengan tenang. “Dia pernah anter aku pulang sekali. Ya, cuma itu.”“Anter pulang? Sampai dekat itu hubungan kalian?” Tangan Kayden yang masih menggenggam pergelangan tangan Amelia semakin mengencang.“Sakit, Kay! Lepasin!” Amelia meringis, mencoba melepaskan diri.Namun, Kayden tak mendengarkan. Amarah dan rasa cemburu buta telah menguasai logikanya. “Awal lihat cowok itu aku nggak sadar. Tapi kamu tau nggak dia itu siapa—”Belum selesai bicara, Amelia menyela lebih dulu, seolah sudah bisa menebak apa yang ingin Kayden katakan. “Dia adik selingkuhannya Tante Melissa, kan?”Kayden mengernyit, terkejut mendengar pengakuannya. “Kamu tau? Tapi kenapa kamu masih berhubungan sama orang itu?!”“Dia cuma adiknya, Kay! Terus aku harus gimana? Ganti Do







